Selasa, 13 Juni 2017

Cerpen"Maafkan Rara Ma.."


Sejak kemarin Rara sudah sibuk mempersiapkan acara buka bersama dengan teman-teman SDnya. Dalam hatinya ia berseru girang, Ramadhan kali ini ia tetap menjadwalkan acara buka bersama dengan Shela dan Dara sahabat karibnya sejak SD. Mereka memang kompak, kemanapun pergi selalu bersama. Termasuk merencanakan acara buka bersama pada Ramadhan tahun ini.

“Ma..,nanti boleh ya aku pergi bukber bareng Shela dan Dara?” Rajuk Rara pada Mama
yang tengah sibuk menyiapkan tajil berbuka di dapur.
“Memangnya kapan buka bersamanya?”Sahut Mama lembut
“Selasa depan Ma, boleh kan ya?” Rengek  Rara.
“Nah…kalau itu Mama nggak bisa memutuskan. Lebih baik besok tanya ke Ayah. Apalagi pulangnya malam lho Nak, minta ijin ke Ayah ya”. Sahut Mama bijak
 “Ya..Mama masa gitu aja harus bilang ke Ayah…”Sungut Rara sambil meninggalkan dapur.
“Hmm…Rara…Rara…” Sahut Mama geleng-heleng kepala melihat kelakuan Rara.

Keesokan harinya Rara memberanikan diri untuk meminta ijin kepada Ayah. Dengan merajuk Rara menyampaikan kalau acara Bukber Ramadahan sudah direncanakan oleh Rara, Shela, dan Dara.

“Boleh ya Yah….?” Rajuk Rara
“Boleh..tapi pulangnya nanti bareng Ayah aja. Kebetulan Mall itu biasa Ayah lewati kalau pulang kerja. Jadi Rara tunggu Ayah di sana dan kabari Ayah kalau mau dijemput.”         Sahut Ayah bijak.
“Horee…makasih ya Yah.Mmm….Rara sekalian minta uang buat beli tajilnya ya Yah cepe’ aja. “ Rajuk Rara lagi.
“Hmmm…Rara banyak-banyak amat emang mau tajil pakai apa sampe habis seratus             ribu?” Mama ikut menimpali dari dapur.
“Ya…Mama Takut gak cukup kalau bawa uang sedikit.” Ujar Rara memberikan alasan.

Lembaran seratus ribu akhirnya diterima Rara. Dengan girang,  Rara menuju kamar dan mengambil gawai miliknya. Dengan sigap menghubungi Shela dan Dara. Pukul dua siang mereka sepakat untuk bertemu di gerbang kompleks  rumah Shela. Mata Rara berbinar, tahun ini pasti seru acara Bukbernya. Sahut Rara dalam hati.

Hari Selasa yang dinanti pun tiba, Sepulang sekolah Rara sibuk menyiapkan baju terbaiknya. Sepatu kesayangannya pun dipilih untuk menemaninya hari ini.

“Ma….jangan terlambat ya antar Rara. Soalnya janjian sama Shela pukul dua.” Sahut            Rara pada Mama yang tengah selesai melaksanakan sholat Dzuhur.
“Iya…sholat dulu jangan lupa. Ingat nanti di sana cari masjid untuk sholat Ashar dan Maghrib ya Nak.” Sahut Mama mengingatkan.
“Iya..iya tenang aja Ma..” Ujar Rara dari balik kamar.

Pukul dua siang Mama sudah mengantar Rara ke gerbang kompleks rumah Shela. Di sana telah menunggu Shela dan Dara. Mama terlihat tersenyum pada Shela dan Dara.

“Hati-hati ya, jangan tinggalkan sholatnya. Terus Rara jangan lupa hubungi Ayah kalau mau dijemput.” Pesan Mama sebelum tiga sahabat itu berangkat.
“Iya Ma…berangkat dulu ya Ma..itu angkotnya udah datang.” Sahut Rara menunjuk angkutan umum yang akan mereka tumpangi.

Dengan riang mereka menaiki angkot. Mama masih tampak menatap angkutan umum yang ditumpangi Rara dan sahabatnya. Rara melambaikan tangan. Dia bisa melihat wajah Mama yang terlihat cemas. Saat angkutan umum melaju wajah Mama tak terlihat lagi.

“Hai guys kita mulai dari nonton yuk. Coba lihat jadwal hari ini pukul berapa kita bisa nonton?” Sahut Rara pada Shela dan Dara.
“Bentar..aku cek dulu jadwalnya. Mmm…paling kita bisa masuk pukul 14.45 Ra..ini jadwalnya.” Sahut Shela menyodorkan gawai miliknya.”
“Wah kalau begitu pas kita. Berarti keluar bioskop nanti sekita pukul 16.45 an. Jadi kita masih punya waktu untuk hunting makanan buat berbuka nanti.” Sahut Dara menimpali.

Rara mengangguk riang. Tiga gadis itu berjalan menuju bioskop di Mall, membeli karcis dan menunggu pintu teater dibuka. Sambil menunggu mereka isi dengan celoteh-celoteh khas remaja. Berbicara tentang sekolah, cerita-certita konyol saat mereka SD, cerita konyolnya puasa mereka saat anak-anak, dan hal-hal konyol lainnya yang membuat mereka terpisah tidak bisa melanjutkan di SMP yang sama. Rara senang, mereka tetap bisa bersahabat dekat meski tak satu sekolah. Saat pintu teater terbuka, Rara merasa ada yang lupa tapi apa. Rara berusaha mengingat namun kemudian ditepisnya.

“Wah…seru ya filmnya..hihi kapan lagi coba kita bisa nonton kayak gini bareng-bareng.” Sahut Dara disertai tawa Shela dan Rara usai keluar dari bioskop.
“Iya bener..seru banget filmnya. Nah. sekarang kita kemana nih?” Sahut Rara antusias.
“Mending kita pesan makanan dulu untuk berbuka nanti sambil booking tempat. Nah, sambil nunggu, kita bisa cuci mata. Ada deretan sepatu dan baju keren di sana.” Sahut Shela menunjuk outlet di salah satu mall tersebut.
Ketiganya sepakat. Menuju kafe kecil untuk memesan makanan dan berjalan menuju outlet yang ditunjuk Shela. Waktu berjalan cepat, tiga gadis itu masih asyik melihat koleksi sepatu dan baju yang berderet di outlet tersebut. Rara tersenyum. Matanya tertuju pada sepatu keren yang dipajang di etalase. Dalam hati ia akan meminta Ayah dan Mama untuk membeli sepatu itu. Matanya berbinar, namun tiba-tiba ia ingat Mama. Pesan Mama.

“Ya ampun…Shela, Dara jam berapa sekarang?”
“Tenang Ra…kita punya waktu lima menit lagi sebelum Adzan Maghrib tiba. Yuk kita ke kafe sekarang?” Sahut Shela mengajak dua sahabatnya menuju kafe.
“Shela…Dara kita belum sholat Ashar….”Sahut Rara cemas ingat pesan Mama.

Ketiga sahabat itu ternganga. Mereka bener-benar lupa karena terlalu asyik dengan dunia mereka. Bergegas mereka menuju kafe, meminta makanan yang dipesan. Tak lama kemudian Adzan Maghrib terdengar. Makanan yang Rara dan sahabatnya pesan pun sudah tersaji. Rara ingat Mama. Ingat pesan Mama.

“Kita berdoa dulu yuk, terus kita makan lalu kita cari masjid ya untuk sholat Maghrib ya.” Sahut Rara dengan nada rendah.
“Iya Ra…kita cari masjid dekat sini nanti.” Sahut Shela ikut merasa bersalah.
Dara juga menangguk menyetujui ide kedua sahabatnya.

Usai acara berbuka, tiga gadis itu melangkah menuju masjid yang ada di dalam mall itu. Rara menuju tempat Wudhu hatinya syahdu. Ingat pesan Mama. Hari ini ia mengabaikan pesan mama untuk tidak meninggalkan sholat. Rara sedih. Terbayang wajah Mama tadi. Kecemasan Mama saat menatapnya di angkot tadi. Rara ingat, Mama tidak pernah memarahinya. tapi untuk sholat Mama gak pernah bisa kompromi.

“Sholat itu tiang agama Ra…jangan pernah kita meninggalkannya. Sholat menopang amalan-amalan lainnya. Kalau kita tidak sholat maka amalan lainnya akan sia-sia.” Terngiang nasihat Mama.

Rara membasuh wajahnya dengan air wudhu. Matanya mulai basah. Ia berjalan menuju shof wanita. Bergabung dengan jamaah lainnya. Dalam hati ia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Tak akan mengabaikan sholatnya lagi. Sesibuk dan semenyenangkan hatinya, ia tak mau lagi-lagi meninggalkan sholat. Khusyu sholat Rara kali ini.

Seusai sholat Rara ingat pesan Mama untuk menghubungi Ayah.
“Kasian Ayah pasti nunggu kabar aku.” Sahut Rara dalam hati. Ia pun menghubungi Ayah dan meminta Ayah menjemputnya di parkiran Mall. Rara mengeluarkan gawainya dan menghubungi Ayah. Saat itu, tampak Shela dan Dara mendekati Rara.

“Ra…maafkan ya.. hari ini kita jadi melakukan kesalahan karena melalaikan sholat.” Sahut Shela dengan nada menyesal.
“Nggak apa-apa Shel…Dara…aku juga minta maaf gak mengingatkan kalian. Ini jadi pengalaman untuk kita. Sebagai sahabat kita harus sama-sama saling mengingatkan. Apalagi untuk kebaikan. Untung Allah masih menegur kita. Naudzubillah kalau sampai kita benar-benar menjadi manusia yang lalai. Yang penting kita jangan mengulanginya lagi” Sahut Rara tersenyum lapang.
“Iya Ra…kita saling mengingatkan dalam kebaikan.” Sahut Dara tersenyum riang.

Ketiga sahabat itu berangkulan. Ramadhan yang syahdu. Mereka sadar persahabatan bukan hanya tentang kesenangan duniawai semata tapi ada hal yang terpenting dari itu semua yaitu kesadaran untuk  menjaga kewajiban. Kewajiban sebagai makhluk Allah.

“Yuk kita ke parkiran…kita tunggu ayahku di sana.” Ajak Rara senang. Bahagia terpancar di wajahnya. Ramadhan tahun ini benar-benar  membukakan mata hatinya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar