Pernah baper gak sih klo digombalin?
Hihi apalagi klo digombalinnya sama suami tercinta. Norak-norak gimana gitu.
Tapi jangan salah, gombalin istri itu bisa jadi suplemen lho....^^
Suatu siang di ruang TV
Ibu : Wah..asyik banget tuh si Peppy
bisa wisata kuliner sama Dian Sastro...(mengomentari iklan yang lewat). Ibu mah
seneng sama Dian. Wajahnya itu khas Indonesia banget.
Ayah : Emang itu teh siapa? ( tanya ayah
menunjuk ke arah Dian Sastro)
Ibu :
Hmmm...Ayah masa sih gak tahu. Wajah famous gitu kok gk kenal (sahut ibu dengan
nada aneh)
Ayah :
Nah...itu tandanya Ayah tidak pernah mengingat wanita lain selain istriku..(candanya gombal)
Ibu :Hmmmm...jlebbb...gombal nih ayah
(mencubit perut ayah yang buncit)
Ya kadang rayuan atau gombalan
yang dilontarkan pasangan mampu mencairkan suasana. Apalagi yang bentuknya
pujian penuh ketulusan. Tentu saja pujian dan rayuan yang sesuai dengan
tempatnya. Jangan berlebihan dan keseringan juga, karena nanti tidak lagi spesial
alias basi.
Pujian, sanjungan, candaan, dan
kebersamaan dalam keluarga adalah pupuk dan suplemen agar kebahagiaan selalu
dirasakan. Rasulullah SAW sebagai suri tauladan umat adalah sebaik-baik panutan
dalam memperlakukan istri. Seperti dikutip dari https://rumaysho.com/8896-pujilah-istrimu.html
Lihatlah contoh Nabi kita, beliau memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya
kemerah-merahan. Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak
kemerah-merahan.
Dari
‘Aisyah, ia berkata,
دَخَلَ
الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ
تَنْظُرِي
“Orang-orang
Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang
pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An
Nasai dalam Al Kubro 5: 307).
Lihatlah
bagaimana panggilan sayang tetap melekat pada suri tauladan kita yang mulia,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jadi
bukan kata-kata jelek atau merendahkan yang keluar dari mulut seorang suami.
Dari
Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ
تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ –
وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
“Engkau
memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian
sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul
istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya
(dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Selain itu
Tidak
pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan,
beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai
Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku,
hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang
menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).
Pujian suami juga bisa menimbulkan dampak psikologis
yang luar biasa pada diri sang istri. Dampak psikologis tersebut tentu saja
adalah perasaan nyaman, senang, dan bahagia. Dari perasaan gembira yang
terpancar dari istri maka akan tumbuh sikap positif, optimis, percaya diri,
bahkan sikap terus berkarya. Semangatnya pun akan berlipat-lipat sehingga
pekerjaan rumah atau tugas apa pun dapat dilaksanakan dengan baik. Efek psikologis
yang luar biasa tersebut berimbas pada bahasa, tutur kata, dan perilaku.
Biasanya istri akan lebih lembut dan terpancar posana kasih sayangnya dalam
mendidik buah hati maupun dalam membahagiakan suami. Nah…gak mau kan istrinya
di rumah marah-marah atau berwajah cemberut yang tidak sedap dipandang? Pujilah
dari hal yang kecil. Memuji itu gratis alias tak berbayar. jadi mengapa pelit
untuk memuji dan sedikit menggombal jika itu bisa membahagiakan orang yang kita
sayangi…^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar