Sakit
Mio kali ini cukup parah. Spion patah, setang bengkok, velk rusak, dan
sekujur tubuhnya dipenuhi baret-baret luka. Aku menghela nafas. 11
tahun sudah Mio dengan setia menemani. Peristiwa jatuh kemarin adalah
peristiwa jatuh terparah yang dialami Mio sepanjang kebersamaannya
denganku.
Ah
aku selalu bersyukur. Allah begitu baik. Seperti memberikan 99 nyawa
untukku. Dan entah sudah kupakai berapa kali dan entah tersisa berapa
nyawaku kini. Peristiwa jatuhku bersama Mio kemarin adalah peristiwa
yang kesekian aku bisa luput dari maut. Jadi teringat waktu SD ketika
aku nyaris kejatuhan buah kelapa persis ketika akan berangkat ke
sekolah. Untunglah buah kelapa itu tak mengenai kepalaku, namun jatuh
tepat di sisiku. Ibuku pernah bilang kalau malaikat menjagaku. Malaikat
selalu menjaga karena doa-doa kita. Itulah mengapa bagiku doa seperti
senjata yang akan melindungi kapan saja. Meski tetap, umur manusia hanya
ketentuan yang maha pencipta.
Siang
itu kulajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Kulirik jam di
pergelangan. Sudah pukul 14.30. Senin adalah hari paling padat karena
kelas terakhirku mengajar selesai pukul 13.20. Ya Allah aku benar-benar
terlambat dari jadwal biasa aku menjemput anakku. Kubelokkan arah menuju
rumah sahabat anakku. Kebetulan jika aku terlambat menjemput, anakku
pasti berada di rumah sahabatnya itu. Tak sabar aku malah mengambil
jalan pintas. Jalan yang kupikir lebih cepat. Aku tak menyadari kalau
jalan pintas itu banyak sekali polisi tidur.
Dengan
tergesa kupacu gas berharap secepatnya bisa menjemput anakku. Namun
apes bagiku karena tak melihat polisi tidur di depanku. Aku kaget tak
bisa menahan laju Mioku. Kecepatan motor yang tinggi tak mampu
kukendalikan setelah oleng menembus polisi tidur. Tiba-tiba tubuhku
seperti melayang. Semua terjadi begitu cepat. Motor terhempas dan
tubuhku terpelanting. Aku tak ingat berapa kali tubuhku terhempas. Yang
aku ingat saat tubuhku benar-benar mencium tanah dengan posisi
tengkurap. Kepalaku sakit. Entah terbentur apa. Untunglah helm yang
kukenakan menyelamatkanku dari cidera kepala. Yang aku ingat saat itu
adalah aku harus menjemput anakku. Kuyakinkan bahwa aku masih sadar.
Kulihat samar di sekitar. Orang-orang mulai berkerumun berusaha
menolong. Mereka membantuku bangun. Merapikan tas dan belanjaan yang
kubawa. Aku bersyukur masih bisa selamat. Kulihat Mio terkapar. Miris
melihatnya. Hiks aku ingin menangis bukan karena rasa sakit karena jatuh
yang baru kusadari, tapi aku ingin menangis karena bersyukur Allah msh
melindungiku.
Aku
mencoba bangkit dengan menahan sakit di kaki dan sekujur tubuhku.
Orang-orang berusaha menahanku agar beristirahat lebih dulu. Mereka
orang-orang baik.Warga komplek yang kasian melihatku. Aku menolak dengan
halus. Meyakinkan kalau aku baik-baik saja dan bisa melanjutkan
perjalanan. Mereka membantuku menaiki Mio. Dalam hati aku berdoa semoga
Allah membalas kebaikan mereka.
Kulajukan
Mio yang terseok-seok jalannya. Kubisikkan kata yang lembut "Mio kita
harus jemput Kaka". Ajaib.. kami seperti selalu punya ikatan batin yang
erat. Mio mulai melaju. Kakiku yang sakit tak kupedulikan. Rasanya ingin
segera menjemput anakku.
Mamah
Rini, wanita lembut ibu dari sahabat anakku menyapaku dengan ramah.
Kusampaikan permohonan maaf padanya karena tak bisa mampir terlalu lama.
Wajahnya terkejut dan cemas ketika kuceritakan apa yang telah
menimpaku. "Thanks mom for everything" sahutku pamit.
Anakku
tampak termangu menatap ibunya dengan jaket dan sepatu yang kotor.
Memelukku di jok belakang. Saat seperti ini kami begitu dekat. Tak ingin
kehilangan satu sama lain. Kulajukan Mio menuju tukang urut. Fatal
sekali jika aku terlambat untuk diurut. Pasti panas dingin sekujur
tubuh. Bersyukur, Pak Haji tukang urut itu ada di rumahnya. Sehingga aku
bisa meluruskan urut-urat kaki, lengan, kepala, yang mulai terasa kaku.
Senut-senut rasanya. Anakku setengah tertawa melihatku tampak
kesakitan. Krutuk...krutuk Pak Haji tukang urut itu tak segan-segan
menarik lengan, kaki, punggung, hingga kepalaku. Aku menahan sakit,
Krutuk-krutuk...anakku kembali tertawa. Hiks..
Ah..tiba
di rumah tak henti kusyukuri betapa Allah masih menyayangi. Sekujur
tubuhku tak apa-apa, hanya menyisakan luka sedikit di kaki. Sementara
sendi-sendi tulang sudah tak kurasakan senut-senut lagi. Suami pun tak
henti menasihati agar sang istri tetap berhati-hati. Terima kasih ya
Rabb...kau masih melindungi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar