Rabu, 15 Januari 2020

PASIEN SEBELAH (BAGIAN 2)

"Teh..Ibu pamit ya. Hari ini Bapak sudah boleh pulang." Sahut perempuan paruh baya yang kemarin curhat padaku.

"Mangga Ibu. Sehat selalu ya untuk Bapak." Sahutku sambil menyalami perempuan itu.

Kusalami juga suaminya yang turut menganggukkan kepala kepadaku. Dua putri mereka yang cantik ikut menjemput. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka. Seolah menghapus percakapan-percakapan yang seharian kemarin kudengar tanpa sengaja.

"Yaaaa sepi deh kita Yah. Sambil nunggu dokter datang mending kita main game tangan yuk Yah." Sahutku mengajak bermain suami. Mengisi waktu agar tidak jenuh. Kalau capek berceloteh, aku ajak suamiku bercanda biar gak terasa sakitnya.

Alhamdulillah di hari kedua ini kondisinya mulai membaik. Makanan sudah mulai masuk. Hanya mual dan kembung masih terasa. Begitu pula sakit kepalanya. Leng-lengan katanya.

Aku menjulurkan tiga jariku. Telunjuk, jempol, dan kelingking. Saat bosan aku biasa mengajak suamiku bermain game jadul ini. Karena yang memulai duluan biasanya selalu menang. Maka aku selalu memilih jadi pemilih pertama. Hehe alhasil akulah yang selalu menang. Tapi lumayanlah permainan ini bisa membuat suamiku tertawa. Atau kadang aku ajak swafoto bareng. Tentu saja ekspresi suamiku selalu galfok.

"Ini ruangannya Pak. Di sini kosong." Sahut seorang suster yang membawa pasien baru menggantikan suami Ibu paruh baya yang pamit tadi.

Aku memandang suamiku. Mengernyitkan kening. Wajahku menyiratkan pertanyaan. Seperti apa karakter pasien sebelah kali ini. Suamiku hanya tertawa melihat ekapresiku.

"Buru atuh urang lapar. Manya teu dibere.makan" Sahut suara Bapak di sebelah.

"Engke heula atuh Pak, sabar. Pan saur dokter oge teu meunang tuang nanaon hela. Susu hungkul anu tiasa mah." Sahut suara perempuan di tirai sebelah.

Ah...aku menutup telingaku kembali. Percakapan-percakapan yang tak ingin kudengar kembali terdengar tanpa sengaja. Suami tertawa geli ketika melihat ekspresiku. Apalagi mendengar suara-suara bom meletus yang membuatku tertawa tertahan.

" Dut..dut...dut...."

Duh gusti aya-aya wae nih tetangga sebelah. Aku menepuk jidat. Suamiku semakin tertawa melihat ekspresi wajahku yang sudah tak betah. Tapi aku mencoba memaklumi. Namanya juga orang sakit. Alhamdulillah masih bisa buang angin. Bukankah itu juga anugerah.

Aku mencoba menyambut tetangga sebelah dengan santun. Melupakan kejadian tadi dan mulai akrab dengan istrinya. Seorang Ibu berusia 60 tahunan. Kesabaran pun terpatri dari ceritanya. Suaminya yang berusia 65 tahun harus bolak-balik ke rumah sakit. Dua ring sudah dipasang di tubuhnya. Penyakit jatungnya sudah cukup parah. Komplikasi juga di kaki. Hari ini masuk rumah sakit karena harus menjalani endoskopi untuk memastikan sakit lambungnya.

Kembali, aku melihat ketabahan yang luar biasa dari seorang ibu, seorang istri. Ketabahan yang semoga aku juga bisa ambil hikmahnya. Kesabaran memupuk.pernikahan meski aneka ujian menghadang.

Kulirik suamiku yang mulai segar. Wajahnya sudah mulai bertenaga.Sambil menyuapkan buah untuknya, ada berjuta tangkup sabar yang juga harus kupupuk selalu.

"Yah kalau besok sehat,  kita pulang ke rumah yuk.."😄

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar