Judul Buku : Padang Bulan
Penulis : Andrea Hirata
Jenis Buku : Fiksi
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan kesebelas : Februari 2017
Tebal Halaman : xvi+309 halaman
Bismillahirrahmaanirrohiim….
Setelah
sukses dengan Novel Tetralogi Laskar
Pelangi, Andrea Hirata kembali menulis Novel Dwilogi, yaitu Dwilogi Padang
Bulan berupa novel Padang Bulan dan Cinta di
Dalam Gelas. Novel Padang Bulan
adalah novel pertama dari dwilogi ini. Novel
ini pun masuk dalam kategori Mega Best Seller
sejak pertama terbit pada tahun 2011 hingga saat ini sudah memasuki cetakan
kesebelas pada Februari 2017. Sebelum membaca buku ini, pembaca dapat melihat
ulasan singkat yang disampaikan oleh Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka di
bagian belakang novel ini. Beliau menyampaikan secara singkat tentang isi novel
yang ditulis Andrea Hirata dan
memberikan pujian bahwa melalui novel ini Andrea Hirata berusaha memperlihatkan
kekuatan-kekuatan besar yang tersembunyi dalam diri manusia. Ulasan ini cukup
membuat pembaca tak sabar untuk segera membaca novel ini.
Sebelum
ke bagian isi, novel ini pun dilengkapi dengan bagian pengantar yang
disampaikan oleh Chloe Meslin. Menurutnya, Dwilogi Padang Bulan ini meneguhkan
Andrea Hirata sebagai cultural novelist
sekaligus periset sosial budaya. Watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat
unik sebuah komunitas, parodi, dan cinta, ditulis dengan cara membuka
pintu-pintu baru bagi pembaca untuk melihat budaya, diri sendiri, dan memahami
cinta dengan cara yang tak biasa. Ide tulisan dengan hasrat bereksperimen yang
kuat serta kemampuan menyeimbangkan mutu dan penerimaan yang luas dari
masyarakat adalah daya tarik sekaligus misteri terbesar Andrea Hirata.
Novel
Padang Bulan masih mengambil latar di Pulau Belitong. Pulau yang menjadi kenangan tersendiri bagi
Tokoh Ikal dalam Tetralogi Laskar Pelangi. Di bagian awal isi novel atau mozaik
1, Andrea mengisahkan perjalanan hidup keluarga Enong. Enong adalah anak yang
cerdas, dia sangat menggemari pelajaran Bahasa Inggris. Namun, Enong terpaksa
tidak melanjutkan sekolah SD hanya empat bulan sebelum kelulusannya. Terlebih
sejak ayahnya meninggal dunia, Enong harus menghidupi keluarganya dengan
bekerja keras. Enong yang merupakan anak pertama dari Zamzami dan Syalimah
memikul tanggung jawab yang cukup berat sebagai anak pertama. Keinginannya untuk bisa sekolah tinggi
terpaksa pupus. Hanya kamus bahasa Inggris satu miliar kata peninggalan ayahnya
yang membuat Enong yakin untuk menggenggam harapannya. Dengan berat hati,
Syalimah sang ibu terpaksa merelakan anaknya yang belum lulus SD untuk pergi ke
Tanjong Pandan. Di kota itulah, perjuangan Enong dimulai untuk mendapatkan
pekerjaan. Namun, di Tanjong Pandan Enong tidak berhasil mendapatkan pekerjaan.
Sangat jarang pemilik toko yang mau mempekerjakan anak gadis yang belum lulus
SD. Akhirnya Enong pun memilih pulang dan mencari pekerjaan di kampung. Menjadi
pendulang timah adalah pilihan yang harus dijalani Enong berikutnya di Kampung.
Dengan susah payah Enong berhasil menemukan butiran timah yang berada di hutan.
Pekerjaan kasar yang dijalani Enong tak mematahkan semangatnya. Kata-kata yang dituliskan ayahnya dalam kamus bahasa Inggris
satu miliar kata miliknya adalah penyemangatnya. Begitu pula pesan Bu Nizam
guru bahasa Inggrisnya yang mengajarkan padanya “If you’re happy and you know it, clap your hands”. Di usia tak
lebih dari 14 tahun, Enong menjadi perempuan penambang timah pertama dalam
sejarah penambangan timah.
Pada
bagian berikutnya, Andrea mengisahkan tokoh berikutnya yang terlibat dalam
novel ini yaitu Detektif M. Nur. Detektif ini seumuran dengan tokoh Ikal.
Badannya kecil, kulitnya gelap, rambutnya keriting kecil-kecil. Tokoh ini
menjadi penghibur dalam novel ini. Tingkahnya yang lucu pada saat mengungkapkan
kasus mampu membuat pembaca tersenyum geli. Terlebih ide-idenya ketika membantu
tokoh Ikal dalam menaklukkan hati A Ling dan menyingkirkan tokoh Zinar yang
telah dianggap akan merebut A Ling dari sisi Ikal.
Pembaca
baru menikmati kisah perjuangan cinta yang dilakukan Ikal untuk A Ling yaitu
pada mozaik kesepuluh. Kisah tentang perjuangan cinta yang terkesan konyol dan
naïf dilakukan tokoh Ikal untuk A Ling. Dimulai dari perjuangan Ikal untuk
mempersiapkan hari ulang tahun A Ling dengan mendatangkan beribu-ribu punai di pekarangan rumahnya dengan bantuan
seekor burung pekatik yang
dipinjamnya dari seorang pemburu. Ide meminjam pekatik ini datang dari
Detektif M. Noor. Perayaan ulang tahun A Ling pun menjadi terasa spesial. Ikal
merasa senang karena dapat memberikan kebahagiaan untuk A Ling. Pada mozaik ini
ada bagian yang sangat menyentuh tentang ulang tahun yang disampaikan Ikal di
halaman 69.
“Bagiku, seseorang yang menunggu
hari ulang tahun tak ubahnya ia menempatkan diri pada satu titik waktu di
depannya, dan ia berdiri di sana menunggu waktu menyusulnya, dan semua itu,
burung punai itu, ulang tahun itu, memberiku sebuah inspirasi”.
Kisah berikutnya yang
tergelar dalam novel ini adalah kabar bahwa A Ling akan menikah dengan seorang
Tionghoa yang bernama Zinar. Dia adalah pemuda yang tampan pemilik toko di
Tanjong Pandan. Kabar tersebut tentu membuat tokoh Ikal sakit hati dan berusaha
membalaskan sakit hatinya pada Zinar yang telah merebut hati A Ling. Dengan
bantuan Detektif M. Noor dan Jose Rizal-burung merpati milik Detektif M.Noor,
Ikal pun berjanji untuk membalas sakit hatinya pada Zinar. Berbagai perlombaan
yang ditunggu dalam peringatan hari tujuh belasan pun sengaja diseting sehingga
Ikal dapat langsung berhadapan dengan Zinar. Namun sayang, berbagai perlombaan
dari mulai catur, tenis meja, bahkan sepak bola, Ikal tak mampu mengalahkan
Zinar. Kisah kekalahan-kekalahan yang dialami Ikal dikemas dengan bahasa yang
mampu membuat pembaca tersenyum geli melihat kekonyolan Ikal dalam memperjuangkan
cintanya. Termasuk ketika Ikal berusaha untuk menambah tinggi badannya empat
senti meter saja. Bagian ini adalah bagian yang paling lucu dan kocak dari
novel ini.
Setelah peristiwa
kekalahan yang dialami Ikal, ia pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Berbekal
ijazah luar negeri yang dimilikinya, ia berharap mendapatkan pekerjaan yang
layak di Jakarta dan meninggalkan kenangannya tentang A Ling di kampung. Sehari
sebelum keberangkatan Ikal, A Ling datang ke rumah Ikal dengan wajah yang sedih
karena Ikal tak mengabarinya tentang keberangkatannya ke Jakarta. A Ling pun
menjelaskan kepada Ikal mengapa dia harus menghilang dan menjelaskan juga
tentang siapa Zinar. Lega sekali hati Ikal karena ternyata Zinar bukanlah tunangan
A Ling. Ikal dan keluarganya pun diundang dalam pesta pernikahan Zinar. Dalam
pesta itu Ikal memberikan puisi yang pernah ditulisnya untuk A Ling sewaktu SD
dulu. Puisi itu berjudul “Ada Komidi Putar di Padang Bulan”. Puisi ini mampu
membuat A Ling tersenyum dan matanya berkaca-kaca
Ada Komidi Putar di Padang
Bulan
Kutunggu
Ayahku
Akan
kurayu agar mengajakku
nanti
petang
Nanti
petang, kawan, ada komidi putar
di
Padang Bulan
Ada
kereta kuda
Ada
selendang berenda-renda
Ada
boneka dari India
Komidi
berputar pelan
lampu-lampunya
dinyalakan
Komidi
melingkar tenang
Hatiku
terang
Terang
benderang menandingi bulan
Ayah
pulanglah saja sendirian
Tinggalkan
aku
tinggalkan
aku di Padang Bulan
Biarkan
aku kasmaran
Di dalam novel ini
terlibat juga tokoh lain yang turut mendukung cerita, seperti tokoh Ninocha
Stronovsky, sahabat Ikal semasa kuliah di Perancis dulu yang mengajarkannya catur saat pertandingan melawan Zinar. Tokoh Bu Indri, guru bahasa Inggris di tempat kursus
Enong yang diam-diam mengagumi Ikal karena kepandaiannya membuat puisi. Selain
itu ada juga tokoh Paman dan Bibi Ikal yang memiliki warung kopi tempat Ikal bekerja,
tokoh Mualim Syahbana yang membantu pelayaran Ikal menuju Jakarta. Tokoh Ibu
Ikal yang dalam novel ini lebih menginginkan Ikal untuk menjadi pegawai
pemerintah, pakai baju dinas yang banyak lambang di pundaknya, dan dapat pansiun.
Hanya sayang, tokoh ayah tidak banyak terlibat dalam novel ini. Ayah Ikal
digambarkan memiliki karakter pendiam, sakit-sakitan karena memikirkan Ikal, seperti
dalam novel sebelumnya bahwa ayah Ikal tidak menyetujui hubungan Ikal dengan A
Ling.
Kisah yang terjadi dalam novel ini tidak hanya
menceritakan kisah perjuangan cinta Ikal terhadap A Ling. Namun, kisah Enong
yang menyentuh turut membuat cerita ini memiliki daya tarik. Walaupun akhir
dalam novel ini berakhir bahagia, namun pembaca tetap merasa penasaran dengan
bagaimana kelanjutan hubungan A Ling dan Ikal pada akhirnya?Apakah ayah Ikal
akhirnya merestui hubungan mereka? Bagaimana nasib Enong berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sepertinya akan terjawab jika kita membaca
sequel novel Dwilogi Padang Bulan berikutnya yaitu “Cinta di Dalam Gelas”.
Secara keseluruhan novel
ini cukup menarik karena dilengkapi
dengan komedi-komedi yang membuat kita tertawa dan terhibur . Komedi yang disampaikan Andrea
Hirata mampu membuat pembaca geli melihat kekonyolan yang dilakukan tokoh Ikal.
Namun, bagi pembaca awam akan kesulitan memahami cerita dan mungkin terkecoh di awal karena mengira
tokoh utama yang berperan dalam novel ini adalah Enong. Apalagi Andrea menggunakan sudut pandang sebagai pencerita
atau orang ketiga dan sudut pandang orang kesatu (aku) secara bergantian di
awal cerita.
Banyak hikmah yang
dapat dipetik setelah membaca novel ini. Kerja keras yang dilakukan Enong
mengajarkan kita bahwa meskipun dalam keterbatasan semangat belajar dan kerja
keras tetap menyala. Perjuangan cinta yang dilakukan Ikal pun memberikan
semangat bahwa segala yang kita cita-citakan harus benar-benar diperjuangkan. Pembaca pun dapat memahami budaya masyarakat
Belitong, toleransi antara pribumi dan Tionghoa yang sangat harmonis mengajarkan kita tentang
kebinekaan di negeri ini. Yang pasti pembaca tidak sabar untuk membaca novel
berikutnya yaitu “Cinta di Dalam Gelas"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar