Kamis, 11 Mei 2017

MENJADI ORANG TUA DI SEKOLAH

Tak terasa tahun pelajaran 2016-2017 akan segera berakhir. Perasaan sedih pasti menyergap khususnya bagi wali kelas IX. Waktu terasa begitu cepat. Rasanya masih belum maksimal memberikan bimbingan dan arahan untuk seluruh siswa.  Hanya doa-doa terbaik teriring untuk kesuksesan seluruh siswa. 

Wali kelas adalah jabatan yang diberikan kepada guru yang diserahi tugas membina murid dalam satu kelas. Peran dan fungsi wali kelas adalah sangat penting. Fungsi utamanya menjembatani kepentingan siswa di sekolah dan menjadi penghubung antara sekolah dengan orang tua. Wali kelas pun menjadi pelindung, pembimbing, pengayom, dan menjadi orang tua di sekolah. Tugas ini merupakan tugas tambahan selain tugas utama mendidik dan mengajar. Di sela-sela tugas utamanya, wali kelas harus siap meluangkan waktu untuk memantau perkembangan siswa di kelasnya. Mulai dari masalah sikap, kehadiran, prestasi belajar, kesulitan yang dihadapi siswa saat pembelajaran, bahkan memantau perkembangan aspek fisik, mental, dan psikologis tiap individu di kelas.

Tugas ini bukanlah tugas yang mudah, mengingat siswa dalam satu kelas memiliki keragaman. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda dalam pembentukan karakternya. Latar belakang tersebut meliputi tingkat sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan orang tua, budaya dalam keluarga, pengaruh lingkungan, serta pemahaman keagamaan yang berbeda-beda. Sehinggga karakter yang muncul dalam satu kelas teramat beragam. Karakter siswa dengan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang beragam tersebut tentu harus dipahami sebagai ajang dan tantangan untuk mengenal mereka lebih jauh.

Tak jarang wali kelas pun menemui berbagai kasus yang dihadapi siswa. Kategori kasus terbagi menjadi dua. Yang pertama kasus internal di sekolah dan yang kedua kasus eksternal di luar sekolah. Kasus internal yang sering dihadapi wali kelas di sekolah adalah laporan dari pihak guru mata pelajaran tentang sikap dan perilaku siswa dalam proses KBM. Laporan lainnya terkait dengan nilai-nilai siswa yang masih kurang atau masih di bawah standar kelulusan. Pun kasus yang berhubungan dengan tugas yang sering dilalaikan oleh siswa. Wali kelas pun harus turun tangan membantu dan mengingatkan siswa untuk mengerjakan tugas tersebut dan melakukan pendekatan demi perubahan perilaku yang lebih baik . Masalah kehadiran pun tak luput dari pantaun wali kelas. Bahkan home visit pun dilakukan demi mengecek kondisi siswanya. Belum lagi laporan siswa yang sering terlambat atau kejadian-kejadian negatif yang melibatkan siswa di sekolah. Seperti budaya mengejek, membuang sampah sembarangan, dan perilakunya negatif lainnya.

Sedangkan kasus eksternal yang sering dihadapi wali kelas adalah perilaku siswa dalam hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan. Terkadang kasus-kasus yang muncul berkaitan dengan kenakalan remaja, seperti pergaulan mereka di masyarakat, merokok, narkoba, geng motor, bahkan perilaku negatif lain yang sangat rentan terjadi di kalangan remaja.

Penanganan yang dilakukan oleh wali kelas untuk mengatasi kasus-kasus tersebut adalah memberikan motivasi dan pendekatan persuasif. Melakukan koordinasi secara aktif dengan orang tua siswa untuk membimbing dan memantau siswa selama berada di rumah maupun di luar jam pelajaran sekolah. Koordinasi pun dilakukan dengan berbagai pihak. Di internal sekolah penanganan terstruktur dan terpadu pun harus dilakukan. Penanganan tersebut melibatkan kerjasama dari guru BP, kesiswaan, kepala sekolah, dan semua unsur yang ada di sekolah. Begitu pula kerjasama dengan berbagai pihak lainnya seperti kepolisian, RT, RW, dan masyarakat.

Menjadi orang tua di sekolah adalah tugas mulia yang harus diemban dengan sepenuh hati. Adanya perubahan perilaku dari siswa yang terbentuk sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan nasional adalah hal yang dicita-citakan. Hal tersebut merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tetap semangat mendidik untuk seluruh guru yang memiliki tugas tambahan sebagai wali kelas. Semoga kesabaran, kegigihan, keikhlasan, dan pengorbanan yang tercurah untuk siswa di sekolah adalah ladang amal ibadah untuk bekal kelak di yaumul akhir. Perasaan haru dan bangga ketika membentangkan jembatan untuk siswa menyeberang menggapai cita-cita adalah perasaan yang tak tergantikan dengan apa pun. Barakallahu… kembangkanlah sayapmu anak-anak Indonesia harapan bangsa. Gapai cita-cita dengan keindahan akhlak dan budi pekerti mulia…:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar