Jumat, 19 Mei 2017

RESENSI NOVEL PADANG BULAN ANDREA HIRATA



                                    
 Judul Buku               : Padang Bulan
Penulis                       : Andrea Hirata
Jenis Buku                 : Fiksi
Penerbit                     : Bentang Pustaka
Cetakan kesebelas   : Februari 2017
Tebal Halaman         : xvi+309 halaman

Bismillahirrahmaanirrohiim….
            Setelah sukses  dengan Novel Tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata kembali menulis Novel Dwilogi, yaitu Dwilogi Padang Bulan  berupa novel Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas.  Novel Padang Bulan adalah novel pertama dari dwilogi ini.  Novel ini pun masuk dalam kategori Mega Best Seller sejak pertama terbit pada tahun 2011 hingga saat ini sudah memasuki cetakan kesebelas pada Februari 2017. Sebelum membaca buku ini, pembaca dapat melihat ulasan singkat yang disampaikan oleh Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka di bagian belakang novel ini. Beliau menyampaikan secara singkat tentang isi novel yang ditulis Andrea Hirata  dan memberikan pujian bahwa melalui novel ini Andrea Hirata berusaha memperlihatkan kekuatan-kekuatan besar yang tersembunyi dalam diri manusia. Ulasan ini cukup membuat pembaca tak sabar untuk segera membaca novel ini.
            Sebelum ke bagian isi, novel ini pun dilengkapi dengan bagian pengantar yang disampaikan oleh Chloe Meslin. Menurutnya, Dwilogi Padang Bulan ini meneguhkan Andrea Hirata sebagai cultural novelist sekaligus periset sosial budaya. Watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat unik sebuah komunitas, parodi, dan cinta, ditulis dengan cara membuka pintu-pintu baru bagi pembaca untuk melihat budaya, diri sendiri, dan memahami cinta dengan cara yang tak biasa. Ide tulisan dengan hasrat bereksperimen yang kuat serta kemampuan menyeimbangkan mutu dan penerimaan yang luas dari masyarakat adalah daya tarik sekaligus misteri terbesar Andrea Hirata.
            Novel Padang Bulan masih mengambil latar di Pulau Belitong.  Pulau yang menjadi kenangan tersendiri bagi Tokoh Ikal dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Di bagian awal isi novel atau mozaik 1, Andrea mengisahkan perjalanan hidup keluarga Enong. Enong adalah anak yang cerdas, dia sangat menggemari pelajaran Bahasa Inggris. Namun, Enong terpaksa tidak melanjutkan sekolah SD hanya empat bulan sebelum kelulusannya. Terlebih sejak ayahnya meninggal dunia, Enong harus menghidupi keluarganya dengan bekerja keras. Enong yang merupakan anak pertama dari Zamzami dan Syalimah memikul tanggung jawab yang cukup berat sebagai anak pertama.  Keinginannya untuk bisa sekolah tinggi terpaksa pupus. Hanya kamus bahasa Inggris satu miliar kata peninggalan ayahnya yang membuat Enong yakin untuk menggenggam harapannya. Dengan berat hati, Syalimah sang ibu terpaksa merelakan anaknya yang belum lulus SD untuk pergi ke Tanjong Pandan. Di kota itulah, perjuangan Enong dimulai untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, di Tanjong Pandan Enong tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Sangat jarang pemilik toko yang mau mempekerjakan anak gadis yang belum lulus SD. Akhirnya Enong pun memilih pulang dan mencari pekerjaan di kampung. Menjadi pendulang timah adalah pilihan yang harus dijalani Enong berikutnya di Kampung. Dengan susah payah Enong berhasil menemukan butiran timah yang berada di hutan. Pekerjaan kasar yang dijalani Enong tak mematahkan semangatnya. Kata-kata  yang dituliskan ayahnya dalam kamus bahasa Inggris satu miliar kata miliknya adalah penyemangatnya. Begitu pula pesan Bu Nizam guru bahasa Inggrisnya yang mengajarkan padanya “If you’re happy and you know it, clap your hands”. Di usia tak lebih dari 14 tahun, Enong menjadi perempuan penambang timah pertama dalam sejarah penambangan timah.
            Pada bagian berikutnya, Andrea mengisahkan tokoh berikutnya yang terlibat dalam novel ini yaitu Detektif M. Nur. Detektif ini seumuran dengan tokoh Ikal. Badannya kecil, kulitnya gelap, rambutnya keriting kecil-kecil. Tokoh ini menjadi penghibur dalam novel ini. Tingkahnya yang lucu pada saat mengungkapkan kasus mampu membuat pembaca tersenyum geli. Terlebih ide-idenya ketika membantu tokoh Ikal dalam menaklukkan hati A Ling dan menyingkirkan tokoh Zinar yang telah dianggap akan merebut A Ling dari sisi Ikal.
            Pembaca baru menikmati kisah perjuangan cinta yang dilakukan Ikal untuk A Ling yaitu pada mozaik kesepuluh. Kisah tentang perjuangan cinta yang terkesan konyol dan naïf dilakukan tokoh Ikal untuk A Ling. Dimulai dari perjuangan Ikal untuk mempersiapkan hari ulang tahun A Ling dengan mendatangkan beribu-ribu  punai di pekarangan rumahnya dengan bantuan seekor burung pekatik yang dipinjamnya dari seorang pemburu. Ide meminjam pekatik  ini datang dari Detektif M. Noor. Perayaan ulang tahun A Ling pun menjadi terasa spesial. Ikal merasa senang karena dapat memberikan kebahagiaan untuk A Ling. Pada mozaik ini ada bagian yang sangat menyentuh tentang ulang tahun yang disampaikan Ikal di halaman 69.
            “Bagiku, seseorang yang menunggu hari ulang tahun tak ubahnya ia menempatkan diri pada satu titik waktu di depannya, dan ia berdiri di sana menunggu waktu menyusulnya, dan semua itu, burung punai itu, ulang tahun itu, memberiku sebuah inspirasi”.
Kisah berikutnya yang tergelar dalam novel ini adalah kabar bahwa A Ling akan menikah dengan seorang Tionghoa yang bernama Zinar. Dia adalah pemuda yang tampan pemilik toko di Tanjong Pandan. Kabar tersebut tentu membuat tokoh Ikal sakit hati dan berusaha membalaskan sakit hatinya pada Zinar yang telah merebut hati A Ling. Dengan bantuan Detektif M. Noor dan Jose Rizal-burung merpati milik Detektif M.Noor, Ikal pun berjanji untuk membalas sakit hatinya pada Zinar. Berbagai perlombaan yang ditunggu dalam peringatan hari tujuh belasan pun sengaja diseting sehingga Ikal dapat langsung berhadapan dengan Zinar. Namun sayang, berbagai perlombaan dari mulai catur, tenis meja, bahkan sepak bola, Ikal tak mampu mengalahkan Zinar. Kisah kekalahan-kekalahan yang dialami Ikal dikemas dengan bahasa yang mampu membuat pembaca tersenyum geli melihat kekonyolan Ikal dalam memperjuangkan cintanya. Termasuk ketika Ikal berusaha untuk menambah tinggi badannya empat senti meter saja. Bagian ini adalah bagian yang paling lucu dan kocak dari novel ini.
Setelah peristiwa kekalahan yang dialami Ikal, ia pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Berbekal ijazah luar negeri yang dimilikinya, ia berharap mendapatkan pekerjaan yang layak di Jakarta dan meninggalkan kenangannya tentang A Ling di kampung. Sehari sebelum keberangkatan Ikal, A Ling datang ke rumah Ikal dengan wajah yang sedih karena Ikal tak mengabarinya tentang keberangkatannya ke Jakarta. A Ling pun menjelaskan kepada Ikal mengapa dia harus menghilang dan menjelaskan juga tentang siapa Zinar. Lega sekali hati Ikal karena ternyata Zinar bukanlah tunangan A Ling. Ikal dan keluarganya pun diundang dalam pesta pernikahan Zinar. Dalam pesta itu Ikal memberikan puisi yang pernah ditulisnya untuk A Ling sewaktu SD dulu. Puisi itu berjudul “Ada Komidi Putar di Padang Bulan”. Puisi ini mampu membuat A Ling tersenyum dan matanya berkaca-kaca


Ada Komidi Putar di Padang Bulan

Kutunggu Ayahku
Akan kurayu agar mengajakku
nanti petang
Nanti petang, kawan, ada komidi putar
di Padang Bulan
Ada kereta kuda
Ada selendang berenda-renda
Ada boneka dari India
Komidi berputar pelan
lampu-lampunya dinyalakan
Komidi melingkar tenang
Hatiku terang
Terang benderang menandingi bulan

Ayah pulanglah saja sendirian
Tinggalkan aku
tinggalkan aku di Padang Bulan
Biarkan aku kasmaran

Di dalam novel ini terlibat juga tokoh lain yang turut mendukung cerita, seperti tokoh Ninocha Stronovsky, sahabat Ikal semasa kuliah di Perancis dulu yang mengajarkannya  catur saat pertandingan melawan Zinar.  Tokoh  Bu Indri, guru bahasa Inggris di tempat kursus Enong yang diam-diam mengagumi Ikal karena kepandaiannya membuat puisi. Selain itu ada juga tokoh Paman dan Bibi Ikal  yang memiliki warung kopi tempat Ikal bekerja, tokoh Mualim Syahbana yang membantu pelayaran Ikal menuju Jakarta. Tokoh Ibu Ikal yang dalam novel ini lebih menginginkan Ikal untuk menjadi pegawai pemerintah, pakai baju dinas yang banyak lambang di pundaknya, dan dapat pansiun. Hanya sayang, tokoh ayah tidak banyak terlibat dalam novel ini. Ayah Ikal digambarkan memiliki karakter pendiam, sakit-sakitan karena memikirkan Ikal, seperti dalam novel sebelumnya bahwa ayah Ikal tidak menyetujui hubungan Ikal dengan A Ling.
Kisah yang terjadi dalam novel ini tidak hanya menceritakan kisah perjuangan cinta Ikal terhadap A Ling. Namun, kisah Enong yang menyentuh turut membuat cerita ini memiliki daya tarik. Walaupun akhir dalam novel ini berakhir bahagia, namun pembaca tetap merasa penasaran dengan bagaimana kelanjutan hubungan A Ling dan Ikal pada akhirnya?Apakah ayah Ikal akhirnya merestui hubungan mereka? Bagaimana nasib Enong berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sepertinya akan terjawab jika kita membaca sequel novel Dwilogi Padang Bulan berikutnya yaitu “Cinta di Dalam Gelas”.
Secara keseluruhan novel ini cukup menarik karena  dilengkapi dengan komedi-komedi yang membuat kita tertawa  dan terhibur . Komedi yang disampaikan Andrea Hirata mampu membuat pembaca geli melihat kekonyolan yang dilakukan tokoh Ikal. Namun, bagi pembaca awam akan kesulitan memahami cerita  dan mungkin terkecoh di awal karena mengira tokoh utama yang berperan dalam novel ini adalah Enong. Apalagi Andrea  menggunakan sudut pandang sebagai pencerita atau orang ketiga dan sudut pandang orang kesatu (aku) secara bergantian di awal cerita.  
Banyak hikmah yang dapat dipetik setelah membaca novel ini. Kerja keras yang dilakukan Enong mengajarkan kita bahwa meskipun dalam keterbatasan semangat belajar dan kerja keras tetap menyala. Perjuangan cinta yang dilakukan Ikal pun memberikan semangat bahwa segala yang kita cita-citakan harus benar-benar diperjuangkan.  Pembaca pun dapat memahami budaya masyarakat Belitong, toleransi antara pribumi dan Tionghoa  yang sangat harmonis mengajarkan kita tentang kebinekaan di negeri ini. Yang pasti pembaca tidak sabar untuk membaca novel berikutnya yaitu “Cinta di Dalam Gelas"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar