Jumat, 03 Februari 2017

CANDU MENULIS ALA KAGUM

                                                                                   
      Istilah candu rasanya sudah tak asing lagi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini mengacu pada sesuatu yang menjadi kegemaran. Lalu bagaimana kata candu bisa melekat dengan kata menulis? Inilah yang penulis rasakan saat bergabung dengan Komunitas Gemar Menulis dan Membaca (KAGUM). Sebuah komunitas yang mewadahi orang-orang kreatif yang ingin terus belajar, mengembangkan bakat dan minatnya dalam dunia kepenulisan. Bergabung dengan komunitas ini seolah menimbulkan rasa candu dalam menulis. Efek ketagihan untuk menulis, menulis, dan menulis lagi.
     Seiring  dengan bergulirnya program literasi yang dicanangkan pemerintah, KAGUM seolah menjadi pelangi harapan bagi kemajuan literasi di Indonesia. Pun ketika kemampuan membaca dan menulis yang masih rendah menjadi keprihatinan banyak pihak, KAGUM seolah menjawab tantangan tersebut. Ini tentu menjadi angin segar. Akan semakin banyak penulis pemula yang ingin belajar menuangkan gagasan dan pikiran dalam bentuk tulisan.
       Bagi sebagian orang yang terbiasa dengan menulis, maka keterampilan ini menjadi keterampilan yang sangat mudah. Namun, bagi pemula butuh proses yang panjang untuk bisa menggabungkan beragam ide sehingga menjadi sebuah tulisan. Proses inilah yang kemudian menjadi bibit candu untuk mulai mencintai dan berbaur dengan tulisan. Proses menimba informasi lewat membaca tak bisa dielakkan. Semakin banyak menggali informasi melalui bacaan semakin banyak pula ilmu yang didapat. Menulis tanpa membaca bagai perahu tanpa nahkoda atau seperti termos air, apa yang diisi itulah yang dikeluarkan. Candu bagi pemula adalah ketika menikmati setiap proses. Menggali informasi dan menguntaikan  kalimat yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan tulisan yang bermakna. Seperti yang dikemukakan Jago Tarigan (1995: 117), menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan.
       Efek candu dalam menulis dapat muncul dari perubahan dalam diri seorang penulis tatkala mendapatkan nilai kepuasan dari menulis.  Nilai kepuasan itu tidak selalu berbentuk materi. Kepuasan psikologis lebih berarti. Kepuasan inilah yang membuat penulis lebih memaknai manfaat menulis yang sebenarnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Akhadiah (1998:1) berpendapat ada delapan manfaat atau kegunaan menulis yaitu sebagai berikut.
Pertama, melalui kegiatan menulis, dapat mengenali kemampuan dan potensi diri yang dimiliki. Kedua, melalui kegiatan menulis, dapat melatih dalam mengembangkan berbagai gagasan. Ketiga, melalui kegiatan menulis akan dapat lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Keempat, melalui kegiatan menulis, dapat mengorganisakan gagasan secara sistematis serta mengungkapkannya secara tersurat. Kelima, melalui kegiatan menulis akan dapat meninjau serta menilai gagasannya sendiri secara objektif. Keenam, melalui kegiatan menulis akan lebih mudah memecahkan permasalahan dengan menganalisis permasalahan yang telah tersurat dalam konteks yang lebih konkret. Ketujuh, melalui kegiatan menilis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif. Kedelapan,  melalui kegiatan menulis yang terencanakan membiasakan penulis berpikir serta berbahasa secara tertib dan teratur.
       Efek menulis pun  menurut peneliti dari Universitas Texas, James Pennebaker, bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan T-lymphocytes. Pennebaker meyakini, menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan akan membantu seseorang untuk memahaminya. Dengan begitu, akan mengurangi dampak penyebab stres terhadap kesehatan fisik.
Dengan menulis berarti mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas untuk mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Singkatnya, menulis bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri , orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.
        Melalui komunitas KAGUM kemampuan menulis  dapat terasah. Kemampuan mengembangkan diri dan bersosialisasi dengan sesama penggiat literasi pun membuat komunitas ini mendapat tempat tersendiri. Apresiasi dari mentor yang positif pun membuat efek candu semakin terasa.  Dengan candu menulis, semakin banyak orang yang dapat mengetahui kemampuan diri yang dimiliki, mengembangkan gagasan dan ide, mengurangi permasalahan yang menumpuk, memetakan masalah, mampu meningkatkan kegiatan belajar, membantu ingatan, mengatasi trauma, menyehatkan,  dan dapat digunakan sebagai sumber penghasilan. Terima kasih KAGUM..semoga semakin mengagumkan.



DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Subarti, dkk. 1998. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. IKIP Jakarta:    Erlangga.
Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: ANDI.
Komaidi, Didik. 2007. Aku Bisa Menulis. Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap.            Yogyakarta: Sabda Media.
Sofyan, Ahmadi. 2006. Jangan Takut Menulis. Tip-tip Cerdas dan Terapi Mengolah Diri    menjadi Penulis Produktif. Jakarta: Prestasi Pustaka.
http://maindakon.blogspot.co.id/2012/08/manfaat-menulis-secara-psikologis.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar