Istilah
candu rasanya sudah tak asing lagi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
ini mengacu pada sesuatu yang menjadi kegemaran. Lalu bagaimana kata candu bisa
melekat dengan kata menulis? Inilah yang penulis rasakan saat bergabung dengan Komunitas Gemar Menulis dan Membaca (KAGUM). Sebuah
komunitas yang mewadahi orang-orang kreatif yang ingin terus belajar, mengembangkan
bakat dan minatnya dalam dunia kepenulisan. Bergabung dengan komunitas ini
seolah menimbulkan rasa candu dalam menulis. Efek ketagihan untuk menulis,
menulis, dan menulis lagi.
Seiring dengan bergulirnya program literasi yang
dicanangkan pemerintah, KAGUM seolah menjadi pelangi harapan bagi kemajuan
literasi di Indonesia. Pun ketika kemampuan membaca dan menulis yang masih
rendah menjadi keprihatinan banyak pihak, KAGUM seolah menjawab tantangan
tersebut. Ini tentu menjadi angin segar. Akan semakin banyak penulis pemula
yang ingin belajar menuangkan gagasan dan pikiran dalam bentuk tulisan.
Bagi sebagian orang
yang terbiasa dengan menulis, maka keterampilan ini menjadi keterampilan yang
sangat mudah. Namun, bagi pemula butuh proses yang panjang untuk bisa
menggabungkan beragam ide sehingga menjadi sebuah tulisan. Proses inilah yang
kemudian menjadi bibit candu untuk mulai mencintai dan berbaur dengan tulisan.
Proses menimba informasi lewat membaca tak bisa dielakkan. Semakin banyak
menggali informasi melalui bacaan semakin banyak pula ilmu yang didapat. Menulis
tanpa membaca bagai perahu tanpa nahkoda atau seperti termos air, apa yang
diisi itulah yang dikeluarkan. Candu bagi pemula adalah ketika menikmati setiap
proses. Menggali informasi dan menguntaikan kalimat yang dirangkai sedemikian rupa
sehingga menghasilkan tulisan yang bermakna. Seperti yang dikemukakan Jago Tarigan (1995:
117), menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan.
Efek candu dalam
menulis dapat muncul dari perubahan dalam diri seorang penulis tatkala
mendapatkan nilai kepuasan dari menulis.
Nilai kepuasan itu tidak selalu berbentuk materi. Kepuasan psikologis
lebih berarti. Kepuasan inilah yang membuat penulis lebih memaknai manfaat
menulis yang sebenarnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Akhadiah (1998:1) berpendapat ada delapan manfaat atau
kegunaan menulis yaitu sebagai berikut.
Pertama, melalui kegiatan menulis, dapat
mengenali kemampuan dan potensi diri yang dimiliki. Kedua, melalui
kegiatan menulis, dapat melatih dalam mengembangkan berbagai gagasan. Ketiga,
melalui kegiatan menulis akan dapat lebih banyak menyerap, mencari, serta
menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Keempat, melalui
kegiatan menulis, dapat mengorganisakan gagasan secara sistematis serta
mengungkapkannya secara tersurat. Kelima, melalui kegiatan menulis akan
dapat meninjau serta menilai gagasannya sendiri secara objektif. Keenam,
melalui kegiatan menulis akan lebih mudah memecahkan permasalahan dengan
menganalisis permasalahan yang telah tersurat dalam konteks yang lebih konkret.
Ketujuh, melalui kegiatan menilis, penulis terdorong untuk terus belajar
secara aktif. Kedelapan, melalui
kegiatan menulis yang terencanakan membiasakan penulis berpikir serta berbahasa
secara tertib dan teratur.
Efek menulis pun menurut peneliti dari Universitas Texas,
James Pennebaker, bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan
T-lymphocytes. Pennebaker meyakini, menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan
akan membantu seseorang untuk memahaminya. Dengan begitu, akan mengurangi
dampak penyebab stres terhadap kesehatan fisik.
Dengan menulis berarti mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas untuk mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Singkatnya, menulis bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri , orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.
Melalui
komunitas KAGUM kemampuan menulis dapat
terasah. Kemampuan mengembangkan diri dan bersosialisasi dengan sesama penggiat
literasi pun membuat komunitas ini mendapat tempat tersendiri. Apresiasi dari
mentor yang positif pun membuat efek candu semakin terasa. Dengan candu menulis, semakin banyak orang
yang dapat mengetahui kemampuan diri yang dimiliki, mengembangkan gagasan dan
ide, mengurangi permasalahan yang menumpuk, memetakan masalah, mampu
meningkatkan kegiatan belajar, membantu ingatan, mengatasi trauma, menyehatkan,
dan dapat digunakan sebagai sumber
penghasilan. Terima kasih KAGUM..semoga semakin mengagumkan.
Dengan menulis berarti mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas untuk mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Singkatnya, menulis bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri , orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Subarti, dkk. 1998. Pembinaan
Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. IKIP Jakarta: Erlangga.
Gie, The Liang. 2002. Terampil
Mengarang. Yogyakarta: ANDI.
Komaidi,
Didik. 2007. Aku Bisa Menulis. Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap. Yogyakarta: Sabda Media.
Sofyan, Ahmadi. 2006. Jangan Takut
Menulis. Tip-tip Cerdas dan Terapi Mengolah Diri menjadi Penulis Produktif. Jakarta: Prestasi Pustaka.
http://maindakon.blogspot.co.id/2012/08/manfaat-menulis-secara-psikologis.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar