Entah masih bisakah kita bercerita
Sementara waktu begitu menikam
Langkah dan derap seperti gasing
Di putaran jari-jari
Potretku potretmu
Adalah cerita nyata
Terbingkai tanpa suara
Diam dalam dunia dan jalan berbeda
Meski selalu ada rindu untuk senja
Dan. . .
Dari jauh jarak tercipta
Tak perlu kau tengok
Potretku potretmu
Adalah gasing di putaran jari-jari
Senin, 30 Juli 2018
Senin, 02 Juli 2018
ANG TUNI
Sabtu, 30 Juni 2018
Kali ini kutemui kembali senyum itu. Senyum yang selalu mengembang penuh kelembutan. Senyum yang tak pernah kulihat selama kurang lebih 15 tahun. Jarak, waktu, dan kesibukan yang memisahkan. Rasa syukur menyeruak, momen reuni akbar kali ini aku bisa kembali bertemu dengan pemilik senyum tulus itu.
Tuniah namanya. Aku biasa memanggilnya Ang Tuni. Kami satu kelas ketika kuliah. Sama-sama dari Cirebon juga. Hanya perbedaannya, waktu kuliah Ang Tuni menetap di rumah orang tuanya di Bandung. Sedangkan aku anak kos.
Dulu semasa kuliah, diam-diam aku sangat mengagumi Ang Tuni. Kepribadian dan rasa percaya dirinya kuat, idealis, dan selalu berpegang teguh pada prinsip. Tergolong mahasiswa yang agamis, kritis, dan cerdas. Saat diskusi, pasti Ang Tuni aktif untuk berpendapat.
Kenangan bersama Ang Tuni tak pernah hilang. Sosok yang bersahaja. Rendah hati, Sederhana, dan senyum selalu mengembang di wajahnya. Tutur katanya lembut. Ang Tuni tak pernah menggurui atau merasa paling benar ketika aku mulai tertarik mendalami agama. Dia selalu mau membagi ilmu dengan contoh yang nyata. Baginya, setiap orang punya prosesnya masing-masing untuk berhijrah. Dan sampai sekarang aku masih salut. Ang Tuni selalu menghargai proses apa pun yang kujalani.
Aku masih ingat ketika dulu kusampaikan niat untuk sungguh-sungguh belajar agama. Ang Tuni hanya tersenyum sambil memelukku. Senyum yang tak pernah aku lupa. Senyum yang menyiratkan bahwa ketika kita sungguh-sungguh untuk niatan mulia maka ujiannya pun luar biasa. Ada keraguan juga dalam diriku saat itu. Apa aku bisa meninggalkan kesenangan dunia? Musik, teater, teman-teman main, dan hal-hal konyol lainnya. Lagi-lagi Ang Tuni meyakinkanku bahwa semua beproses.
"Proses Va... Insyaallah yakin bisa". Tutur Ang Tuni lembut.
Pernah suatu kali ada konser musik di teater terbuka. Waktu itu sedang hits musik Ska. Tahun 90-an musik ini merajai tangga musik di Indonesia. Alunan musiknya yang asyik mampu membuat tubuh berjingkrak-jingkrak mengikuti irama. Aku tersenyum geli mengenangnya. Hari itu aku ada janji dengan Ang Tuni untuk ikut kajian agama. Tapi teman-teman dekatku mengajakku untuk nonton konser musik itu. Rasanya bimbang sekali untuk ikut siapa. Akhirnya aku putuskan untuk nonton konser musik bersama teman-teman mainku.
Di tengah konser dan kerumunan orang banyak aku sungguh resah. Aku merasa bersalah pada Ang Tuni. Namun tiba-tiba, di tengah kerumunan orang yang sedang nonton konser musik itu, aku melihat Ang Tuni. Yakin sekali dia berjalan ke arahku. Aku ternganga. Ya Allah bagaimana bisa Ang Tuni menemukan aku di tengah kerumunan orang-orang!
Subhanallah... Aku takjub.. Nyaris tak bisa berkata apa-apa. Mukaku merah dan tersenyum malu pada Ang Tuni. Aku tau, aku salah besar telah melupakan janji dan lebih mementingkan keasyikanku saja. Aku berpikir pasti Ang Tuni marah kepadaku. Tapi di luar dugaan. Lagi-lagi Ang Tuni hanya tersenyum. "Yuk Va.. Kita ngaji... " sahutnya merangkulku.
Jleb... Rasanya malu sekali. Duh Ang Tuni sabar sekali menuntunku untuk benar-benar menemukan ilmu. Ilmu yang justru akan bermanfaat untukku dari sekedar konser musik itu. Dan Ang Tuni tak pernah marah bahkan ketika aku sedang jatuh cinta. Dia hanya selalu mengingatkan. Mengingatkan lewat senyumnya, bahwa proses yang kujalani tak keluar dari koridornya. Bahwa apa pun yang aku jalani adalah pertanggung jawabanku kepada yang Maha Kuasa.
Hari ini aku bertemu lagi. Dengan pemilik senyum tulus itu. Maafkan ya Ang Tuni jika proses yang aku jalani pun sampai saat ini masih belum sempurna. Masih belum utuh dalam menjalankan syariat agama. Ah... Semoga esok kita bisa bercerita lebih banyak tentang episode hidupku dan Ang Tuni. Terima kasih untuk semua ilmunya. Jazakillah....semoga Allah selalu memberkahi Ang Tuni sekeluarga... 😊
Langganan:
Komentar (Atom)
