Selasa, 27 November 2018

MELIPAT INGATAN

Ada yang diam-diam melipat ingatan
Dalam lemari waktu sepanjang November
Hujan yang jatuh
Menyisihkan tanya
Untuk apa?

Jika rindu menganak sungai
Gorong-gorong tumpah bak air bah
November adalah kenangan
Desember penantian
Dan Januari adalah harapan
Lalu dimanakah pertemuan?

Melipat ingatan sepanjang November
Diiringi hujan siang ini
Mata yang kuyup mencari
Sosokmu...
Sosokmu...






Selasa, 09 Oktober 2018

PELUKKU UNTUK PALU

Ingin kubasuh
walau separuh
Luka-luka yang menganga
pada wajah-wajah duka

Mimpi yang tertimbun
Ribuan, jutaan kehilangan
Mata banjir air mata
Gempa tangis yang kentara

Biar kubasuh walau separuh
Di puing reruntuhan kita berpeluk
Lukamu lukaku
Pagutkan satu

Jumat, 28 September 2018

AKU JUGA OEMAR BAKRI

Masihkah lagu Oemar Bakri terngiang
Dari radio tua Iwan fals berdendang
Entah masihkah ada yang mengenang
Selain tas hitam dan sepeda kumbang

Aku mengemas pikiran
Di meja-meja percakapan
Secawan ilmu  tersaji
Dahaga pun terobati

Langkah pasti para Oemar Bakri
Berderap mengeja hari
Di sudut ruang terlihat anggukan pasti
Tanda ilmu terserap sampai ke hati

Ruang,  dan secawan ilmu yang tersaji
Anggukan para Oemar Bakri
Entahlah Aku hanya masih mengemas hari


#Pandiga, 28 September 2018






Senin, 30 Juli 2018

POTRETKU POTRETMU

Entah masih bisakah kita bercerita
Sementara waktu begitu menikam
Langkah dan derap seperti gasing
Di putaran jari-jari
Potretku potretmu
Adalah cerita nyata
Terbingkai tanpa suara
Diam dalam dunia dan jalan berbeda
Meski selalu ada rindu untuk senja
Dan. . .
Dari jauh jarak tercipta
Tak perlu kau tengok
Potretku potretmu
Adalah gasing di putaran jari-jari





Senin, 02 Juli 2018

ANG TUNI


Sabtu,  30 Juni 2018


Kali ini kutemui kembali senyum itu. Senyum yang selalu mengembang penuh kelembutan. Senyum yang tak pernah kulihat selama kurang lebih 15 tahun. Jarak,  waktu,  dan kesibukan yang memisahkan. Rasa syukur menyeruak,  momen reuni akbar kali ini aku bisa kembali bertemu dengan pemilik senyum tulus itu.

Tuniah namanya. Aku biasa memanggilnya Ang Tuni. Kami satu kelas ketika kuliah. Sama-sama dari Cirebon juga. Hanya perbedaannya,  waktu kuliah Ang Tuni menetap di rumah orang tuanya di Bandung. Sedangkan aku anak kos.

Dulu semasa kuliah, diam-diam aku sangat mengagumi Ang Tuni. Kepribadian dan rasa percaya dirinya kuat, idealis,  dan selalu berpegang teguh pada prinsip. Tergolong mahasiswa yang agamis,  kritis, dan cerdas. Saat diskusi,  pasti Ang Tuni aktif untuk berpendapat.

Kenangan bersama Ang Tuni tak pernah hilang. Sosok yang bersahaja.  Rendah hati,  Sederhana, dan senyum selalu mengembang di wajahnya.  Tutur katanya lembut. Ang Tuni tak pernah menggurui atau merasa paling benar ketika aku mulai tertarik mendalami agama. Dia selalu mau membagi ilmu dengan contoh yang nyata. Baginya,  setiap orang punya prosesnya masing-masing untuk berhijrah. Dan sampai sekarang aku masih salut. Ang Tuni selalu menghargai proses apa pun yang kujalani.

Aku masih ingat ketika dulu kusampaikan niat untuk sungguh-sungguh belajar agama. Ang Tuni hanya tersenyum sambil memelukku. Senyum yang tak pernah aku lupa. Senyum yang menyiratkan bahwa ketika kita sungguh-sungguh untuk niatan mulia maka ujiannya pun luar biasa. Ada keraguan juga dalam diriku saat itu. Apa aku bisa meninggalkan kesenangan dunia? Musik,  teater,  teman-teman main, dan hal-hal konyol lainnya. Lagi-lagi Ang Tuni meyakinkanku bahwa semua beproses.
"Proses Va... Insyaallah  yakin bisa". Tutur Ang Tuni lembut.

Pernah suatu kali ada konser musik di teater terbuka.  Waktu itu sedang hits musik Ska. Tahun 90-an musik ini merajai tangga musik di Indonesia.  Alunan musiknya yang asyik mampu membuat tubuh berjingkrak-jingkrak mengikuti irama. Aku tersenyum geli mengenangnya.  Hari itu aku ada janji dengan Ang Tuni untuk ikut kajian agama. Tapi teman-teman dekatku mengajakku untuk nonton konser musik itu. Rasanya bimbang sekali untuk ikut siapa. Akhirnya aku putuskan untuk nonton konser musik bersama teman-teman mainku.

Di tengah konser dan kerumunan orang banyak aku sungguh resah.  Aku merasa bersalah pada Ang Tuni. Namun tiba-tiba,   di tengah kerumunan orang yang sedang nonton konser musik itu, aku melihat Ang Tuni.  Yakin sekali dia berjalan ke arahku. Aku ternganga.  Ya Allah bagaimana bisa Ang Tuni menemukan aku di tengah kerumunan orang-orang!

Subhanallah... Aku takjub.. Nyaris tak bisa berkata apa-apa. Mukaku merah dan tersenyum malu pada Ang Tuni. Aku tau, aku salah besar telah melupakan janji dan lebih mementingkan keasyikanku saja. Aku berpikir pasti Ang Tuni marah kepadaku.  Tapi di luar dugaan. Lagi-lagi Ang Tuni hanya tersenyum. "Yuk Va.. Kita ngaji... " sahutnya merangkulku.

Jleb... Rasanya malu sekali. Duh Ang Tuni sabar sekali menuntunku untuk benar-benar menemukan ilmu. Ilmu yang justru akan bermanfaat untukku dari sekedar konser musik itu. Dan Ang Tuni tak pernah marah bahkan ketika aku sedang jatuh cinta. Dia hanya selalu mengingatkan. Mengingatkan lewat senyumnya,  bahwa proses yang kujalani tak keluar dari koridornya. Bahwa apa pun yang aku jalani adalah pertanggung jawabanku kepada yang Maha Kuasa.

Hari ini aku bertemu lagi. Dengan pemilik senyum tulus itu. Maafkan ya Ang Tuni jika proses yang aku jalani pun sampai saat ini masih belum sempurna. Masih belum utuh dalam menjalankan syariat agama. Ah... Semoga esok kita bisa bercerita lebih banyak tentang episode hidupku dan Ang Tuni.  Terima kasih untuk semua ilmunya. Jazakillah....semoga Allah selalu memberkahi Ang Tuni sekeluarga... 😊






Sabtu, 23 Juni 2018

SENANDUNG SARVIL

Pagi di Sarvil
Kicau burung bernyanyi
Senandung lagu merdu
Di teras, atap,  pohon-pohon
dan hinggap di kabel listrik depan rumah

Nyaring,  merdu suaranya
Mencicit seperti paduan suara
Sesekali menyesap embun
Atau mencucuk sesuatu dari rumputan
Rejeki dari yang Maha mencukupkan

Hai burung cicit
Semangatmu luar biasa
Menyambut mentari yang perkasa
Melawan dinginnya udara
Tubuhmu riang menari
Di bentangan hari

Persembahan pagi yang menyentuh hati
Ah mata hati...
nikmat mana lagi yang tak kau syukuri...




Senin, 11 Juni 2018

RAMADHAN KAREEM

Duhai kekasih.. Kesedihan kembali hadir
Ketika engkau akan beranjak pergi
Perpisahan denganmu adalah luka
Ketika hati ingin memaksimalkan ibadah
Tapi dunia menyilaukan mataku

Duhai kekasih bilakah kita bertemu
Dibentang rindu 365 hari ke depan
Adakah umur hamba menjemputmu?
Wahai Ramadhan kareem...
Ijinkan kembali memelukmu






Minggu, 13 Mei 2018

MATA AIR MATA

Air mata
Mata air
Mengalir dari hati yang sama
Menetes perlahan basuh luka

Tutur kata
Setajam pedang panglima di medan laga
Ulu hati berdarah
Berdarah...

Di bibir kekasih kata meracau
Meluncur bak serdadu tempur
Amunisiku habis
Di bom waktu

Kini air mata kembali mengalir
Di tengah deru mesiumu....



Jumat, 04 Mei 2018

KAWAN DAN LAWAN

Hari ini jadi kawan
Esok jadi lawan
Lusa bisa sebaliknya

Hati,  pikir,  dan perilaku
Mewujud dalam diri individu
Topeng siapa yang dimainkan?
Lakon dalam dagelan apa?
Tipu muslihatkah?
Semua tampak wajar saja
Karena segumpal darah,  otak, dan gestur
Bisa menipu
Bisa menipu....

Hari ini dekat
Esok berjauhan
Lusa bisa sebaliknya

Hukum alam pun bicara...








Jumat, 27 April 2018

PULANG

Tangis yang pecah
Luka yang tak kentara
Malam bergayut

Larik puisi
Menyusuri gulita
Dada menyesak

Di gerbang ini
Akankah pulang?




Kamis, 26 April 2018

RINDU TETAP PURBA

Untukmu wahai sebongkah hati
Di ruang mana kita bercakap
Leluasa mengurai musim
Rindu tetap mengendap
Begitu purba... Sunyi menikam

Aku mengunyah mimpi di beranda
Mulutku menyembur namamu
Di setiap ingatan
Merah saga
Di kepala

Dan kau tau
Jika malam tiba
Aku memanen mimpi di angkasa
Mengantonginya hingga fajar tiba




Rabu, 25 April 2018

UJIAN KEHIDUPAN

Anakku sayang...
Ini hari terakhir ujian di jenjang akhir sekolahmu
Tapi ini bukan akhir ujian kehidupanmu
Anak tangga berikutnya akan selalu kau temui
Di setiap perjalanan

Nikmati setiap prosesnya,
Duri yang menancap
Kaki yang berdarah
Tetesan peluh
Linangan air mata
Tak usah kau berkeluh

Senyum yang terukir
Dan hati yang berzikir
Baluti syukur dalam hati dan pikir
Insyaallah  Allah telah tetapkan takdir

Hidup dan mati dalam genggaman sang kuasa
Biarlah selalu pasrahkan kepadaNya
Segala yang terbaik
Untuk jiwa yang baik
Tawadhu...
khusyuk....
Di jalanNya
Dengan ridhoNya






Rabu, 14 Maret 2018

SARVIL

Kepakan awal sayap murai
Di titian panjang ke depan
Sarvil...
Inikah mimpi yang mewujud

Murai terbang rendah
Mencicit riuh
Di Serambi rumah
Masih berbenah

TETESAN NASIHAT

Aku mengingat nasihat
seusai sembahyang
Setiap kali kening mengadu
Bersamamu


Kau jadi imam
Dan aku makmumnya
Begitu seharusnya
Selamanya


Teteskan lagi embun nasihatmu
Untuk jiwa yang dahaga
Terlampau letih berjalan
Ke arah pendakian

Teteskan lagi embun nasihatmu
Di antara kening saat sembahyang
Dekap ragaku
Agar aku tak jauh dari Tuhanku...






Selasa, 13 Maret 2018

FATAMORGANA

Rindu seperti kunang-kunang dalam pekat
Berkilau namun tak nampak jelas

Bayangmu pun fatamorgana
Datang dan pergi sesuka hati

Bila rindu tiba
Apa yang kau rasa

Bila waktu memutar
Ingatan mengejar

Di ruang-ruang tunggu kita bertemu
Mencumbu bayang semu


Selasa, 20 Februari 2018

DIPALAYA

Wangi cemara sepanjang jalan
Ditingkahi ilalang yang meninggi
Di sinilah
kisah pernah singgah sebagai rumah kedua

Kicik dan dogi
Anjing tetangga
telah memberi warna
bahwa ada persahabatan yang tetap terjaga

Bagaimana bisa lupa pesonanya
Dipalaya....
Dari atas balkon beratap langit
Aku bisa menatap Bandung
dari utara                              

Senin, 19 Februari 2018

SENJA BERSAMAMU

Terik tenggelam
Di barat pertemuan
Senyum terukir

Lagu syukurku
Iringi syahdu senja
Genggaman tangan

Langkah bersama
Meski gulita datang
Tulusnya jiwa

SEBUAH PINTA

Rintik  masih terdengar
Meski rembulan jauh melenggang
Cemas  yang wajar
Beratus kilometer masih terhampar

Menunggu kekasih
Adalah membiarkan tubuh rebah
Sementara ingatan
Berkelana mencari sandaran

Mata terpejam
Tuhan kutitip ia...

Kamis, 15 Februari 2018

JARAK KITA

Menghitung langkah
Sejengkal, sehasta, sedepa,
bahkan bermilyar jarak  di depan sana
Meteran Tuhan bicara

Kumpulan cerita mengalir
Celoteh waktu
Di riaknya ingatan pun berlompatan
Tentangmu,
Wejanganmu
Dan puisi yang kau selipkan di bawah jendela

Ah... Di angka nol ternyata kita masih berdiri..









Rabu, 14 Februari 2018

JEMARI WAKTU

Entah sejak kapan
jemari berpacu dengan waktu
Menelusur jejak terengah merentang jarak
Nafas yang memburu 
Detak jantung menderu

Jempol berteriak di putaran tujuh
Telunjuk menunjuk jarum jam yang riuh

Dinding waktu
Berkelebat cepat
Bendera putih
Akankah berkibar? 






Rabu, 31 Januari 2018

SPIONASE JILID 1

Di ruang yang katanya terhormat pun mereka saling menguliti
Mengunyah daging dengan  mulut belepotan darah
Tawa yang membahana
Mengejek dengan  puasnya
Kedigdayaan Rahwana
Akan hancur oleh kepongahannya
Dan topeng para bidadari berbulu domba
Mulai terbuka
Yang memudahkan akan dimudahkan
Yang mempersulit akan dipersulit
Hukum alam yang bicara







Senin, 22 Januari 2018

Samudra Terdalammu

Temukan aku di samudra terdalammu
Saat suara hati menggema
Teriakan rindu bila bertemu
Tapi itu hanya didengar angin
Karena perjumpaan adalah wewenang Tuhan
Bilakah ada perjamuan?
Tidak
Karena isyarat mengarungi laut
Hanya dimiliki pelaut tangguh
Yang menebar jala dan jaring
dengan kaki dan tangannya
Pelaut yang percaya
Badai tak menghadangnya
Sedangkan kau
Selamilah dulu samudra terdalammu
Temukan dulu arti hidupmu..






Gitar dan Senandungmu

Aku selalu ingat nasihat-nasihat itu
Meski bertemu
jauh sebelum mataku terbuka
Bahkan dari segelas air
Petuah-petuah itu mengalir
Lalu di sela petikan gitar
Senandung lagu ibu terdengar
Iwan Fals pun menjelma
Gigil tubuhku
betapa aku begitu jauh
Dari ibu,  dari Tuhanku
Senandungkan lagi
Meski gitar telah usang
Termakan waktu

Jumat, 19 Januari 2018

MENUNGGU

Resah bergayut
Jarum waktu melambat
Menanti kabar

Jarak membentang
Pekat Berpayung resah
Pesawat landing







Rabu, 17 Januari 2018

Karena Kau dekat

Aku terlelap dalam mimpi
Tubuhku terbenam hanya terdengar suara igauan
Di selasar kota
Mencari sosokMu
Jalan abadiku
Tertutup tembok
Di kiri kanan jalan
Tak ada wangi rumputan
Saat ku buka mata
Kau begitu dekat

Cerpen "Samiun"

Pagi diselimuti gerimis. Udara dingin menyeruak. Samiun masih terbaring malas di dipan peraduannya. Sesekali bunyi berdenyit dari sudut dipan yang mulai reot termakan usia. Sarung kembali ditarik. Tubuh Samiun semakin meringkuk. Membentuk buntalan. Wajahnya semakin menelungkup. Kabut pagi membenamkannya dalam malas.

"Pak.. Pak.. Koe kok gk malu sama ayam tetangga yang sudah berkokok dari Subuh tadi,  mbok ya bangun.  Rejekimu dipatok ayam terus tiap hari jika kerjamu hanya gelontoran begitu..." Suara Ijah istrinya seperti kaleng yang dilemparkan angin. Samiun berusaha tak  mendengarnya. Semakin istrinya mengomel semakin ia tarik sarung yang melingkar tubuhnya.

Ijah berlalu ketika Samiun tak mempedulikanya. Dengan sigap perempuan paruh baya itu menuang air yang mendidih dari cerek ke dalam termos di  dapur yang mulai mengepul. Kayu-kayu bakar yang ia kumpulkan sehabis dari ladang mampu menghemat biaya hidup untuk membeli gas. Tabung hijau pun tak mampu ia membelinya. Sisa-sisa ranting dan kayu yang biasanya ia gunakan untuk memasak. Namun karena penghujan mulai tiba, Ijah harus pandai-pandai menyimpan sisa-sisa kayu di sudut rumah agar tak basah oleh hujan.

Asap mengepul dari bilik dapur. Udara yang mengembun tiba-tiba pengap. Hangat menyeruak memenuhi ruangan gubuk itu. Gerimis di luar masih terdengar. Tangan Ijah sigap mengganti cerek dengan rebusan singkong.  Biasanya singkong direbus bersama dengan parutan kelapa dan garam. Ijah merebusnya hingga air dalam panci mulai surut.  Paduan singkong dan kelapa yang gurih siap disantap. Hasil kebun kemarin bisa ia pakai untuk sarapan hari ini. Bahkan bisa untuk makan siang dan malam nanti. Jika Ijah tak mampu membeli beras,  hanya itu yang bisa ia suguhkan untuk Samiun suaminya yang pemalas.

Sambil menunggu rebusan singkong,  tangannya meraih sapu. Panci di dapur mengepul.  Ijah membereskan bagian dapur.  Menyapu ubin yang mulai retak dan tak terawat. Sedih hati Ijah menginjaknya. Ingin rasanya ubin yang ia injak bisa seperti rumah-rumah tetangganya yang sudah mengkilap karena terbuat dari keramik. Diusirnya perasaan sedih itu,  dibersihkannya bagian rumah yang memang berdebu. Memasuki kamar,  Samiun masih juga meringkuk. Kali ini seluruh tubuhnya melingkar. Wajahnya semakin terbenam dalam sarung dan bantal. Ijah hanya menarik napas panjang. Kesabaran yang entah sampai kapan.

Wangi kopi mengepul. Aroma wangi yang diseduh dari tangan Ijah yang mulai keriput dan kasar. Sepiring singkong rebus berbalut parutan kelapa telah terhidang di meja ruang tamu sekaligus ruang makan bagi mereka. Ijah kembali melangkah ke dapur. Diambilnya rantang dan mulai dimasukkannya satu per satu singkong rebus ke dalam rantang. Bekal makan siang Ijah di kebun. Bisa seharian ia bekerja di sana. Hanya bekal rebusan singkong itulah yang memberinya tenaga. Perutnya bisa terisi dan ia bisa bekerja. Dengan sigap diambilnya parang dan cangkul. Diletakkannya di depan pintu peralatan tempur yang biasa ia bawa.  Topi caping pun ia kaitkan di lehernya.

"Aku berangkat Pak... Sarapanmu sudah aku siapkan. Ingat Pak.. Rejekimu dipatok ayam kalau kau tak bekerja. " Sahut Ijah pamit pada Samiun yang masih melingkar di dipan kamarnya.

Samiun tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepala dengan malas. Ia Semakin menarik sarung yang melilit tubuhnya.

Sesampainya di kebun, Ijah menyimpan rantang,  cangkul dan parang.  Gerimis sudah  reda sejak ia berangkat dari rumah.  Dipakainya topi caping yang melilit di lehernya. Topi itu mampu melindunginya dari gerimis dan panasnya terik mentari. Dipandanginya kebun seluas 600 meter persegi itu.  Sepertiganya sudah ia tanami singkong,  sepertiga lagi ditanami ubi,  dan sisanya ia gunakan untuk menanam sayuran. Singkong dapat ia panen setiap sembilan bulan sekali. Begitu juga dengan ubi.  Hanya sayuran yang bisa ia panen tiga bulan sekali. Sisa tanah untuk bagian sayuran biasanya ia tanami dengan selada. Bergantian dengan pekcoy atau kadang ia tanami sawi.

 Kebun itu bukan miliknya. Kebaikan Wak Haji Somadlah yang memberikan tanah itu untuk Ijah garap. Wak Haji  Somad adalah satu-satunya keluarga Ijah yang masih tersisa. Masih saudara ibunya. Wak Haji kasihan melihat nasib keluarga Ijah dan Samiun. Sejak peristiwa PHK yang dialami Samiun,  keadaan ekonomi keluarga Ijah semakin terpuruk. Terlebih,  Samiun seperti kehilangan gairah untuk hidup. Setiap hari,  ia hanya melilitkan sarung di dipan miliknya. Bangun dari tempat tidur hanya untuk makan dan mandi. Selebihnya,  kemalasan semakin menderanya.

Ijah menatap tanah milik Wah Haji Somad.
"Hari ini aku akan menyiangi tanaman sayuran. Mudah-mudahan minggu depan selada-selada ini bisa aku panen. " Senyum tergurat dari wajah Ijah. Ada harapan terbersit di sana. Semangatnya kembali menyala di kebun ini. Semangat yang menyembul seperti pohon-pohon singkong yang mulai tumbuh melebihi tubuhnya.

Sepeninggal Ijah ke ladang, Samiun bangkit menuju ruang tamu. Wangi kopi yang mengepul seolah memanggilnya untuk bangun. Dibukanya tudung saji,  sepiring singkong rebus berbalut kelapa yang gurih terhidang di meja. Tangan Samiun mengambilnya. Sambil menikmati sarapan hasil olahan tangan Ijah,  mata Samiun menerawang.  Beginilah setiap harinya.  Tiga tahun telah berlalu,  namun ia masih juga terpuruk dalam kesedihannya. Pemutusan Hubungan Kerja dari pabrik sepatu tempatnya bekerja,  benar-benar membuatnya terpukul. Lelah kaki Samiun membawa map dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk melamar kerja. Lamaran-lamaran itu tak ada yang diterima. Belum ada rekrutmen karyawan baru. Itu alasannya.

Samiun telah berusaha. Itu pikirnya. Berbagai pekerjaan serabutan pun telah dijalaninya. Menjadi tukang parkir,  menjadi kuli angkut di pasar,  bahkan mengojek dengan menyewa motor temannya pernah ia jalani. Namun, lagi-lagi kerasnya kehidupan seolah membuatnya menyerah.

Gajinya sebagai tukang parkir tak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Terlalu kecil karena ia harus berbagi dengan rekan tukang parkir lainnya. Belum lagi untuk biaya sekolah Odi anak satu-satunya. Sudah kelas lima sekarang. Ah bayangan Odi dan Ijah bergantian memenuhi pikirannya.

Apalagi menjadi tukang angkut di pasar. Gajinya tak seberapa. Wajah Odi semakin membayang di pelupuk matanya. Masih terngiang ketika ia mengantar Odi ke Pesantren tempatnya tinggal kini.

"Pak.. Odi ingin tetap sekolah,  biarkan Odi tetap tinggal di pesantren ini. "Sahut Odi ketika Samiun menceritakan tentang PHK yang dialaminya kepada anaknya.

Tak tega Samiun melihat wajah Odi. Ditatapnya pula Ijah  yang saat itu juga menunjukkan wajah berduka.

"Tenang Nak... Odi tetap sekolah di pesantren ini.  Odi jangan khawatir. Emak dan Bapak akan selalu berusaha menyekolahkan Odi sampai lulus SMA nanti." Sahut Ijah mantap. Meski dalam hatinya bergejolak. Dari mana uang untuk ia bisa menyekolahkan Odi sampai tamat SMA nanti.

Samiun hanya menatap Ijah kosong. Namun,  sorot mata wanita itu begitu optimis. Seolah tak ingin ditunjukkannya gurat kesedihan pada anaknya. Samiun tersenyum pada Odi. Ia pun tak ingin kesedihannya menggayut pada Odi anaknya.

"Odi semangat belajar di pesantren ini ya.  Emak dan Bapak akan cari uang yang banyak agar Odi tetap bisa sekolah. " Sahut Samiun mendekap Odi.

Sedih hati Samiun mengingatnya. Mengingat terakhir kali ia bertemu Odi. Pancaran anak itu menyiratkan semangat yang menyala.  Berkali Samiun membongkar lemari miliknya. Mencari selembar ijazah  SDnya yang mungkin berguna. Namun,  usahanya melamar pekerjaan tetap sia-sia.

Masih ia ingat juga air mata ijah meleleh haru. Melihat perjuangan Samiun bolak-balik mencari pekerjaan. Tiga tahun waktu berjalan tak semudah yang dibayangkan. Penghasilan Samiun yang pasa-pasan kerap membuat dia begitu emosian. Setiap hari ada saja yang dikeluhkanya. Uang setoran parkir yang ditilep temannya,  atau hal lainnya. Emosi Samiun tak terkendali. Sering ia mengumpat dengan kata-kata kasar. Menyalahkan keadaan yang semakin tak berpihak padanya. Ijah kadang harus tutup telinga mendengar ocehannya.

Diam-diam tanpa sepengetahuan Samiun,  Ijah mulai mencari penghasilan tambahan. Odi anaknya harus tetap sekolah pikirnya.  Biarlah Odi tenang di pesantren sana. Odi tak perlu memikirkan bagaimana emak dan bapaknya pontang-panting mencari kerja. Ijah pun mulai menjadi buruh cuci. Berkeliling pada tetangga terdekat. Lumayan upahnya bisa ia pakai untuk makan sehari-hari.

Wak Haji Somad yang melihat pekerjaan Ijah merasa prihatin. Dipanggilnya perempuan paruh baya itu ke rumahnya. Istri Wak Haji Somad hanya mengangguk ketika Wak  Haji Somad meminta agar Ijah menggarap tanah miliknya. Hasil panen kebun itu,  menjadi hak Ijah sebagai penggarapnya. Wak Haji Somad dan istrinya pun membantu biaya sekolah Odi dengan mengirimkan uang bulanan dan kebutuhannya.

Kebaikan Wak Haji Somad ternyata ditafsirkan lain oleh Samiun. Dia mengganggap harga dirinya sebagai laki-laki telah terinjak-injak. Dia merasa semakin tak berguna.

"Bagaimana bisa,  kau terima tawaran Wak Haji  Somad Ijah...? Kau ingin menginjak-injak harga diri suamimu ini? Kau ingin mempermalukan aku hah?!" Teriak Samiun ketika mendengar Ijah menerima bantuan Wak Haji Somad.

"Tapi Pak.. Aku tak punya pilihan lain. Odi butuh uang untuk sekolah dan makan. Dan kita butuh biaya makan sehari-hati. Darimana kita dapat uang kalau kita menolak tawaran Wak Haji Somad Pak..? " Tangis Ijah pecah malam itu. Tak menyangka Samiun begitu keras menolak kebaikan Wak  Haji Somad.

Sejak itu tabiat Samiun benar-benar berubah. Sikapnya menjadi pemalas dan tidak memiliki gairah hidup.  Ijah hanya mengurut dada sambil terus memupuk kesabarannya. Kesabaran seorang perempuan yang terkungkung keadaan.

Wak Haji Somad yang melihat perilaku Samiun,  hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Entah berpuluh nasihatnya seperti tak pernah mempan menyentuh hati Samiun. "Benar-benar kepala batu.. " umpat Wak Somad suatu kali.

Hati Ijah pedih mengingat kejadian itu. Hidup yang ia jalani sekeras tanah yang ia cangkul. Peluh menetes, matahari mulai berada hampir di atas ubun-ubun. Sisa tanah yang ia garap hari ini masih setengahnya lagi. Setelah menyiangi tanaman sayuran, sisa tenaganya ia pakai untuk mencangkul bagian yang akan ia tanami ubi.

Telinga Ijah tersentak ketika ia mendengar suara cidukan cangkul.
"Sruk.. Srukk... " suara seseorang sedang mencangkul kian terdengar jelas. Perlahan dibukanya topi caping yang menutupi pandangannya. Mata Ijah terbelalak. Tak menyangka dengan adegan yang dilihatnya. Berkali ia usap mata dengan tangan bersarung tanah.  Lelaki yang dilihatnya tak asing lagi. Namun yang dilakukan lelaki itu membuat Ijah terpana.

"Pak....? " Suara Ijah tergugu. Matanya meleleh haru. Refleks kakinya berlari menghampiri lelaki yang telah lebih dari dua belas tahun menemaninya. Lelaki yang tiba-tiba ada di dekatnya, memegang cangkul di tangannya.

Ijah tak kuasa menahan haru. Dipeluknya lelaki itu. Kali ini ia rasakan kembali semangat yang menyala dari degup jantung Samiun. Semangat yang tiga tahun ini tertutup kabut kemalasan.

"Maafkan aku Ijah... Membiarkanmu berjuang sendiri. Maafkan kesalahan suamimu ini. Sungguh aku ingin sekali menebus semua dosa-dosaku kepadamu. " Suara Samiun begitu lirih seolah angin meniupkan kedamaian di antara terik mentari.

Mata Ijah berkaca-kaca. Tak kuasa menahan bulir bening yang jatuh perlahan membasahi pipinya.  Seolah hujan turut membasahi tanah kebun yang ia pijak. Ijah mengangguk,  tak kuasa menjawab perkataan Samiun. Baginya, ucapan Samiun hari ini mampu menghapus kemarau panjang hatinya.

"Ini surat dari Odi.  Wak Haji memberikannya tadi setelah kau berangkat ke kebun. Odi sakit Ijah. Aku sedih membacanya. Besok kita tengok Odi di Pesantren." Samiun menyerahkan secarik kertas pada Ijah. Perempuan itu menerima surat dari anak yang dicintainya. Odi,  wajahnya membayang di pelupuk mata Ijah. Tak sabar ia membuka secarik kertas itu. Ada rasa haru meretas di hatinya. Dipeluknya erat surat dari Odi. Doa-doa membaur untuknya. Untuk putra tercintanya.

Ditatapnya Samiun. Senyum tersingging di bibir Ijah.
"Esok kita jemput Odi pulang ya Pak.... "













Rabu, 03 Januari 2018

REFLEKSI TANGGA KELIMA BELAS

Alhamdulillah... 15 tahun sudah usia pernikahan saya dan suami. Ini hanya secuil perjalanan yang kalau dibandingkan dengan pernikahan orang-orang tua kita dulu, rasanya belum seberapa. Takzim rasanya melihat orang-orang tua dahulu merawat pernikahannya hingga maut  memisahkan. Sepenggal doa mudah-mudahan kita semua senantiasa dilimpahi berkah sakinah mawaddah wa rahmah. Sebuah pernikahan yang dirahmati Allah selalu.

Lima belas tahun hidup bersama tentu manis asamnya hidup mulai terasa. Warna-warni kehidupan silih berganti.  Ada suka-duka, tawa dan derai air mata. Semua disyukuri sebagai bagian dari kasih sayang illahi. Menempa agar diri lebih baik dan lebih baik lagi. Kebersamaan dengan cita-cita bersama adalah kebahagiaan yang tak bisa terukur dengan jari. Cita-cita bersama tak hanya di dunia tapi bersama-sama menuju ridho dan syurgaNya Allah. Cita-cita yang membuat kita tetap kokoh untuk saling menguatkan.

Lima belas tahun rasanya bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal pasangan. Segala kebiasaan yang baik atau buruk sudah menjadi bagian yang saling mengisi. Istri adalah pakaian suami, begitu pula sebaliknya. Saling menjaga kehormatan pasangan. Tak ada pasangan yang sempurna,  tugas kitalah menyempurnakannya.

Lalu pernah cemburukah selama 15 tahun ini?  Jangankan cemburu perasaan marah, kesal,  yang terucap maupun tidak pastinya ada. Dari yang berupa omelan sampai diam tanpa kata. Apalagi cemburu yang merupakan sifat insani bagi siapa pun pecinta. Pasti setiap dari kita merasakannya.  Cemburu juga menjadi satu indikator bahwa cinta masih bertahta. Hehehe..

Nah... Karena manusiawi sifatnya cemburu juga sama dengan bentuk emosi yang lainnya seperti marah,  senang,  dan sedih. Setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam melampiaskan atau mengekspresikannya.  Ada yang meluap menjadi bentuk kemarahan, ada yang malah memendamnya dalam hati hingga sesak nafas mungkin,  atau malah menjadi stress sehingga paranoid takut kehilangan pasangan kemudian malah bersikap posesif.  Duh.. Duh.. Kasian ya kalau sampai gara-gara cemburu dengan pasangan malah membuat stress dan merusak diri sendiri.

Lalu bagaimanakah agar hati kita damai dari rasa cemburu?  Ingat ya cemburu itu dekat dengan nafsu dan amarah maka kontrol dalam diri sangat dibutuhkan untuk meredamnya. Cemburu yang manusiawi tadi jangan sampai ditafsirkan menjadi sebuah ketakutan. Pasangan mau kerja,  takut berpaling hati.  Pasangan mau pergi kemana pun selalu dibuntuti,  dan diintai lewat perangkat komunikasi. Yah.. Sepertinya sangat menyiksa diri dan tentu saja menyiksa pasangan. Kebayang ya rasa tidak percaya yang menghantui itu justru malah jadi boomerang bagi kenyamanan rumah tangga.

Berikut tips sederhana sekaligus pengingat diri agar mampu mengendalikan segala emosi,  baik sedih,  senang,  bahkan cemburu sekalipun:

1. Pasrahkan segala sesuatu kepada Allah SWT sang penggenggam alam semesta.

Titipkan segala sesuatu yang kita miliki kepada Allah. Termasuk pasangan dan orang-orang yang kita cintai. Mereka hanya titipan dari Allah. Tugas kita menjaganya bukan mengekangnya. Memberikan ruang positif sesuai jalurnya. Selebihnya biarlah Allah yang menjaganya.

2. Memberikan kepercayaan untuk selalu menjaga komitmen bersama.

Kepercayaan itu ibarat magnet yang menggerakkan seseorang untuk yakin pada dirinya sendiri. Yakin bahwa dia mampu menjaga kepercayaan pasangannya. Aura positif akan terpancar saat kita bisa memberikan kepercayaan pada pasangan. Insyaallah  aura positif itu akan menjadi penyemangat bagi pasangan pun ketika rintangan,  ujian,  dan godaan menghadang.

3. Menjaga komunikasi dengan penuh cinta.

Komunikasi itu ibarat bumbu dalam masakan. Paduan yang mampu melengkapi hubungan dengan pasangan menjadi lebih harmonis lagi. Komunikasi ini penting.  Kita bisa melakukannya dengan sederhana seperti candaan ringan bukan berupa ancaman dan segala bentuk ketakutan. Isi juga setiap hari dengan pesan-pesan mesra kepada pasangan agar keharmonisan tetap terjaga.

4. Gunakan media sosial dengan bijak.

Tak terhitung berapa banyak pasangan yang harus berpisah gara-gara hal sepele di media sosial. Bijak bermedia sosial bisa juga diartikan mampu menjaga diri dari pergaulan di dunia maya. Terkadang godaan dan ujian justru datang saat kita tidak bisa menggunakan media sosial dengan bijak. Banyak sekali trik yang bisa kita pakai untuk menangkal godaan di dunia maya,  misalnya memasang  foto profil dengan pasangan atau  dengan foto-foto keluarga. Insyaallah  orang ketiga tidak akan mudah masuk dalam kehidupan kita.

5. Menjaga Hati dan Pikiran.

Raga  ada tapi hati tak ada. Ini yang bahaya. Jangan sampai hati dan pikiran kita keluar dari koridornya. Ingat keluarga,  ingat pasangan yang berjuang mencari nafkah atau ingat istri yang rela banting tulang di rumah. Kalau ini terjadi perbanyak istigfar dan dekatkan diri pada Allah.

6. Sering-seringlah bertukar pikiran dan meluangkan waktu bersama.

Membiasakan untuk menyelesaikan  berbagai masalah bersama,  dapat menjadi hubungan dengan pasangan semakin kokoh. Bertukar pikiran dan sharing berbagai hal mampu membuat pikiran menjadi lebih terbuka. Masalah anak,  urusan rumah tangga,  bahkan masalah lainnya dapat dibicarakan dengan pasangan secara terbuka. Dengan demikian,  setiap ada masalah pemecahannya tidak dari satu sisi saja. Luangkanlah juga waktu luang untuk keluarga. Refreshing yang murah meriah di akhir pekan bisa menjadi solusinya.

7. Keterbukaan dan saling mengingatkan

Tidak ada hal yang perlu disembunyikan dari pasangan. Semakin kita menyembunyikan suatu masalah maka semakin menambah kecurigaan pasangan. Terbuka dan saling mengingatkan jika pasangan melakukan kekhilafan sekaligus memaafkan. Bukankah Allah saja maha mengampuni hambaNya yang sungguh-sungguh bertaubat.. 😊

8. Menjaga penampilan di depan pasangan

Penampilan cantik atau tampan itu tidak harus mengeluarkan budget yang besar. Tak perlu harus membeli barang-barang mahal untuk tampil wah di depan pasangan. Menjaga penampilan bisa dengan cara sederhana namun tetap menarik dan elegan. Untuk para istri bisa dengan melakukan perawatan murah meriah dari rumah. Lulur bisa kita pakai dari paduan beras kencur. Masker wajah bisa kita manfaatkan bengkoang dan tomat. Banyak sekali bahan tradisional yang bisa kita pakai juga untuk perawatan tubuh. Selain menjaga penampilan,  kebersihan diri, berpakaian santun dan enak dipandang suami juga penting. Yang lebih utama lagi tentu saja adalah menjaga kecantikan rohani.

9. Tangung jawab dengan  melakukan tugas sebaik-baiknya untuk keluarga.

Setiap dari kita memiliki fitrahnya masing-masing. Menjalankan peran sesuai dengan fitrahNya adalah sebuah keharusan. Fitrah seorang suami sebagai pemimpin sekaligus pengayom keluarga. Figur yang mampu menjadi imam dan teladan bagi keluarganya. Begitu pula fitrah seorang istri. Mengabdi dan melayani suami sekaligus pula sebagai madrasah pertama  bagi anak-anaknya. Peran yang saling melengkapi dan bersinergi demi tumbuhnya generasi-generasi yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Generasi-generasi yang mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Tak ada yang lebih indah dari perhiasan dunia selain diberikan pasangan, anak-anak yang sholeh atau sholehah dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Siapalah diri kita tanpa pertolongan  dari Allah SWT.  Hanya bisa berpasrah dan berdoa pada setiap ketentuanNya. Mohon perlindungan untuk kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya setiap dari kita adalah lemah di hadapan kuasaNya. Memohon Ya Rabb... KebaikanMu, perlindunganMu untuk kami sekeluarga. Jadikanlah ujung setiap perbuatan kami khusnul khotimah ya Rabb... Kembali berkumpul di syurgaMu nanti dengan orang-orang yang kami cintai. Aamiin....