Rabu, 23 Agustus 2017

SETENGAH LANGKAH LAGI

Lima belas tahun sudah
Kita meniti jejak
Menelusuri mimpi
Setengah langkah lagi

Adalah hakMu sang pemilik jagat
Betapa segala hal telah tersurat
Yang ditetapkan mendekat
Setengah langkah ini seolah tercekat

Kun fayakuun
Jadilah maka Jadilah ia
Wahai pemilik langit semesta
KepadaMulah kami pasrahkan segala










Jumat, 11 Agustus 2017

TARIAN SENJA

Tarian lembayung meliuk indah
Dihantar sepoi senja nan jingga
Dari balik kaca jendela
Ilalang tundukkan rupa

Hei adakah kesedihan melingkupinya?
"Tidak," awan menjawab dari atas sana
Tak ada kesedihan yang tak kubasuh
Lewat gerimis yang kukirim saat petang

Awan turut menari
meliukkan tarian senja
Menghibur ilalang yang mulai tegak bersahaja
Menghapus gurat-gurat duka

Kicau burung pulang ke sarang
Ilalang syahdu melipat lamunan...





Rabu, 09 Agustus 2017

DREAMS

Saat tak jua bertemu dermaga
Usah risau dan berduka
Kita bisa memainkan gemericik air
menatap birunya laut

Saat tak jua ke tepian
Biarkan sauh mengayuh
Diselingi gelak tawa
Ikan-ikan yang berlompatan

Hidup hanya tentang pemaknaan
Kemana muara dan tujuan
Hati bisa selalu berdamai
Tergantung benih yang kita semai...


KISAH MIO II

Sakit Mio kali ini cukup parah. Spion patah, setang bengkok, velk rusak, dan sekujur tubuhnya dipenuhi baret-baret luka. Aku menghela nafas. 11 tahun sudah Mio dengan setia menemani. Peristiwa jatuh kemarin adalah peristiwa jatuh terparah yang dialami Mio sepanjang kebersamaannya denganku.

Ah aku selalu bersyukur. Allah begitu baik. Seperti memberikan 99 nyawa untukku. Dan entah sudah kupakai berapa kali dan entah tersisa berapa nyawaku kini. Peristiwa jatuhku bersama Mio kemarin adalah peristiwa yang kesekian aku bisa luput dari maut. Jadi teringat waktu SD ketika aku nyaris kejatuhan buah kelapa persis ketika akan berangkat ke sekolah. Untunglah buah kelapa itu tak mengenai kepalaku, namun jatuh tepat di sisiku. Ibuku pernah bilang kalau malaikat menjagaku. Malaikat selalu menjaga karena doa-doa kita. Itulah mengapa bagiku doa seperti senjata yang akan melindungi kapan saja. Meski tetap, umur manusia hanya ketentuan yang maha pencipta.

Siang itu kulajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Kulirik jam di pergelangan. Sudah pukul 14.30. Senin adalah hari paling padat karena kelas terakhirku mengajar selesai pukul 13.20. Ya Allah aku benar-benar terlambat dari jadwal biasa aku menjemput anakku. Kubelokkan arah menuju rumah sahabat anakku. Kebetulan jika aku terlambat menjemput, anakku pasti berada di rumah sahabatnya itu. Tak sabar aku malah mengambil jalan pintas. Jalan yang kupikir lebih cepat. Aku tak menyadari kalau jalan pintas itu banyak sekali polisi tidur.

Dengan tergesa kupacu gas berharap secepatnya bisa menjemput anakku. Namun apes bagiku karena tak melihat polisi tidur di depanku. Aku kaget tak bisa menahan laju Mioku. Kecepatan motor yang tinggi tak mampu kukendalikan setelah oleng menembus polisi tidur. Tiba-tiba tubuhku seperti melayang. Semua terjadi begitu cepat. Motor terhempas dan tubuhku terpelanting. Aku tak ingat berapa kali tubuhku terhempas. Yang aku ingat saat tubuhku benar-benar mencium tanah dengan posisi tengkurap. Kepalaku sakit. Entah terbentur apa. Untunglah helm yang kukenakan menyelamatkanku dari cidera kepala. Yang aku ingat saat itu adalah aku harus menjemput anakku. Kuyakinkan bahwa aku masih sadar. Kulihat samar di sekitar. Orang-orang mulai berkerumun berusaha menolong. Mereka membantuku bangun. Merapikan tas dan belanjaan yang kubawa. Aku bersyukur masih bisa selamat. Kulihat Mio terkapar. Miris melihatnya. Hiks aku ingin menangis bukan karena rasa sakit karena jatuh yang baru kusadari, tapi aku ingin menangis karena bersyukur Allah msh melindungiku.

Aku mencoba bangkit dengan menahan sakit di kaki dan sekujur tubuhku. Orang-orang berusaha menahanku agar beristirahat lebih dulu. Mereka orang-orang baik.Warga komplek yang kasian melihatku. Aku menolak dengan halus. Meyakinkan kalau aku baik-baik saja dan bisa melanjutkan perjalanan. Mereka membantuku menaiki Mio. Dalam hati aku berdoa semoga Allah membalas kebaikan mereka.

Kulajukan Mio yang terseok-seok jalannya. Kubisikkan kata yang lembut "Mio kita harus jemput Kaka". Ajaib.. kami seperti selalu punya ikatan batin yang erat. Mio mulai melaju. Kakiku yang sakit tak kupedulikan. Rasanya ingin segera menjemput anakku. 

Mamah Rini, wanita lembut ibu dari sahabat anakku menyapaku dengan ramah. Kusampaikan permohonan maaf padanya karena tak bisa mampir terlalu lama. Wajahnya terkejut dan cemas ketika kuceritakan apa yang telah menimpaku. "Thanks mom for everything" sahutku pamit.  
 
Anakku tampak termangu menatap ibunya dengan jaket dan sepatu yang kotor. Memelukku di jok belakang. Saat seperti ini kami begitu dekat. Tak ingin kehilangan satu sama lain. Kulajukan Mio menuju tukang urut. Fatal sekali jika aku terlambat untuk diurut. Pasti panas dingin sekujur tubuh. Bersyukur, Pak Haji tukang urut itu ada di rumahnya. Sehingga aku bisa meluruskan urut-urat kaki, lengan, kepala, yang mulai terasa kaku. Senut-senut rasanya. Anakku setengah tertawa melihatku tampak kesakitan. Krutuk...krutuk Pak Haji tukang urut itu tak segan-segan menarik lengan, kaki, punggung, hingga kepalaku. Aku menahan sakit, Krutuk-krutuk...anakku kembali tertawa. Hiks..

Ah..tiba di rumah tak henti kusyukuri betapa Allah masih menyayangi. Sekujur tubuhku tak apa-apa, hanya menyisakan luka sedikit di kaki. Sementara sendi-sendi tulang sudah tak kurasakan senut-senut lagi. Suami pun tak henti menasihati agar sang istri tetap berhati-hati. Terima kasih ya Rabb...kau masih melindungi..


Jumat, 04 Agustus 2017

SENJA PUNYA CERITA

Senja selalu punya cara
Menyembunyikan kesedihan di kantung matanya
Berjubah jingga
Bertopi emas

Lengkung senyum di ufuk barat
Disambut cicit terbang ke sarang
Sementara hati yang berkarat
Terhantar pasrah untuk pulang

Angin menuntun
Berhembus sekehendaknya
Di belantara paling sunyi
Senja melabuhkan cerita