Rabu, 03 Januari 2018

REFLEKSI TANGGA KELIMA BELAS

Alhamdulillah... 15 tahun sudah usia pernikahan saya dan suami. Ini hanya secuil perjalanan yang kalau dibandingkan dengan pernikahan orang-orang tua kita dulu, rasanya belum seberapa. Takzim rasanya melihat orang-orang tua dahulu merawat pernikahannya hingga maut  memisahkan. Sepenggal doa mudah-mudahan kita semua senantiasa dilimpahi berkah sakinah mawaddah wa rahmah. Sebuah pernikahan yang dirahmati Allah selalu.

Lima belas tahun hidup bersama tentu manis asamnya hidup mulai terasa. Warna-warni kehidupan silih berganti.  Ada suka-duka, tawa dan derai air mata. Semua disyukuri sebagai bagian dari kasih sayang illahi. Menempa agar diri lebih baik dan lebih baik lagi. Kebersamaan dengan cita-cita bersama adalah kebahagiaan yang tak bisa terukur dengan jari. Cita-cita bersama tak hanya di dunia tapi bersama-sama menuju ridho dan syurgaNya Allah. Cita-cita yang membuat kita tetap kokoh untuk saling menguatkan.

Lima belas tahun rasanya bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal pasangan. Segala kebiasaan yang baik atau buruk sudah menjadi bagian yang saling mengisi. Istri adalah pakaian suami, begitu pula sebaliknya. Saling menjaga kehormatan pasangan. Tak ada pasangan yang sempurna,  tugas kitalah menyempurnakannya.

Lalu pernah cemburukah selama 15 tahun ini?  Jangankan cemburu perasaan marah, kesal,  yang terucap maupun tidak pastinya ada. Dari yang berupa omelan sampai diam tanpa kata. Apalagi cemburu yang merupakan sifat insani bagi siapa pun pecinta. Pasti setiap dari kita merasakannya.  Cemburu juga menjadi satu indikator bahwa cinta masih bertahta. Hehehe..

Nah... Karena manusiawi sifatnya cemburu juga sama dengan bentuk emosi yang lainnya seperti marah,  senang,  dan sedih. Setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam melampiaskan atau mengekspresikannya.  Ada yang meluap menjadi bentuk kemarahan, ada yang malah memendamnya dalam hati hingga sesak nafas mungkin,  atau malah menjadi stress sehingga paranoid takut kehilangan pasangan kemudian malah bersikap posesif.  Duh.. Duh.. Kasian ya kalau sampai gara-gara cemburu dengan pasangan malah membuat stress dan merusak diri sendiri.

Lalu bagaimanakah agar hati kita damai dari rasa cemburu?  Ingat ya cemburu itu dekat dengan nafsu dan amarah maka kontrol dalam diri sangat dibutuhkan untuk meredamnya. Cemburu yang manusiawi tadi jangan sampai ditafsirkan menjadi sebuah ketakutan. Pasangan mau kerja,  takut berpaling hati.  Pasangan mau pergi kemana pun selalu dibuntuti,  dan diintai lewat perangkat komunikasi. Yah.. Sepertinya sangat menyiksa diri dan tentu saja menyiksa pasangan. Kebayang ya rasa tidak percaya yang menghantui itu justru malah jadi boomerang bagi kenyamanan rumah tangga.

Berikut tips sederhana sekaligus pengingat diri agar mampu mengendalikan segala emosi,  baik sedih,  senang,  bahkan cemburu sekalipun:

1. Pasrahkan segala sesuatu kepada Allah SWT sang penggenggam alam semesta.

Titipkan segala sesuatu yang kita miliki kepada Allah. Termasuk pasangan dan orang-orang yang kita cintai. Mereka hanya titipan dari Allah. Tugas kita menjaganya bukan mengekangnya. Memberikan ruang positif sesuai jalurnya. Selebihnya biarlah Allah yang menjaganya.

2. Memberikan kepercayaan untuk selalu menjaga komitmen bersama.

Kepercayaan itu ibarat magnet yang menggerakkan seseorang untuk yakin pada dirinya sendiri. Yakin bahwa dia mampu menjaga kepercayaan pasangannya. Aura positif akan terpancar saat kita bisa memberikan kepercayaan pada pasangan. Insyaallah  aura positif itu akan menjadi penyemangat bagi pasangan pun ketika rintangan,  ujian,  dan godaan menghadang.

3. Menjaga komunikasi dengan penuh cinta.

Komunikasi itu ibarat bumbu dalam masakan. Paduan yang mampu melengkapi hubungan dengan pasangan menjadi lebih harmonis lagi. Komunikasi ini penting.  Kita bisa melakukannya dengan sederhana seperti candaan ringan bukan berupa ancaman dan segala bentuk ketakutan. Isi juga setiap hari dengan pesan-pesan mesra kepada pasangan agar keharmonisan tetap terjaga.

4. Gunakan media sosial dengan bijak.

Tak terhitung berapa banyak pasangan yang harus berpisah gara-gara hal sepele di media sosial. Bijak bermedia sosial bisa juga diartikan mampu menjaga diri dari pergaulan di dunia maya. Terkadang godaan dan ujian justru datang saat kita tidak bisa menggunakan media sosial dengan bijak. Banyak sekali trik yang bisa kita pakai untuk menangkal godaan di dunia maya,  misalnya memasang  foto profil dengan pasangan atau  dengan foto-foto keluarga. Insyaallah  orang ketiga tidak akan mudah masuk dalam kehidupan kita.

5. Menjaga Hati dan Pikiran.

Raga  ada tapi hati tak ada. Ini yang bahaya. Jangan sampai hati dan pikiran kita keluar dari koridornya. Ingat keluarga,  ingat pasangan yang berjuang mencari nafkah atau ingat istri yang rela banting tulang di rumah. Kalau ini terjadi perbanyak istigfar dan dekatkan diri pada Allah.

6. Sering-seringlah bertukar pikiran dan meluangkan waktu bersama.

Membiasakan untuk menyelesaikan  berbagai masalah bersama,  dapat menjadi hubungan dengan pasangan semakin kokoh. Bertukar pikiran dan sharing berbagai hal mampu membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Masalah anak,  urusan rumah tangga,  bahkan masalah lainnya dapat dibicarakan dengan pasangan secara terbuka. Dengan demikian,  setiap ada masalah pemecahannya tidak dari satu sisi saja. Luangkanlah juga waktu luang untuk keluarga. Refreshing yang murah meriah di akhir pekan bisa menjadi solusinya.

7. Keterbukaan dan saling mengingatkan

Tidak ada hal yang perlu disembunyikan dari pasangan. Semakin kita menyembunyikan suatu masalah maka semakin menambah kecurigaan pasangan. Terbuka dan saling mengingatkan jika pasangan melakukan kekhilafan sekaligus memaafkan. Bukankah Allah saja maha mengampuni hambaNya yang sungguh-sungguh bertaubat.. 😊

8. Menjaga penampilan di depan pasangan

Penampilan cantik atau tampan itu tidak harus mengeluarkan budget yang besar. Tak perlu harus membeli barang-barang mahal untuk tampil wah di depan pasangan. Menjaga penampilan bisa dengan cara sederhana namun tetap menarik dan elegan. Untuk para istri bisa dengan melakukan perawatan murah meriah dari rumah. Lulur bisa kita pakai dari paduan beras kencur. Masker wajah bisa kita manfaatkan bengkoang dan tomat. Banyak sekali bahan tradisional yang bisa kita pakai juga untuk perawatan tubuh. Selain menjaga penampilan,  kebersihan diri, berpakaian santun dan enak dipandang suami juga penting. Yang lebih utama lagi tentu saja adalah menjaga kecantikan rohani.

9. Tangung jawab dengan  melakukan tugas sebaik-baiknya untuk keluarga.

Setiap dari kita memiliki fitrahnya masing-masing. Menjalankan peran sesuai dengan fitrahNya adalah sebuah keharusan. Fitrah seorang suami sebagai pemimpin sekaligus pengayom keluarga. Figur yang mampu menjadi imam dan teladan bagi keluarganya. Begitu pula fitrah seorang istri. Mengabdi dan melayani suami sekaligus pula sebagai madrasah pertama  bagi anak-anaknya. Peran yang saling melengkapi dan bersinergi demi tumbuhnya generasi-generasi yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Generasi-generasi yang mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Tak ada yang lebih indah dari perhiasan dunia selain diberikan pasangan, anak-anak yang sholeh atau sholehah dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Siapalah diri kita tanpa pertolongan  dari Allah SWT.  Hanya bisa berpasrah dan berdoa pada setiap ketentuanNya. Mohon perlindungan untuk kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya setiap dari kita adalah lemah di hadapan kuasaNya. Memohon Ya Rabb... KebaikanMu, perlindunganMu untuk kami sekeluarga. Jadikanlah ujung setiap perbuatan kami khusnul khotimah ya Rabb... Kembali berkumpul di syurgaMu nanti dengan orang-orang yang kami cintai. Aamiin....










Tidak ada komentar:

Posting Komentar