Kamis, 26 Mei 2022

LENCANA UNTUK MAMA

 Pagi menyapa di Jumat yang mulia

Mentari menyembul malu

 di kabut Bandung Utara

Burung berkicau di atap-atap mimpi

Membangunkan semesta penuh suka cita


Lencana emas bergambar beringin

Tersemat di dada dengan yakin

Cita yang mewujud dalam ingin

Semoga selalu dalam genggaman Sang Rahiim


Lencana emas terpatri 

Menabur doa yang tak henti

Untukmu Ayahanda dan Ibunda tercinta

Kupersembahkan bakti untuk negeri


Derapku melangkah dalam bakti

Seperti perjuanganmu yang tiada henti

Mengabdi sepenuh hati

Untuk insan berbudi pekerti


Lencana tersemat di dada kiri

Semoga Allah selalu berkahi

Di pangkuan Ibu pertiwi

Mendidik dengan hati



Sarvil, Mei 2022












Rabu, 25 Mei 2022

LETTER B

Jarak kembali membentangkan puisi rindu

Pada hening malam kata-kata mengalir doa

Satu keyakinan kita mampu melewatinya

Dan Allah tunjukkan kuasaNya

Bukankah gerbang telah terbuka?

Diantara kokohnya bangunan mimpi

Dan kota yang kita singgahi

Tak usah ragu menyemai 

Benih-benih sabar yang kita tabur

di tanah tandus dan bumi yang asing

Aku yakin kau bisa, kuat seperti biasa

Tersenyumlah pahlawanku

Ayunkan langkah dalam syukur

Tegapkan langkah pada niat suci

Hanya pada Illahi segala kembali








Selasa, 15 Februari 2022

OEMAH_QIVA LAUNCHING PRODUK TERBARU

 Bismillah Assalamualaikum sahabat Qiva. 


Alhamdulillah Sahabat Qiva, hari ini tepat dua tahun, Oemah_Qiva menghadirkan persembahan spesial  "Sahaja Series". Mukena Sahaja hadir dengan konsep sederhana namun penuh kebersahajaan. Kenyamanan, kesantunan, dan kelembutan bahan menjadi prioritas kami. Bahan yang adem, lembut, dan nyaman saat beribadah, serta konsep 2 in 1 menjadi keunggulan dari Sahaja Series.  Satu Mukena bisa dijadikan dua model, bisa dijadikan mukena biasa saat tidak berhijab atau model ponco yang tidak merusak hijab ketika memakai hijab.


Berbahan silky premium yang adem, ringan dan ga gampang kusut dengan berbagai pilihan motif yang cantik, lucu dan fresh, halus dan nyaman dikenakan.


✅Untuk tali pengikat mukena pakai tali, bisa menyesuaikan dengan ukuran kepala pemakainya.


✅Lingkar wajah bisa disesuaikan karena ada resleting di bagian bawah dagu.


✅Mukenanya recomended banget untuk bepergian ataupun sehari2 dirumah.


✅Lengkap dengan tas cantik mudah dibawa kemana mana anti ribet, Tas nya bisa dijadikan sajadah juga 😍


VARIASI MODEL:

  Tiga Varian

1. Variasi Tile Rp.230.000

2. Variasi renda besar Rp.  210.000

3. Variasi renda kecil Rp. 185.000 


BAHAN

Material silky maxmara premium

Yang adem, ringan dan ga gampang kusut.

Halus dan nyaman dikenakan.


UKURAN MUKENA DEWASA :

- Pinggang full karet diameter 32 cm, bisa melar sampai 65 cm

%- Panjang atasan bagian depan di ukur dari bawah dagu 90cm

- Panjang atasan bagian belakang 130cm

- Panjang bawahan 110cm


*Ukuran Pouch 50x30cm bisa dijadikan sajadah😍


Minggu, 13 Februari 2022

MENGAPA ADA AIR MATA?

 Mengapa ada air mata?

Sementara catatan telah tersedia

Garis hidup telah terukir

Segala kisah belum berakhir


Tak usah ada air mata

Karena hujan telah membasuh semua luka

Meninggalkan genangan yang bisa surut kapan saja

Tengoklah ke bawah banyak yang tak punya rumah

Tengoklah ke bawah banyak yang ditinggal pergi pasangannya

Tengoklah ke bawah banyak yang jauh lebih menderita

Tengoklah ke bawah banyak kaki-kaki yang penuh nestapa

Tengoklah ke bawah berapa banyak perut yang meronta

Tengoklah ke bawah pandang mereka


Jika satu kesedihan menggugurkan segala doa

Jika satu kesedihan melupakan pemberianNya

Jika satu kesedihan meniadakan Ia

Sungguh serendah-rendahnya iman di dada


Tengoklah, dekaplah

Karena kesedihan tak selamanya ada

Kehilangan adalah sebuah kepastian

Seperti pagi yang menitipkan embun

Atau senja yang menitipkan jingga


Bangkitlah meski terasa berat

Tersenyumlah meski terasa pahit

Biarkan waktu yang memantik

Jiwa-jiwa yang tengah memekik




Kamis, 03 Februari 2022

PENANTIAN

Pada kehilangan yang dalam

Kita semakin mengeja waktu

Entah di garis yang mana kembali bertemu

Saat rintik di luar belum juga reda


Pada duka terdalam kita nyaris tenggelam

Di bentangan waktu hari-hari kian panjang

Sesak yang menahan dibingkai harapan

Akankah seindah pualam


Hujan datang di Februari

Membawa aroma yang sama

Desember, Januari kita mampu lewati

Dan di purnama berikutnya tak perlu lagi bertanya


Masih hujan yang sama

Memercikkan rindu di tiap tetesnya

Meski penantian terasa panjang

Semakin panjang...








Senin, 17 Januari 2022

MURIDKU PUN GURU

 

                                               MURIDKU PUN GURU                         

 “Bu maaf  ya saya baru mengerjakan tugas daringnya hari ini". Sebuah pesan melalui aplikasi Whatsapp kuterima. Tertera salah satu nama siswaku di layar gawai. Fasya namanya. Salah satu siswa yang sedari kelas VIII sudah mencuri perhatianku.

Ya bagaimana tidak mencuri perhatianku. Dialah salah satu mutiara yang kutemui di sekolah tempat kumengabdi. Sekolah yang rata-rata siswanya memiliki kemampuan dan latar belakang beragam. Sekolah tempat aku menggantungkan nasib selama kurang lebih 16 tahun mengabdi. Ya mengabdikan diri untuk sebuah ketulusan dan proses pembelajaran hidup. Bukan hanya sebagai guru, namun lebih kepada panggilan hati untuk selalu bisa belajar. Belajar dari hal-hal yang kutemui. Termasuk belajar dari sosok Fasya, anak didikku.

Masih kuingat saat pertama kali bertemu Fasya. Saat itu, ia duduk di kelas VIII. Aku belum mengajarnya karena tugasku mengajar di kelas IX. Sosoknya membuatku terpukau. Di saat siswa yang lain menikmati waktu istirahatnya di kantin, Fasya khusyuk melaksanakan sholat Dhuha di mushola sekolah. Di saat siswa yang lain menikmati waktu istirahatnya, Fasya terlihat tekun merapalkan doa-doa. Di saat istirahat anak-anak lain terlihat bersenda gurau dengan teman-temannya. Kulihat Fasya asyik betah dengan hafalan suratnya. MasyaAllah…hatiku bergumam. Penasaran, masih kuingat esoknya kembali kuamati Fasya. Saat istirahat pasti ada di mushola. Sejak saat itulah, aku sering bertemu dengannya di mushola. Di mushola tempat aku pun berserah, mengais rejeki lewat doa-doa.

Ketika kenaikan kelas, Fasya masuk dalam daftar siswa yang ada di kelasku. Menjadi wali kelasnya membuatku jadi lebih sering berkomunikasi dengannya. Terlebih, ketika pembelajaran jarak jauh berlangsung. Fasya selalu menjadi siswa yang kuandalkan untuk memimpin doa. Kegiatan pagi hari berupa doa bersama adalah kegiatan yang biasa dilakukan bersama siswa di kelasku. Sering kali, aku meminta siswa lain untuk bergantian juga memimpin doa.

Sejak pandemi berlangsung, aku belum sempat bertemu kembali dengan anak didikku. Semua kegiatan dan komunikasi dilakukan via gawai. Grup orang tua dan siswa menjadi penghubung. Namun, ada juga beberapa siswa yang memiliki keterbatasan kuota atau pun gawai. Mereka bisa tetap belajar dengan sistem luring. Tatap muka dengan kelompok kecil siswa. Tentu dengan mengikuti prosedur dan protokol kesehatan yang ada.

Kuamati kembali layar gawai. Tetera tugas Fasya dikirim sekaligus. Tugas mata pelajaranku tiga minggu yang lalu baru dikirimkan hari ini. Alisku sedikit berkerut. Melirik jarum jam. Pukul 22.00. Agak heran mengapa Fasya jadi sering terlambat mengirimkan tugas. Terlebih megirimkan tugas saat larut malam. Apakah karena tidak punya kuota? Rasanya tidak mungkin kalau Fasya terkendala kuota. Setiap hari kulihat gawainya aktif. Menandakan Fasya masih bisa mengakses pembelajaran. Batinku mulai bertanya-tanya.

Kubalas pesan Whatsapp Fasya, “Iya gk papa Fasya. Tugasnya Ibu terima. Makasih ya,” balasku pada percakapan kami. Meski larut malam masih tetap aku harus menerima tugas yang dikirm anak-anak.

Kesabaran, komunikasi, dan rasa saling pengertian itu yang kucoba bangun  bersama anak-anak didikku. Sabar dalam menghadapi masa pandemi dengan segala kenormalan baru. Termasuk metode pembelajaran yang mau tak mau harus tetap berjalan. Meski dengan segala keterbatasan. Entah itu kuota, jaringan, bahkan kemampuan memiliki gawai yang justru kadang menjadi kendala utama. Sementara hak belajar harus tetap anak-anak dapatkan. Hak mendapatkan pembelajaran. Meski tak melulu soal ketercapaian kurikulum yang ada. Ya karena belajar pada hakikatnya bisa kapan saja, dimana saja, dari siapa saja, dan apa pun bentuknya.

Pun membangun komunikasi. baik secara individu maupun klasikal. Aku pribadi harus meluangkan waktu. Mengulik lebih dalam kendala masing-masing siswa. Memastikan mereka benar-benar mendapatkan haknya. Hak untuk tetap punya waktu bermain, belajar, dan tentu saja beribadah sebagai makhluk dan hamba Tuhan. Semoga ketika komunikasi terjalin baik maka rasa saling pengertian pun bisa terwujud. Sebuah harap muncul di benakku. Meski tak bisa dipungkiri banyak kritikan terhadap kualitas pembelajaran jarak jauh.

Tugas yang dikirimkan Fasya kukoreksi. Meski mengumpulkan terlambat, aku tersenyum melihat hasil karya Fasya. Tulisan tangannya rapi dan jawaban yang dikumpulkan pun benar. Bisa sampai larut malam biasanya kukoreksi tugas siswa. Daring memang terasa lebih melelahkan. Setiap malam pesan-pesan yang datang dari siswa bergiliran datang. Tentu saja kewajibanku memberikan timbal balik. Membalas pesan mereka. Tugas-tugas yang masuk perlu mendapat respon positif dariku sebagai seorang guru.

Pun sebagai wali kelas, aku harus memastikan siswaku mendapat layanan dari guru mata pelajaran lainnya. Termasuk memastikan tugas-tugas siswa. Meminta rekapan data nilai dari guru mata pelajaran yang mengajar di kelasku. Termasuk tak bosan berkomunikasi dengan orang tua siswa.

Mataku kembali tertuju pada tumpukan tugas. Lembaran data rekap tugas siswa dari beberapa guru mata pelajaran masih berada di tumpukan meja kerjaku. Waktu kian larut. Rasa kantuk yang mendera berusaha kutahan. Satu per satu kuamati lembaran rekap tersebut. Beberapa mata pelajaran kudapati nilai Fasya masih kosong. Aku tertegun. Ini menandakan Fasya tertinggal beberapa tugas. Tidak hanya pelajaranku saja ternyata yang keteter mengerjakannya. Mata pelajaran  lain pun banyak yang kosong nilainya. Sepertinya aku harus segera bertemu Fasya. Agar semua bisa terjawab.

Pagi hari mentari begitu cerah menyinari bumi. Kakiku perlahan memasuki sebuah komplek yang disebutkan Fasya. Hari ini kuputuskan untuk mengunjungi Fasya di rumahnya. Sebuah peesan kukirimkan pagi-pagi bahwa aku akan mengunjunginya. Meminta alamat lengkapnya. Aku bersyukur Fasya memberikan alamatnya. Lega juga, ternyata rumahnya hanya berjarak tiga kilometer dari rumahku.

“Ini Bu alamatnya Komplek Alamanda V pintu kedua.” Pesan Fasya kuterima.

“Nanti Ibu tunggu aja di situ ya Bu. Biar Fasya dan Nasya jemput ke sana.” Pesan kedua kembali kuterima.

Aku menurut. Berhenti tepat di alamat yang disebutkan Fasya. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Komplek ini cukup rapi dan elit. Rumah-rumah berjajar. Rata-rata berpagar tinggi. Mataku mencari-cari dan mengira-ngira yang mana rumah Fasya. Ketika sedang asyik menunggu, dua sosok mungil tampak dari kejauhan. Aku sudah bisa menebak, itu pastilah Fasya dan Nasya. Sosok Fasya yang berkacamata didampingi adiknya Nasya yang berbalut hijab.

 Dengan santun mereka menyalamiku. Aku tersenyum menatap keduanya. Menyapa dua sosok kembar yang berbeda tentu saja. Bukan kembar identik.

“Nah Fasya rumah Fasya yang mana?’ tanyaku sambil berjalan diapit Fasya dan Nasya.

“Rumah saya bukan di komplek ini Bu. Rumahnya masuk gang itu.” Telunjuk Fasya mengarah pada gang kecil yang berada sekitar 300 meter di depanku.

Aku tersenyum, merangkul dua anak di sebelahku. Kami berjalan beriringan. Memasuki sebuah gang kecil. Gang yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Rumah-rumahnya pun berderet rapat. Sungguh kontra dengan perumahan yang tadi aku lihat.

Kami berhenti di sebuah rumah. Halamannya tampak asri. Meski tinggal di pemukiman padat, rumah Fasya lebih terawat. Aneka tanaman sayur tampak menghiasi bagian depan rumah. Ada pohon tomat, cabai, selada, yang apik ditanam di sebuah polybag. Aku tersenyum, apik sekali mamahnya Fasya. Suara hatiku kagum.

Seorang wanita paruh baya menyambutku dari balik rumah. Wajahnya mirip Fasya dan Nasya. Senyum merekah dari bibir wanita itu. Cantik dengan khimar panjangnya. Aku bisa menebak ini adalah mamahnya Fasya.

“Bu maaf ya Fasya jadi sering terlambat mengumpulkan tugas. Fasya harus menggantikan tugas saya mengajar Bu…” Sahut Mamah Fasya setelah mempersilakanku masuk.  

“Ruang tamu ini jadi ruang Fasya dan Nasya mengajar mengaji Bu.” Sahut Mamah Fasya sambil menunjuk anak-anak yang kulihat sedang belajar mengaji.

 Kupendarkan pandangan. Di ruang tamu itu sudah berkumpul anak-anak usia 5 tahunan sedang belajar mengaji. Terlihat ada tiga kelompok. Satu kelompok berada di dalam ruang tamu. Dua kelompok lagi berada di teras luar rumah. Suara merdu anak-anak ramai mengaji membuat suasana syahdu di hatiku. Sayup-sayup terdengar suara kalam Ilahi dieja. Ah tiba-tiba sudut mataku terasa panas. Menahan haru akhirnya kucoba membuka obrolan. Menanyakan awal mula berdirinya Rumah Quran. Rumah yang dijadikan semacam sekolah madrasal oleh Mamah Fasya.

Obrolan pun mulai mengalir. Ibunda Fasya berkali menyampaikan permohonan maafnya tentang keterlambatan tugas yang Fasya kumpulkan. Keterlambatan itu aku maklumi. Kini kutahu Fasya sering terlambat mengumpulkan tugas karena mengajar. Takjub sekaligus bangga. Anak seusia itu sudah memiliki kemampuan untuk berbagi ilmu.

            “Setiap hari Fasya mengajar anak-anak mengaji Bu. Jam 10 pagi mulainya. Anak-anak datang ke rumah. Saya membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Kedatangan mereka pun dijadwal. Sesi satu dari jam 10 sampai jam 12 siang. Dilanjut kelas berikutnya setelah Dzuhur sampai jam 3 sore. Lalu sesi ketiga selepas Asar sampai Magrib Bu. Dulu, muridnya hanya beberapa orang. Sekarang semakin banyak. Jumlahnya kurang lebih 53 siswa.” Cerita masih mengalir dari Ibunda Fasya.

            “Saya dibantu dua anak saya. Fasya dan Nasya. Mereka kembar. Alhamdulillah saya sangat terbantu. Apalagi sejak saya sering sakit-sakitan. Ditambah lagi, kondisi saya sedang hamil Bu. Anak-anaklah yang berbagi jadwal mengajar. Saya juga sedih Bu, sering merepotkan anak-anak. Mereka jadi terganggu dan keteteran mengerjakan tugas dari sekolah” Ujar mamah Fasya dengan mata berkaca-kaca.

            “Alhamdulillah Bunda…Bunda dikaruniai anak-anak yang sholeh-sholehah. Untuk tugas-tugas Fasya dan Nasya tidak apa-apa bisa dikerjakan sekemampuan mereka” sahutku membalas pesannya. Sungguh hatiku berdecak kagum, betapa yang Fasya dan Nasya lakukan lebih dari sekedar pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang sesungguhnya.

            “Iya Bu terima kasih atas pengertiannya. InsyaAllah saya selalu mengingatkan anak-anak untuk tidak lalai terhadap kewajiban mereka. Terlebih Fasya Bu. Minggu ini dia harus mempersiapkan acara Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan kami. InsyaAllah Fasya juga akan tampil Bu. Selain mengaji, Fasya akan menyanyikan lagu Nasyid. Oleh karena itu, Maafkan jika tugas-tugas sekolahnya akhir-akhir ini terganggu.” Kembali Mamah Fasya menyampaikan permohonan maafnya.

.           Aku mengangguk. Melirik ea rah Fasya. Kulihat ia yang sudah mulai bergabung dengan anak-anak yang belajar mengaji. Dengan kacamata dan senyumnya. Wajah kanak-kanaknya yang mencerminkan ketulusan. Mau berbagi ilmu kepada anak-anak di lingkungannya.

            Setiba di rumah kuambil sebuah buku bertuliskan Administrasi Guru. Membuka lembar demi lembarnya. Berhenti di sebuah halaman bertuliskan Daftar Nilai Siswa. Mencari nama Fasya. Membaca kembali tugas-tugas yang dikumpulkannya via gawai. Mengoreksi jawabannya dan membubuhkan nilai yang kutambahkan plus di sebelahnya. Aku tersenyum. InsyaAllah masih banyak Fasya dan Nasya yang lain yang kutemukan di sekolahku. Siswa-siswa yang tidak hanya pandai dari segi pengetahuan saja. Namun, siswa yang memiliki kepribadian dan akhlak mulia. Sebuah keyakinan kembali tersembul. Keyakinan bahwa di tempat kumengabdi akan selalu lahir pribadi-pribadi yang berbudi pekerti luhur. Di tengah gempuran zaman yang kian penuh tantangan.

            “Bu makasih ya….sudah main ke rumah. Kata Mamah Ibu diundang ke acara Maulid Nabi tanggal 29 Oktober nanti. Datang ya Bu. Fasya senang sekali jika Ibu datang.” Sebuah pesan kuterima dari Fasya.

            Aku tersenyum membalas pesannya. “ Insya Allah Fasya Ibu akan datang.”

Seberkas bahagia melingkupi. Rasa syukur untuk pembelajaran hidup yang sesungguhnya.