Senin, 22 April 2019

Cerpen "Ujian Audrey"

Komputer berjajar
Menyapa hati yang berdebar
Soal dibaca, ditaklukkan
Pikiran berkata
Fokus melanda
Tapi hati meronta


Bait-bait puisi Audrey eja. Setidaknya ia bisa tenang mengungkapkannya dalam kata-kata. Senin esok adalah hari yang paling menentukan bagi Audrey. Hampir tiga tahun sudah menimba ilmu di bangku SMP. Esok adalah puncak segala perjuangan. Ya UNBK... Semangat  tiba-tiba menyala dalam dirinya.

Dadanya bergetar.  Malam ini Audrey sulit memejamkan mata. Perasaan yang menderanya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Seperti  mau lebaran saja. Antara takut kesiangan dan tak sabar ingin segera  berada di depan komputer.

"Damn... Bagaimana aku bisa tidur. Hiks... Kalau begini aku bisa kesiangan besok" Audrey benar-benar gelisah. Berkali-kali ia berusaha mengganti posisi tidur. Dari telungkup,  samping kiri,  samping kanan,  tak ada yang nyaman  untuknya. Guling yang ia dekap seolah  mengerti  perasaannya.

"Tok.. Tok.. " suara  ketukan pintu terdengar. Audrey terhenyak.  Suara Mama terdengar lembut memanggil namanya.
"Audrey sudah tidurkah" Sahut Mama dari balik pintu.

Audrey beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Dilihatnya Mama berdiri membawa segelas susu hangat untuk Audrey.

"Belum... Kenapa?" Sahut Audrey dengan wajah dingin. Dilihatnya wajah perempuan yang berdiri  mematung di depannya terlihat kecewa. Entahlah,  batin Audrey seolah berontak. Sama sekali  tak ingin melihat mata perempuan yang sampai detik  ini enggan ia panggil 'Mama'. Kata Mama begitu mahal untuk Audrey berikan kepada perempuan itu. Kalau tak ada dia,  mungkin mamanya masih hidup dan masih tinggal bersamanya.

"Mama hanya ingin mengantarkan ini. " Suara perempuan itu tetap lembut. Diserahkannya segelas susu hangat kepada Audrey.

"Selamat tidur Audrey.. Jangan lupa berdoa ya. Mama doakan  esok menjadi hari yang menyenangkan untukmu. Sukses  UNBK nya ya sayang... " Suara perempuan itu penuh kasih meski  sikap Audrey terkesan  tak suka dengan perlakuan perempuan yang menyebut  dirinya Mama.
Audrey hanya diam ketika perempuan  itu berlalu. Dibawanya nampan berisi susu hangat dari mama tirinya tadi. Ya... Audrey lebih senang menyebutnya mama tiri. Baginya tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Mama Anna,  mama kandungnya.

"Ma... Aku kangen." Pikiran Audrey kembali melayang. Teringat mamanya. Mama Anna telah pergi untuk selama-lamanya di saat Audrey benar-benar belum siap. Peristiwa kecelakaan pesawat itu sangat membekas dalam dirinya.

Diteguknya susu  hangat. Dulu Mama Anna selalu membuatkan susu hangat untuk Audrey sebelum tidur. Dua tahun berlalu,  namun rasa sakit itu masih terasa. Rasa kehilangan yang teramat dalam. Andai Mama masih ada,  mungkin malam ini mamalah yang menenangkannya. Memberikan semangat untuknya, sama seperti  ketika Audrey mengikuti ujian nasional ketika SD.

Audrey melirik jam dinding, pukul 10.30 malam. Audrey menarik nafas "Aku harus segera tidur.. "

Susu hangat dalam gelas telah habis. Audrey ingat pesan ibu tirinya tadi. Entah mengapa Audrey meyakinkan dirinya untuk mengikutinya. Memejamkan mata dan berdoa. Ya berdoa, pesan yang diingatnya tadi.
             
                      **********

"Sudah siap sayang?" Suara Papa menyapa Audrey.

Audrey hanya diam tak menyahut. Dilihatnya perempuan yang ia panggil mama tiri itu sudah ada di dekat Papa. Audrey  menolak ketika perempuan itu berusaha membuatkan roti oles untuknya.
"Biar aku buat sendiri..." Ujar Audrey tetap dingin.

Perempuan  itu hanya menarik nafas. Terlihat kekecewaan di wajahnya. Dua tahun sudah,  tapi ia belum bisa menaklukkan hati Audrey.
Papa terlihat sabar. Meyakinkan perempuan cantik  di sampingnya bahwa seolah yang terjadi adalah hal biasa. Bahkan  ketika Audrey nyaris tak pamit dan langsung menuju mobil. Papa terlihat menghibur mama tirinya.

Sepanjang perjalanan menuju  sekolah, Audrey tetap diam. Dia sudah menebak,  papanya pasti  akan kembali menasihatinya. Memintanya untuk kembali bersikap baik kepada mama tirinya. Dalam hati Audrey akan menggerutu.  Itu lagi... Itu lagi yang akan  disampaikan  Papa.

Lima belas menit berselang,  tak ada sepatah kata pun nasihat keluar dari mulut Papa. Audrey heran. Tak biasanya Papa bersikap demikian. Audrey menunggu. Namun tak jua ada setetes nasihat pun untuknya. Papa hanya fokus pada setir  dan jalanan di depannya.

Sampai ketika  mobil tiba di parkiran sekolah Audrey,  barulah kata-kata keluar dari mulut Papa.

"Sukses UNBKnya ya sayang. Fokus.. Papa doakan Audrey mendapatkan nilai terbaik. "Suara Papa tiba-tiba membuat Audrey ingin menangis.

Dilihatnya lelaki yang sudah mulai ditumbuhi rambut putih di kepalanya. Baru kali ini Audrey menatap lekat wajah Papa. Tak ada kemarahan di sana. Wajah letihnya seolah melucuti rasa bersalah  Audrey.
Papa juga pasti terluka. Papa juga pasti sedih kehilangan Mama. Air bening seolah siap meluncur dari sudut  mata Audrey. Tak adil  rasanya jika Audrey hanya menabur luka di hati Papa. Takdir Audrey.. Takdir.. Kita harus menerimanya. Suara Papa terngiang-ngiang di telinganya. Takdir yang membawa Audrey kehilangan Mama Anna. Takdir  yang mengharuskan Audrey merengkuh perempuan yang tak ingin ia panggil mama.

Tapi takdir terus berjalan. Audrey tak kuasa menahan kesedihan. Dipeluknya Papa.
"Maafkan Audrey ya Pa... "suara Audrey seolah  tercekat di tenggorokan.
Papa membalas pelukan Audrey.  Baginya hari ini adalah hari yang penting untuk putrinya.

"Sukses ya sayang. Semangat! Takdir menghantarkanmu pada  ujian  kehidupan yang sesungguhnya. Selamat menjadi pemenang. Rasakan setiap ujian yang kita hadapi. Sesakit apa pun itu. Tetap tersenyum. Hadapi dengan keikhlasan. "
Audrey tersenyum. Baru kali ini nasihat Papa menyerap di kalbunya.

"Selamat datang ujian yang sesungguhnya. Aku siap menghadapi." Suara  hati Audrey bergema. Mantap langkahnya  menuju koridor sekolah.  Menuju laboratorium UNBK...


Cimahi,  22 April 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar