Di akhir tahun tujuh puluhan
Mataku baru terbuka
Dunia masih samar
Nanar menjelajah kehidupan
Di tahun delapan puluhan
Asyik main congklak,
gobak sodor, engklek, dan petak umpat
Anak-anak berlari dalam temaram bulan
Di halaman rumah nenek
Nyanyian ular tangga panjangnya terngiang
Bermain tanah, air, udara yang jernih
Berbekal senapan bambu
sampai pelepah pisang dan tebu
Memainkan peran mantili
yang suaranya lantang
Seperti dalam sandiwara radio
Lagak anak-anak sok jago
Jika magrib datang surau penuh
Anak-anak bersuara lantang mengaji
Selepas Isya mereka berlari
Membentuk lingkaran
lagu jarak-jarakan berdendang
Di tahun sembilan puluhan
Mobil dan motor mulai berseliweran
Udaraku mulai sesak
menepi di bahu jalan
Masa remaja tanpa gawai
Remaja riang ilmu tergapai
Di pertengahan sembilan puluhan
Masa remaja di bangku SMA
Kenakalan dan kekocakkan
Berbaur menjadi warna
Gita cinta di SMA manusiawi adanya
Hormati guru
Sayangi teman
Menjadi slogan
Ah.. Meski ada saja catatan di ingatan
Yang membuat tertawa
Tentang bak sampah, sepeda, dan permen karet
Biarlah menjadi kenangan yang lengket
Di tahun 2000an
Kedewasaan menjelma
Cinta dan cita menjadi dunia nyata
Pilihan..
Pilihan...
Pilihan....
Hati, rasa, pikir, dan perilaku
Kita yang tetapkan
Hati, rasa, pikir, dan perilaku
Mewujud dalam satu pilihan
Di abad 20 kakiku masih berdiri
Memandangi zaman yang kian menderu
Menjadi Ibu kodrat sejatiku
Duhai Rabb yaa rabbul izzati
Pelipur diri
Bentengi kami
Dengan sekuat-kuat iman di hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar