Rabu, 20 Maret 2019

DUA JAM MENUNGGU

Dua jam lagi. Kulirik jam di pergelangan tangan. Baru pukul 9.00. Kulangkahkan kaki menuju koridor depan rumah sakit.  Masih terasa sakit di lengan tangan. Jarum yang menusuk dan menyedot darahku. Dokter menyarankan untuk tes darah karena lima hari ini demamku naik turun.

Sambil menunggu hasil tes, kulangkahkan kaki menuju antrean mesin ATM. Terpaksa ambil uang cash karena hari ini asuransiku masih belum bisa dipakai. Masih proses perpanjangan. Terpaksa harus rembest dan belum tentu biayanya dicover asuransi.  Sedih juga saat sakit harus ke rumah sakit sendiri. Suami masih sibuk dan rasanya gk tega mengganggu jam kerjanya. Alhamdulillahnya tubuh masih kuat untuk berkendara sendiri. Walaupun suami memaksa agar aku berangkat diantar Mbah panggilan untuk Bapak mertuaku. Tapi sepertinya aku gk ingin merepotkan siapa-siapa. 

Selesai dari mesin ATM kumulai mencari tempat duduk. Malas kalau harus pulang dulu. Akhirnya aku memilih menunggu dua jam ini di rumah sakit. Mengambil posisi di lantai tiga. Tak jauh dari ruang dokter yang memeriksaku.
Kulihat sekeliling masih sepi. Deretan bangku yang berjajar sepanjang koridor rumah sakit masih kosong. Tiba-tiba datanglah rombongan keluarga. Seorang bapak yang sudah berumur,  seorang perempuan yang kukira istrinya dan dua orang perempuan. Mungkin mereka adalah anak-anaknya. Kuperhatikan selintas rombongan keluarga itu. Anak perempuan yang satu sudah dewasa, kutaksir umurnya kira-kira 28 tahunan,  dan anak perempuan satu lagi sedikit menyita perhatianku. Tubuhnya mungil, namun ada yang aneh dengan anak perempuan itu. Wajahnya terlihat tua dari usianya. Bahkan wajahnya lebih tua dari perempuan yang kukira kakaknya. Di lehernya digantungkan kain untuk mengelap liur yang keluar dari mulutnya. Tangannya menggenggam sebuah bola. Aku sedikit terheran. Dalam hati aku hanya bisa berkata sepertinya ada sesuatu dengan anak tersebut.
"mmm... Mmmm.. Nanamamamu.. Hmm.. Hmmmmmm".
Kudengar anak itu menggumamkan sesuatu. Aku yang berada di sebelahnya sedikit menoleh. Memperhatikan sekilas tingkah anak itu.
"Tunggu ya nanti Mama ambilkan minumnya, "sahut perempuan dewasa yang kukira kakaknya.
Dalam hati aku berkata ternyata aku salah menebak. Perempuan dewasa itu adalah mamanya dan perempuan tua di sebelahnya adalah neneknya.
Terlihat dengan sabar nenek itu mengambil minum dan meminumkan kepada cucunya. Terdengar suara anak itu terbatuk-batuk. Ia mulai menggenggam minumannya sendiri. Ketika kutulis deretan kata ini. Anak itu tampak menatapku. Aku tersenyum padanya. Meski ada perasaan campur aduk di dalamnya. Kasihan anak itu. Aku tak berani bertanya kepada keluarganya tentang berapa umurnya.
Kulihat kembali mamanya,  neneknya,  dan laki-laki tua yang kukira adalah kakeknya. Mereka begitu menyayangi anak itu. Menunggu dokter dengam sabar. Membelai anak itu. Mengelap liurnya. Ya anak yang menyita perhatianku. Anak yang kutak berani bertanya siapa namanya. Anak yang kutuliskan ceritanya hari ini. Keluarga itu mengajarkan kasih sayang. Penerimaan untuk sebuah kekurangan yang mungkin belum tentu semua orang bisa melewatinya.

Santosa,  26 Februari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar