Rabu, 17 Januari 2018

Cerpen "Samiun"

Pagi diselimuti gerimis. Udara dingin menyeruak. Samiun masih terbaring malas di dipan peraduannya. Sesekali bunyi berdenyit dari sudut dipan yang mulai reot termakan usia. Sarung kembali ditarik. Tubuh Samiun semakin meringkuk. Membentuk buntalan. Wajahnya semakin menelungkup. Kabut pagi membenamkannya dalam malas.

"Pak.. Pak.. Koe kok gk malu sama ayam tetangga yang sudah berkokok dari Subuh tadi,  mbok ya bangun.  Rejekimu dipatok ayam terus tiap hari jika kerjamu hanya gelontoran begitu..." Suara Ijah istrinya seperti kaleng yang dilemparkan angin. Samiun berusaha tak  mendengarnya. Semakin istrinya mengomel semakin ia tarik sarung yang melingkar tubuhnya.

Ijah berlalu ketika Samiun tak mempedulikanya. Dengan sigap perempuan paruh baya itu menuang air yang mendidih dari cerek ke dalam termos di  dapur yang mulai mengepul. Kayu-kayu bakar yang ia kumpulkan sehabis dari ladang mampu menghemat biaya hidup untuk membeli gas. Tabung hijau pun tak mampu ia membelinya. Sisa-sisa ranting dan kayu yang biasanya ia gunakan untuk memasak. Namun karena penghujan mulai tiba, Ijah harus pandai-pandai menyimpan sisa-sisa kayu di sudut rumah agar tak basah oleh hujan.

Asap mengepul dari bilik dapur. Udara yang mengembun tiba-tiba pengap. Hangat menyeruak memenuhi ruangan gubuk itu. Gerimis di luar masih terdengar. Tangan Ijah sigap mengganti cerek dengan rebusan singkong.  Biasanya singkong direbus bersama dengan parutan kelapa dan garam. Ijah merebusnya hingga air dalam panci mulai surut.  Paduan singkong dan kelapa yang gurih siap disantap. Hasil kebun kemarin bisa ia pakai untuk sarapan hari ini. Bahkan bisa untuk makan siang dan malam nanti. Jika Ijah tak mampu membeli beras,  hanya itu yang bisa ia suguhkan untuk Samiun suaminya yang pemalas.

Sambil menunggu rebusan singkong,  tangannya meraih sapu. Panci di dapur mengepul.  Ijah membereskan bagian dapur.  Menyapu ubin yang mulai retak dan tak terawat. Sedih hati Ijah menginjaknya. Ingin rasanya ubin yang ia injak bisa seperti rumah-rumah tetangganya yang sudah mengkilap karena terbuat dari keramik. Diusirnya perasaan sedih itu,  dibersihkannya bagian rumah yang memang berdebu. Memasuki kamar,  Samiun masih juga meringkuk. Kali ini seluruh tubuhnya melingkar. Wajahnya semakin terbenam dalam sarung dan bantal. Ijah hanya menarik napas panjang. Kesabaran yang entah sampai kapan.

Wangi kopi mengepul. Aroma wangi yang diseduh dari tangan Ijah yang mulai keriput dan kasar. Sepiring singkong rebus berbalut parutan kelapa telah terhidang di meja ruang tamu sekaligus ruang makan bagi mereka. Ijah kembali melangkah ke dapur. Diambilnya rantang dan mulai dimasukkannya satu per satu singkong rebus ke dalam rantang. Bekal makan siang Ijah di kebun. Bisa seharian ia bekerja di sana. Hanya bekal rebusan singkong itulah yang memberinya tenaga. Perutnya bisa terisi dan ia bisa bekerja. Dengan sigap diambilnya parang dan cangkul. Diletakkannya di depan pintu peralatan tempur yang biasa ia bawa.  Topi caping pun ia kaitkan di lehernya.

"Aku berangkat Pak... Sarapanmu sudah aku siapkan. Ingat Pak.. Rejekimu dipatok ayam kalau kau tak bekerja. " Sahut Ijah pamit pada Samiun yang masih melingkar di dipan kamarnya.

Samiun tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepala dengan malas. Ia Semakin menarik sarung yang melilit tubuhnya.

Sesampainya di kebun, Ijah menyimpan rantang,  cangkul dan parang.  Gerimis sudah  reda sejak ia berangkat dari rumah.  Dipakainya topi caping yang melilit di lehernya. Topi itu mampu melindunginya dari gerimis dan panasnya terik mentari. Dipandanginya kebun seluas 600 meter persegi itu.  Sepertiganya sudah ia tanami singkong,  sepertiga lagi ditanami ubi,  dan sisanya ia gunakan untuk menanam sayuran. Singkong dapat ia panen setiap sembilan bulan sekali. Begitu juga dengan ubi.  Hanya sayuran yang bisa ia panen tiga bulan sekali. Sisa tanah untuk bagian sayuran biasanya ia tanami dengan selada. Bergantian dengan pekcoy atau kadang ia tanami sawi.

 Kebun itu bukan miliknya. Kebaikan Wak Haji Somadlah yang memberikan tanah itu untuk Ijah garap. Wak Haji  Somad adalah satu-satunya keluarga Ijah yang masih tersisa. Masih saudara ibunya. Wak Haji kasihan melihat nasib keluarga Ijah dan Samiun. Sejak peristiwa PHK yang dialami Samiun,  keadaan ekonomi keluarga Ijah semakin terpuruk. Terlebih,  Samiun seperti kehilangan gairah untuk hidup. Setiap hari,  ia hanya melilitkan sarung di dipan miliknya. Bangun dari tempat tidur hanya untuk makan dan mandi. Selebihnya,  kemalasan semakin menderanya.

Ijah menatap tanah milik Wah Haji Somad.
"Hari ini aku akan menyiangi tanaman sayuran. Mudah-mudahan minggu depan selada-selada ini bisa aku panen. " Senyum tergurat dari wajah Ijah. Ada harapan terbersit di sana. Semangatnya kembali menyala di kebun ini. Semangat yang menyembul seperti pohon-pohon singkong yang mulai tumbuh melebihi tubuhnya.

Sepeninggal Ijah ke ladang, Samiun bangkit menuju ruang tamu. Wangi kopi yang mengepul seolah memanggilnya untuk bangun. Dibukanya tudung saji,  sepiring singkong rebus berbalut kelapa yang gurih terhidang di meja. Tangan Samiun mengambilnya. Sambil menikmati sarapan hasil olahan tangan Ijah,  mata Samiun menerawang.  Beginilah setiap harinya.  Tiga tahun telah berlalu,  namun ia masih juga terpuruk dalam kesedihannya. Pemutusan Hubungan Kerja dari pabrik sepatu tempatnya bekerja,  benar-benar membuatnya terpukul. Lelah kaki Samiun membawa map dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk melamar kerja. Lamaran-lamaran itu tak ada yang diterima. Belum ada rekrutmen karyawan baru. Itu alasannya.

Samiun telah berusaha. Itu pikirnya. Berbagai pekerjaan serabutan pun telah dijalaninya. Menjadi tukang parkir,  menjadi kuli angkut di pasar,  bahkan mengojek dengan menyewa motor temannya pernah ia jalani. Namun, lagi-lagi kerasnya kehidupan seolah membuatnya menyerah.

Gajinya sebagai tukang parkir tak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Terlalu kecil karena ia harus berbagi dengan rekan tukang parkir lainnya. Belum lagi untuk biaya sekolah Odi anak satu-satunya. Sudah kelas lima sekarang. Ah bayangan Odi dan Ijah bergantian memenuhi pikirannya.

Apalagi menjadi tukang angkut di pasar. Gajinya tak seberapa. Wajah Odi semakin membayang di pelupuk matanya. Masih terngiang ketika ia mengantar Odi ke Pesantren tempatnya tinggal kini.

"Pak.. Odi ingin tetap sekolah,  biarkan Odi tetap tinggal di pesantren ini. "Sahut Odi ketika Samiun menceritakan tentang PHK yang dialaminya kepada anaknya.

Tak tega Samiun melihat wajah Odi. Ditatapnya pula Ijah  yang saat itu juga menunjukkan wajah berduka.

"Tenang Nak... Odi tetap sekolah di pesantren ini.  Odi jangan khawatir. Emak dan Bapak akan selalu berusaha menyekolahkan Odi sampai lulus SMA nanti." Sahut Ijah mantap. Meski dalam hatinya bergejolak. Dari mana uang untuk ia bisa menyekolahkan Odi sampai tamat SMA nanti.

Samiun hanya menatap Ijah kosong. Namun,  sorot mata wanita itu begitu optimis. Seolah tak ingin ditunjukkannya gurat kesedihan pada anaknya. Samiun tersenyum pada Odi. Ia pun tak ingin kesedihannya menggayut pada Odi anaknya.

"Odi semangat belajar di pesantren ini ya.  Emak dan Bapak akan cari uang yang banyak agar Odi tetap bisa sekolah. " Sahut Samiun mendekap Odi.

Sedih hati Samiun mengingatnya. Mengingat terakhir kali ia bertemu Odi. Pancaran anak itu menyiratkan semangat yang menyala.  Berkali Samiun membongkar lemari miliknya. Mencari selembar ijazah  SDnya yang mungkin berguna. Namun,  usahanya melamar pekerjaan tetap sia-sia.

Masih ia ingat juga air mata ijah meleleh haru. Melihat perjuangan Samiun bolak-balik mencari pekerjaan. Tiga tahun waktu berjalan tak semudah yang dibayangkan. Penghasilan Samiun yang pasa-pasan kerap membuat dia begitu emosian. Setiap hari ada saja yang dikeluhkanya. Uang setoran parkir yang ditilep temannya,  atau hal lainnya. Emosi Samiun tak terkendali. Sering ia mengumpat dengan kata-kata kasar. Menyalahkan keadaan yang semakin tak berpihak padanya. Ijah kadang harus tutup telinga mendengar ocehannya.

Diam-diam tanpa sepengetahuan Samiun,  Ijah mulai mencari penghasilan tambahan. Odi anaknya harus tetap sekolah pikirnya.  Biarlah Odi tenang di pesantren sana. Odi tak perlu memikirkan bagaimana emak dan bapaknya pontang-panting mencari kerja. Ijah pun mulai menjadi buruh cuci. Berkeliling pada tetangga terdekat. Lumayan upahnya bisa ia pakai untuk makan sehari-hari.

Wak Haji Somad yang melihat pekerjaan Ijah merasa prihatin. Dipanggilnya perempuan paruh baya itu ke rumahnya. Istri Wak Haji Somad hanya mengangguk ketika Wak  Haji Somad meminta agar Ijah menggarap tanah miliknya. Hasil panen kebun itu,  menjadi hak Ijah sebagai penggarapnya. Wak Haji Somad dan istrinya pun membantu biaya sekolah Odi dengan mengirimkan uang bulanan dan kebutuhannya.

Kebaikan Wak Haji Somad ternyata ditafsirkan lain oleh Samiun. Dia mengganggap harga dirinya sebagai laki-laki telah terinjak-injak. Dia merasa semakin tak berguna.

"Bagaimana bisa,  kau terima tawaran Wak Haji  Somad Ijah...? Kau ingin menginjak-injak harga diri suamimu ini? Kau ingin mempermalukan aku hah?!" Teriak Samiun ketika mendengar Ijah menerima bantuan Wak Haji Somad.

"Tapi Pak.. Aku tak punya pilihan lain. Odi butuh uang untuk sekolah dan makan. Dan kita butuh biaya makan sehari-hati. Darimana kita dapat uang kalau kita menolak tawaran Wak Haji Somad Pak..? " Tangis Ijah pecah malam itu. Tak menyangka Samiun begitu keras menolak kebaikan Wak  Haji Somad.

Sejak itu tabiat Samiun benar-benar berubah. Sikapnya menjadi pemalas dan tidak memiliki gairah hidup.  Ijah hanya mengurut dada sambil terus memupuk kesabarannya. Kesabaran seorang perempuan yang terkungkung keadaan.

Wak Haji Somad yang melihat perilaku Samiun,  hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Entah berpuluh nasihatnya seperti tak pernah mempan menyentuh hati Samiun. "Benar-benar kepala batu.. " umpat Wak Somad suatu kali.

Hati Ijah pedih mengingat kejadian itu. Hidup yang ia jalani sekeras tanah yang ia cangkul. Peluh menetes, matahari mulai berada hampir di atas ubun-ubun. Sisa tanah yang ia garap hari ini masih setengahnya lagi. Setelah menyiangi tanaman sayuran, sisa tenaganya ia pakai untuk mencangkul bagian yang akan ia tanami ubi.

Telinga Ijah tersentak ketika ia mendengar suara cidukan cangkul.
"Sruk.. Srukk... " suara seseorang sedang mencangkul kian terdengar jelas. Perlahan dibukanya topi caping yang menutupi pandangannya. Mata Ijah terbelalak. Tak menyangka dengan adegan yang dilihatnya. Berkali ia usap mata dengan tangan bersarung tanah.  Lelaki yang dilihatnya tak asing lagi. Namun yang dilakukan lelaki itu membuat Ijah terpana.

"Pak....? " Suara Ijah tergugu. Matanya meleleh haru. Refleks kakinya berlari menghampiri lelaki yang telah lebih dari dua belas tahun menemaninya. Lelaki yang tiba-tiba ada di dekatnya, memegang cangkul di tangannya.

Ijah tak kuasa menahan haru. Dipeluknya lelaki itu. Kali ini ia rasakan kembali semangat yang menyala dari degup jantung Samiun. Semangat yang tiga tahun ini tertutup kabut kemalasan.

"Maafkan aku Ijah... Membiarkanmu berjuang sendiri. Maafkan kesalahan suamimu ini. Sungguh aku ingin sekali menebus semua dosa-dosaku kepadamu. " Suara Samiun begitu lirih seolah angin meniupkan kedamaian di antara terik mentari.

Mata Ijah berkaca-kaca. Tak kuasa menahan bulir bening yang jatuh perlahan membasahi pipinya.  Seolah hujan turut membasahi tanah kebun yang ia pijak. Ijah mengangguk,  tak kuasa menjawab perkataan Samiun. Baginya, ucapan Samiun hari ini mampu menghapus kemarau panjang hatinya.

"Ini surat dari Odi.  Wak Haji memberikannya tadi setelah kau berangkat ke kebun. Odi sakit Ijah. Aku sedih membacanya. Besok kita tengok Odi di Pesantren." Samiun menyerahkan secarik kertas pada Ijah. Perempuan itu menerima surat dari anak yang dicintainya. Odi,  wajahnya membayang di pelupuk mata Ijah. Tak sabar ia membuka secarik kertas itu. Ada rasa haru meretas di hatinya. Dipeluknya erat surat dari Odi. Doa-doa membaur untuknya. Untuk putra tercintanya.

Ditatapnya Samiun. Senyum tersingging di bibir Ijah.
"Esok kita jemput Odi pulang ya Pak.... "













Tidak ada komentar:

Posting Komentar