Selasa, 30 April 2019

DRAKOR.. OH DRAKOR

Dulu sering heran jika ada ibu-ibu yang rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan puluhan episode untuk menonton drama korea. Bagi saya kayaknya gak ada waktu untuk menontonnya. Ditambah lagi harus berbagi waktu antara tugas rumah dan tugas di sekolah. Alhasil saya gk pernah mau jika ada teman yang menawarkan CD drama korea yang katanya seru,  mengharu biru,  bahkan katanya romantis. Satu judul drama korea  bisa terdiri dari 16-20 episode dengan durasi satu jam. Wah... Dalam benak saya "Amit-amit jangan sampai ketagihan.. "😂

Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya usia. Putri saya juga menggandrungi K-Pop termasuk Drakornya. Selagi tak mengganggu pelajarannya saya masih mentoleransi putri saya untuk hoby  nonton drakor. Tiap ke toko kaset,  yang dia cari pasti CD Drakor. Pernah suatu kali saya ikut nimbrung dengan Drakor yang ditonton putri saya. Alhasil,  kepala saya nyut-nyutan. Rasanya pusing untuk menghafal nama tokoh yang lumayan rumit dan wajah pemainnya yang mirip-mirip..😂

Setelah kejadian itu. Sama sekali saya tak berminat dengan Drakor. Kayaknya rugi banget waktu. Satu jam nonton Drakor itu sama dengan beresnya kerjaan rumah.

Hingga suatu hari putri saya meminta saya mengganti chanel televisi ke stasiun televisi swasta yang menayangkan Drakor "Sky Castle".

"Coba deh Ibu tonton ini. Dramanya rame loh Bu.. "sahut putriku meyakinkan

"Apa sih Ka pindahin ah.. Ibu kan lagi nonton Sule." sahutku menyebutkan acara televisi langgananku.

Putriku tetap memegang remot dan meminta saya untuk menontonnya. Akhirnya daripada berdebat  saya ikut nonton bareng. Satu,  dua episode kepala saya masih nyut-nyutan. Nama-nama tokohnya itu loh susah untuk diingat. 😂Belum lagi alurnya yang memang masih belum paham.

Hari ketiga, kami nonton bertiga. Suami juga ikut bergabung nonton Drakor. Kebetulan kalau sudah beres UNBK jadwal saya sudah kosong. Jadi malam hari bisa lebih santai. Sedangkan suami,  Selesai makan malam jadi ikut-ikutan nonton😂

Ternyata Drakor Sky Castle ini adalah kategori drama keluarga. Ceritanya bertema pendidikan. Kisah empat keluarga yang bersaing ketat dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Ambisi orang tua untuk mengejar prestise dan gengsi keluarga. Segala cara ditempuh agar anak-anaknya bisa berprestasi dan diterima di sekolah bergengsi dan universitas ternama. Sky Castle  sendiri merupakan perumahan elite yang rata-rata penghuninya berprofesi dokter. Hmmm...
Jadi pengen nulis sinopsisnya.

Sampai episode 12 ini saya jadi melihat persepsi Drakor secara berbeda. Memikat,  lembut,  dengan alur yang tenang namun menghanyutkan. Seolah ada sensasi candu di dalamnya. Komedi drama satire menyatu. Menguras emosi penontonnya. Setelah episode akhir nanti. Semoga saya tidak keranjingan Drakor lagi.... Aamiiin... 😇

Senin, 29 April 2019

PATAHAN LEMBANG

Jejak pagi mentari berseri
Hamparan hijau bak permadani
Elok mempesona
Namun Menyimpan bara

Alam menyenandungkan duka
Perut bumi meronta
Akankah tiba?

Di lempeng ini aku berdiri
Menyapa kebun sayur,
Tomat, dan sawi
Menyapa petani

Udara segar, sejuk, jauh dari polusi
Tapi manusia tak pernah berhenti
Rumah-rumah sesak tak terkendali
Hijau tanah ini akankah terlihat nanti?

Di patahan ini aku menepi
Tawa menjelma doa....

Kamis, 25 April 2019

BARIS SENJA

Laut selalu menyapa pantai
Lewat debur yang membawa rindu
Buihnya menerpa telapak kaki
Hilang tergerus jejak

Jika bukan laut
Biarlah kisah berjalan
Meski tak ada sapa
Langit tetap biru
Awan tetap berarak
Udara masih kuhirup

Jejak tak harus meninggalkan kenangan
Pada baris senja kau berkata

Senin, 22 April 2019

Cerpen "Ujian Audrey"

Komputer berjajar
Menyapa hati yang berdebar
Soal dibaca, ditaklukkan
Pikiran berkata
Fokus melanda
Tapi hati meronta


Bait-bait puisi Audrey eja. Setidaknya ia bisa tenang mengungkapkannya dalam kata-kata. Senin esok adalah hari yang paling menentukan bagi Audrey. Hampir tiga tahun sudah menimba ilmu di bangku SMP. Esok adalah puncak segala perjuangan. Ya UNBK... Semangat  tiba-tiba menyala dalam dirinya.

Dadanya bergetar.  Malam ini Audrey sulit memejamkan mata. Perasaan yang menderanya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Seperti  mau lebaran saja. Antara takut kesiangan dan tak sabar ingin segera  berada di depan komputer.

"Damn... Bagaimana aku bisa tidur. Hiks... Kalau begini aku bisa kesiangan besok" Audrey benar-benar gelisah. Berkali-kali ia berusaha mengganti posisi tidur. Dari telungkup,  samping kiri,  samping kanan,  tak ada yang nyaman  untuknya. Guling yang ia dekap seolah  mengerti  perasaannya.

"Tok.. Tok.. " suara  ketukan pintu terdengar. Audrey terhenyak.  Suara Mama terdengar lembut memanggil namanya.
"Audrey sudah tidurkah" Sahut Mama dari balik pintu.

Audrey beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Dilihatnya Mama berdiri membawa segelas susu hangat untuk Audrey.

"Belum... Kenapa?" Sahut Audrey dengan wajah dingin. Dilihatnya wajah perempuan yang berdiri  mematung di depannya terlihat kecewa. Entahlah,  batin Audrey seolah berontak. Sama sekali  tak ingin melihat mata perempuan yang sampai detik  ini enggan ia panggil 'Mama'. Kata Mama begitu mahal untuk Audrey berikan kepada perempuan itu. Kalau tak ada dia,  mungkin mamanya masih hidup dan masih tinggal bersamanya.

"Mama hanya ingin mengantarkan ini. " Suara perempuan itu tetap lembut. Diserahkannya segelas susu hangat kepada Audrey.

"Selamat tidur Audrey.. Jangan lupa berdoa ya. Mama doakan  esok menjadi hari yang menyenangkan untukmu. Sukses  UNBK nya ya sayang... " Suara perempuan itu penuh kasih meski  sikap Audrey terkesan  tak suka dengan perlakuan perempuan yang menyebut  dirinya Mama.
Audrey hanya diam ketika perempuan  itu berlalu. Dibawanya nampan berisi susu hangat dari mama tirinya tadi. Ya... Audrey lebih senang menyebutnya mama tiri. Baginya tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Mama Anna,  mama kandungnya.

"Ma... Aku kangen." Pikiran Audrey kembali melayang. Teringat mamanya. Mama Anna telah pergi untuk selama-lamanya di saat Audrey benar-benar belum siap. Peristiwa kecelakaan pesawat itu sangat membekas dalam dirinya.

Diteguknya susu  hangat. Dulu Mama Anna selalu membuatkan susu hangat untuk Audrey sebelum tidur. Dua tahun berlalu,  namun rasa sakit itu masih terasa. Rasa kehilangan yang teramat dalam. Andai Mama masih ada,  mungkin malam ini mamalah yang menenangkannya. Memberikan semangat untuknya, sama seperti  ketika Audrey mengikuti ujian nasional ketika SD.

Audrey melirik jam dinding, pukul 10.30 malam. Audrey menarik nafas "Aku harus segera tidur.. "

Susu hangat dalam gelas telah habis. Audrey ingat pesan ibu tirinya tadi. Entah mengapa Audrey meyakinkan dirinya untuk mengikutinya. Memejamkan mata dan berdoa. Ya berdoa, pesan yang diingatnya tadi.
             
                      **********

"Sudah siap sayang?" Suara Papa menyapa Audrey.

Audrey hanya diam tak menyahut. Dilihatnya perempuan yang ia panggil mama tiri itu sudah ada di dekat Papa. Audrey  menolak ketika perempuan itu berusaha membuatkan roti oles untuknya.
"Biar aku buat sendiri..." Ujar Audrey tetap dingin.

Perempuan  itu hanya menarik nafas. Terlihat kekecewaan di wajahnya. Dua tahun sudah,  tapi ia belum bisa menaklukkan hati Audrey.
Papa terlihat sabar. Meyakinkan perempuan cantik  di sampingnya bahwa seolah yang terjadi adalah hal biasa. Bahkan  ketika Audrey nyaris tak pamit dan langsung menuju mobil. Papa terlihat menghibur mama tirinya.

Sepanjang perjalanan menuju  sekolah, Audrey tetap diam. Dia sudah menebak,  papanya pasti  akan kembali menasihatinya. Memintanya untuk kembali bersikap baik kepada mama tirinya. Dalam hati Audrey akan menggerutu.  Itu lagi... Itu lagi yang akan  disampaikan  Papa.

Lima belas menit berselang,  tak ada sepatah kata pun nasihat keluar dari mulut Papa. Audrey heran. Tak biasanya Papa bersikap demikian. Audrey menunggu. Namun tak jua ada setetes nasihat pun untuknya. Papa hanya fokus pada setir  dan jalanan di depannya.

Sampai ketika  mobil tiba di parkiran sekolah Audrey,  barulah kata-kata keluar dari mulut Papa.

"Sukses UNBKnya ya sayang. Fokus.. Papa doakan Audrey mendapatkan nilai terbaik. "Suara Papa tiba-tiba membuat Audrey ingin menangis.

Dilihatnya lelaki yang sudah mulai ditumbuhi rambut putih di kepalanya. Baru kali ini Audrey menatap lekat wajah Papa. Tak ada kemarahan di sana. Wajah letihnya seolah melucuti rasa bersalah  Audrey.
Papa juga pasti terluka. Papa juga pasti sedih kehilangan Mama. Air bening seolah siap meluncur dari sudut  mata Audrey. Tak adil  rasanya jika Audrey hanya menabur luka di hati Papa. Takdir Audrey.. Takdir.. Kita harus menerimanya. Suara Papa terngiang-ngiang di telinganya. Takdir yang membawa Audrey kehilangan Mama Anna. Takdir  yang mengharuskan Audrey merengkuh perempuan yang tak ingin ia panggil mama.

Tapi takdir terus berjalan. Audrey tak kuasa menahan kesedihan. Dipeluknya Papa.
"Maafkan Audrey ya Pa... "suara Audrey seolah  tercekat di tenggorokan.
Papa membalas pelukan Audrey.  Baginya hari ini adalah hari yang penting untuk putrinya.

"Sukses ya sayang. Semangat! Takdir menghantarkanmu pada  ujian  kehidupan yang sesungguhnya. Selamat menjadi pemenang. Rasakan setiap ujian yang kita hadapi. Sesakit apa pun itu. Tetap tersenyum. Hadapi dengan keikhlasan. "
Audrey tersenyum. Baru kali ini nasihat Papa menyerap di kalbunya.

"Selamat datang ujian yang sesungguhnya. Aku siap menghadapi." Suara  hati Audrey bergema. Mantap langkahnya  menuju koridor sekolah.  Menuju laboratorium UNBK...


Cimahi,  22 April 2019