Mudik lebaran tahun ini aku manfaatkan untuk menemani Ibu. Ya Ibu adalah alasan utama untukku selalu pulang. Pulang ke kampung halaman. Pulang mengunjungi sosok yang paling kurindu. Sosok yang cintanya melebihi lautan. Kasihnya mengiringi tak berbatas.
Usia Ibu yang mulai renta membuat kondisinya tak seperti dulu. Kakinya sudah mulai sulit berjalan. Lutut yang sering menjadi keluhannya. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan lutut Ibu terkena pengapuran. Kakinya sudah tak bisa kokoh seperti dulu. Berjalan pun sangat pelan. Karena aku tinggal di luar kota, hanya bisa menemani Ibu saat libur sekolah dan lebaran saja. Untuk keperluan sehari-hari, Ibu ditemani adikku yang tinggal serumah dengannya. Sementara untuk memasak dan makan Ibu dibantu pembantu yang bekerja pada Kakakku. Kebetulan rumah kakakku bersebelahan dengan rumah Ibu.
Keluhan tentang lututnya yang sakit sering aku dengar. Berkali aku harus berembuk dengan anggota keluarga untuk berbagi tugas demi kesembuhan Ibu. Dokter tulang menyarankan untuk terapi. Lututnya harus dilaser dengan pertemuan terapi yang harus kontinu. Tentu semua anak-anaknya harus berkorban waktu. Delapan anaknya punya kesibukan masing-masing. Tiga orang berada di luar kota. Termasuk aku. Otomatis kakak-kakak dan adikku yang berada satu kota dengan ibulah yang harus berbagi waktu dan jadwal untuk mengantar Ibu ke rumah sakit.
"Bu... Sekarang jadwal terapi, yuk berangkat.. "Bujuk kakakku pada Ibu.
"Kartunya sudah diambil belum? Ibu gk mau di sana menunggu lama." Tanya Ibu dengan wajah lelah.
" Sudah Bu.. nomor sudah diambil Ino tadi pagi. Kita kebagian nomor antrean 82. Sekarang pukul 10. Semoga saja kita tidak lama menunggu." Sahut Kakakku dengan sabar. Ino adalah adik laki-lakiku. Dialah yang bertugas mengambil nomor antrean pagi-pagi agar Ibu tidak terlalau lama menunggu dokter nanti.
Jadwal terapi yang lama membuat Ibu kadang merasa bosan. Belum lagi antrean saat menunggu dokter. Ibu kadang terlihat kesal. Apalagi antrean pasien BPJS yang membludak. Aku hanya sering mendengar laporannya dari kakak dan adikku. Katanya Ibu mulai rewel, tidak sabaran, dan sering menggerutu. Sikap Ibu yang mulai kembali seperti kanak-kanak pun sering aku dengar laporannya. Aku hanya menyimak dan mencoba maklum. Ada saja laporan setiap hari yang sampai ke telingaku
"Coba deh kamu lama tinggal di sini. Kamu coba deh rasain tinggal sama Ibu tuh gimana.. " Laporan Kakakku suatu kali saat Ibu sudah mulai mengeluh dan tidak mau diterapi lagi.
"Padahal ini kan demi kesembuhan Ibu. Kita tuh sayang sama Ibu. Kamu tahu kan tiap malam Ibu selalu mengeluh sakit. Belum lagi susah sekali Ibu minum obat. Harus diingatkan terus. " Ini pun laporan adikku berkali-kali.
Lagi-lagi aku hanya menarik napas. Mencoba mendengarkan dengan saksama keluhan kakak-kakak dan adik-adikku.
"Nanti kamu telepon Ibu kasih tau yang bener. Nasihatin. Kolang-kalingnya dimakan. Susu anlennya diminum. Terus makan kok susah banget. Coba deh kamu rasain tinggal di sini. " Keluh salah satu kakakku lagi.
Selain obat dokter, Ibu juga disarankan untuk mengonsumsi vitamin khusus tulang, susu khusus untuk penguatan tulang, dan menjaga pola makan. Ya... Ibu punya riwayat asam urat. Salah makan pasti membuat tubuhnya kesakitan terutama mengonsumsi makanan bersantan dan berserat tinggi. Konsumsi kolang-kaling pun dilakukan demi kesembuhan Ibu.
"Ibu gk mau terapi lagi Va. Capek. Kesel nunggu dokternya. Kaki Ibu juga gk sembuh-sembuh.. "Rengek Ibu padaku saat aku meneleponnya.
"Loh Bu kenapa Ibu gk mau terapi lagi? Kan tinggal dua bulan lagi masa terapinya kata dokter.. "Sahutku tetap membujuk Ibu.
"Gk mau.. Pokoknya Ibu gk mau terapi lagi. Ibu jadi ketinggalan ngaji ke mesjid Va. Bismillah pasrahin sama Gusti Allah saja. Semua penyakit datang dariNya Va. Minta kesembuhan sama Gusti Allah saja." Suara Ibu mulai terbata. Ada keletihan di nada suaranya.
Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Percuma memaksa Ibu. Jika sudah punya keinginan tak ada satu pun bujukan anak-anaknya yang bisa masuk ke hatinya.
"Ya sudah kalau Ibu gk mau terapi lagi. Tapi nanti dipakai dekker untuk di kakinya ya Bu. Makan jangan telat. Susunya diminum. Terus kalau berangkat ngaji hati-hati Bu" Pesanku pada Ibu. Aku hanya bisa menuruti keinginan Ibu tapi tetap meminta Ibu untuk menjaga kesehatannya.
Dalam hati aku selalu bersyukur dan terharu. Bahkan ketika sakitnya Ibu, Al-quran tak pernah lepas dari pangkuannya. Malu rasanya pada diri ini, begitu cintanya Ibu pada Al-quran. Bahkan saat sakit dan waktu senggangnya selalu diisi dengan membaca Al-quran. Apalagi ketika sakit kakinya berkurang. Ibu berusaha hadir, memimpin mengaji bersama ibu-ibu majelis taklim.
Lebaran kali ini air mataku menetes. Bahagia masih bisa menginjakkan kaki di rumah Ibu. Rumah perempuan yang begitu aku cintai. Rumah perempuan yang sepeninggal Bapak masih tetap tangguh dan tak pernah letih mendoakan anak-anaknya. Perempuan yang tak muda lagi, yang mulai renta termakan usia. Kulit-kulit keriputnya adalah bukti perjalanan berat untuk delapan anaknya mengenyam kesuksesan. Kakinya mulai rapuh terkikis usia. Biarlah lebaran ini aku menemaninya. Memijit kakinya jelang tidur sambil berceloteh tentang apa saja. Kerinduan yang membaur. Menyeduhkan susu hangat untuknya jelang matanya terpejam. Sebaris bulir beningku jatuh. Rabb... Biarkan Lebaran berikutnya aku masih bisa bersama Ibu. Menemaninya di sisa usianya....