Hangat mentari
Seorang lelaki bergegas pergi
Memanggul mimpi di pundak
Beribu semangat berderap
Langkah adalah jihad
Saat niat dan tekad telah bulat
Tetesan peluh
Perasan pikiran
Nafkah di genggaman
Wangi parfum di pagi hari
Berganti aroma keringat di petang nanti
Senyum orang-orang terkasih
Pelipur lara di hati
Doa-doa istri mengepul sepanjang hari
Seperti nafas yang Tuhan beri
Tiada pernah terhenti
Untuk kekasih hati
Doa istri jadi perisai
Keikhlasan jadi samurai
Menjumput rejeki
Mengharap ridha Illahi
Doa-doa istri terhantar
Seberkas kekuatan terpancar
Dari awal hari hingga gelap datang
Jiwa erat menggenggam harapan
Rabbi lindungilah kami...
Rabu, 21 Juni 2017
Sabtu, 17 Juni 2017
MENGINGAT KELAHIRAN
Mengingat kelahiran
Adalah benang yang menarik kita ke gerbang keabadian
Berdiri di rahim waktu
Kemudian melesat mengiringi cahaya
Batang yang meninggi
Ringkih ditelan masa
Meranggas ketika kemarau tiba
Namun kokoh dan berbunga
Diguyur hujan sepenanggalan
Pengembaraaan sementara
Adalah jejak mengais pualam
Mengasah intan dan permata kehidupan
Memasukannya pada karung-karung keikhlasan
Pengembaraan sementara
Adalah pencarian hakikat tak berkesudahan
Tentang diri dan Tuhan
Mengingat kelahiran
Adalah lautan syukur tak berkesudahan
Untuk tiap helaan kesempatan
Tafakur Illallah jadi tuntunan
Adalah benang yang menarik kita ke gerbang keabadian
Berdiri di rahim waktu
Kemudian melesat mengiringi cahaya
Batang yang meninggi
Ringkih ditelan masa
Meranggas ketika kemarau tiba
Namun kokoh dan berbunga
Diguyur hujan sepenanggalan
Pengembaraaan sementara
Adalah jejak mengais pualam
Mengasah intan dan permata kehidupan
Memasukannya pada karung-karung keikhlasan
Pengembaraan sementara
Adalah pencarian hakikat tak berkesudahan
Tentang diri dan Tuhan
Mengingat kelahiran
Adalah lautan syukur tak berkesudahan
Untuk tiap helaan kesempatan
Tafakur Illallah jadi tuntunan
Selasa, 13 Juni 2017
Cerpen"Maafkan Rara Ma.."
Sejak
kemarin Rara sudah sibuk mempersiapkan acara buka bersama dengan teman-teman
SDnya. Dalam hatinya ia berseru girang, Ramadhan kali ini ia tetap menjadwalkan
acara buka bersama dengan Shela dan Dara sahabat karibnya sejak SD. Mereka
memang kompak, kemanapun pergi selalu bersama. Termasuk merencanakan acara buka
bersama pada Ramadhan tahun ini.
“Ma..,nanti
boleh ya aku pergi bukber bareng Shela dan Dara?” Rajuk Rara pada Mama
yang
tengah sibuk menyiapkan tajil berbuka di dapur.
“Memangnya
kapan buka bersamanya?”Sahut Mama lembut
“Selasa
depan Ma, boleh kan ya?” Rengek Rara.
“Nah…kalau itu Mama nggak bisa memutuskan. Lebih
baik besok tanya ke Ayah. Apalagi pulangnya malam lho Nak, minta ijin ke Ayah
ya”. Sahut Mama bijak
“Ya..Mama
masa gitu aja harus bilang ke Ayah…”Sungut Rara sambil meninggalkan dapur.
“Hmm…Rara…Rara…” Sahut Mama geleng-heleng kepala
melihat kelakuan Rara.
Keesokan
harinya Rara memberanikan diri untuk meminta ijin kepada Ayah. Dengan merajuk
Rara menyampaikan kalau acara Bukber Ramadahan sudah direncanakan oleh Rara,
Shela, dan Dara.
“Boleh
ya Yah….?” Rajuk Rara
“Boleh..tapi
pulangnya nanti bareng Ayah aja. Kebetulan Mall itu biasa Ayah lewati kalau
pulang kerja. Jadi Rara tunggu Ayah di sana dan kabari Ayah kalau mau dijemput.”
Sahut Ayah bijak.
“Horee…makasih
ya Yah.Mmm….Rara sekalian minta uang buat beli tajilnya ya Yah cepe’ aja. “ Rajuk Rara lagi.
“Hmmm…Rara
banyak-banyak amat emang mau tajil pakai apa sampe habis seratus ribu?” Mama ikut menimpali dari dapur.
“Ya…Mama
Takut gak cukup kalau bawa uang sedikit.” Ujar Rara memberikan alasan.
Lembaran
seratus ribu akhirnya diterima Rara. Dengan girang, Rara menuju kamar dan mengambil gawai
miliknya. Dengan sigap menghubungi Shela dan Dara. Pukul dua siang mereka sepakat
untuk bertemu di gerbang kompleks rumah Shela.
Mata Rara berbinar, tahun ini pasti seru acara Bukbernya. Sahut Rara dalam
hati.
Hari
Selasa yang dinanti pun tiba, Sepulang sekolah Rara sibuk menyiapkan baju
terbaiknya. Sepatu kesayangannya pun dipilih untuk menemaninya hari ini.
“Ma….jangan
terlambat ya antar Rara. Soalnya janjian sama Shela pukul dua.” Sahut Rara pada Mama yang tengah selesai
melaksanakan sholat Dzuhur.
“Iya…sholat
dulu jangan lupa. Ingat nanti di sana cari masjid untuk sholat Ashar dan
Maghrib ya Nak.” Sahut Mama mengingatkan.
“Iya..iya
tenang aja Ma..” Ujar Rara dari balik kamar.
Pukul
dua siang Mama sudah mengantar Rara ke gerbang kompleks rumah Shela. Di sana telah
menunggu Shela dan Dara. Mama terlihat tersenyum pada Shela dan Dara.
“Hati-hati
ya, jangan tinggalkan sholatnya. Terus Rara jangan lupa hubungi Ayah kalau mau dijemput.” Pesan Mama sebelum tiga
sahabat itu berangkat.
“Iya
Ma…berangkat dulu ya Ma..itu angkotnya udah datang.” Sahut Rara menunjuk
angkutan umum yang akan mereka tumpangi.
Dengan
riang mereka menaiki angkot. Mama masih tampak menatap angkutan umum yang
ditumpangi Rara dan sahabatnya. Rara melambaikan tangan. Dia bisa melihat wajah
Mama yang terlihat cemas. Saat angkutan umum melaju wajah Mama tak terlihat
lagi.
“Hai
guys kita mulai dari nonton yuk. Coba lihat jadwal hari ini pukul berapa kita
bisa nonton?” Sahut Rara pada Shela dan Dara.
“Bentar..aku
cek dulu jadwalnya. Mmm…paling kita bisa masuk pukul 14.45 Ra..ini jadwalnya.”
Sahut Shela menyodorkan gawai miliknya.”
“Wah
kalau begitu pas kita. Berarti keluar bioskop nanti sekita pukul 16.45 an. Jadi
kita masih punya waktu untuk
hunting makanan buat berbuka nanti.” Sahut Dara menimpali.
Rara
mengangguk riang. Tiga gadis itu berjalan menuju bioskop di Mall, membeli
karcis dan menunggu pintu teater dibuka. Sambil menunggu mereka isi dengan
celoteh-celoteh khas remaja. Berbicara tentang sekolah, cerita-certita konyol
saat mereka SD, cerita konyolnya puasa mereka saat anak-anak, dan hal-hal
konyol lainnya yang membuat mereka terpisah tidak bisa melanjutkan di SMP yang
sama. Rara senang, mereka tetap bisa bersahabat dekat meski tak satu sekolah.
Saat pintu teater terbuka, Rara merasa ada yang lupa tapi apa. Rara berusaha mengingat
namun kemudian ditepisnya.
“Wah…seru
ya filmnya..hihi kapan lagi coba kita bisa nonton kayak gini bareng-bareng.”
Sahut Dara disertai tawa Shela dan Rara usai keluar dari bioskop.
“Iya
bener..seru banget filmnya. Nah. sekarang kita kemana nih?” Sahut Rara
antusias.
“Mending
kita pesan makanan dulu untuk berbuka nanti sambil booking tempat. Nah, sambil nunggu, kita bisa cuci mata. Ada
deretan sepatu dan baju keren di sana.” Sahut Shela menunjuk outlet di salah
satu mall tersebut.
Ketiganya
sepakat. Menuju kafe kecil untuk memesan makanan dan berjalan menuju outlet
yang ditunjuk Shela. Waktu berjalan cepat, tiga gadis itu masih asyik melihat
koleksi sepatu dan baju yang berderet di outlet tersebut. Rara tersenyum.
Matanya tertuju pada sepatu keren yang dipajang di etalase. Dalam hati ia akan meminta
Ayah dan Mama untuk membeli sepatu itu. Matanya berbinar, namun tiba-tiba ia
ingat Mama. Pesan Mama.
“Ya
ampun…Shela, Dara jam berapa sekarang?”
“Tenang
Ra…kita punya waktu lima menit lagi sebelum Adzan Maghrib tiba. Yuk kita ke
kafe sekarang?” Sahut Shela mengajak dua sahabatnya menuju kafe.
“Shela…Dara
kita belum sholat Ashar….”Sahut Rara cemas ingat pesan Mama.
Ketiga
sahabat itu ternganga. Mereka bener-benar lupa karena terlalu asyik dengan
dunia mereka. Bergegas mereka menuju kafe, meminta makanan yang dipesan. Tak
lama kemudian Adzan Maghrib terdengar. Makanan yang Rara dan sahabatnya pesan
pun sudah tersaji. Rara ingat Mama. Ingat pesan Mama.
“Kita
berdoa dulu yuk, terus kita makan lalu kita cari masjid ya untuk sholat Maghrib ya.” Sahut Rara dengan nada rendah.
“Iya
Ra…kita cari masjid dekat sini nanti.” Sahut Shela ikut merasa bersalah.
Dara
juga menangguk menyetujui ide kedua sahabatnya.
Usai
acara berbuka, tiga gadis itu melangkah menuju masjid yang ada di dalam mall
itu. Rara menuju tempat Wudhu hatinya syahdu. Ingat pesan Mama. Hari ini ia
mengabaikan pesan mama untuk tidak meninggalkan sholat. Rara sedih. Terbayang
wajah Mama tadi. Kecemasan Mama saat menatapnya di angkot tadi. Rara ingat,
Mama tidak pernah memarahinya. tapi untuk sholat Mama gak pernah bisa kompromi.
“Sholat
itu tiang agama Ra…jangan pernah kita meninggalkannya. Sholat menopang
amalan-amalan lainnya. Kalau kita tidak sholat maka amalan lainnya akan
sia-sia.” Terngiang nasihat Mama.
Rara
membasuh wajahnya dengan air wudhu. Matanya mulai basah. Ia berjalan menuju shof
wanita. Bergabung dengan jamaah lainnya. Dalam hati ia berjanji tak akan
mengulanginya lagi. Tak akan mengabaikan sholatnya lagi. Sesibuk dan
semenyenangkan hatinya, ia tak mau lagi-lagi meninggalkan sholat. Khusyu sholat
Rara kali ini.
Seusai
sholat Rara ingat pesan Mama untuk menghubungi Ayah.
“Kasian
Ayah pasti nunggu kabar aku.” Sahut Rara dalam hati. Ia pun menghubungi Ayah
dan meminta Ayah menjemputnya di parkiran Mall. Rara mengeluarkan gawainya dan
menghubungi Ayah. Saat itu, tampak Shela dan Dara mendekati Rara.
“Ra…maafkan
ya.. hari ini kita jadi melakukan kesalahan karena melalaikan sholat.” Sahut Shela dengan nada menyesal.
“Nggak
apa-apa Shel…Dara…aku juga minta maaf gak mengingatkan kalian. Ini jadi
pengalaman untuk kita. Sebagai sahabat kita harus sama-sama saling
mengingatkan. Apalagi untuk kebaikan. Untung Allah masih menegur kita.
Naudzubillah kalau sampai kita benar-benar menjadi manusia yang lalai. Yang
penting kita jangan mengulanginya lagi” Sahut Rara tersenyum lapang.
“Iya
Ra…kita saling mengingatkan dalam kebaikan.” Sahut Dara tersenyum riang.
Ketiga
sahabat itu berangkulan. Ramadhan yang syahdu. Mereka sadar persahabatan bukan
hanya tentang kesenangan duniawai semata tapi ada hal yang terpenting dari itu
semua yaitu kesadaran untuk menjaga
kewajiban. Kewajiban sebagai makhluk Allah.
“Yuk
kita ke parkiran…kita tunggu ayahku di sana.” Ajak Rara senang. Bahagia
terpancar di wajahnya. Ramadhan tahun ini benar-benar membukakan mata hatinya.
Senin, 12 Juni 2017
WAKTU
Waktu berkejaran
Kadang curi-curi pandang
Hey kita di perlintasan yang mana katamu
Senja menarik jauh
Ke pusara yang tak tentu
Terjebak dalam labirin
Berputar-putar mengais jejak
Aku berteriak nyaring
Mengetuk-ngetuk mimpi
Berharap terbangun
Padang rumput tergelar
Ilalang menghalangi pandang
Terjerembab lubang menganga
Di perlintasan senja
Ah semoga hanya fatamorgana
Kadang curi-curi pandang
Hey kita di perlintasan yang mana katamu
Senja menarik jauh
Ke pusara yang tak tentu
Terjebak dalam labirin
Berputar-putar mengais jejak
Aku berteriak nyaring
Mengetuk-ngetuk mimpi
Berharap terbangun
Padang rumput tergelar
Ilalang menghalangi pandang
Terjerembab lubang menganga
Di perlintasan senja
Ah semoga hanya fatamorgana
TEMARAM DI MALL
Temaram di Mall
Orang-orang bergegas
Baju lebaran
Pakaian takwa
Pakaian duniakah?
Bekal akhirat
Ramadhan syahdu
Bagi diri merindu
Bila bertemu
RAMADHAN DALAM PELUKAN
Di penghujung Ramadan
Sudahkah diri bergegas?
Bulan mulia akan segera pergi
Entah bisa berjumpa lagi
Berapa lembar ayat dan surat?
Terlantun sepanjang hayat
Sujud malam
Saat doa menggumam
Rindu Ramadhan dalam pelukan
Belaian Illahi tak berkesudahan
Membasuh raga yang dahaga
Membasuh jiwa yang nestapa
Rindu Ramadhan dalam pelukan
Tetes air mata kesedihan
Benarlah waktu ibarat pedang
Memangkas habis penyesalan
Tangan tengadah
Rindu memuncah
Pintu ampunan
Akankah terbuka lebar?
LafadzMu ya Rahmaan ya Rahiiim
Senjata kami....
Sudahkah diri bergegas?
Bulan mulia akan segera pergi
Entah bisa berjumpa lagi
Berapa lembar ayat dan surat?
Terlantun sepanjang hayat
Sujud malam
Saat doa menggumam
Rindu Ramadhan dalam pelukan
Belaian Illahi tak berkesudahan
Membasuh raga yang dahaga
Membasuh jiwa yang nestapa
Rindu Ramadhan dalam pelukan
Tetes air mata kesedihan
Benarlah waktu ibarat pedang
Memangkas habis penyesalan
Tangan tengadah
Rindu memuncah
Pintu ampunan
Akankah terbuka lebar?
LafadzMu ya Rahmaan ya Rahiiim
Senjata kami....
Rabu, 07 Juni 2017
LELAKI BULAN JUNI
Lelaki bulan Juni
Di pundakmu tanggung jawab terpatri
Memamah butiran waktu
Menjadi rangkaian rindu
Ruang dan waktu adalah hakikat
Yang mengikat kita erat
Sepertiga perjalanan
Adalah langkah menggapai bintang
Menyusur mimpi
Di belahan sunyi
Jejak yang berderap memanggil khidmat
Jabat erat asa terdekap
Oh rindu adalah butiran embun yang menyejukkan
Hembusan angin yang mendamaikan
Cahaya penerang
Busur panah yang melesat
Jatuh di kedua matamu
Lalu resah biar menggantung di langit
Memajangnya di lampion mimpi
Saat terbangun senyum terukir dari bibir mentari...
@Teruntuk :18 Juni
Langganan:
Komentar (Atom)