Minggu, 18 Desember 2016

PRESENTASI REVIU BUKU SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA






Gerakan literasi yang saat ini tengah gencar dicanangkan oleh pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui tantangan membaca dari Gubernur Jawa Barat atau West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) tentu membawa angin segar dalam upaya menumbuhkan minat dan bakat siswa terhadap budaya membaca. Gerakan ini pun merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan budi pekerti luhur seperti yang tercantum dalam Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.(Panduan GLS SD, hal 2, Kemdikbud, 2016). Tahapan dalam Gerakan Literasi Sekolah ini meliputi:(1) Tahap pembiasaan berupa penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran di awal pelajaran; (2) Tahap pengembangan meliputi kegiatan meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan (ada tagihan nonakademik); (3) Tahap pembelajaran meliputi kegiatan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran (ada tagihan akademik).
    Tahapan gerakan literasi tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki setiap satuan pendidikan. Jika pada tahap pembiasaan sudah terpenuhi dengan konsisten menjalankan kegiatan membaca lima belas menit di awal pelajaran dan Readhaton (membaca senyap 42 menit secara berkala), maka sekolah dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu tahapan pengembangan. Tahapan ini dapat dilakukan melalui membaca dengan tagihan (membuat peta, grafik organizer, dan bincang buku) dan menulis reviu dengan teknik Deskripsi, Y Chart, Ishikawa Fishbone, Infografis, dan lain lain, mempresentasikan hasil reviu kemudian mendiskusikan hasil reviu. Tahapan ini sebetulnya dapat dilakukan tidak hanya bagi siswa peserta WJLRC saja. Siswa lain pun dapat mengikuti kegiatan ini terutama presentasi hasil reviu buku yang telah dibuatnya.
      Presentasi menurut KBBI adalah (1) pemberian; (2) pengucapan pidato (pada penerimaan suatu jabatan; (3) perkenalan (tentang seseorang kepada seseorang, biasanya kedudukannya lebih tinggi ; (4) penyajian atau pertunjukan ( tentang sandiwara, film, dsb), kepada orang-orang yang diundang; mempresentasikan  v  ,menyajikan; mengemukakan (dalam diskusi, dsb). Presentasi reviu buku adalah kegiatan menyajikan atau mengkomunikasikan hasil karya siswa berupa bahan bacaan yang dituangkan dalam bentuk menceritakan kembali isi buku. Siswa menyebutkan pula hikmah setelah membaca buku tersebut. Kegiatan presentasi reviu buku ini dapat dilakukan setelah membaca 15 menit sebelum  pelajaran di dalam kelas. Siswa mempresentasikannya di dalam  kelas dan teman-teman di kelasnya memberikan tanggapan. Kegiatan presentasi reviu ini pun dapat dilakukan pada saat kegiatan Readhaton (membaca senyap 42 menit secara berkala). Kegiatan Readhaton dapat dilakukan sesuai dengan program Gerakan Literasi Sekolah di masing-masing satuan pendidikan. Minimal kegiatan ini dapat dilakukan satu bulan sekali. Setelah kegiatan Readhaton berlangsung, pihak sekolah dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan reviu buku yang telah dibuatnya di hadapan seluruh warga sekolah. Siswa yang tampil dapat dipilih berdasarkan penilaian terbaik dari reviu buku yang telah dibuat.
     Manfaat dari kegiatan presentasi reviu buku ini tentu sangat banyak, diantaranya (1) menumbuhkan budaya gemar membaca; (2) melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis; (3) melatih kemampuan berbicara dan menulis; (4) melatih kemandirian dan kepercayaan diri; (5) melatih kemampuan bersosialisasi; (6) Menumbuhkan jiwa kepemimpinan; (7) menumbuhkan interaksi positif siswa dengan lingkungan; (8) melatih kemampuan daya ingat dan konsentrasi; (9) meningkatkan keterampilan berdiskusi di komunitas sekolah, keluarga, dan masyarakat; (10) melatih siswa untuk bisa menemukan banyak hal yang menarik dari buku dan lingkungan.
     Setelah tahap pengembangan ini dapat dilakukan di setiap satuan pendidikan, tentu tahap pembelajaran dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah pun pun akan mudah diterapkan. Kegiatan presentasi reviu siswa mendorong siswa untuk memiliki kecerdasan emosional dan intelegensi yang tinggi sehingga mampu membentuk generasi Indonesia di masa depan yang mampu memiliki karakter dan budi pekerti luhur. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyediakan dan memfasilitasi sistem dan pelayanan pendidikan sesuai dengan UUD 1945 (Pasal 31 ayat 3). Ayat ini menegaskan bahwa kegiatan literasi juga mencakup upaya mengembangkan potensi kemanusiaan yang mencakup kecerdasan intelektual, emosi, bahasa, estetika, sosial, spiritual, dengan daya adaptasi terhadap perkembangan arus teknologi dan informasi.            
    Sekolah sebagai lembaga pencetak generasi emas Indonesia sudah saatnya untuk bangkit dan mulai membenahi diri dengan sungguh-sungguh  melaksanakan  tahapan Gerakan Literasi Sekolah. Generasi emas Indonesia yang gemar membaca, yang memiliki budaya literat InsyaAllah akan terwujud dengan konsistensi dan kerjasama dari seluruh warga sekolah.   



Jumat, 16 Desember 2016



Judul Buku      : Pondok Mertua Indah
Pengarang       : Nunung Nurlaela
Tebal Halaman : 147+ix halaman
Tahun Terbit     : 2014

PONDOK MERTUA INDAH? SIAPA TAKUT......:)
 
      Pertama kali menemukan buku ini saat diskon buku di Gramedia Bandung Indah Plaza. Judul yang menarik dan harganya yang sangat terjangkau semakin membuat saya penasaran ingin mengetahui 101 cara hidup bersama mertua yang ditawarkan dalam buku ini. Di bagian atas judul buku terdapat testimoni dari Felix Y. Siauw yang mengatakan pembahasan Mbak Nunung dalam buku ini asyik, lengkap, tak menggurui tapi tetap bernilai dan memberi solusi. Testimoni ini didukung pula oleh beberapa testimoni lain yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Mulai dari ibu rumah tangga, penulis, maupun blogger yang terdapat di bagian belakang cover buku. Hal ini semakin membuat saya tertarik untuk membaca buku karya Mbak Nunung Nurlaela ini.
      Mertua adalah orang tua dari pasangan hidup kita. Baik orang tua laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah orang tua pasangan hidup kita yang tetap harus kita hargai dan hormati. Mereka adalah orang tua yang telah membesarkan pasangan hidup kita dengan penuh kasih sayang hingga pasangan hidup kita mencapai kesuksesan. Dua-duanya memegang peranan penting dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan kadang saling mempengaruhi.
      Saat ini mungkin banyak sebagian orang yang masih "risih" untuk harus tinggal bersama mertua. Bahkan ada yang sudah wanti-wanti untuk "say no" ketika harus tinggal bersama mertua. Tentu masing-masing punya alasan tersendiri apalagi pada umumnya pasangan menikah lebih menyukai hidup mandiri tanpa campur tangan orang tua.  Namun  ketika pasangan tidak bisa mengelak dari keadaan yang mengkondisikan mereka hidup dan tinggal bersama mertua maka buku ini dapat menjadi solusinya.
      Buku setebal 147 halaman ini terbagi menjadi tiga bab yang dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi kejadian yang pernah dialami baik oleh menantu laki-laki maupun menantu perempuan. Ilustrasi tersebut memudahkan pembaca untuk bisa memahami isinya dan bisa dibaca tidak hanya oleh menantu perempuan saja. Bab I dalam buku ini membahas tentang Menantu dan Mertua. Dalam bab ini penulis berusaha memaparkan tentang definisi mertua, hubungan antara menantu dan mertua, pengantar penulis untuk menyatukan dua hati dan dua keluarga, serta paparan tentang beberapa kondisi mengapa pasangan tinggal bersama mertua. Bagian ini yang paling menarik, karena terkadang kita tidak megetahui alasan pasti mengapa pasangan yang sudah menikah masih mau untuk tinggal bersama mertua. Berikut alasan yang dipaparkan oleh penulis.
1. Pasangan masih tinggal bersama mertua karena belum mampu membeli rumah sendiri.
2. Karena tidak ada dana atau belum menemukan rumah kontrakan yang cocok
3. Karena pekerjaan
4. Karena kemauan salah satu pasangan
5. Karena keinginan mertua
6. Karena penyebab lainnya seperti mertua yang sudah sangat tua atau mertua yang tidak mau berpisah dengan anak atau cucunya.
       Enam alasan yang dipaparkan penulis dalam buku ini  tentu pernah dialami oleh pasangan yang saat ini terkondisikan untuk tinggal bersama mertua. Oleh karena itu dalam bab ini Mbak Nunung memberikan solusi untuk kembali meluruskan niat. Berniatlah tinggal di rumah mertua semata karena ikhlas ingin menghormati, berbakti, dan berbuat baik kepada mertua. Berbuat baik kepada mertua sama wajibnya dengan berbuat baik kepada orangtua kita.
       Sedangkan pada Bab II penulis berusaha menguraikan tentang 25 motivasi dan tips sederhana yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik dari menantu laki-laki maupun menantu perempuan tentang keadaan yang sering terjadi. Contohnya ketika tinggal dengan mertua, ketika merasa asing, merasa bersalah, ketika tidak bekerja, ketika bekerja, ketika mertua masih memanjakan pasangan kita, ketika mertua kepo, ketika mertua egoistis, ketika mertua mengomel, ketika berbeda pendapat, ketika berkonflik dengan anggota keluarga lain, ketika ke luar kota, ketika buah hati tak kunjung hadir, ketika hamil dan buah hati lahir, ketika mendidik buah hati, ketika menyambut hari raya, ketika bergaul dengan tetangga, ketika mertua pilih kasih, ketika berbicara tentang uang, ketika menantu tidak dipercaya lagi, ketika salah satu mertua tak sepenuhnya merestui Anda, ketika mertua berbeda keyakinan, ketika sakit, ketika dipanggil sang pencipta, ketika keputusan bercerai harus diambil. Semua tips dan motivasi yang diuraikan dalam bab ini dikemas dengan ringan, segar, dan tidak menggurui seperti testimoni yang disampaikan  Ustad Felik Y. Siauw.
      Selanjutnya Bab III adalah bagian penutup. Dalam bab ini penulis buku ini merangkum keseluruhan tulisan menjadi sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini dikemas dalam tips yang sangat bermanfaat bagi pasangan yang saat ini tinggal bersama mertua. Penulis menguraikannya dengan sederhana dan mudah dipahami yaitu :
1. Sabar
     Sabar adalah mencegah, mengekang, atau menahan. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah sabar berarti juga menahan jiwa dari perasaan cemas, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari tindakan yang tidak terpuji. Hikmah sabar ini bagi pasangan yang tinggal bersama mertua tentu sangat besar karena dengan kesabaran pintu-pintu kebaikan terbuka lebar. Seperti firman  Allah dalam QS. Ar-Ra'du:22
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, menafkahkan sebagian rejeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)." Selain itu sikap sabar juga mampu menjadi penolong, membawa keberuntungan, dan mendatangkan keuntungan yang besar. Jadi, solusi pertama yang diberikan penulis dalam buku ini adalah bersabarlah atas apa yang terjadi dalam hidup Anda, termasuk ketika harus tinggal bersama mertua.
2. Nikmatilah
Penulis buku ini memberikan solusi berikutnya bagi pasangan yang tinggal dengan mertua yaitu dengan menikmati apa pun yang diberikan Allah SWT. Nikmati suka, duka dan ritmenya. Nikmati berputarnya roda kehidupan, baik ketika berada di bawah, di tengah, maupun di atas. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? Solusi dan kesimpulan pada bagian ini dilengkapi dengan catatan yang dibuat penulis dalam kotak kecil yang merupakan bagian penting untuk diingat oleh pasangan yang tinggal dengan mertua seperti yang terdapat di halaman 137. 
"Menikmati kebersamaan dengan mertua menjadikan Anda lebih bijak, lebih hebat, dan lebih kuat serta membuat hubungan dengan mertua semakin erat. Rasa cinta pasangan Anda pun akan semakin besar dan kuat."
3. Mensyukuri
Mensyukuri kondisi tinggal dengan mertua membuat hidup lebih bermakna. Anda bisa menjadikannya samudra pahala yang luas jika ikhlas menjalankannya
4. Meyakini
Yakini bahwa Allah SWT akan memberi yang terbaik bagi hambaNya yang bersabar, bersyukur, dan menikmati setiap ketentuan yang diberikanNya. Meyakini bahwa ketika tinggal dengan mertua, kesuksesan hidup ada di hadapan Anda. Sebab, sejatinya semua yang terjadi adalah pembelajaran dalam hidup untuk meraih sukses dunia dan akhirat.
5. Introspeksi
 Selanjutnya introspeksi atau muhasabah terhadap apa yang terjadi dalam diri kita adalah hal yang penting dilakukan. Muhasabah untuk perbaikan diri sebagai suami atau istri, sekaligus sebagai anak-menantu, akan membantu Anda menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi, dan mencoba tidak mengulangi kesalahan.
      Dari keseluruhan uraian yang disampaikan penulis pada Bab I sampai Bab III tentu dapat memberikan pencerahan dan penyejuk serta penyemangat bagi pasangan yang saat ini tinggal bersama mertua atau bagi calon pasangan yang memutuskan untuk tinggal bersama mertua.Meski masih terdapat kekurangan dari buku ini yaitu huruf dalam buku ini diketik dengan ukuran kecil tentu sedikit menyulitkan pembaca. Namun secara keseluruhan penyajian isi buku ini patut diacungi jempol dengan catatan-catatan menarik dan solusi berharga yang dipaparkan penulis. Terima kasih Mbak Nunung Nurlaela. Bukunya keren sekali...:)







Selasa, 06 Desember 2016

PELANGI HARAPAN

Pelangi Harapan

Aku selalu suka senja karena senja adalah saat bagiku bisa melukis aneka warna.
Merah selalu kulukis di gaun malamku. Menyambutmu di gerbang pintu.
Ada yang lebih membahagiakanku saat kau selalu memuji gaun merahku.
Senyumku merekah.
Lalu kita bercakap di keheningan malam hingga lelah usai.

Aku penyuka senja karena jingga selalu kulukis di kedalaman hari.
Saat matahari menepi dan aku terduduk mengusir sepi.
Warna emas berpadu menggenapkan rindu.

Aku penikmat senja.
Menikmati birunya langit yang mulai memudar.
Pucat berkabut awan tersambut.
Putih memendar barisan awan tersebar.

Aku pecinta senja.
Menikmati hamparan hijau ilalang dan cemara.
Tubuh rebah.
Wangi surga begitu terasa.
Hening hanya sayup-sayup desiran angin.

Aku pelukis senja.
Menggenapkannya dengan aneka warna.
Hitam membayang saat senja menghilang.
Pelangi datang serupa harapan.

~6 December