MURIDKU PUN GURU
Ya bagaimana tidak
mencuri perhatianku. Dialah salah satu mutiara yang kutemui di sekolah tempat
kumengabdi. Sekolah yang rata-rata siswanya memiliki kemampuan dan latar
belakang beragam. Sekolah tempat aku menggantungkan nasib selama kurang lebih
16 tahun mengabdi. Ya mengabdikan diri untuk sebuah ketulusan dan proses
pembelajaran hidup. Bukan hanya sebagai guru, namun lebih kepada panggilan hati
untuk selalu bisa belajar. Belajar dari hal-hal yang kutemui. Termasuk belajar
dari sosok Fasya, anak didikku.
Masih kuingat saat
pertama kali bertemu Fasya. Saat itu, ia duduk di kelas VIII. Aku belum
mengajarnya karena tugasku mengajar di kelas IX. Sosoknya membuatku terpukau.
Di saat siswa yang lain menikmati waktu istirahatnya di kantin, Fasya khusyuk
melaksanakan sholat Dhuha di mushola sekolah. Di saat siswa yang lain menikmati
waktu istirahatnya, Fasya terlihat tekun merapalkan doa-doa. Di saat istirahat
anak-anak lain terlihat bersenda gurau dengan teman-temannya. Kulihat Fasya
asyik betah dengan hafalan suratnya. MasyaAllah…hatiku bergumam. Penasaran, masih
kuingat esoknya kembali kuamati Fasya. Saat istirahat pasti ada di mushola. Sejak
saat itulah, aku sering bertemu dengannya di mushola. Di mushola tempat aku pun
berserah, mengais rejeki lewat doa-doa.
Ketika kenaikan kelas,
Fasya masuk dalam daftar siswa yang ada di kelasku. Menjadi wali kelasnya
membuatku jadi lebih sering berkomunikasi dengannya. Terlebih, ketika
pembelajaran jarak jauh berlangsung. Fasya selalu menjadi siswa yang kuandalkan
untuk memimpin doa. Kegiatan pagi hari berupa doa bersama adalah kegiatan yang
biasa dilakukan bersama siswa di kelasku. Sering kali, aku meminta siswa lain untuk
bergantian juga memimpin doa.
Sejak pandemi
berlangsung, aku belum sempat bertemu kembali dengan anak didikku. Semua
kegiatan dan komunikasi dilakukan via gawai. Grup orang tua dan siswa menjadi
penghubung. Namun, ada juga beberapa siswa yang memiliki keterbatasan kuota
atau pun gawai. Mereka bisa tetap belajar dengan sistem luring. Tatap muka
dengan kelompok kecil siswa. Tentu dengan mengikuti prosedur dan protokol
kesehatan yang ada.
Kuamati kembali layar
gawai. Tetera tugas Fasya dikirim sekaligus. Tugas mata pelajaranku tiga minggu
yang lalu baru dikirimkan hari ini. Alisku sedikit berkerut. Melirik jarum jam.
Pukul 22.00. Agak heran mengapa Fasya jadi sering terlambat mengirimkan tugas. Terlebih
megirimkan tugas saat larut malam. Apakah karena tidak punya kuota? Rasanya
tidak mungkin kalau Fasya terkendala kuota. Setiap hari kulihat gawainya aktif.
Menandakan Fasya masih bisa mengakses pembelajaran. Batinku mulai
bertanya-tanya.
Kubalas pesan Whatsapp Fasya, “Iya gk papa Fasya.
Tugasnya Ibu terima. Makasih ya,” balasku pada percakapan kami. Meski larut
malam masih tetap aku harus menerima tugas yang dikirm anak-anak.
Kesabaran, komunikasi,
dan rasa saling pengertian itu yang kucoba bangun bersama anak-anak didikku. Sabar dalam
menghadapi masa pandemi dengan segala kenormalan baru. Termasuk metode
pembelajaran yang mau tak mau harus tetap berjalan. Meski dengan segala
keterbatasan. Entah itu kuota, jaringan, bahkan kemampuan memiliki gawai yang
justru kadang menjadi kendala utama. Sementara hak belajar harus tetap
anak-anak dapatkan. Hak mendapatkan pembelajaran. Meski tak melulu soal
ketercapaian kurikulum yang ada. Ya karena belajar pada hakikatnya bisa kapan
saja, dimana saja, dari siapa saja, dan apa pun bentuknya.
Pun membangun
komunikasi. baik secara individu maupun klasikal. Aku pribadi harus meluangkan
waktu. Mengulik lebih dalam kendala masing-masing siswa. Memastikan mereka
benar-benar mendapatkan haknya. Hak untuk tetap punya waktu bermain, belajar,
dan tentu saja beribadah sebagai makhluk dan hamba Tuhan. Semoga ketika
komunikasi terjalin baik maka rasa saling pengertian pun bisa terwujud. Sebuah
harap muncul di benakku. Meski tak bisa dipungkiri banyak kritikan terhadap
kualitas pembelajaran jarak jauh.
Tugas yang dikirimkan
Fasya kukoreksi. Meski mengumpulkan terlambat, aku tersenyum melihat hasil karya
Fasya. Tulisan tangannya rapi dan jawaban yang dikumpulkan pun benar. Bisa
sampai larut malam biasanya kukoreksi tugas siswa. Daring memang terasa lebih
melelahkan. Setiap malam pesan-pesan yang datang dari siswa bergiliran datang.
Tentu saja kewajibanku memberikan timbal balik. Membalas pesan mereka.
Tugas-tugas yang masuk perlu mendapat respon positif dariku sebagai seorang
guru.
Pun sebagai wali
kelas, aku harus memastikan siswaku mendapat layanan dari guru mata pelajaran
lainnya. Termasuk memastikan tugas-tugas siswa. Meminta rekapan data nilai dari
guru mata pelajaran yang mengajar di kelasku. Termasuk tak bosan berkomunikasi
dengan orang tua siswa.
Mataku kembali tertuju
pada tumpukan tugas. Lembaran data rekap tugas siswa dari beberapa guru mata
pelajaran masih berada di tumpukan meja kerjaku. Waktu kian larut. Rasa kantuk
yang mendera berusaha kutahan. Satu per satu kuamati lembaran rekap tersebut.
Beberapa mata pelajaran kudapati nilai Fasya masih kosong. Aku tertegun. Ini
menandakan Fasya tertinggal beberapa tugas. Tidak hanya pelajaranku saja
ternyata yang keteter mengerjakannya. Mata pelajaran lain pun banyak yang kosong nilainya.
Sepertinya aku harus segera bertemu Fasya. Agar semua bisa terjawab.
Pagi hari mentari
begitu cerah menyinari bumi. Kakiku perlahan memasuki sebuah komplek yang
disebutkan Fasya. Hari ini kuputuskan untuk mengunjungi Fasya di rumahnya.
Sebuah peesan kukirimkan pagi-pagi bahwa aku akan mengunjunginya. Meminta
alamat lengkapnya. Aku bersyukur Fasya memberikan alamatnya. Lega juga,
ternyata rumahnya hanya berjarak tiga kilometer dari rumahku.
“Ini Bu alamatnya
Komplek Alamanda V pintu kedua.” Pesan Fasya kuterima.
“Nanti Ibu tunggu aja
di situ ya Bu. Biar Fasya dan Nasya jemput ke sana.” Pesan kedua kembali
kuterima.
Aku menurut. Berhenti
tepat di alamat yang disebutkan Fasya. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Komplek
ini cukup rapi dan elit. Rumah-rumah berjajar. Rata-rata berpagar tinggi.
Mataku mencari-cari dan mengira-ngira yang mana rumah Fasya. Ketika sedang
asyik menunggu, dua sosok mungil tampak dari kejauhan. Aku sudah bisa menebak,
itu pastilah Fasya dan Nasya. Sosok Fasya yang berkacamata didampingi adiknya
Nasya yang berbalut hijab.
Dengan santun mereka menyalamiku. Aku
tersenyum menatap keduanya. Menyapa dua sosok kembar yang berbeda tentu saja.
Bukan kembar identik.
“Nah Fasya rumah Fasya
yang mana?’ tanyaku sambil berjalan diapit Fasya dan Nasya.
“Rumah saya bukan di
komplek ini Bu. Rumahnya masuk gang itu.” Telunjuk Fasya mengarah pada gang
kecil yang berada sekitar 300 meter di depanku.
Aku tersenyum,
merangkul dua anak di sebelahku. Kami berjalan beriringan. Memasuki sebuah gang
kecil. Gang yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Rumah-rumahnya pun
berderet rapat. Sungguh kontra dengan perumahan yang tadi aku lihat.
Kami berhenti di
sebuah rumah. Halamannya tampak asri. Meski tinggal di pemukiman padat, rumah
Fasya lebih terawat. Aneka tanaman sayur tampak menghiasi bagian depan rumah.
Ada pohon tomat, cabai, selada, yang apik ditanam di sebuah polybag. Aku tersenyum, apik sekali
mamahnya Fasya. Suara hatiku kagum.
Seorang wanita paruh
baya menyambutku dari balik rumah. Wajahnya mirip Fasya dan Nasya. Senyum
merekah dari bibir wanita itu. Cantik dengan khimar panjangnya. Aku bisa
menebak ini adalah mamahnya Fasya.
“Bu maaf ya Fasya jadi
sering terlambat mengumpulkan tugas. Fasya harus menggantikan tugas saya
mengajar Bu…” Sahut Mamah Fasya setelah mempersilakanku masuk.
“Ruang tamu ini jadi
ruang Fasya dan Nasya mengajar mengaji Bu.” Sahut Mamah Fasya sambil menunjuk
anak-anak yang kulihat sedang belajar mengaji.
Kupendarkan pandangan. Di ruang tamu itu sudah
berkumpul anak-anak usia 5 tahunan sedang belajar mengaji. Terlihat ada tiga
kelompok. Satu kelompok berada di dalam ruang tamu. Dua kelompok lagi berada di
teras luar rumah. Suara merdu anak-anak ramai mengaji membuat suasana syahdu di
hatiku. Sayup-sayup terdengar suara kalam Ilahi dieja. Ah tiba-tiba sudut
mataku terasa panas. Menahan haru akhirnya kucoba membuka obrolan. Menanyakan
awal mula berdirinya Rumah Quran. Rumah yang dijadikan semacam sekolah madrasal
oleh Mamah Fasya.
Obrolan pun mulai
mengalir. Ibunda Fasya berkali menyampaikan permohonan maafnya tentang
keterlambatan tugas yang Fasya kumpulkan. Keterlambatan itu aku maklumi. Kini
kutahu Fasya sering terlambat mengumpulkan tugas karena mengajar. Takjub
sekaligus bangga. Anak seusia itu sudah memiliki kemampuan untuk berbagi ilmu.
“Setiap
hari Fasya mengajar anak-anak mengaji Bu. Jam 10 pagi mulainya. Anak-anak
datang ke rumah. Saya membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Kedatangan
mereka pun dijadwal. Sesi satu dari jam 10 sampai jam 12 siang. Dilanjut kelas
berikutnya setelah Dzuhur sampai jam 3 sore. Lalu sesi ketiga selepas Asar
sampai Magrib Bu. Dulu, muridnya hanya beberapa orang. Sekarang semakin banyak.
Jumlahnya kurang lebih 53 siswa.” Cerita masih mengalir dari Ibunda Fasya.
“Saya
dibantu dua anak saya. Fasya dan Nasya. Mereka kembar. Alhamdulillah saya
sangat terbantu. Apalagi sejak saya sering sakit-sakitan. Ditambah lagi,
kondisi saya sedang hamil Bu. Anak-anaklah yang berbagi jadwal mengajar. Saya
juga sedih Bu, sering merepotkan anak-anak. Mereka jadi terganggu dan keteteran
mengerjakan tugas dari sekolah” Ujar mamah Fasya dengan mata berkaca-kaca.
“Alhamdulillah
Bunda…Bunda dikaruniai anak-anak yang sholeh-sholehah. Untuk tugas-tugas Fasya
dan Nasya tidak apa-apa bisa dikerjakan sekemampuan mereka” sahutku membalas
pesannya. Sungguh hatiku berdecak kagum, betapa yang Fasya dan Nasya lakukan
lebih dari sekedar pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang sesungguhnya.
“Iya
Bu terima kasih atas pengertiannya. InsyaAllah saya selalu mengingatkan
anak-anak untuk tidak lalai terhadap kewajiban mereka. Terlebih Fasya Bu.
Minggu ini dia harus mempersiapkan acara Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan
kami. InsyaAllah Fasya juga akan tampil Bu. Selain mengaji, Fasya akan
menyanyikan lagu Nasyid. Oleh karena itu, Maafkan jika tugas-tugas sekolahnya
akhir-akhir ini terganggu.” Kembali Mamah Fasya menyampaikan permohonan
maafnya.
. Aku
mengangguk. Melirik ea rah Fasya. Kulihat ia yang sudah mulai bergabung dengan
anak-anak yang belajar mengaji. Dengan kacamata dan senyumnya. Wajah
kanak-kanaknya yang mencerminkan ketulusan. Mau berbagi ilmu kepada anak-anak
di lingkungannya.
Setiba
di rumah kuambil sebuah buku bertuliskan Administrasi Guru. Membuka lembar demi
lembarnya. Berhenti di sebuah halaman bertuliskan Daftar Nilai Siswa. Mencari
nama Fasya. Membaca kembali tugas-tugas yang dikumpulkannya via gawai.
Mengoreksi jawabannya dan membubuhkan nilai yang kutambahkan plus di
sebelahnya. Aku tersenyum. InsyaAllah masih banyak Fasya dan Nasya yang lain
yang kutemukan di sekolahku. Siswa-siswa yang tidak hanya pandai dari segi
pengetahuan saja. Namun, siswa yang memiliki kepribadian dan akhlak mulia.
Sebuah keyakinan kembali tersembul. Keyakinan bahwa di tempat kumengabdi akan
selalu lahir pribadi-pribadi yang berbudi pekerti luhur. Di tengah gempuran
zaman yang kian penuh tantangan.
“Bu
makasih ya….sudah main ke rumah. Kata Mamah Ibu diundang ke acara Maulid Nabi
tanggal 29 Oktober nanti. Datang ya Bu. Fasya senang sekali jika Ibu datang.”
Sebuah pesan kuterima dari Fasya.
Aku
tersenyum membalas pesannya. “ Insya Allah Fasya Ibu akan datang.”
Seberkas bahagia melingkupi. Rasa syukur untuk
pembelajaran hidup yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar