Senja berbalut hujan
Di Januari minggu ketiga
Menangkap rintik yang jatuh
Menjadi titik dan menggenang
Waktu-waktu menunggu
Rinai yang muncah
di sela-sela tetes atap yang basah
Sejenak terpaku
Awal akan jadi akhir
Ada hingga tiada
Januari merangkak pergi
Sederas hujankah goresan tintamu hari ini?
Selasa, 22 Januari 2019
Rabu, 16 Januari 2019
DOMESTIK AREA
Bismillah....
Pagi ini melihat rumput di halaman rumah mulai meninggi. Rumput-rumput tersebut tentu saja mengganggu pandangan mata. Apalagi disertai dengan beberapa tumbuhan liar yang lain. Kasian melihat beberapa bunga dan tanaman peliharaan mulai terganggu. Tangan ini rasanya ingin sekali membersihkannya.
Ya mencabut rumput dan merapikan beberapa tanaman sepertinya menjadi agenda bulanan. Sepintas pekerjaan tersebut seharusnya dikerjakan oleh laki-laki. Tapi tak apa karena suami memang sibuk dan saya tidak punya pembantu, maka bergeraklah tangan ini mengambil gunting rumput dan mulai membabat rumput-rumput liar dan beberapa tanaman pengganggu.
Pernah hitung-hitungan pekerjaan tidak sih Mom's dengan suami? Kalau urusan mencari nafkah mah tetap kewajiban suami ya Mom's. Tapi ini kaitannya dengan kolaborasi pekerjaan rumah tangga. Apakah Mom's juga melakukan negosiasi untuk berbagi pekerjaan rumah tangga? Misalnya masak bebersih rumah wajib tugas istri. Bersihin kamar mandi, toilet, nyabut rumput itu tugas suami. Hehe mungkin yang punya Asisten Rumah Tangga tidak ada kesepakatan seperti itu ya Mom's. Nah kalau seperti saya yang tidak memiliki asisten rumah tangga rasanya harus pandai-padai membagi waktu. Artinya kesepakatan tentang pekerjaan rumah, saya dan suami memiliki aturan yang fleksibel. Biasanya untuk pekerjaan rumah tangga yang rutin seperti mencuci, masak, nyapu, ngepel itu kewajiban istri. Sisa yang lainnya seperti membersihkan toilet, mencabut rumput itu fleksibel sifatnya. Siapa yang bisa dan punya waktu untuk mengerjakan ya kerjakan. Sepertinya jika pekerjaan rumah tangga memakai kalkulasi hitungan, rasanya kok tidak menyelesaikan masalah ya Mom's.
Bijak dan berpikir bahwa yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah. Ibadah untuk tetap menjaga keharmonisan dan siklus kerumahtanggaan dengan baik. Hehe.... Bahasanya kok kyk yang gimana gitu ya. Dijalani dengan santai saja Mom's segala pekerjaan rumah tangga kita. Segala lelah Insyaallah jadi Lillah. Anak suami bahagia adalah hal yang paling kita inginkan. Menyelesaikan tugas dan kewajiban kita dengan baik pun akan jadi kebahagiaan tersendiri.
Renungan pagi di Kamis manis... Barakallah
Pagi ini melihat rumput di halaman rumah mulai meninggi. Rumput-rumput tersebut tentu saja mengganggu pandangan mata. Apalagi disertai dengan beberapa tumbuhan liar yang lain. Kasian melihat beberapa bunga dan tanaman peliharaan mulai terganggu. Tangan ini rasanya ingin sekali membersihkannya.
Ya mencabut rumput dan merapikan beberapa tanaman sepertinya menjadi agenda bulanan. Sepintas pekerjaan tersebut seharusnya dikerjakan oleh laki-laki. Tapi tak apa karena suami memang sibuk dan saya tidak punya pembantu, maka bergeraklah tangan ini mengambil gunting rumput dan mulai membabat rumput-rumput liar dan beberapa tanaman pengganggu.
Pernah hitung-hitungan pekerjaan tidak sih Mom's dengan suami? Kalau urusan mencari nafkah mah tetap kewajiban suami ya Mom's. Tapi ini kaitannya dengan kolaborasi pekerjaan rumah tangga. Apakah Mom's juga melakukan negosiasi untuk berbagi pekerjaan rumah tangga? Misalnya masak bebersih rumah wajib tugas istri. Bersihin kamar mandi, toilet, nyabut rumput itu tugas suami. Hehe mungkin yang punya Asisten Rumah Tangga tidak ada kesepakatan seperti itu ya Mom's. Nah kalau seperti saya yang tidak memiliki asisten rumah tangga rasanya harus pandai-padai membagi waktu. Artinya kesepakatan tentang pekerjaan rumah, saya dan suami memiliki aturan yang fleksibel. Biasanya untuk pekerjaan rumah tangga yang rutin seperti mencuci, masak, nyapu, ngepel itu kewajiban istri. Sisa yang lainnya seperti membersihkan toilet, mencabut rumput itu fleksibel sifatnya. Siapa yang bisa dan punya waktu untuk mengerjakan ya kerjakan. Sepertinya jika pekerjaan rumah tangga memakai kalkulasi hitungan, rasanya kok tidak menyelesaikan masalah ya Mom's.
Bijak dan berpikir bahwa yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah. Ibadah untuk tetap menjaga keharmonisan dan siklus kerumahtanggaan dengan baik. Hehe.... Bahasanya kok kyk yang gimana gitu ya. Dijalani dengan santai saja Mom's segala pekerjaan rumah tangga kita. Segala lelah Insyaallah jadi Lillah. Anak suami bahagia adalah hal yang paling kita inginkan. Menyelesaikan tugas dan kewajiban kita dengan baik pun akan jadi kebahagiaan tersendiri.
Renungan pagi di Kamis manis... Barakallah
Jumat, 11 Januari 2019
BELAJAR DARI SEBUTIR DEBU
Bismillahirrahmaanirrohiim
Pagi ini seperti biasa menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Ada banyak sekali pekerjaan yang biasa dilakukan di pagi hari. Salah satunya adalah membersihkan rumah. Kegiatan ini cukup kompleks ya Mom's dari mulai menyapu, mengepel, mengelap dari debu dan segala macam kotoran. Pernah gk sih Mom's bosan melakukan pekerjaan itu? Atau pernah gk terbesit untuk selalu menunda pekerjaan tersebut? Rasanya hampir dapat dipastikan bahwa tak ada kata bosan untuk membersihkan rumah. Bahkan kegiatan ini menjadi salah satu prioritas untuk dijadikan rutinitas. Berbeda dengan menyetrika yang bisa kita pending waktunya.
Bahkan saking sayangnya terhadap keluarga Mom's di rumah pasti selalu menginginkan rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Pernah kesal gk Mom's dengan debu yang ada di dalam rumah? Pekerjaan membersihkan rumah meskipun setiap hari kita lakukan, debu dalam rumah selalu ada dan muncul kembali. Kemarin sudah disapu, dipel kok hari ini debu dalam rumah tak pernah berkurang?
Jadi teringat dan berintrospeksi dalam diri. Membayangkan rumah adalah hati kita Mom's, dan debu adalah dosa-dosa kita. Rasanya seperti kemarin kita menyadari kesalahan yang kita lakukan, tapi lagi dan lagi kita tak pernah luput dari kesalahan. Bahkan melakukan kesalahan yang sama. Kemarin ingat untuk tidak melalaikan sholat, hari ini dan besok-besok masih saja menunda waktu sholat. Astaghfirullahaladziim. Begitulah kodrati manusia. Tempatnya salah dan alpa. Seperti debu-debu dalam rumah. Bersembunyi dan bertumpuk dari hari ke hari. Terbayang kalau rumah tidak pernah dibersihkan. Betapa debu itu akan menyerang penghuni rumah dengan berbagai penyakit. Kecoa dan serangga lain mudah bermunculan. Begitu juga dengan hati. Membayangkan jika hati tidak pernah dibersihkan. Betapa banyak penyakit hati yang akan muncul dalam diri kita. Rasa iri, dengki, hasad, hasut, galau, riya, dan penyakit hati lainnya. Naudzubillahimindzalik. Kemanakah kita harus berlindung? Hanya Allahlah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Lalu bagaimanakah caranya agar hati kita selalu bersih? Jadi ingat lagu yang sering Aa Gym sampaikan.
"Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati lentera hidup ini... "
Ada beberapa cara untuk membersihkan hati. Masih ingat Mom's Lagu Opik yang berjudul "Tombo Ati". Liriknya yang berbunyi seperti ini :
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Sebagai bahan introspeksi dan pengingat diri, yuk mulai dari sekarang bersih-bersih hati seperti setiap hari kita membersihkan rumah sendiri. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan selalu dekat pada Allah dengan membaca Al-Quran dan maknanya. Mendirikan sholat malam, berkumpul bersama orang-orang sholeh, memperbanyak puasa dan berdzikir dan mengingat Allah karena segala perasaan hati Allah yang menciptakan. Maka berlindung dari godaan syaitan dengan cara berdzikir adalah hal yang bisa membuat hati kita tentram.
Sirami rohani dengan tausiah dan mendalami ilmu agama pun bisa jadi penguat hati kita. Memulai untuk menjauhi kemaksiatan dan membenahi diri mulai dari hal terkecil. Selain itu tanamkan dalam diri untuk selalu bersyukur akan nikmat yang Allah beri. Selalu bersikap rendah hati, menjaga niat, perkataan, dan perbuatan. Berpasrah pada taqdir dan ketentuan Allah. Serta Lakukan sesuatu karena Lillahi taala.
Semoga hal-hal tersebut selalu jadi pengingat untuk selalu membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran hati yang setiap saat selalu menumpuk dalam diri kita. Wallahu alam bishawab. Refleksi diri di Jumat barokah...
Pagi ini seperti biasa menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Ada banyak sekali pekerjaan yang biasa dilakukan di pagi hari. Salah satunya adalah membersihkan rumah. Kegiatan ini cukup kompleks ya Mom's dari mulai menyapu, mengepel, mengelap dari debu dan segala macam kotoran. Pernah gk sih Mom's bosan melakukan pekerjaan itu? Atau pernah gk terbesit untuk selalu menunda pekerjaan tersebut? Rasanya hampir dapat dipastikan bahwa tak ada kata bosan untuk membersihkan rumah. Bahkan kegiatan ini menjadi salah satu prioritas untuk dijadikan rutinitas. Berbeda dengan menyetrika yang bisa kita pending waktunya.
Bahkan saking sayangnya terhadap keluarga Mom's di rumah pasti selalu menginginkan rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Pernah kesal gk Mom's dengan debu yang ada di dalam rumah? Pekerjaan membersihkan rumah meskipun setiap hari kita lakukan, debu dalam rumah selalu ada dan muncul kembali. Kemarin sudah disapu, dipel kok hari ini debu dalam rumah tak pernah berkurang?
Jadi teringat dan berintrospeksi dalam diri. Membayangkan rumah adalah hati kita Mom's, dan debu adalah dosa-dosa kita. Rasanya seperti kemarin kita menyadari kesalahan yang kita lakukan, tapi lagi dan lagi kita tak pernah luput dari kesalahan. Bahkan melakukan kesalahan yang sama. Kemarin ingat untuk tidak melalaikan sholat, hari ini dan besok-besok masih saja menunda waktu sholat. Astaghfirullahaladziim. Begitulah kodrati manusia. Tempatnya salah dan alpa. Seperti debu-debu dalam rumah. Bersembunyi dan bertumpuk dari hari ke hari. Terbayang kalau rumah tidak pernah dibersihkan. Betapa debu itu akan menyerang penghuni rumah dengan berbagai penyakit. Kecoa dan serangga lain mudah bermunculan. Begitu juga dengan hati. Membayangkan jika hati tidak pernah dibersihkan. Betapa banyak penyakit hati yang akan muncul dalam diri kita. Rasa iri, dengki, hasad, hasut, galau, riya, dan penyakit hati lainnya. Naudzubillahimindzalik. Kemanakah kita harus berlindung? Hanya Allahlah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Lalu bagaimanakah caranya agar hati kita selalu bersih? Jadi ingat lagu yang sering Aa Gym sampaikan.
"Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati lentera hidup ini... "
Ada beberapa cara untuk membersihkan hati. Masih ingat Mom's Lagu Opik yang berjudul "Tombo Ati". Liriknya yang berbunyi seperti ini :
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Sebagai bahan introspeksi dan pengingat diri, yuk mulai dari sekarang bersih-bersih hati seperti setiap hari kita membersihkan rumah sendiri. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan selalu dekat pada Allah dengan membaca Al-Quran dan maknanya. Mendirikan sholat malam, berkumpul bersama orang-orang sholeh, memperbanyak puasa dan berdzikir dan mengingat Allah karena segala perasaan hati Allah yang menciptakan. Maka berlindung dari godaan syaitan dengan cara berdzikir adalah hal yang bisa membuat hati kita tentram.
Sirami rohani dengan tausiah dan mendalami ilmu agama pun bisa jadi penguat hati kita. Memulai untuk menjauhi kemaksiatan dan membenahi diri mulai dari hal terkecil. Selain itu tanamkan dalam diri untuk selalu bersyukur akan nikmat yang Allah beri. Selalu bersikap rendah hati, menjaga niat, perkataan, dan perbuatan. Berpasrah pada taqdir dan ketentuan Allah. Serta Lakukan sesuatu karena Lillahi taala.
Semoga hal-hal tersebut selalu jadi pengingat untuk selalu membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran hati yang setiap saat selalu menumpuk dalam diri kita. Wallahu alam bishawab. Refleksi diri di Jumat barokah...
Langganan:
Komentar (Atom)