Judul
Buku : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Jenis
Buku : Fiksi
Penerbit : Republika
Cetakan
IV : November 2016
Tebal
Halaman : vi+524 halaman
Bismillahirrahmaanirrahiiim
Alhamdulillah
bisa menyelesaikan membaca sebuah novel berikutnya karya Tere Liye yaitu
Tentang Kamu. Novel yang terbit di tahun
2016 ini sama seperti novel-novel Tere
lainnya yang masuk menjadi novel best seller. Tulisan itu sudah terpampang di
bagian depan novel dan sudah masuk cetakan keempat. Cover sederhana bergambar sepatu tua berlatar warna coklat yang
pudar secara tidak langsung menggabarkan kisah dari masa lalu yang akan
dibawakan. Kata-kata bijak khas Tere Liye pun
menghiasi di bagian belakang novel. Menambah rasa penasaran untuk
membaca utuh seluruh isinya.
Novel
ini berkisah tentang seorang pemuda yang bernama Zaman Zulkarnaen. Dia adalah
seorang pengacara muda asal Indonesia yang bekerja di sebuah firma hukum ternama Thompson & Co. Perusahaan
ini berada di Kota London, tepatnya di Belgrave Square Inggris. Zaman adalah
pemuda yang beruntung karena terpilih untuk bekerja di sana. Reputasi Thompson
& Co. sebagai fima hukum terpercaya sangat mumpuni bahkan menjadi firma
pilihan termasuk bagi para bangsawan kerajaan dan juga orang-orang kaya di
seluruh dunia dalam menyelesaikan masalah-masalah harta warisan.
Di
tahun kedua Zaman bekerja di Firma hukum Thompson &Co., dia mendapat tugas
untuk menyelesaikan sebuah kasus penyelesaian harta warisan. Klien firma hukum tersebut baru saja meninggal
dengan meninggalkan harta warisan yang nilainya satu miliar poundsterling atau
setara 19 triliun rupiah. Angka itu
cukup membuat Zaman tercengang karena itu berarti angka tersebut cukup besar
bahkan bisa mengalahkan kekayaan Ratu Inggris dan keluarganya. Bahkan bisa
masuk dalam 100 orang terkaya di Kerajaan Inggris.
Cerita
pun mengalir dengan menghadirkan sosok penting dalam novel ini yaitu SRI NINGSIH. Perempuan asal Indonesia yang
ternyata memiliki harta kekayaan yang tak terduga. Kematiannya di sebuah panti jompo di
Perancis membuat Zaman harus menelusuri kembali jejak masa lalu Sri
Ningsih. Zaman ditugaskan
oleh firma hukum tempatnya bekerja untuk menyelesaikan harta warisan yang
ditinggalkan Sri Ningsih. Penelusuran Zaman dimulai dengan petunjuk dari buku
harian yang ditinggalkan Sri Ningsih.
Perjalanan
Zaman menguak misteri masa lalu Sri Ningsih kemudian dimulai. Pembaca
betul-betul disuguhkan pemaparan latar yang begitu detail dan menarik. Diawali
dengan perjalanan Zaman menelusuri kisah hidup Sri Ningsih di Indonesia. Pulau
Bungin menjadi salah satu latar tempat pertama yang dikisahkan dari masa lalu
Sri Ningsih. Sebuah pulau kecil yang terletak di Sumbawa dan merupakan pulau
terpadat di dunia. Berhari-hari Zaman mencari informasi tentang masa lalu Sri Ningsih di pulau itu. Namun, tak
ada orang yang mengetahuinya. Barulah di hari kelima Zaman menemukan titik
terang ketika La Golo-sopir jip yang
menemaninya selama di Pulau Bungin mengajaknya menemui Pak Tua.
Kisah
masa lalu Sri Ningsih pun tergelar. Pak Tua yang bernama Ode adalah anak kepala
kampung. Dia sangat mengenal siapa Sri Ningsih. Seorang anak yang mendapat
julukan “gadis kecil yang dikutuk”. Dahulu, ayah Sri Ningsih adalah seorang
pelaut yang tangguh. Pernah bekerja di kapal S.S. Soemba II milik perusahaan
Belanda. Namun kapal itu terbakar di perairan Bali . Separuh dari 56 krunya
selamat termasuk Nugroho ayah Sri Ningsih. Kemudian, Nugroho menikah dengan
gadis kampung bernama Rahayu. Keluarga Nugroho memilih tinggal di Pulau Bungin
setelah dikhianati oleh kongsi usaha Tauke. Nugroho memilih menjadi nelayan .
Kehidupan
keluarga Nugroho di Pulau Bungin sangat bahagia. Meski tidak memiliki kapal,
kebutuhan mereka terpenuhi. Penduduk pulau pun ramah dan bersahabat. Hingga
suatu hari Nugroho memutuskan untuk tidak melaut demi menemani Rahayu yang
tengah hamil tua. Nugroho tidak mau peristiwa keguguran yang menimpa istrinya sebelumnya terulang kembali. Dia sangat
menyayangi istri dan calon bayi yang akan lahir. Namun naas, ketika proses
kelahiran bayinya, Rahayu justru tidak terselamatkan. Sejak itulah Sri Ningsih
menjadi piatu.
Kisah
di Pulau Bungin begitu melarutkan emosi pembaca. Kesedihan demi kesedihan yang
dialami Sri Ningsih pada masa lalunya cukup mengharu-birukan hati pembaca.
Apalagi, setelah Nugroho ayahnya memutuskan untuk menikah lagi
dengan Nusi Maratta. Awalnya,
kebahagiaan Sri Ningsih kembali lengkap dengan perilaku dan kasih sayang yang
diberikan Nusi Maratta. Setelah adiknya lahir, Sri sangat menyayangi adiknya
Tilamutta. Namun, peristiwa naas kembali terjadi. Sebelum hari ulang tahun Sri
Ningsih, ayahnya yang berjanji membelikan sepatu pantofel hitam tak jua
terlihat kembali tiba di pulau. Kapalnya tak pernah terlihat. Menjelang usia
Sembilan tahun, Sri Ningsih lengkap menjadi yatim-piatu.
Sepeninggal
ayahnya, Sri Ningsih mendapat perlakuan yang buruk dari Nusi Maratta. Setiap
hari Sri harus membanting tulang untuk mengurusi kebutuhan rumah. Bangun pukul
empat pagi dan bekerja seharian. Nusi Maratta sering memukulnya dengan rotan
jika Sri pulang dengan tidak membawa uang. Perlakuan buruk Nusi Maratta
terhadap Sri Ningsih terjadi bertahun-tahun. Gadis itu sudah tidak lagi
sekolah, badannya yang hitam, pendek, dan gempal sering mendapat hinaan dari
ibu tirinya. Nusi Maratta sering menghina Sri dengan sebutan “gadis yang
dikutuk”. Suatu hari ketika usia Sri Ningsih menginjak 14 tahun. Tubuhnya
begitu letih setelah seharian bekerja mencari teripang dan air di pulau
seberang. Sri jatuh sakit. Tubuhnya sangat lemah. Kepala kampung yang merupakan
ayah Ode meminta kepada Nusi Maratta agar Sri diijinkan dirawat oleh istrinya.
Semula, Nusi Maratta menolak,. Namun, karena desakan dari seluruh warga di
Pulau tersebut. Sri diijinkan tinggal di rumah kepala kampung. Dua hari lamanya
Sri dirawat oleh istri kepala kampung. Hingga peristiwa tak terduga terjadi,
Sri Ningsih yang tengah pergi mengunjungi kuburan ibunya tampak tak terlihat.
Nusi Maratta yang tengah tertidur lelap tidak menyadari kalau Tilamutta yang
saat itu berusia lima tahun tanpa sengaja menjatuhkan lampu templok. Minyak
tanah menggenangi lantai, api menyambar cepat. Tilamutta terkejut, dia bergegas
mengambil ember menyiram nyala api. Karena takut ketahuan ibunya, Tilamutta
lantas segera kembali ke kamar, beranjak pura-pura tidur di samping ibunya yang
masih lelap. Seluruh kampung panik, asap mengepul hitam keluar dari rumah
panggung milik orang tua Sri. Api besar melahap seluruh isi rumah. Sri Ningsih
yang saat itu baru tiba di pulau terkejut menyaksikan rumahnya dilalap api.
Dengan berlari menerobos kobaran api, Sri masuk ke dalam rumah. Berusaha
menyelamatkan Nusi Maratta dan Tilamutta. Ayahnya pernah berpesan untuk menjaga
adiknya sepeninggalnya dan mematuhi seluruh pesan ibunya. Sri tak mempedulikan
kobaran api yang melahap rumahnya. Ode
dan seluruh warga kampung mencegahnya. Namun, Sri tetap masuk dan menyelamatkan
adiknya. Nusi Maratta tak terselamatkan, dia meminta Sri untuk membawa
Tilamutta keluar dan memohon maaf untuk kesalahan yang telah diperbuatnya.
Sejak
peristiwa itu Guru Bajang yang merupakan gurunya di sekolah dulu menyarankan
Sri untuk kembali melanjutkan sekolah di Surakarta. Kota inilah tempat
berikutnya yang dikunjungi Zaman untuk menelusuri kisah masa lalu Sri Ningsih.
Setelah berpamitan kepada Pak Tua, Zaman mulai membuka buku harian Sri Ningsih
berikutnya yang menceritakan kisah masa lalunya di Kota Surakarta. Di kota
itulah Sri Ningsih dan adiknya tinggal dan bersekolah.
Dengan
mengendarai pesawat jet, Zaman tiba di
Surakarta. Penelusuran jejak Sri Ningsih di kota ini dimulai. Sebuah pesantren
besar dikunjungi oleh Zaman. Dari buku harian Sri Ningsih, Zaman mengeluarkan sebuah
foto. Foto itu memperlihatkan Sri Ningsih yang diapit oleh dua orang perempuan.
Salah satu perempuan yang ada di foto itu ternyata adalah saksi hidup
perjuangan Sri Ningsih. Ibu Nuraeni adalah salah satu perempuan yang merupakan
sahabat baik Sri Ningsih. Dengan mata berkaca-kaca Ibu Nuraeni mulai
menceritakan kisah perjalanan Sri Ningsih di Surakarta. Hingga peristiwa
penghianatan yang dilakukan sahabat mereka yaitu penghianatan yang dilakukan
oleh seorang perempuan yang persis berada di sebalah kiri foto mereka bertiga.
Sri Ningsih, Nuraeni, dan Lastri adalah tiga sahabat yang sangat akrab. Kamana
pun mereka pergi selalu bersama. Hingga peristiwa penghianatan itu terjadi dan
Nuraeni tak pernah mau memaafkan perbuatan Lastri.
Pada
bagian ini, seperti halnya dalam novel Rindu. Tere Liye menggambarkan latar
waktu sesuai dengan sejarah yang terjadi di Indonesia pada saat itu. Peristiwa
penghianatan Lastri yang bersentuhan dengan peristiwa G30SPKI yang terjadi
antara tahun 1965-1966 turut mewarnai kisah dalam novel ini.
Peristiwa penghianatan di Surakarta
menimbulkan luka mendalam di hati Sri Ningsih. Dia pun memutuskan untuk pergi
ke Jakarta. Di sinilah latar cerita bergerak menuju kota metropolitan di awal
tahun 1970an. Zaman menelusuri jejak
masa lalu Sri Ningsih berikutnya di ibu kota.
Pada bagian ini pembaca disuguhkan
jejak sejarah masa lampau yang terjadi di Indonesia. Peristiwa Malari yang
terjadi waktu itu turut mewarnai kesedihan berikutnya yang dialami Sri Ningsih.
Di kota ini Sri Ningsih tumbuh menjadi perempuan yang lebih tangguh dan kuat.
Mengawali bisnisnya dari gerobak dorong hingga memiliki sendiri perusahaan
penyewaan mobil. Peristiwa Malari yang menghancurkan seluruh aset penyewaan
mobil miliknya tidak menyurutkan langkahnya untuk bangkit. Pemikiran bisnisnya
pada saat itu adalah pemikiran yang sangat brilian dari seorang gadis kampung sederhana. Sri Ningsih melakukan ekspansi
bisnis yang luar biasa. Semangatnya menggebu untuk terus berinovasi
mengembangkan bisnisnya. Sikap ulet, tekun, dan pekerja keras begitu
diperlihatkan. Hingga puncak kesuksesannya membangun sebuah perusahaan sabun
mandi yang kala itu masih memiliki sedikit pesaing. Namun, saat bisnis Sri
Ningsih mengalami kemajuan yang sangat pesat, Sri Ningsih justru memutuskan
untuk menjual perusahannya dan menukarnya dengan kepemilikan saham 1%
perusahaan toiletter dunia yang bermarkas di London.
Keputusan Sri yang tiba-tiba
mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Sri Ningsih kemudian memutuskan untuk
meninggalkan Indonesia menuju London di awal tahun 1980an. Jejak-jejak sejarah
kehidupan Sri Ningsih pengarang sampaikan lewat surat-surat yang dikirimkan Sri
Ningsih kepada Nuraini.
Cerita investigasi yang dilakukan
tokoh Zaman pun berlanjut di Kota London dan Paris. Kisah-kisah ketangguhan
tokoh Sri Ningsih pun tergelar. Kisah pertama kali saat Sri tiba di Kota London
dan ditolong oleh keluarga Rajendra Khan hingga kisah percintaannya dengan
Hakan Karim yang begitu mengharukan. Kisah
yang melarutkan emosi pembaca tentang ketegaran seorang Sri Ningsih. Tokoh
Zaman yang gigih menulusuri jejak masa lalu Sri Ningsih akhirnya rampung
mengetahui seluruh kehidupan Sri Ningsih. Pada bagian ini pula klimaks cerita
terjadi saat sebuah firma hukum lain mengaku telah mempunyai ahli waris yang
sah dari kepemilikan harta warisan milik Sri Ningsih. Zaman yang telah
melakukan investigasi hingga ke Indonesia berusaha membuktikan bahwa ahli waris
yang dibawa oleh firma hukum lain itu adalah palsu.
Bagian berikutnya pembaca seolah
disuguhi oleh aksi heroik yang dilakukan tokoh Zaman dalam memperjuangkan
amanat dalam surat wasiat yang berhasil ditemukannya. Sayangnya, di bagian ini
pembaca sangat mudah menebak siapa dalang yang membuat kehidupan Sri begitu
ketakutan dan membuat Sri memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Hingga akhir
cerita pembaca dapat tersenyum karena pengarang mengakhiri ceritanya dengan
bahagia. Tokoh Zaman mampu mengungkap tabir masa lalu Sri Ningsih dan
melaksanakan amanat sesuai surat wasiatnya.
Membaca novel ini mengajarkan banyak
hal. Tokoh Zaman, seorang pemuda asal Indonesia yang muda, tampan, dan sukses, namun tetap memiliki karakter yang mulia. Menjunjung
tinggi nilai-nilai kejujuran dan kebenaran adalah sikap yang bisa diteladani oleh generasi
muda saat ini. Membaca keseluruhan novel ini mengajarkan kita tentang kesabaran, ketegaran,
dan perjuangan hidup yang dialami tokoh Sri Ningsih. Kisah hidupnya yang
mengaduk-aduk emosi pembaca. Menggambarkan ketangguhan seorang perempuan
Indonesia yang berhasil menaklukkan dunia. Kerendahan hati dan jiwa tulusnya
memberikan semangat kepada seluruh perempuan Indonesia untuk bangkit dari
keterpurukan. Membangun dengan karya dan memaksimalkan potensi yang ada.
Kecerdasan berbalut kecantikan batiniah membuat sosok Sri Ningsih mampu
dijadikan teladan. Seperti sosok Kartini semangat juangnya begitu tinggi.
Sungguh novel yang nikmat sekali untuk dibaca.