Senin, 24 April 2017

SELAGI MEMUJI ITU GRATIS..^^

          Pernah baper gak sih klo digombalin? Hihi apalagi klo digombalinnya sama suami tercinta. Norak-norak gimana gitu. Tapi jangan salah, gombalin istri itu bisa jadi suplemen lho....^^

Suatu siang di ruang TV
Ibu                  : Wah..asyik banget tuh si Peppy bisa wisata kuliner sama Dian Sastro...(mengomentari iklan yang lewat). Ibu mah seneng sama Dian. Wajahnya itu khas Indonesia banget.
Ayah               : Emang itu teh siapa? ( tanya ayah menunjuk ke arah Dian Sastro)
Ibu                 : Hmmm...Ayah masa sih gak tahu. Wajah famous gitu kok gk kenal (sahut ibu dengan nada aneh)
Ayah               : Nah...itu tandanya Ayah tidak pernah mengingat wanita lain selain istriku..(candanya gombal)
Ibu                  :Hmmmm...jlebbb...gombal nih ayah (mencubit perut ayah yang buncit)
            Ya kadang rayuan atau gombalan yang dilontarkan pasangan mampu mencairkan suasana. Apalagi yang bentuknya pujian penuh ketulusan. Tentu saja pujian dan rayuan yang sesuai dengan tempatnya. Jangan berlebihan dan keseringan juga, karena nanti tidak lagi spesial alias basi.
            Pujian, sanjungan, candaan, dan kebersamaan dalam keluarga adalah pupuk dan suplemen agar kebahagiaan selalu dirasakan. Rasulullah SAW sebagai suri tauladan umat adalah sebaik-baik panutan dalam memperlakukan istri. Seperti dikutip dari  https://rumaysho.com/8896-pujilah-istrimu.html Lihatlah contoh Nabi kita, beliau memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan. Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak kemerah-merahan.
Dari ‘Aisyah, ia berkata,
دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي
Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An Nasai dalam Al Kubro 5: 307).
Lihatlah bagaimana panggilan sayang tetap melekat pada suri tauladan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jadi bukan kata-kata jelek atau merendahkan yang keluar dari mulut seorang suami.
Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Selain itu Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).
Pujian suami juga bisa menimbulkan dampak psikologis yang luar biasa pada diri sang istri. Dampak psikologis tersebut tentu saja adalah perasaan nyaman, senang, dan bahagia. Dari perasaan gembira yang terpancar dari istri maka akan tumbuh sikap positif, optimis, percaya diri, bahkan sikap terus berkarya. Semangatnya pun akan berlipat-lipat sehingga pekerjaan rumah atau tugas apa pun dapat dilaksanakan dengan baik. Efek psikologis yang luar biasa tersebut berimbas pada bahasa, tutur kata, dan perilaku. Biasanya istri akan lebih lembut dan terpancar posana kasih sayangnya dalam mendidik buah hati maupun dalam membahagiakan suami. Nah…gak mau kan istrinya di rumah marah-marah atau berwajah cemberut yang tidak sedap dipandang? Pujilah dari hal yang kecil. Memuji itu gratis alias tak berbayar. jadi mengapa pelit untuk memuji dan sedikit menggombal jika itu bisa membahagiakan orang yang kita sayangi…^^




Minggu, 23 April 2017

RESENSI NOVEL TENTANG KAMU TERE LIYE

Judul Buku               : Tentang Kamu 
Penulis                       : Tere Liye
Jenis Buku                 : Fiksi
Penerbit                     : Republika
Cetakan IV                : November 2016
Tebal Halaman         : vi+524 halaman

Bismillahirrahmaanirrahiiim
            Alhamdulillah bisa menyelesaikan membaca sebuah novel berikutnya karya Tere Liye yaitu Tentang Kamu. Novel  yang terbit di tahun 2016 ini sama seperti novel-novel  Tere lainnya yang masuk menjadi novel best seller. Tulisan itu sudah terpampang di bagian depan novel dan sudah masuk cetakan keempat. Cover sederhana bergambar sepatu tua berlatar warna coklat yang pudar secara tidak langsung menggabarkan kisah dari masa lalu yang akan dibawakan. Kata-kata bijak khas Tere Liye pun  menghiasi di bagian belakang novel. Menambah rasa penasaran untuk membaca utuh seluruh isinya.
            Novel ini berkisah tentang seorang pemuda yang bernama Zaman Zulkarnaen. Dia adalah seorang pengacara muda asal Indonesia yang bekerja di sebuah firma  hukum ternama Thompson & Co. Perusahaan ini berada di Kota London, tepatnya di Belgrave Square Inggris. Zaman adalah pemuda yang beruntung karena terpilih untuk bekerja di sana. Reputasi Thompson & Co. sebagai fima hukum terpercaya sangat mumpuni bahkan menjadi firma pilihan termasuk bagi para bangsawan kerajaan dan juga orang-orang kaya di seluruh dunia dalam menyelesaikan masalah-masalah harta warisan. 
            Di tahun kedua Zaman bekerja di Firma hukum Thompson &Co., dia mendapat tugas untuk menyelesaikan sebuah kasus penyelesaian harta warisan.  Klien firma hukum tersebut baru saja meninggal dengan meninggalkan harta warisan yang nilainya satu miliar poundsterling atau setara 19 triliun rupiah.  Angka itu cukup membuat Zaman tercengang karena itu berarti angka tersebut cukup besar bahkan bisa mengalahkan kekayaan Ratu Inggris dan keluarganya. Bahkan bisa masuk dalam 100 orang terkaya di Kerajaan Inggris.
            Cerita pun mengalir dengan menghadirkan sosok penting dalam novel ini yaitu SRI  NINGSIH. Perempuan asal Indonesia yang ternyata memiliki harta kekayaan yang tak  terduga. Kematiannya di sebuah panti jompo di Perancis membuat Zaman harus menelusuri kembali jejak masa  lalu  Sri  Ningsih.  Zaman  ditugaskan oleh firma hukum tempatnya bekerja untuk menyelesaikan harta warisan yang ditinggalkan Sri Ningsih. Penelusuran Zaman dimulai dengan petunjuk dari buku harian yang ditinggalkan Sri Ningsih.
            Perjalanan Zaman menguak misteri masa lalu Sri Ningsih kemudian dimulai. Pembaca betul-betul disuguhkan pemaparan latar yang begitu detail dan menarik. Diawali dengan perjalanan Zaman menelusuri kisah hidup Sri Ningsih di Indonesia. Pulau Bungin menjadi salah satu latar tempat pertama yang dikisahkan dari masa lalu Sri Ningsih. Sebuah pulau kecil yang terletak di Sumbawa dan merupakan pulau terpadat di dunia. Berhari-hari Zaman mencari informasi tentang  masa lalu Sri Ningsih di pulau itu. Namun, tak ada orang yang mengetahuinya. Barulah di hari kelima Zaman menemukan titik terang  ketika La Golo-sopir jip yang menemaninya selama di Pulau Bungin mengajaknya menemui Pak Tua.
            Kisah masa lalu Sri Ningsih pun tergelar. Pak Tua yang bernama Ode adalah anak kepala kampung. Dia sangat mengenal siapa Sri Ningsih. Seorang anak yang mendapat julukan “gadis kecil yang dikutuk”. Dahulu, ayah Sri Ningsih adalah seorang pelaut yang tangguh. Pernah bekerja di kapal S.S. Soemba II milik perusahaan Belanda. Namun kapal itu terbakar di perairan Bali . Separuh dari 56 krunya selamat termasuk Nugroho ayah Sri Ningsih. Kemudian, Nugroho menikah dengan gadis kampung bernama Rahayu. Keluarga Nugroho memilih tinggal di Pulau Bungin setelah dikhianati oleh kongsi usaha Tauke. Nugroho memilih menjadi nelayan .
            Kehidupan keluarga Nugroho di Pulau Bungin sangat bahagia. Meski tidak memiliki kapal, kebutuhan mereka terpenuhi. Penduduk pulau pun ramah dan bersahabat. Hingga suatu hari Nugroho memutuskan untuk tidak melaut demi menemani Rahayu yang tengah hamil tua. Nugroho tidak mau peristiwa keguguran yang menimpa  istrinya  sebelumnya terulang kembali. Dia sangat menyayangi istri dan calon bayi yang akan lahir. Namun naas, ketika proses kelahiran bayinya, Rahayu justru tidak terselamatkan. Sejak itulah Sri Ningsih menjadi piatu.
            Kisah di Pulau Bungin begitu melarutkan emosi pembaca. Kesedihan demi kesedihan yang dialami Sri Ningsih pada masa lalunya cukup mengharu-birukan hati pembaca. Apalagi,  setelah  Nugroho ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan Nusi  Maratta. Awalnya, kebahagiaan Sri Ningsih kembali lengkap dengan perilaku dan kasih sayang yang diberikan Nusi Maratta. Setelah adiknya lahir, Sri sangat menyayangi adiknya Tilamutta. Namun, peristiwa naas kembali terjadi. Sebelum hari ulang tahun Sri Ningsih, ayahnya yang berjanji membelikan sepatu pantofel hitam tak jua terlihat kembali tiba di pulau. Kapalnya tak pernah terlihat. Menjelang usia Sembilan tahun, Sri Ningsih lengkap menjadi yatim-piatu.
            Sepeninggal ayahnya, Sri Ningsih mendapat perlakuan yang buruk dari Nusi Maratta. Setiap hari Sri harus membanting tulang untuk mengurusi kebutuhan rumah. Bangun pukul empat pagi dan bekerja seharian. Nusi Maratta sering memukulnya dengan rotan jika Sri pulang dengan tidak membawa uang. Perlakuan buruk Nusi Maratta terhadap Sri Ningsih terjadi bertahun-tahun. Gadis itu sudah tidak lagi sekolah, badannya yang hitam, pendek, dan gempal sering mendapat hinaan dari ibu tirinya. Nusi Maratta sering menghina Sri dengan sebutan “gadis yang dikutuk”. Suatu hari ketika usia Sri Ningsih menginjak 14 tahun. Tubuhnya begitu letih setelah seharian bekerja mencari teripang dan air di pulau seberang. Sri jatuh sakit. Tubuhnya sangat lemah. Kepala kampung yang merupakan ayah Ode meminta kepada Nusi Maratta agar Sri diijinkan dirawat oleh istrinya. Semula, Nusi Maratta menolak,. Namun, karena desakan dari seluruh warga di Pulau tersebut. Sri diijinkan tinggal di rumah kepala kampung. Dua hari lamanya Sri dirawat oleh istri kepala kampung. Hingga peristiwa tak terduga terjadi, Sri Ningsih yang tengah pergi mengunjungi kuburan ibunya tampak tak terlihat. Nusi Maratta yang tengah tertidur lelap tidak menyadari kalau Tilamutta yang saat itu berusia lima tahun tanpa sengaja menjatuhkan lampu templok. Minyak tanah menggenangi lantai, api menyambar cepat. Tilamutta terkejut, dia bergegas mengambil ember menyiram nyala api. Karena takut ketahuan ibunya, Tilamutta lantas segera kembali ke kamar, beranjak pura-pura tidur di samping ibunya yang masih lelap. Seluruh kampung panik, asap mengepul hitam keluar dari rumah panggung milik orang tua Sri. Api besar melahap seluruh isi rumah. Sri Ningsih yang saat itu baru tiba di pulau  terkejut menyaksikan rumahnya dilalap api. Dengan berlari menerobos kobaran api, Sri masuk ke dalam rumah. Berusaha menyelamatkan Nusi Maratta dan Tilamutta. Ayahnya pernah berpesan untuk menjaga adiknya sepeninggalnya dan mematuhi seluruh pesan ibunya. Sri tak mempedulikan kobaran api yang melahap  rumahnya. Ode dan seluruh warga kampung mencegahnya. Namun, Sri tetap masuk dan menyelamatkan adiknya. Nusi Maratta tak terselamatkan, dia meminta Sri untuk membawa Tilamutta keluar dan memohon maaf untuk kesalahan yang telah diperbuatnya.
            Sejak peristiwa itu Guru Bajang yang merupakan gurunya di sekolah dulu menyarankan Sri untuk kembali melanjutkan sekolah di Surakarta. Kota inilah tempat berikutnya yang dikunjungi Zaman untuk menelusuri kisah masa lalu Sri Ningsih. Setelah berpamitan kepada Pak Tua, Zaman mulai membuka buku harian Sri Ningsih berikutnya yang menceritakan kisah masa lalunya di Kota Surakarta. Di kota itulah Sri Ningsih dan adiknya tinggal dan bersekolah.
            Dengan mengendarai pesawat  jet, Zaman tiba di Surakarta. Penelusuran jejak Sri Ningsih di kota ini dimulai. Sebuah pesantren besar dikunjungi oleh Zaman. Dari buku harian Sri Ningsih, Zaman mengeluarkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan Sri Ningsih yang diapit oleh dua orang perempuan. Salah satu perempuan yang ada di foto itu ternyata adalah saksi hidup perjuangan Sri Ningsih. Ibu Nuraeni adalah salah satu perempuan yang merupakan sahabat baik Sri Ningsih. Dengan mata berkaca-kaca Ibu Nuraeni mulai menceritakan kisah perjalanan Sri Ningsih di Surakarta. Hingga peristiwa penghianatan yang dilakukan sahabat mereka yaitu penghianatan yang dilakukan oleh seorang perempuan yang persis berada di sebalah kiri foto mereka bertiga. Sri Ningsih, Nuraeni, dan Lastri adalah tiga sahabat yang sangat akrab. Kamana pun mereka pergi selalu bersama. Hingga peristiwa penghianatan itu terjadi dan Nuraeni tak pernah mau memaafkan perbuatan Lastri.
            Pada bagian ini, seperti halnya dalam novel Rindu. Tere Liye menggambarkan latar waktu sesuai dengan sejarah yang terjadi di Indonesia pada saat itu. Peristiwa penghianatan Lastri yang bersentuhan dengan peristiwa G30SPKI yang terjadi antara tahun 1965-1966 turut mewarnai kisah dalam novel ini.    
           Peristiwa penghianatan di Surakarta menimbulkan luka mendalam di hati Sri Ningsih. Dia pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Di sinilah latar cerita bergerak menuju kota metropolitan di awal tahun 1970an.  Zaman menelusuri jejak masa lalu Sri Ningsih berikutnya di ibu kota.
         Pada bagian ini pembaca disuguhkan jejak sejarah masa lampau yang terjadi di Indonesia. Peristiwa Malari yang terjadi waktu itu turut mewarnai kesedihan berikutnya yang dialami Sri Ningsih. Di kota ini Sri Ningsih tumbuh menjadi perempuan yang lebih tangguh dan kuat. Mengawali bisnisnya dari gerobak dorong hingga memiliki sendiri perusahaan penyewaan mobil. Peristiwa Malari yang menghancurkan seluruh aset penyewaan mobil miliknya tidak menyurutkan langkahnya untuk bangkit. Pemikiran bisnisnya pada saat itu adalah pemikiran yang sangat brilian dari seorang gadis kampung sederhana. Sri Ningsih melakukan ekspansi bisnis yang luar biasa. Semangatnya menggebu untuk terus berinovasi mengembangkan bisnisnya. Sikap ulet, tekun, dan pekerja keras begitu diperlihatkan. Hingga puncak kesuksesannya membangun sebuah perusahaan sabun mandi yang kala itu masih memiliki sedikit pesaing. Namun, saat bisnis Sri Ningsih mengalami kemajuan yang sangat pesat, Sri Ningsih justru memutuskan untuk menjual perusahannya dan menukarnya dengan kepemilikan saham 1% perusahaan toiletter dunia yang bermarkas di London.
    Keputusan Sri yang tiba-tiba mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Sri Ningsih kemudian memutuskan untuk meninggalkan Indonesia menuju London di awal tahun 1980an. Jejak-jejak sejarah kehidupan Sri Ningsih pengarang sampaikan lewat surat-surat yang dikirimkan Sri Ningsih kepada Nuraini.
            Cerita investigasi yang dilakukan tokoh Zaman pun berlanjut di Kota London dan Paris. Kisah-kisah ketangguhan tokoh Sri Ningsih pun tergelar. Kisah pertama kali saat Sri tiba di Kota London dan ditolong oleh keluarga Rajendra Khan hingga kisah percintaannya dengan Hakan Karim yang begitu mengharukan.  Kisah yang melarutkan emosi pembaca tentang ketegaran seorang Sri Ningsih. Tokoh Zaman yang gigih menulusuri jejak masa lalu Sri Ningsih akhirnya rampung mengetahui seluruh kehidupan Sri Ningsih. Pada bagian ini pula klimaks cerita terjadi saat sebuah firma hukum lain mengaku telah mempunyai ahli waris yang sah dari kepemilikan harta warisan milik Sri Ningsih. Zaman yang telah melakukan investigasi hingga ke Indonesia berusaha membuktikan bahwa ahli waris yang dibawa oleh firma hukum lain itu adalah palsu.
          Bagian berikutnya pembaca seolah disuguhi oleh aksi heroik yang dilakukan tokoh Zaman dalam memperjuangkan amanat dalam surat wasiat yang berhasil ditemukannya. Sayangnya, di bagian ini pembaca sangat mudah menebak siapa dalang yang membuat kehidupan Sri begitu ketakutan dan membuat Sri memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Hingga akhir cerita pembaca dapat tersenyum karena pengarang mengakhiri ceritanya dengan bahagia. Tokoh Zaman mampu mengungkap tabir masa lalu Sri Ningsih dan melaksanakan amanat sesuai surat wasiatnya.
          Membaca novel ini mengajarkan banyak hal. Tokoh Zaman, seorang pemuda asal Indonesia yang  muda, tampan, dan sukses, namun  tetap memiliki karakter yang mulia. Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan kebenaran adalah sikap yang bisa diteladani oleh generasi muda saat ini. Membaca keseluruhan novel ini  mengajarkan kita tentang kesabaran, ketegaran, dan perjuangan hidup yang dialami tokoh Sri Ningsih. Kisah hidupnya yang mengaduk-aduk emosi pembaca. Menggambarkan ketangguhan seorang perempuan Indonesia yang berhasil menaklukkan dunia. Kerendahan hati dan jiwa tulusnya memberikan semangat kepada seluruh perempuan Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Membangun dengan karya dan memaksimalkan potensi yang ada. Kecerdasan berbalut kecantikan batiniah membuat sosok Sri Ningsih mampu dijadikan teladan. Seperti sosok Kartini semangat juangnya begitu tinggi. Sungguh novel yang nikmat sekali untuk dibaca.https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v8/f4c/1/16/1f642.png