Selasa, 11 Februari 2020

CAMPAK, TUGAS MENGAJAR, DAN OEMAH QIVA

Qodarullah, begitulah saat manusia hanya berencana, Allah menentukan. Niat banget jauh-jauh hari untuk menjaga kesehatan. Tapi kalau Allah tentukan sakit, kita bisa apa. Terlebih, di musim penghujan ini. Saat tiap hari sepulang sekolah, Alhamdulillah kehujanan. Cuaca memang bukan alasan utama. Lebih introspeksi, bahwa tubuh kita punya imunitasnya sendiri.

Jumat, empat hari yang lalu sebetulnya gejalanya sudah terasa. Kepala berat, badan demam. Tapi karena rutinitas dan kesibukan yang lebih padat, semua seperti gak dirasa. Cukup minum sanmol dan istirahat yang cukup. Esoknya, bisa beraktivitas seperti biasa. Meskipun, agak heran juga sejak hari itu mulai muncul ruam di sekitar leher. Hari Sabtu, Minggu, hingga hari Senin, ruam merah mulai menjalar semakin banyak. Hari kelima suhu tubuh mulai meninggi. Demam disertai linu di seluruh tubuh mulai melanda. Kali ini benar-benar nyerah untuk segera pergi ke dokter. Suami sudah menyarankan untuk segera berobat. 

Di hari Selasa, aku terpaksa meminta izin untuk tidak ke sekolah. Tugas mengajar terpaksa ditinggalkan. Tugas untuk anak-anak, aku sampaikan ke piket via WA. Sedih sebetulnya tidak bisa melaksanakan tugas seperti biasa, apalagi meninggalkan tugas di kelas IX. Sebentar lagi mereka ujian.

Setelah memberi tugas untuk anak-anak di sekolah, agendaku adalah bertemu dokter langgananku. Dokter Indri, dokter yang biasa aku kunjungi. Dinasnya di RS Santosa Bandung. Dokter Indri, dokter yang ramah dan perhatian. Ketika bertemu dengannya, beliau memeriksaku dengan rinci. Mengecek setiap bagian ruam yang muncul. Memastikan bahwa itu bukan maningitis atau pun penyakit berbahaya lainnya.

Dokter Indri mengatakan aku terkena virus. Untuk memastikannya, dibutuhkan tes darah. Aku pun melakukan tes darah di laboratorium yang terletak di lantai dasar rumah sakit ini. Butuh satu jam untuk melihat hasilnya. Biasanya sambil menunggu hasil lab,  aku bisa berkeliling RS terutama di lantai 9 karena ada Taman Pemulihan. Di sana bisa melihat keindahan Kota Bandung dan menikmati tanaman yang tertata rapi. Atau kalau bosan, aku hanya menunggu di ruang tunggu pasien. Mengamati beraneka ragam karakter orang. 

Setelah satu jam, suster memanggilku bahwa hasil lab sudah ada. Dokter Indri menjelaskan bahwa aku terkena virus sejenis campak. Virus itu bisa berasal dari udara yang kita hirup. Gejalanya demam di awal dan muncul ruam-ruam merah di tubuh disertai rasa panas dan gatal juga. Ya Allah...ada aja caraMu yang indah untuk aku mensyukuri hidup. Denger kata campak itu kok mirip-mirip penyakit cacar. Dari kecil memang belum pernah kena campak. Kalau cacar, aku pernah kena ketika bangku SMP. 

Mungkin itulah gunanya vaksinasi. Aku sendiri lupa apakah Mimi memberiku vaksin campak atau tidak ketika aku kecil. Seingatku dulu waktu SD kalau ada Pak Mantri bawa suntikan,  aku akan langsung masuk kolong meja, atau menangis histeris gak mau disuntik.😂

Sekarang jadi tahu kan pentingnya vaksinasi. Alhamdulillahnya anakku Rifqah InsyaAllah lengkap vaksinasi dasarnya. Termasuk vaksinasi campak. Dokter Indri juga menjelaskan bahwa minggu ini pasien terpapar campak sedang merebak. Hari ini saja sampai tiga orang yang berobat dengan keluhan yang sama, sahutnya. Bahkan ada satu sekolah, yang siswanya hampir sebagian besar terpapar campak. Deg...mendengar penjelasan dokter, aku pun tidak boleh egois. Tidak boleh memaksakan diri untuk masuk sekolah. Tiga hari wajib istirahat di rumah. Jangan sampai sebelum virusnya hilang, kita tanpa sadar menjadi penyebab orang lain tertular. Apalagi terhadap siswaku.

Begitu pun di rumah, aku mulai menjaga jarak dengan suami dan anakku agar mereka tidak tertular. Memakai masker, memisahkan barang-barang pribadi yang dipakai olehku, pun harus menjaga sterilisasi di rumah. Agar virusnya tidak menyebar. Qodarullahnya, putriku sedang studi tour empat hari. Setidaknya aku bisa menjaga jarak dahulu, sampai kondisiku benar-benar pulih.

Dokter Indri memberiku obat-obatan yang dibutuhkan. Vitamin diberikan lebih banyak agar imunitas tubuhku segera pulih dan virusnya benar-benar hilang. Sungguh, sakit itu tidak ada yang enak. Maka jagalah kesehatan. Jangan pernah mengabaikan sedetik pun waktu saat tubuhmu benar-benar membutuhkan makan. Kadang karena kesibukan, kita abai dan telat makan. Telat makan salah satu yang bisa membuat kondisi tubuh menurun. Saat kondisi tubuh menurun inilah, segala virus dan penyakit akan lebih mudah menyerang.

Cepat sehat lagi ya wahai diri. Kasian Oemah_Qiva, kasian siswa di sekolah. Mencegah itu lebih baik dari mengobati. Jika saat ini Allah berikan sakit. Itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Lebih menghargai diri sendiri dan tidak abai dengan hak-hak diri. Jangan kalah oleh virus apa pun. Setiap sakit InsyaAllah obatnya dari dalam diri sendiri...😊😊










VIRUS

Virus-virus aneh menjalar
Dihembus udara yang liar
Mata manusia mulai nanar
Segala nampak di luar nalar

Orang-orang dan virus saling menyerang
Ditawan lapar berperang
Jiwa raga mengerang
Virus tertawa riang

Menggerogoti jiwa
Medekam di raga
Virus yang melanda
Bukankah kesalahan manusia juga?

Virus mati manusia pergi
Virus ada manusia terjaga




Aku Tahu

Aku tahu kau akan selalu mendoakanku dari jauh. Dari lubuk rindu yang paling dalam. Dari angan yang diterbangkan angin. Dari satu mimpi ke mimpi berikutnya.

Aku tahu kau akan menatapku dari jauh. Dari sela-sela dinding kota. Dari letihnya perjalanan. Dari senda gurau kehidupan.

Aku tahu kau akan mendekapku dari jauh.
 Dari hamparan ilalang semesta. Dari rinai yang menggenangi. Dari terik yang membumi. Dari debur dan riak sore hari. 

Saat jiwa berlabuh. Pantai telah surut...