Tak terasa tahun pelajaran
2016-2017 akan segera berakhir. Perasaan sedih pasti menyergap khususnya
bagi wali kelas IX. Waktu terasa begitu cepat. Rasanya masih belum
maksimal memberikan bimbingan dan arahan untuk seluruh siswa. Hanya doa-doa terbaik teriring untuk kesuksesan seluruh
siswa.
Wali kelas adalah jabatan yang diberikan
kepada guru yang diserahi tugas membina murid dalam satu kelas. Peran
dan fungsi wali kelas adalah sangat penting. Fungsi utamanya
menjembatani kepentingan siswa di sekolah dan menjadi penghubung antara
sekolah dengan orang tua. Wali kelas pun menjadi pelindung, pembimbing,
pengayom, dan menjadi orang tua di sekolah. Tugas ini merupakan tugas
tambahan selain tugas utama mendidik dan mengajar. Di sela-sela tugas
utamanya, wali kelas harus siap meluangkan waktu untuk memantau
perkembangan siswa di kelasnya. Mulai dari masalah sikap, kehadiran,
prestasi belajar, kesulitan yang dihadapi siswa saat pembelajaran,
bahkan memantau perkembangan aspek fisik, mental, dan psikologis tiap
individu di kelas.
Tugas ini bukanlah tugas yang
mudah, mengingat siswa dalam satu kelas memiliki keragaman. Mereka
memiliki latar belakang yang berbeda dalam pembentukan karakternya.
Latar belakang tersebut meliputi tingkat sosial ekonomi keluarga,
tingkat pendidikan orang tua, budaya dalam keluarga, pengaruh
lingkungan, serta pemahaman keagamaan yang berbeda-beda. Sehinggga
karakter yang muncul dalam satu kelas teramat beragam. Karakter siswa
dengan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang beragam tersebut
tentu harus dipahami sebagai ajang dan tantangan untuk mengenal mereka
lebih jauh.
Tak jarang wali kelas pun menemui berbagai
kasus yang dihadapi siswa. Kategori kasus terbagi menjadi dua. Yang
pertama kasus internal di sekolah dan yang kedua kasus eksternal di luar
sekolah. Kasus internal yang sering dihadapi wali kelas di sekolah
adalah laporan dari pihak guru mata pelajaran tentang sikap dan perilaku
siswa dalam proses KBM. Laporan lainnya terkait dengan nilai-nilai
siswa yang masih kurang atau masih di bawah standar kelulusan. Pun kasus
yang berhubungan dengan tugas yang sering dilalaikan oleh siswa. Wali
kelas pun harus turun tangan membantu dan mengingatkan siswa untuk
mengerjakan tugas tersebut dan melakukan pendekatan demi perubahan
perilaku yang lebih baik . Masalah kehadiran pun tak luput dari pantaun
wali kelas. Bahkan home visit pun dilakukan demi mengecek kondisi
siswanya. Belum lagi laporan siswa yang sering terlambat atau
kejadian-kejadian negatif yang melibatkan siswa di sekolah. Seperti
budaya mengejek, membuang sampah sembarangan, dan perilakunya negatif
lainnya.
Sedangkan kasus eksternal yang sering
dihadapi wali kelas adalah perilaku siswa dalam hubungannya dengan
masyarakat dan lingkungan. Terkadang kasus-kasus yang muncul berkaitan
dengan kenakalan remaja, seperti pergaulan mereka di masyarakat,
merokok, narkoba, geng motor, bahkan perilaku negatif lain yang sangat
rentan terjadi di kalangan remaja.
Penanganan yang
dilakukan oleh wali kelas untuk mengatasi kasus-kasus tersebut adalah
memberikan motivasi dan pendekatan persuasif. Melakukan koordinasi
secara aktif dengan orang tua siswa untuk membimbing dan memantau siswa
selama berada di rumah maupun di luar jam pelajaran sekolah. Koordinasi
pun dilakukan dengan berbagai pihak. Di internal sekolah penanganan
terstruktur dan terpadu pun harus dilakukan. Penanganan tersebut
melibatkan kerjasama dari guru BP, kesiswaan, kepala sekolah, dan semua
unsur yang ada di sekolah. Begitu pula kerjasama dengan berbagai pihak
lainnya seperti kepolisian, RT, RW, dan masyarakat.
Menjadi orang tua di sekolah adalah tugas mulia yang harus diemban
dengan sepenuh hati. Adanya perubahan perilaku dari siswa yang terbentuk
sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan nasional adalah hal yang
dicita-citakan. Hal tersebut merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan
pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tetap semangat
mendidik untuk seluruh guru yang memiliki tugas tambahan sebagai wali
kelas. Semoga kesabaran, kegigihan, keikhlasan, dan pengorbanan yang
tercurah untuk siswa di sekolah adalah ladang amal ibadah untuk bekal
kelak di yaumul akhir. Perasaan haru dan bangga ketika membentangkan
jembatan untuk siswa menyeberang menggapai cita-cita adalah perasaan
yang tak tergantikan dengan apa pun. Barakallahu… kembangkanlah sayapmu
anak-anak Indonesia harapan bangsa. Gapai cita-cita dengan keindahan
akhlak dan budi pekerti mulia…:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar