Punya benda kesayangan? Pasti setiap orang punya benda atau sesuatu yang kadang tak terpisahkan. Sudah seperti soulmate. Selalu nempel kemana pun pergi. Nah, si Mio ini juga begitu. Sudah 14 tahun mendampingi. Selalu ikut kemana pun pergi. Selalu bersama saat suka maupun duka. Mio ini adalah saksi hidup perjalanan.
Ada kisah sedih dulu waktu pertama beli si Mio ini. Suami sengaja belikan Mio ini karena kasihan istrinya harus mengajar ke tempat yang jaraknya kurang lebih 8 km. Iya posisi waktu itu tinggal di Kota Bandung dan harus mengajar di Kota Cimahi. Tiap hari bolak-balik luar kota. Harus naik dua kali angkot. Kalau berangkat ngajar, bisa bareng sama suami. Pulangnya baru naik angkot yang jarak tempuhnya kurang lebih satu jam. Yang bikin harus banyak bersabar juga karena angkot Cimahi-Ledeng itu nunggunya lama banget. Alias jarang ada. Bisa sejam sekali lewatnya. Belum lagi macet jalur Setiabudi kalau siang hari. Berkali juga ingin mundur dari mengajar karena jauhnya perjalanan. Tapi Alhamdulillah semua dijalani dengan niat ibadah. Suami pun mendorong untuk naik motor saja. Bisa motong jalan, jarak dan waktu tempuh lebih singkat. Hanya 20 menit perjalanan kalau mengendarai motor.
Aslinya dulu saya gak bisa naik motor. Apalagi lihat jalanan Bandung yang super ramai. Ngeri aja yang ada dan naik angkot tetap jadi pilihannya. Suami yang selalu mendorong untuk saya mau belajar. Gak mungkin kan kita terus mengandalkan suami. Mau kemana-mana harus nunggu suami dulu. Ke supermarket nunggu suami, ke pasar nunggu suami. Wah ribet juga ya. Akhirnya mulailah muncul keberanian untuk mau belajar naik motor. Menembus jalanan Bandung yang super ramai meskipun dengan jantung yang deg-degan. Notes saya yang sampai saat ini selalu diingat adalah Keberanian muncul karena adanya kebutuhan😅😅
Pernah jatuh dari motor? Wah sudah gak kehitung selama 14 tahun itu berapa kali jatuh dari motor. Alhamdulillahnya Allah selalu melindungi. Belum pernah ngalamin kecelakaan yang harus tabrakan dengan kendaraan lain. Naudzubillah. Paling jatuh karena kelalaian tunggal. Contoh waktu pertama belajar, gak bisa ngukur kadar gas kalau mau nanjak. Alhasil nyungsep olangan😁😁. Apalagi tempat saya mengajar itu pintu masuknya harus nanjak. Kenang-kenangan jatuh pertama ya di situ. Di sekolah tempat mengajar. Suara gubraaak terdengar pagi-pagi disertai rintihan nahan sakit. 😭
Dari peristiwa jatuh pertama itu jadi belajar. Oh kalau nanjak gasnya segitu. Oh kalau turun yang dipegang rem dua-duanya. Dulu pernah yang dipegang hanya rem kanan. Alhasil si sayah nyungsep juga. Banyak kisah dengan si Mio yang saya tuangkan juga dalam curcol-curcol ringan di blog pribadi. Buat kenang-kenangan aja. Terus kalau baca lagi suka seseurian olangan😅
Si Mio jugalah yang selalu mengantar anak saya ke sekolah. Dari TK sampai sekarang kelas dua SMA, Si Mio inilah yang selalu menemani. Kaka Rifqah sayang, banyak kisah ya Ka yang kita lalui bersama di atas si Mio ini. Celoteh sepanjang perjalanan sepulang sekolah. Ingat saat si Mio kehabisan bensin, tepat di lampu merah Jalan Cihampelas. Ya Allah itu kenangan yang tak terlupakan ya Ka😅😅
Mio jarang sekali rewel. Perawatannya sangat mudah. Asal betul-betul disiplin dengan jadwal servisnya. Minimal tiga bulan sekali Mio memang harus diservis. Rutin menyervisnya membuat tenaganya masih cukup bagus meski sudah 14 tahun. Cuma fisiknya saja yang sudah tidak semulus dulu. Banyak baret bekas jatuh dan spionnya tinggal satu😁
Hari ini kami melepasmu pergi. Terkadang memang harus siap untuk melepas apa pun yang kita sayangi. Mio salah satunya. Benda yang tidak hanya sekedar benda. Semakin kita berat untuk melepaskan, semakin itu bukan pilihan yang terbaik. Notesnya, Ketika kita menyayangi, maka kita pun harus siap ketika melepaskan.
Tulisan ini semoga akan selalu jadi kenangan tentang kebersamaan, keikhlasan, perjuangan, dan cinta kasih.
Love u n miss u so much Mio. Semoga pemilikmu yang baru menyayangimu selalu.🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar