Di ruang yang katanya terhormat pun mereka saling menguliti
Mengunyah daging dengan mulut belepotan darah
Tawa yang membahana
Mengejek dengan puasnya
Kedigdayaan Rahwana
Akan hancur oleh kepongahannya
Dan topeng para bidadari berbulu domba
Mulai terbuka
Yang memudahkan akan dimudahkan
Yang mempersulit akan dipersulit
Hukum alam yang bicara
Rabu, 31 Januari 2018
Senin, 22 Januari 2018
Samudra Terdalammu
Temukan aku di samudra terdalammu
Saat suara hati menggema
Teriakan rindu bila bertemu
Tapi itu hanya didengar angin
Karena perjumpaan adalah wewenang Tuhan
Bilakah ada perjamuan?
Tidak
Karena isyarat mengarungi laut
Hanya dimiliki pelaut tangguh
Yang menebar jala dan jaring
dengan kaki dan tangannya
Pelaut yang percaya
Badai tak menghadangnya
Sedangkan kau
Selamilah dulu samudra terdalammu
Temukan dulu arti hidupmu..
Saat suara hati menggema
Teriakan rindu bila bertemu
Tapi itu hanya didengar angin
Karena perjumpaan adalah wewenang Tuhan
Bilakah ada perjamuan?
Tidak
Karena isyarat mengarungi laut
Hanya dimiliki pelaut tangguh
Yang menebar jala dan jaring
dengan kaki dan tangannya
Pelaut yang percaya
Badai tak menghadangnya
Sedangkan kau
Selamilah dulu samudra terdalammu
Temukan dulu arti hidupmu..
Gitar dan Senandungmu
Aku selalu ingat nasihat-nasihat itu
Meski bertemu
jauh sebelum mataku terbuka
Bahkan dari segelas air
Petuah-petuah itu mengalir
Lalu di sela petikan gitar
Senandung lagu ibu terdengar
Iwan Fals pun menjelma
Gigil tubuhku
betapa aku begitu jauh
Dari ibu, dari Tuhanku
Senandungkan lagi
Meski gitar telah usang
Termakan waktu
Meski bertemu
jauh sebelum mataku terbuka
Bahkan dari segelas air
Petuah-petuah itu mengalir
Lalu di sela petikan gitar
Senandung lagu ibu terdengar
Iwan Fals pun menjelma
Gigil tubuhku
betapa aku begitu jauh
Dari ibu, dari Tuhanku
Senandungkan lagi
Meski gitar telah usang
Termakan waktu
Jumat, 19 Januari 2018
MENUNGGU
Resah bergayut
Jarum waktu melambat
Menanti kabar
Jarak membentang
Pekat Berpayung resah
Pesawat landing
Jarum waktu melambat
Menanti kabar
Jarak membentang
Pekat Berpayung resah
Pesawat landing
Rabu, 17 Januari 2018
Karena Kau dekat
Aku terlelap dalam mimpi
Tubuhku terbenam hanya terdengar suara igauan
Di selasar kota
Mencari sosokMu
Jalan abadiku
Tertutup tembok
Di kiri kanan jalan
Tak ada wangi rumputan
Saat ku buka mata
Kau begitu dekat
Cerpen "Samiun"
Pagi diselimuti gerimis. Udara dingin menyeruak. Samiun masih terbaring malas di dipan peraduannya. Sesekali bunyi berdenyit dari sudut dipan yang mulai reot termakan usia. Sarung kembali ditarik. Tubuh Samiun semakin meringkuk. Membentuk buntalan. Wajahnya semakin menelungkup. Kabut pagi membenamkannya dalam malas.
"Pak.. Pak.. Koe kok gk malu sama ayam tetangga yang sudah berkokok dari Subuh tadi, mbok ya bangun. Rejekimu dipatok ayam terus tiap hari jika kerjamu hanya gelontoran begitu..." Suara Ijah istrinya seperti kaleng yang dilemparkan angin. Samiun berusaha tak mendengarnya. Semakin istrinya mengomel semakin ia tarik sarung yang melingkar tubuhnya.
Ijah berlalu ketika Samiun tak mempedulikanya. Dengan sigap perempuan paruh baya itu menuang air yang mendidih dari cerek ke dalam termos di dapur yang mulai mengepul. Kayu-kayu bakar yang ia kumpulkan sehabis dari ladang mampu menghemat biaya hidup untuk membeli gas. Tabung hijau pun tak mampu ia membelinya. Sisa-sisa ranting dan kayu yang biasanya ia gunakan untuk memasak. Namun karena penghujan mulai tiba, Ijah harus pandai-pandai menyimpan sisa-sisa kayu di sudut rumah agar tak basah oleh hujan.
Asap mengepul dari bilik dapur. Udara yang mengembun tiba-tiba pengap. Hangat menyeruak memenuhi ruangan gubuk itu. Gerimis di luar masih terdengar. Tangan Ijah sigap mengganti cerek dengan rebusan singkong. Biasanya singkong direbus bersama dengan parutan kelapa dan garam. Ijah merebusnya hingga air dalam panci mulai surut. Paduan singkong dan kelapa yang gurih siap disantap. Hasil kebun kemarin bisa ia pakai untuk sarapan hari ini. Bahkan bisa untuk makan siang dan malam nanti. Jika Ijah tak mampu membeli beras, hanya itu yang bisa ia suguhkan untuk Samiun suaminya yang pemalas.
Sambil menunggu rebusan singkong, tangannya meraih sapu. Panci di dapur mengepul. Ijah membereskan bagian dapur. Menyapu ubin yang mulai retak dan tak terawat. Sedih hati Ijah menginjaknya. Ingin rasanya ubin yang ia injak bisa seperti rumah-rumah tetangganya yang sudah mengkilap karena terbuat dari keramik. Diusirnya perasaan sedih itu, dibersihkannya bagian rumah yang memang berdebu. Memasuki kamar, Samiun masih juga meringkuk. Kali ini seluruh tubuhnya melingkar. Wajahnya semakin terbenam dalam sarung dan bantal. Ijah hanya menarik napas panjang. Kesabaran yang entah sampai kapan.
Wangi kopi mengepul. Aroma wangi yang diseduh dari tangan Ijah yang mulai keriput dan kasar. Sepiring singkong rebus berbalut parutan kelapa telah terhidang di meja ruang tamu sekaligus ruang makan bagi mereka. Ijah kembali melangkah ke dapur. Diambilnya rantang dan mulai dimasukkannya satu per satu singkong rebus ke dalam rantang. Bekal makan siang Ijah di kebun. Bisa seharian ia bekerja di sana. Hanya bekal rebusan singkong itulah yang memberinya tenaga. Perutnya bisa terisi dan ia bisa bekerja. Dengan sigap diambilnya parang dan cangkul. Diletakkannya di depan pintu peralatan tempur yang biasa ia bawa. Topi caping pun ia kaitkan di lehernya.
"Aku berangkat Pak... Sarapanmu sudah aku siapkan. Ingat Pak.. Rejekimu dipatok ayam kalau kau tak bekerja. " Sahut Ijah pamit pada Samiun yang masih melingkar di dipan kamarnya.
Samiun tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepala dengan malas. Ia Semakin menarik sarung yang melilit tubuhnya.
Sesampainya di kebun, Ijah menyimpan rantang, cangkul dan parang. Gerimis sudah reda sejak ia berangkat dari rumah. Dipakainya topi caping yang melilit di lehernya. Topi itu mampu melindunginya dari gerimis dan panasnya terik mentari. Dipandanginya kebun seluas 600 meter persegi itu. Sepertiganya sudah ia tanami singkong, sepertiga lagi ditanami ubi, dan sisanya ia gunakan untuk menanam sayuran. Singkong dapat ia panen setiap sembilan bulan sekali. Begitu juga dengan ubi. Hanya sayuran yang bisa ia panen tiga bulan sekali. Sisa tanah untuk bagian sayuran biasanya ia tanami dengan selada. Bergantian dengan pekcoy atau kadang ia tanami sawi.
Kebun itu bukan miliknya. Kebaikan Wak Haji Somadlah yang memberikan tanah itu untuk Ijah garap. Wak Haji Somad adalah satu-satunya keluarga Ijah yang masih tersisa. Masih saudara ibunya. Wak Haji kasihan melihat nasib keluarga Ijah dan Samiun. Sejak peristiwa PHK yang dialami Samiun, keadaan ekonomi keluarga Ijah semakin terpuruk. Terlebih, Samiun seperti kehilangan gairah untuk hidup. Setiap hari, ia hanya melilitkan sarung di dipan miliknya. Bangun dari tempat tidur hanya untuk makan dan mandi. Selebihnya, kemalasan semakin menderanya.
Ijah menatap tanah milik Wah Haji Somad.
"Hari ini aku akan menyiangi tanaman sayuran. Mudah-mudahan minggu depan selada-selada ini bisa aku panen. " Senyum tergurat dari wajah Ijah. Ada harapan terbersit di sana. Semangatnya kembali menyala di kebun ini. Semangat yang menyembul seperti pohon-pohon singkong yang mulai tumbuh melebihi tubuhnya.
Sepeninggal Ijah ke ladang, Samiun bangkit menuju ruang tamu. Wangi kopi yang mengepul seolah memanggilnya untuk bangun. Dibukanya tudung saji, sepiring singkong rebus berbalut kelapa yang gurih terhidang di meja. Tangan Samiun mengambilnya. Sambil menikmati sarapan hasil olahan tangan Ijah, mata Samiun menerawang. Beginilah setiap harinya. Tiga tahun telah berlalu, namun ia masih juga terpuruk dalam kesedihannya. Pemutusan Hubungan Kerja dari pabrik sepatu tempatnya bekerja, benar-benar membuatnya terpukul. Lelah kaki Samiun membawa map dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk melamar kerja. Lamaran-lamaran itu tak ada yang diterima. Belum ada rekrutmen karyawan baru. Itu alasannya.
Samiun telah berusaha. Itu pikirnya. Berbagai pekerjaan serabutan pun telah dijalaninya. Menjadi tukang parkir, menjadi kuli angkut di pasar, bahkan mengojek dengan menyewa motor temannya pernah ia jalani. Namun, lagi-lagi kerasnya kehidupan seolah membuatnya menyerah.
Gajinya sebagai tukang parkir tak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Terlalu kecil karena ia harus berbagi dengan rekan tukang parkir lainnya. Belum lagi untuk biaya sekolah Odi anak satu-satunya. Sudah kelas lima sekarang. Ah bayangan Odi dan Ijah bergantian memenuhi pikirannya.
Apalagi menjadi tukang angkut di pasar. Gajinya tak seberapa. Wajah Odi semakin membayang di pelupuk matanya. Masih terngiang ketika ia mengantar Odi ke Pesantren tempatnya tinggal kini.
"Pak.. Odi ingin tetap sekolah, biarkan Odi tetap tinggal di pesantren ini. "Sahut Odi ketika Samiun menceritakan tentang PHK yang dialaminya kepada anaknya.
Tak tega Samiun melihat wajah Odi. Ditatapnya pula Ijah yang saat itu juga menunjukkan wajah berduka.
"Tenang Nak... Odi tetap sekolah di pesantren ini. Odi jangan khawatir. Emak dan Bapak akan selalu berusaha menyekolahkan Odi sampai lulus SMA nanti." Sahut Ijah mantap. Meski dalam hatinya bergejolak. Dari mana uang untuk ia bisa menyekolahkan Odi sampai tamat SMA nanti.
Samiun hanya menatap Ijah kosong. Namun, sorot mata wanita itu begitu optimis. Seolah tak ingin ditunjukkannya gurat kesedihan pada anaknya. Samiun tersenyum pada Odi. Ia pun tak ingin kesedihannya menggayut pada Odi anaknya.
"Odi semangat belajar di pesantren ini ya. Emak dan Bapak akan cari uang yang banyak agar Odi tetap bisa sekolah. " Sahut Samiun mendekap Odi.
Sedih hati Samiun mengingatnya. Mengingat terakhir kali ia bertemu Odi. Pancaran anak itu menyiratkan semangat yang menyala. Berkali Samiun membongkar lemari miliknya. Mencari selembar ijazah SDnya yang mungkin berguna. Namun, usahanya melamar pekerjaan tetap sia-sia.
Masih ia ingat juga air mata ijah meleleh haru. Melihat perjuangan Samiun bolak-balik mencari pekerjaan. Tiga tahun waktu berjalan tak semudah yang dibayangkan. Penghasilan Samiun yang pasa-pasan kerap membuat dia begitu emosian. Setiap hari ada saja yang dikeluhkanya. Uang setoran parkir yang ditilep temannya, atau hal lainnya. Emosi Samiun tak terkendali. Sering ia mengumpat dengan kata-kata kasar. Menyalahkan keadaan yang semakin tak berpihak padanya. Ijah kadang harus tutup telinga mendengar ocehannya.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Samiun, Ijah mulai mencari penghasilan tambahan. Odi anaknya harus tetap sekolah pikirnya. Biarlah Odi tenang di pesantren sana. Odi tak perlu memikirkan bagaimana emak dan bapaknya pontang-panting mencari kerja. Ijah pun mulai menjadi buruh cuci. Berkeliling pada tetangga terdekat. Lumayan upahnya bisa ia pakai untuk makan sehari-hari.
Wak Haji Somad yang melihat pekerjaan Ijah merasa prihatin. Dipanggilnya perempuan paruh baya itu ke rumahnya. Istri Wak Haji Somad hanya mengangguk ketika Wak Haji Somad meminta agar Ijah menggarap tanah miliknya. Hasil panen kebun itu, menjadi hak Ijah sebagai penggarapnya. Wak Haji Somad dan istrinya pun membantu biaya sekolah Odi dengan mengirimkan uang bulanan dan kebutuhannya.
Kebaikan Wak Haji Somad ternyata ditafsirkan lain oleh Samiun. Dia mengganggap harga dirinya sebagai laki-laki telah terinjak-injak. Dia merasa semakin tak berguna.
"Bagaimana bisa, kau terima tawaran Wak Haji Somad Ijah...? Kau ingin menginjak-injak harga diri suamimu ini? Kau ingin mempermalukan aku hah?!" Teriak Samiun ketika mendengar Ijah menerima bantuan Wak Haji Somad.
"Tapi Pak.. Aku tak punya pilihan lain. Odi butuh uang untuk sekolah dan makan. Dan kita butuh biaya makan sehari-hati. Darimana kita dapat uang kalau kita menolak tawaran Wak Haji Somad Pak..? " Tangis Ijah pecah malam itu. Tak menyangka Samiun begitu keras menolak kebaikan Wak Haji Somad.
Sejak itu tabiat Samiun benar-benar berubah. Sikapnya menjadi pemalas dan tidak memiliki gairah hidup. Ijah hanya mengurut dada sambil terus memupuk kesabarannya. Kesabaran seorang perempuan yang terkungkung keadaan.
Wak Haji Somad yang melihat perilaku Samiun, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Entah berpuluh nasihatnya seperti tak pernah mempan menyentuh hati Samiun. "Benar-benar kepala batu.. " umpat Wak Somad suatu kali.
Hati Ijah pedih mengingat kejadian itu. Hidup yang ia jalani sekeras tanah yang ia cangkul. Peluh menetes, matahari mulai berada hampir di atas ubun-ubun. Sisa tanah yang ia garap hari ini masih setengahnya lagi. Setelah menyiangi tanaman sayuran, sisa tenaganya ia pakai untuk mencangkul bagian yang akan ia tanami ubi.
Telinga Ijah tersentak ketika ia mendengar suara cidukan cangkul.
"Sruk.. Srukk... " suara seseorang sedang mencangkul kian terdengar jelas. Perlahan dibukanya topi caping yang menutupi pandangannya. Mata Ijah terbelalak. Tak menyangka dengan adegan yang dilihatnya. Berkali ia usap mata dengan tangan bersarung tanah. Lelaki yang dilihatnya tak asing lagi. Namun yang dilakukan lelaki itu membuat Ijah terpana.
"Pak....? " Suara Ijah tergugu. Matanya meleleh haru. Refleks kakinya berlari menghampiri lelaki yang telah lebih dari dua belas tahun menemaninya. Lelaki yang tiba-tiba ada di dekatnya, memegang cangkul di tangannya.
Ijah tak kuasa menahan haru. Dipeluknya lelaki itu. Kali ini ia rasakan kembali semangat yang menyala dari degup jantung Samiun. Semangat yang tiga tahun ini tertutup kabut kemalasan.
"Maafkan aku Ijah... Membiarkanmu berjuang sendiri. Maafkan kesalahan suamimu ini. Sungguh aku ingin sekali menebus semua dosa-dosaku kepadamu. " Suara Samiun begitu lirih seolah angin meniupkan kedamaian di antara terik mentari.
Mata Ijah berkaca-kaca. Tak kuasa menahan bulir bening yang jatuh perlahan membasahi pipinya. Seolah hujan turut membasahi tanah kebun yang ia pijak. Ijah mengangguk, tak kuasa menjawab perkataan Samiun. Baginya, ucapan Samiun hari ini mampu menghapus kemarau panjang hatinya.
"Ini surat dari Odi. Wak Haji memberikannya tadi setelah kau berangkat ke kebun. Odi sakit Ijah. Aku sedih membacanya. Besok kita tengok Odi di Pesantren." Samiun menyerahkan secarik kertas pada Ijah. Perempuan itu menerima surat dari anak yang dicintainya. Odi, wajahnya membayang di pelupuk mata Ijah. Tak sabar ia membuka secarik kertas itu. Ada rasa haru meretas di hatinya. Dipeluknya erat surat dari Odi. Doa-doa membaur untuknya. Untuk putra tercintanya.
Ditatapnya Samiun. Senyum tersingging di bibir Ijah.
"Esok kita jemput Odi pulang ya Pak.... "
"Pak.. Pak.. Koe kok gk malu sama ayam tetangga yang sudah berkokok dari Subuh tadi, mbok ya bangun. Rejekimu dipatok ayam terus tiap hari jika kerjamu hanya gelontoran begitu..." Suara Ijah istrinya seperti kaleng yang dilemparkan angin. Samiun berusaha tak mendengarnya. Semakin istrinya mengomel semakin ia tarik sarung yang melingkar tubuhnya.
Ijah berlalu ketika Samiun tak mempedulikanya. Dengan sigap perempuan paruh baya itu menuang air yang mendidih dari cerek ke dalam termos di dapur yang mulai mengepul. Kayu-kayu bakar yang ia kumpulkan sehabis dari ladang mampu menghemat biaya hidup untuk membeli gas. Tabung hijau pun tak mampu ia membelinya. Sisa-sisa ranting dan kayu yang biasanya ia gunakan untuk memasak. Namun karena penghujan mulai tiba, Ijah harus pandai-pandai menyimpan sisa-sisa kayu di sudut rumah agar tak basah oleh hujan.
Asap mengepul dari bilik dapur. Udara yang mengembun tiba-tiba pengap. Hangat menyeruak memenuhi ruangan gubuk itu. Gerimis di luar masih terdengar. Tangan Ijah sigap mengganti cerek dengan rebusan singkong. Biasanya singkong direbus bersama dengan parutan kelapa dan garam. Ijah merebusnya hingga air dalam panci mulai surut. Paduan singkong dan kelapa yang gurih siap disantap. Hasil kebun kemarin bisa ia pakai untuk sarapan hari ini. Bahkan bisa untuk makan siang dan malam nanti. Jika Ijah tak mampu membeli beras, hanya itu yang bisa ia suguhkan untuk Samiun suaminya yang pemalas.
Sambil menunggu rebusan singkong, tangannya meraih sapu. Panci di dapur mengepul. Ijah membereskan bagian dapur. Menyapu ubin yang mulai retak dan tak terawat. Sedih hati Ijah menginjaknya. Ingin rasanya ubin yang ia injak bisa seperti rumah-rumah tetangganya yang sudah mengkilap karena terbuat dari keramik. Diusirnya perasaan sedih itu, dibersihkannya bagian rumah yang memang berdebu. Memasuki kamar, Samiun masih juga meringkuk. Kali ini seluruh tubuhnya melingkar. Wajahnya semakin terbenam dalam sarung dan bantal. Ijah hanya menarik napas panjang. Kesabaran yang entah sampai kapan.
Wangi kopi mengepul. Aroma wangi yang diseduh dari tangan Ijah yang mulai keriput dan kasar. Sepiring singkong rebus berbalut parutan kelapa telah terhidang di meja ruang tamu sekaligus ruang makan bagi mereka. Ijah kembali melangkah ke dapur. Diambilnya rantang dan mulai dimasukkannya satu per satu singkong rebus ke dalam rantang. Bekal makan siang Ijah di kebun. Bisa seharian ia bekerja di sana. Hanya bekal rebusan singkong itulah yang memberinya tenaga. Perutnya bisa terisi dan ia bisa bekerja. Dengan sigap diambilnya parang dan cangkul. Diletakkannya di depan pintu peralatan tempur yang biasa ia bawa. Topi caping pun ia kaitkan di lehernya.
"Aku berangkat Pak... Sarapanmu sudah aku siapkan. Ingat Pak.. Rejekimu dipatok ayam kalau kau tak bekerja. " Sahut Ijah pamit pada Samiun yang masih melingkar di dipan kamarnya.
Samiun tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepala dengan malas. Ia Semakin menarik sarung yang melilit tubuhnya.
Sesampainya di kebun, Ijah menyimpan rantang, cangkul dan parang. Gerimis sudah reda sejak ia berangkat dari rumah. Dipakainya topi caping yang melilit di lehernya. Topi itu mampu melindunginya dari gerimis dan panasnya terik mentari. Dipandanginya kebun seluas 600 meter persegi itu. Sepertiganya sudah ia tanami singkong, sepertiga lagi ditanami ubi, dan sisanya ia gunakan untuk menanam sayuran. Singkong dapat ia panen setiap sembilan bulan sekali. Begitu juga dengan ubi. Hanya sayuran yang bisa ia panen tiga bulan sekali. Sisa tanah untuk bagian sayuran biasanya ia tanami dengan selada. Bergantian dengan pekcoy atau kadang ia tanami sawi.
Kebun itu bukan miliknya. Kebaikan Wak Haji Somadlah yang memberikan tanah itu untuk Ijah garap. Wak Haji Somad adalah satu-satunya keluarga Ijah yang masih tersisa. Masih saudara ibunya. Wak Haji kasihan melihat nasib keluarga Ijah dan Samiun. Sejak peristiwa PHK yang dialami Samiun, keadaan ekonomi keluarga Ijah semakin terpuruk. Terlebih, Samiun seperti kehilangan gairah untuk hidup. Setiap hari, ia hanya melilitkan sarung di dipan miliknya. Bangun dari tempat tidur hanya untuk makan dan mandi. Selebihnya, kemalasan semakin menderanya.
Ijah menatap tanah milik Wah Haji Somad.
"Hari ini aku akan menyiangi tanaman sayuran. Mudah-mudahan minggu depan selada-selada ini bisa aku panen. " Senyum tergurat dari wajah Ijah. Ada harapan terbersit di sana. Semangatnya kembali menyala di kebun ini. Semangat yang menyembul seperti pohon-pohon singkong yang mulai tumbuh melebihi tubuhnya.
Sepeninggal Ijah ke ladang, Samiun bangkit menuju ruang tamu. Wangi kopi yang mengepul seolah memanggilnya untuk bangun. Dibukanya tudung saji, sepiring singkong rebus berbalut kelapa yang gurih terhidang di meja. Tangan Samiun mengambilnya. Sambil menikmati sarapan hasil olahan tangan Ijah, mata Samiun menerawang. Beginilah setiap harinya. Tiga tahun telah berlalu, namun ia masih juga terpuruk dalam kesedihannya. Pemutusan Hubungan Kerja dari pabrik sepatu tempatnya bekerja, benar-benar membuatnya terpukul. Lelah kaki Samiun membawa map dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk melamar kerja. Lamaran-lamaran itu tak ada yang diterima. Belum ada rekrutmen karyawan baru. Itu alasannya.
Samiun telah berusaha. Itu pikirnya. Berbagai pekerjaan serabutan pun telah dijalaninya. Menjadi tukang parkir, menjadi kuli angkut di pasar, bahkan mengojek dengan menyewa motor temannya pernah ia jalani. Namun, lagi-lagi kerasnya kehidupan seolah membuatnya menyerah.
Gajinya sebagai tukang parkir tak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Terlalu kecil karena ia harus berbagi dengan rekan tukang parkir lainnya. Belum lagi untuk biaya sekolah Odi anak satu-satunya. Sudah kelas lima sekarang. Ah bayangan Odi dan Ijah bergantian memenuhi pikirannya.
Apalagi menjadi tukang angkut di pasar. Gajinya tak seberapa. Wajah Odi semakin membayang di pelupuk matanya. Masih terngiang ketika ia mengantar Odi ke Pesantren tempatnya tinggal kini.
"Pak.. Odi ingin tetap sekolah, biarkan Odi tetap tinggal di pesantren ini. "Sahut Odi ketika Samiun menceritakan tentang PHK yang dialaminya kepada anaknya.
Tak tega Samiun melihat wajah Odi. Ditatapnya pula Ijah yang saat itu juga menunjukkan wajah berduka.
"Tenang Nak... Odi tetap sekolah di pesantren ini. Odi jangan khawatir. Emak dan Bapak akan selalu berusaha menyekolahkan Odi sampai lulus SMA nanti." Sahut Ijah mantap. Meski dalam hatinya bergejolak. Dari mana uang untuk ia bisa menyekolahkan Odi sampai tamat SMA nanti.
Samiun hanya menatap Ijah kosong. Namun, sorot mata wanita itu begitu optimis. Seolah tak ingin ditunjukkannya gurat kesedihan pada anaknya. Samiun tersenyum pada Odi. Ia pun tak ingin kesedihannya menggayut pada Odi anaknya.
"Odi semangat belajar di pesantren ini ya. Emak dan Bapak akan cari uang yang banyak agar Odi tetap bisa sekolah. " Sahut Samiun mendekap Odi.
Sedih hati Samiun mengingatnya. Mengingat terakhir kali ia bertemu Odi. Pancaran anak itu menyiratkan semangat yang menyala. Berkali Samiun membongkar lemari miliknya. Mencari selembar ijazah SDnya yang mungkin berguna. Namun, usahanya melamar pekerjaan tetap sia-sia.
Masih ia ingat juga air mata ijah meleleh haru. Melihat perjuangan Samiun bolak-balik mencari pekerjaan. Tiga tahun waktu berjalan tak semudah yang dibayangkan. Penghasilan Samiun yang pasa-pasan kerap membuat dia begitu emosian. Setiap hari ada saja yang dikeluhkanya. Uang setoran parkir yang ditilep temannya, atau hal lainnya. Emosi Samiun tak terkendali. Sering ia mengumpat dengan kata-kata kasar. Menyalahkan keadaan yang semakin tak berpihak padanya. Ijah kadang harus tutup telinga mendengar ocehannya.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Samiun, Ijah mulai mencari penghasilan tambahan. Odi anaknya harus tetap sekolah pikirnya. Biarlah Odi tenang di pesantren sana. Odi tak perlu memikirkan bagaimana emak dan bapaknya pontang-panting mencari kerja. Ijah pun mulai menjadi buruh cuci. Berkeliling pada tetangga terdekat. Lumayan upahnya bisa ia pakai untuk makan sehari-hari.
Wak Haji Somad yang melihat pekerjaan Ijah merasa prihatin. Dipanggilnya perempuan paruh baya itu ke rumahnya. Istri Wak Haji Somad hanya mengangguk ketika Wak Haji Somad meminta agar Ijah menggarap tanah miliknya. Hasil panen kebun itu, menjadi hak Ijah sebagai penggarapnya. Wak Haji Somad dan istrinya pun membantu biaya sekolah Odi dengan mengirimkan uang bulanan dan kebutuhannya.
Kebaikan Wak Haji Somad ternyata ditafsirkan lain oleh Samiun. Dia mengganggap harga dirinya sebagai laki-laki telah terinjak-injak. Dia merasa semakin tak berguna.
"Bagaimana bisa, kau terima tawaran Wak Haji Somad Ijah...? Kau ingin menginjak-injak harga diri suamimu ini? Kau ingin mempermalukan aku hah?!" Teriak Samiun ketika mendengar Ijah menerima bantuan Wak Haji Somad.
"Tapi Pak.. Aku tak punya pilihan lain. Odi butuh uang untuk sekolah dan makan. Dan kita butuh biaya makan sehari-hati. Darimana kita dapat uang kalau kita menolak tawaran Wak Haji Somad Pak..? " Tangis Ijah pecah malam itu. Tak menyangka Samiun begitu keras menolak kebaikan Wak Haji Somad.
Sejak itu tabiat Samiun benar-benar berubah. Sikapnya menjadi pemalas dan tidak memiliki gairah hidup. Ijah hanya mengurut dada sambil terus memupuk kesabarannya. Kesabaran seorang perempuan yang terkungkung keadaan.
Wak Haji Somad yang melihat perilaku Samiun, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Entah berpuluh nasihatnya seperti tak pernah mempan menyentuh hati Samiun. "Benar-benar kepala batu.. " umpat Wak Somad suatu kali.
Hati Ijah pedih mengingat kejadian itu. Hidup yang ia jalani sekeras tanah yang ia cangkul. Peluh menetes, matahari mulai berada hampir di atas ubun-ubun. Sisa tanah yang ia garap hari ini masih setengahnya lagi. Setelah menyiangi tanaman sayuran, sisa tenaganya ia pakai untuk mencangkul bagian yang akan ia tanami ubi.
Telinga Ijah tersentak ketika ia mendengar suara cidukan cangkul.
"Sruk.. Srukk... " suara seseorang sedang mencangkul kian terdengar jelas. Perlahan dibukanya topi caping yang menutupi pandangannya. Mata Ijah terbelalak. Tak menyangka dengan adegan yang dilihatnya. Berkali ia usap mata dengan tangan bersarung tanah. Lelaki yang dilihatnya tak asing lagi. Namun yang dilakukan lelaki itu membuat Ijah terpana.
"Pak....? " Suara Ijah tergugu. Matanya meleleh haru. Refleks kakinya berlari menghampiri lelaki yang telah lebih dari dua belas tahun menemaninya. Lelaki yang tiba-tiba ada di dekatnya, memegang cangkul di tangannya.
Ijah tak kuasa menahan haru. Dipeluknya lelaki itu. Kali ini ia rasakan kembali semangat yang menyala dari degup jantung Samiun. Semangat yang tiga tahun ini tertutup kabut kemalasan.
"Maafkan aku Ijah... Membiarkanmu berjuang sendiri. Maafkan kesalahan suamimu ini. Sungguh aku ingin sekali menebus semua dosa-dosaku kepadamu. " Suara Samiun begitu lirih seolah angin meniupkan kedamaian di antara terik mentari.
Mata Ijah berkaca-kaca. Tak kuasa menahan bulir bening yang jatuh perlahan membasahi pipinya. Seolah hujan turut membasahi tanah kebun yang ia pijak. Ijah mengangguk, tak kuasa menjawab perkataan Samiun. Baginya, ucapan Samiun hari ini mampu menghapus kemarau panjang hatinya.
"Ini surat dari Odi. Wak Haji memberikannya tadi setelah kau berangkat ke kebun. Odi sakit Ijah. Aku sedih membacanya. Besok kita tengok Odi di Pesantren." Samiun menyerahkan secarik kertas pada Ijah. Perempuan itu menerima surat dari anak yang dicintainya. Odi, wajahnya membayang di pelupuk mata Ijah. Tak sabar ia membuka secarik kertas itu. Ada rasa haru meretas di hatinya. Dipeluknya erat surat dari Odi. Doa-doa membaur untuknya. Untuk putra tercintanya.
Ditatapnya Samiun. Senyum tersingging di bibir Ijah.
"Esok kita jemput Odi pulang ya Pak.... "
Rabu, 03 Januari 2018
REFLEKSI TANGGA KELIMA BELAS
Alhamdulillah... 15 tahun sudah usia pernikahan saya dan suami. Ini hanya secuil perjalanan yang kalau dibandingkan dengan pernikahan orang-orang tua kita dulu, rasanya belum seberapa. Takzim rasanya melihat orang-orang tua dahulu merawat pernikahannya hingga maut memisahkan. Sepenggal doa mudah-mudahan kita semua senantiasa dilimpahi berkah sakinah mawaddah wa rahmah. Sebuah pernikahan yang dirahmati Allah selalu.
Lima belas tahun hidup bersama tentu manis asamnya hidup mulai terasa. Warna-warni kehidupan silih berganti. Ada suka-duka, tawa dan derai air mata. Semua disyukuri sebagai bagian dari kasih sayang illahi. Menempa agar diri lebih baik dan lebih baik lagi. Kebersamaan dengan cita-cita bersama adalah kebahagiaan yang tak bisa terukur dengan jari. Cita-cita bersama tak hanya di dunia tapi bersama-sama menuju ridho dan syurgaNya Allah. Cita-cita yang membuat kita tetap kokoh untuk saling menguatkan.
Lima belas tahun rasanya bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal pasangan. Segala kebiasaan yang baik atau buruk sudah menjadi bagian yang saling mengisi. Istri adalah pakaian suami, begitu pula sebaliknya. Saling menjaga kehormatan pasangan. Tak ada pasangan yang sempurna, tugas kitalah menyempurnakannya.
Lalu pernah cemburukah selama 15 tahun ini? Jangankan cemburu perasaan marah, kesal, yang terucap maupun tidak pastinya ada. Dari yang berupa omelan sampai diam tanpa kata. Apalagi cemburu yang merupakan sifat insani bagi siapa pun pecinta. Pasti setiap dari kita merasakannya. Cemburu juga menjadi satu indikator bahwa cinta masih bertahta. Hehehe..
Nah... Karena manusiawi sifatnya cemburu juga sama dengan bentuk emosi yang lainnya seperti marah, senang, dan sedih. Setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam melampiaskan atau mengekspresikannya. Ada yang meluap menjadi bentuk kemarahan, ada yang malah memendamnya dalam hati hingga sesak nafas mungkin, atau malah menjadi stress sehingga paranoid takut kehilangan pasangan kemudian malah bersikap posesif. Duh.. Duh.. Kasian ya kalau sampai gara-gara cemburu dengan pasangan malah membuat stress dan merusak diri sendiri.
Lalu bagaimanakah agar hati kita damai dari rasa cemburu? Ingat ya cemburu itu dekat dengan nafsu dan amarah maka kontrol dalam diri sangat dibutuhkan untuk meredamnya. Cemburu yang manusiawi tadi jangan sampai ditafsirkan menjadi sebuah ketakutan. Pasangan mau kerja, takut berpaling hati. Pasangan mau pergi kemana pun selalu dibuntuti, dan diintai lewat perangkat komunikasi. Yah.. Sepertinya sangat menyiksa diri dan tentu saja menyiksa pasangan. Kebayang ya rasa tidak percaya yang menghantui itu justru malah jadi boomerang bagi kenyamanan rumah tangga.
Berikut tips sederhana sekaligus pengingat diri agar mampu mengendalikan segala emosi, baik sedih, senang, bahkan cemburu sekalipun:
1. Pasrahkan segala sesuatu kepada Allah SWT sang penggenggam alam semesta.
Titipkan segala sesuatu yang kita miliki kepada Allah. Termasuk pasangan dan orang-orang yang kita cintai. Mereka hanya titipan dari Allah. Tugas kita menjaganya bukan mengekangnya. Memberikan ruang positif sesuai jalurnya. Selebihnya biarlah Allah yang menjaganya.
2. Memberikan kepercayaan untuk selalu menjaga komitmen bersama.
Kepercayaan itu ibarat magnet yang menggerakkan seseorang untuk yakin pada dirinya sendiri. Yakin bahwa dia mampu menjaga kepercayaan pasangannya. Aura positif akan terpancar saat kita bisa memberikan kepercayaan pada pasangan. Insyaallah aura positif itu akan menjadi penyemangat bagi pasangan pun ketika rintangan, ujian, dan godaan menghadang.
3. Menjaga komunikasi dengan penuh cinta.
Komunikasi itu ibarat bumbu dalam masakan. Paduan yang mampu melengkapi hubungan dengan pasangan menjadi lebih harmonis lagi. Komunikasi ini penting. Kita bisa melakukannya dengan sederhana seperti candaan ringan bukan berupa ancaman dan segala bentuk ketakutan. Isi juga setiap hari dengan pesan-pesan mesra kepada pasangan agar keharmonisan tetap terjaga.
4. Gunakan media sosial dengan bijak.
Tak terhitung berapa banyak pasangan yang harus berpisah gara-gara hal sepele di media sosial. Bijak bermedia sosial bisa juga diartikan mampu menjaga diri dari pergaulan di dunia maya. Terkadang godaan dan ujian justru datang saat kita tidak bisa menggunakan media sosial dengan bijak. Banyak sekali trik yang bisa kita pakai untuk menangkal godaan di dunia maya, misalnya memasang foto profil dengan pasangan atau dengan foto-foto keluarga. Insyaallah orang ketiga tidak akan mudah masuk dalam kehidupan kita.
5. Menjaga Hati dan Pikiran.
Raga ada tapi hati tak ada. Ini yang bahaya. Jangan sampai hati dan pikiran kita keluar dari koridornya. Ingat keluarga, ingat pasangan yang berjuang mencari nafkah atau ingat istri yang rela banting tulang di rumah. Kalau ini terjadi perbanyak istigfar dan dekatkan diri pada Allah.
6. Sering-seringlah bertukar pikiran dan meluangkan waktu bersama.
Membiasakan untuk menyelesaikan berbagai masalah bersama, dapat menjadi hubungan dengan pasangan semakin kokoh. Bertukar pikiran dan sharing berbagai hal mampu membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Masalah anak, urusan rumah tangga, bahkan masalah lainnya dapat dibicarakan dengan pasangan secara terbuka. Dengan demikian, setiap ada masalah pemecahannya tidak dari satu sisi saja. Luangkanlah juga waktu luang untuk keluarga. Refreshing yang murah meriah di akhir pekan bisa menjadi solusinya.
7. Keterbukaan dan saling mengingatkan
Tidak ada hal yang perlu disembunyikan dari pasangan. Semakin kita menyembunyikan suatu masalah maka semakin menambah kecurigaan pasangan. Terbuka dan saling mengingatkan jika pasangan melakukan kekhilafan sekaligus memaafkan. Bukankah Allah saja maha mengampuni hambaNya yang sungguh-sungguh bertaubat.. 😊
8. Menjaga penampilan di depan pasangan
Penampilan cantik atau tampan itu tidak harus mengeluarkan budget yang besar. Tak perlu harus membeli barang-barang mahal untuk tampil wah di depan pasangan. Menjaga penampilan bisa dengan cara sederhana namun tetap menarik dan elegan. Untuk para istri bisa dengan melakukan perawatan murah meriah dari rumah. Lulur bisa kita pakai dari paduan beras kencur. Masker wajah bisa kita manfaatkan bengkoang dan tomat. Banyak sekali bahan tradisional yang bisa kita pakai juga untuk perawatan tubuh. Selain menjaga penampilan, kebersihan diri, berpakaian santun dan enak dipandang suami juga penting. Yang lebih utama lagi tentu saja adalah menjaga kecantikan rohani.
9. Tangung jawab dengan melakukan tugas sebaik-baiknya untuk keluarga.
Setiap dari kita memiliki fitrahnya masing-masing. Menjalankan peran sesuai dengan fitrahNya adalah sebuah keharusan. Fitrah seorang suami sebagai pemimpin sekaligus pengayom keluarga. Figur yang mampu menjadi imam dan teladan bagi keluarganya. Begitu pula fitrah seorang istri. Mengabdi dan melayani suami sekaligus pula sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran yang saling melengkapi dan bersinergi demi tumbuhnya generasi-generasi yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Generasi-generasi yang mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Tak ada yang lebih indah dari perhiasan dunia selain diberikan pasangan, anak-anak yang sholeh atau sholehah dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Siapalah diri kita tanpa pertolongan dari Allah SWT. Hanya bisa berpasrah dan berdoa pada setiap ketentuanNya. Mohon perlindungan untuk kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya setiap dari kita adalah lemah di hadapan kuasaNya. Memohon Ya Rabb... KebaikanMu, perlindunganMu untuk kami sekeluarga. Jadikanlah ujung setiap perbuatan kami khusnul khotimah ya Rabb... Kembali berkumpul di syurgaMu nanti dengan orang-orang yang kami cintai. Aamiin....
Lima belas tahun hidup bersama tentu manis asamnya hidup mulai terasa. Warna-warni kehidupan silih berganti. Ada suka-duka, tawa dan derai air mata. Semua disyukuri sebagai bagian dari kasih sayang illahi. Menempa agar diri lebih baik dan lebih baik lagi. Kebersamaan dengan cita-cita bersama adalah kebahagiaan yang tak bisa terukur dengan jari. Cita-cita bersama tak hanya di dunia tapi bersama-sama menuju ridho dan syurgaNya Allah. Cita-cita yang membuat kita tetap kokoh untuk saling menguatkan.
Lima belas tahun rasanya bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal pasangan. Segala kebiasaan yang baik atau buruk sudah menjadi bagian yang saling mengisi. Istri adalah pakaian suami, begitu pula sebaliknya. Saling menjaga kehormatan pasangan. Tak ada pasangan yang sempurna, tugas kitalah menyempurnakannya.
Lalu pernah cemburukah selama 15 tahun ini? Jangankan cemburu perasaan marah, kesal, yang terucap maupun tidak pastinya ada. Dari yang berupa omelan sampai diam tanpa kata. Apalagi cemburu yang merupakan sifat insani bagi siapa pun pecinta. Pasti setiap dari kita merasakannya. Cemburu juga menjadi satu indikator bahwa cinta masih bertahta. Hehehe..
Nah... Karena manusiawi sifatnya cemburu juga sama dengan bentuk emosi yang lainnya seperti marah, senang, dan sedih. Setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam melampiaskan atau mengekspresikannya. Ada yang meluap menjadi bentuk kemarahan, ada yang malah memendamnya dalam hati hingga sesak nafas mungkin, atau malah menjadi stress sehingga paranoid takut kehilangan pasangan kemudian malah bersikap posesif. Duh.. Duh.. Kasian ya kalau sampai gara-gara cemburu dengan pasangan malah membuat stress dan merusak diri sendiri.
Lalu bagaimanakah agar hati kita damai dari rasa cemburu? Ingat ya cemburu itu dekat dengan nafsu dan amarah maka kontrol dalam diri sangat dibutuhkan untuk meredamnya. Cemburu yang manusiawi tadi jangan sampai ditafsirkan menjadi sebuah ketakutan. Pasangan mau kerja, takut berpaling hati. Pasangan mau pergi kemana pun selalu dibuntuti, dan diintai lewat perangkat komunikasi. Yah.. Sepertinya sangat menyiksa diri dan tentu saja menyiksa pasangan. Kebayang ya rasa tidak percaya yang menghantui itu justru malah jadi boomerang bagi kenyamanan rumah tangga.
Berikut tips sederhana sekaligus pengingat diri agar mampu mengendalikan segala emosi, baik sedih, senang, bahkan cemburu sekalipun:
1. Pasrahkan segala sesuatu kepada Allah SWT sang penggenggam alam semesta.
Titipkan segala sesuatu yang kita miliki kepada Allah. Termasuk pasangan dan orang-orang yang kita cintai. Mereka hanya titipan dari Allah. Tugas kita menjaganya bukan mengekangnya. Memberikan ruang positif sesuai jalurnya. Selebihnya biarlah Allah yang menjaganya.
2. Memberikan kepercayaan untuk selalu menjaga komitmen bersama.
Kepercayaan itu ibarat magnet yang menggerakkan seseorang untuk yakin pada dirinya sendiri. Yakin bahwa dia mampu menjaga kepercayaan pasangannya. Aura positif akan terpancar saat kita bisa memberikan kepercayaan pada pasangan. Insyaallah aura positif itu akan menjadi penyemangat bagi pasangan pun ketika rintangan, ujian, dan godaan menghadang.
3. Menjaga komunikasi dengan penuh cinta.
Komunikasi itu ibarat bumbu dalam masakan. Paduan yang mampu melengkapi hubungan dengan pasangan menjadi lebih harmonis lagi. Komunikasi ini penting. Kita bisa melakukannya dengan sederhana seperti candaan ringan bukan berupa ancaman dan segala bentuk ketakutan. Isi juga setiap hari dengan pesan-pesan mesra kepada pasangan agar keharmonisan tetap terjaga.
4. Gunakan media sosial dengan bijak.
Tak terhitung berapa banyak pasangan yang harus berpisah gara-gara hal sepele di media sosial. Bijak bermedia sosial bisa juga diartikan mampu menjaga diri dari pergaulan di dunia maya. Terkadang godaan dan ujian justru datang saat kita tidak bisa menggunakan media sosial dengan bijak. Banyak sekali trik yang bisa kita pakai untuk menangkal godaan di dunia maya, misalnya memasang foto profil dengan pasangan atau dengan foto-foto keluarga. Insyaallah orang ketiga tidak akan mudah masuk dalam kehidupan kita.
5. Menjaga Hati dan Pikiran.
Raga ada tapi hati tak ada. Ini yang bahaya. Jangan sampai hati dan pikiran kita keluar dari koridornya. Ingat keluarga, ingat pasangan yang berjuang mencari nafkah atau ingat istri yang rela banting tulang di rumah. Kalau ini terjadi perbanyak istigfar dan dekatkan diri pada Allah.
6. Sering-seringlah bertukar pikiran dan meluangkan waktu bersama.
Membiasakan untuk menyelesaikan berbagai masalah bersama, dapat menjadi hubungan dengan pasangan semakin kokoh. Bertukar pikiran dan sharing berbagai hal mampu membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Masalah anak, urusan rumah tangga, bahkan masalah lainnya dapat dibicarakan dengan pasangan secara terbuka. Dengan demikian, setiap ada masalah pemecahannya tidak dari satu sisi saja. Luangkanlah juga waktu luang untuk keluarga. Refreshing yang murah meriah di akhir pekan bisa menjadi solusinya.
7. Keterbukaan dan saling mengingatkan
Tidak ada hal yang perlu disembunyikan dari pasangan. Semakin kita menyembunyikan suatu masalah maka semakin menambah kecurigaan pasangan. Terbuka dan saling mengingatkan jika pasangan melakukan kekhilafan sekaligus memaafkan. Bukankah Allah saja maha mengampuni hambaNya yang sungguh-sungguh bertaubat.. 😊
8. Menjaga penampilan di depan pasangan
Penampilan cantik atau tampan itu tidak harus mengeluarkan budget yang besar. Tak perlu harus membeli barang-barang mahal untuk tampil wah di depan pasangan. Menjaga penampilan bisa dengan cara sederhana namun tetap menarik dan elegan. Untuk para istri bisa dengan melakukan perawatan murah meriah dari rumah. Lulur bisa kita pakai dari paduan beras kencur. Masker wajah bisa kita manfaatkan bengkoang dan tomat. Banyak sekali bahan tradisional yang bisa kita pakai juga untuk perawatan tubuh. Selain menjaga penampilan, kebersihan diri, berpakaian santun dan enak dipandang suami juga penting. Yang lebih utama lagi tentu saja adalah menjaga kecantikan rohani.
9. Tangung jawab dengan melakukan tugas sebaik-baiknya untuk keluarga.
Setiap dari kita memiliki fitrahnya masing-masing. Menjalankan peran sesuai dengan fitrahNya adalah sebuah keharusan. Fitrah seorang suami sebagai pemimpin sekaligus pengayom keluarga. Figur yang mampu menjadi imam dan teladan bagi keluarganya. Begitu pula fitrah seorang istri. Mengabdi dan melayani suami sekaligus pula sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran yang saling melengkapi dan bersinergi demi tumbuhnya generasi-generasi yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Generasi-generasi yang mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.
Tak ada yang lebih indah dari perhiasan dunia selain diberikan pasangan, anak-anak yang sholeh atau sholehah dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Siapalah diri kita tanpa pertolongan dari Allah SWT. Hanya bisa berpasrah dan berdoa pada setiap ketentuanNya. Mohon perlindungan untuk kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya setiap dari kita adalah lemah di hadapan kuasaNya. Memohon Ya Rabb... KebaikanMu, perlindunganMu untuk kami sekeluarga. Jadikanlah ujung setiap perbuatan kami khusnul khotimah ya Rabb... Kembali berkumpul di syurgaMu nanti dengan orang-orang yang kami cintai. Aamiin....
Langganan:
Komentar (Atom)