Minggu, 18 Oktober 2020

DELAPAN BULAN BERSAMA KISTA

Bismillah....

Apa yang terpikir di benak Sahabat Qiva  tentang kista? Ya kista adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh benjolan berbentuk kapsul atau kantung dan terisi cairan, semisolid, atau material gas, yang dapat muncul pada jaringan tubuh kapan saja. Ukurannya bisa bervariasi , mulai dari sangat kecil (mikroskopik) hingga sangat besar. Benjolan yang berukuran besar bisa mengimpit organ dalam yang berada di dekatnya.

Kista bisa terjadi pada siapa pun, di usia berapa pun tanpa pandang bulu. Saya pribadi agak terkejut dan sedih pastinya  ketika dokter memvonis bahwa di bagian sebelah kanan rahim terdapat miom. Begitu pula sebelah kiri terdapat kista. Dua hal yang terjadi bersamaan, meski keduanya memiliki status berbeda. 

Awal Januari 2020 mulai terjadi gejala yang tidak biasa. Perut kanan bagian bawah selalu terasa sakit. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk. Dari hari ke hari rasa sakit itu makin terasa. Namun karena aktivitas yang padat kadangkala rasa sakit itu sering diabaikan dan menganggap itu hanya sakit magh biasa. Begitu pula perubahan siklus datang bulan yang mulai tidak teratur. Yang biasanya hanya 4-5 hari. Berubah lebih panjang menjadi 10-15 hari. Kondisi fisik pun gampang sekali merasa lelah. Linu pada persendian dan kadang sering disertai demam. Kalau sudah begitu obat pereda biasanya saya pakai Sanmol karena menganggap itu gejala mau flu atau sakit biasa. Selebihnya dibawa istirahat dan makan dengan nutrisi yang cukup. Esoknya pulih seperti biasa.

Karena rasa sakit di perut sebelah kanan dan kiri semakin sering terjadi, saya pun memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dokter mengatakan ada kista ovarium di sebelah kiri. Ukurannya masih kecil hanya 2,4 cm dan Miom di sebelah kanan dengan ukuran 3,2 cm. Takut, sedih, cemas itu pasti ada. Takut karena mendengar kata kista dan miom itu seolah identik dengan kanker. Walaupun tidak semua benjolan seperti kista dan miom seberbahaya kanker. Sedih pastinya karena tidak menyangka bisa mengalami, dan cemas jika benjolan itu semakin membesar atau bahkan harus diambil tindakan operasi. Tapi sebagai seorang muslim yang percaya terhadap takdir Allah rasanya wajib saya tepis segala ketakutan, kesedihan, dan kecemasan yang ada.

Dokter memberikan obat penetral hormon, pereda nyeri, dan Visanne. Visanne adalah salah satu obat yang wajib saya konsumsi selama tiga bulan. Fungsinya untuk menghambat pertumbuhan kista dan miomnya. Harganya lumayan mahal sekitar 700rb satu box dengan isi 28 pil. Saya coba ikuti anjuran dokter untuk meminum obat tersebut  selama tiga bulan.

Selama masa pengobatan itu dokter menyarankan saya betul-betul harus menjaga pola makan. Tidak memakan makanan yang berprotein tinggi. Tidak memakan makanan pedas, berpengawet, instan, berMSG, dan tentu saja makanan berlemak. Tiga hari awal saya betul-betul melakukan diet ketat. Hanya makan buah dan sayur. Untuk karbohidrat, saya ganti nasi dengan umbi-umbian. Alhasil di hari keempat badan terasa lemas karena tubuh masih membutuhkan sumber energi dari nasi. Alhamdulillah di saat kondisi tersebut, saya banyak berkonsultasi dengan beberapa teman yang juga pernah mengalami kista. Salah satunya menghubungi Atik Kurnia, sahabat yang selalu jadi teman curhat dan konsultasi tentang makanan. Tiap mau makan tak segan untuk bertanya makanan ini, makanan itu boleh dikonsumsi atau tidak. Makasih ya Tik, sharingnya dan nasi boleh tetap dikonsumsi karena dengan aktivitas yang padat tubuh tetap membutuhkan sumber energi. Selebihnya daging dan ayam diganti dengan ikan. Itu pun biasanya dipepes bukan digoreng. Pokoknya tiga bulan awal itu betul-betul peralihan pola makan. Yang biasanya sarapan dengan bala-bala dkk, ya terpakasa harus dialihkan ke buah.

Apakah pola dietnya betul-betul dijalankan 100%? Jawabannya tidak 100% karena tetap ada saja masa ketika tidak bisa menghindari ajakan teman untuk makan baso atau makanan yang kadang gak tahan untuk memakannya. Kalau sudah begitu langsung menelepon sahabatku Atik Kurnia, dan dengan bijaknya mengatakan "Boleh sesekali asal jangan terlalu sering..." hehe sahutnya.

Alhamdulillahnya, selama tiga bulan itu, rasa sakit di perut bagian bawah mulai berkurang. Namun siklus haid masih belum teratur. Di Bulan April saat bulan puasa, hutang puasa bertambah jadi 15 hari akibat panjangnya siklus haid. Karena masih terdapat keluhan haid yang tidak teratur, akhirnya di bulan Mei saat paket pertama pengobatan tiga bulan awal berakhir, saya kembali mendatangi dokter. Hasil USG menyatakan bahwa kista di sebelah kiri masih ada, pun miom di sebelah kanan. Deg....sedih pastinya. Namun sekali lagi pasrah kepada ketentuan Allah. Berpasrah bahwa Allah yang Maha menyembuhkan. Suuport penuh dari suami dan keluarga turut menyemangati diri. Apalagi saat nama saya disebut dalam doa-doa suami usai sholatnya. Bismillah keinginan sembuh karena Allah. Sembuh agar tetap bisa menjalankan segala aktivitas dan peran apa pun sebagai jalan ibadah.

Dari hasil pemeriksaan dokter di bulan Mei, saya mendapatkan obat penetral hormon, pereda nyeri, dan obat lain yang berfungsi menghentikan pendarahan. Obat Visanne tetap dokter anjurkan untuk tiga bulan berikutnya. Rutin saya konsumsi sebelum tidur sebanyak dua buah pil. Saya pun mengikuti anjuran dokter. Kembali melakukan diet ketat makanan meski sesekali tetap tidak bisa menahan diri untuk makan gorengan. 

Pasca pengobatan, ada keinginan dalam hati untuk beralih ke pengobatan herbal. Apalagi masa pengobatan dari dokter sudah hampir mendekati enam bulan. Sahabatku Atik merekomendasikan produk HNI untuk penyembuhan kista dan miom. Satu paket pengobatan dari HNI berisi Mustika Dara, Gamat, Carnocap, Harumi, dan Madu. Akhirnya setelah genap enam bulan masa pengobatan dari dokter, saya pun beralih mengkonsumsi obat herbal untuk menyembuhkan kista dan miom. Alhamdulillah setelah minum obat-obat herbal itu, badan terasa lebih fit. Perut terasa adem dan sudah tidak merasakan nyeri perut di bagian kiri. Siklus haid pun teratur.

Dua paket sudah saya habiskan untuk menyembuhkan kista dan miom. Di bulan Oktober ini Biiidznillah saat saya kembali konsul ke dokter kandungan, Alhamdulillah kista dan miom saya sudah tidak ada. Rahim saya bersih dan dokter menyatakan bahwa kondisi saya baik-baik saja dan hasil USG menyatakan semua normal. Bersyukur ya Rabb....delapan bulan akhirnya terlewati dengan baik. Meskipun tetap PR terbesar tidak boleh terlena dan tetap harus menjaga pola makan dan olahraga teratur. Tidak boleh stress dan harus betul-betul menjaga kondisi tubuh. Alhamdulillah atas semua nikmat karunia dan sehatMu yang berharga ya Rabb...tetap berdoa semoga kita semua senantiasa mendapat perlindungan dan kesehatan selalu. Aamiin yaa rabbal alamiin..











Rabu, 27 Mei 2020

KISAH MIO (3)


Punya benda kesayangan? Pasti setiap orang punya benda atau sesuatu yang kadang tak terpisahkan. Sudah seperti soulmate. Selalu nempel kemana pun pergi. Nah, si Mio ini juga begitu. Sudah 14 tahun mendampingi. Selalu ikut kemana pun pergi. Selalu bersama saat suka maupun duka. Mio ini adalah saksi hidup perjalanan.

Ada kisah sedih dulu waktu pertama beli si Mio ini. Suami sengaja belikan Mio ini karena kasihan istrinya harus mengajar ke tempat yang jaraknya kurang lebih 8 km. Iya posisi waktu itu tinggal di Kota Bandung dan harus mengajar di Kota Cimahi. Tiap hari bolak-balik luar kota. Harus naik dua kali angkot. Kalau berangkat ngajar, bisa bareng sama suami. Pulangnya baru naik angkot yang jarak tempuhnya kurang lebih satu jam. Yang bikin harus banyak bersabar juga karena angkot Cimahi-Ledeng itu nunggunya lama banget. Alias jarang ada. Bisa sejam sekali lewatnya. Belum lagi macet jalur Setiabudi kalau siang hari. Berkali juga ingin mundur dari mengajar karena jauhnya perjalanan. Tapi Alhamdulillah semua dijalani dengan niat ibadah. Suami pun mendorong untuk naik motor saja. Bisa motong jalan, jarak dan waktu tempuh lebih singkat. Hanya 20 menit perjalanan kalau mengendarai motor.

Aslinya dulu saya gak bisa naik motor. Apalagi lihat jalanan Bandung yang super ramai. Ngeri aja yang ada dan naik angkot tetap jadi pilihannya. Suami yang selalu mendorong untuk saya mau belajar. Gak mungkin kan kita terus mengandalkan suami. Mau kemana-mana harus nunggu suami dulu. Ke supermarket nunggu suami, ke pasar nunggu suami. Wah ribet juga ya. Akhirnya mulailah muncul keberanian untuk mau belajar naik motor. Menembus jalanan Bandung yang super ramai meskipun dengan jantung yang deg-degan. Notes saya yang sampai saat ini selalu diingat adalah Keberanian muncul karena adanya kebutuhan๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Pernah jatuh dari motor? Wah sudah gak kehitung selama 14 tahun itu berapa kali jatuh dari motor. Alhamdulillahnya Allah selalu melindungi. Belum pernah ngalamin kecelakaan yang harus tabrakan dengan kendaraan lain. Naudzubillah. Paling jatuh karena kelalaian tunggal. Contoh waktu pertama belajar, gak bisa ngukur kadar gas kalau mau nanjak. Alhasil nyungsep olangan๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Apalagi tempat saya mengajar itu pintu masuknya harus nanjak. Kenang-kenangan jatuh pertama ya di situ. Di sekolah tempat mengajar. Suara gubraaak terdengar pagi-pagi disertai rintihan nahan sakit. ๐Ÿ˜ญ

Dari peristiwa jatuh pertama itu jadi belajar. Oh kalau nanjak gasnya segitu. Oh kalau turun yang dipegang rem dua-duanya. Dulu pernah yang dipegang hanya rem kanan. Alhasil si sayah nyungsep juga. Banyak kisah dengan si Mio yang saya tuangkan juga dalam curcol-curcol ringan di blog pribadi. Buat kenang-kenangan aja. Terus kalau baca lagi suka seseurian olangan๐Ÿ˜…

Si Mio jugalah yang selalu mengantar anak saya ke sekolah. Dari TK sampai sekarang kelas dua SMA, Si Mio inilah yang selalu menemani. Kaka Rifqah sayang, banyak kisah ya Ka yang kita lalui bersama di atas si Mio ini. Celoteh sepanjang perjalanan sepulang sekolah. Ingat saat si Mio kehabisan bensin, tepat di lampu merah Jalan Cihampelas. Ya Allah itu kenangan yang tak terlupakan ya Ka๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Mio jarang sekali rewel. Perawatannya sangat mudah. Asal betul-betul disiplin dengan jadwal servisnya. Minimal tiga bulan sekali Mio memang harus diservis. Rutin menyervisnya membuat tenaganya masih cukup bagus meski sudah 14 tahun. Cuma fisiknya saja yang sudah tidak semulus dulu. Banyak baret bekas jatuh dan spionnya tinggal satu๐Ÿ˜

Hari ini kami melepasmu pergi. Terkadang  memang harus siap untuk melepas apa pun yang kita sayangi. Mio salah satunya. Benda yang tidak hanya sekedar benda. Semakin kita berat untuk melepaskan, semakin itu bukan pilihan yang terbaik. Notesnya, Ketika kita menyayangi, maka kita pun harus siap ketika melepaskan.

Tulisan ini semoga akan selalu jadi kenangan tentang kebersamaan, keikhlasan, perjuangan, dan cinta kasih.

Love u n miss u so much Mio. Semoga pemilikmu yang baru menyayangimu selalu.๐Ÿ™

Jumat, 08 Mei 2020

GADUH

Suara-suara gaduh terdengar
Lewat cerobong asap pabrik
menangkap suara ratap yang terbungkam

Suara-suara gaduh terdengar
dari karyawan toko dan pedagang keliling
memangkas rejeki yang mulai mengering

Suara-suara gaduh siswa dan guru
dari bilik sekolah
antara kuota dan beras menjadi teramat penting

Suara-suara gaduh terdengar 
dari perut orang-orang yang lapar
Sirine kian nyaring
Sudut duka terbaring



SUNYI

Sunyi adalah saat malam tanpa puisi yang biasa kudengar lewat syair-syair kalamMu
Sunyi saat percakapan tak lagi ada sementara riuh raga berceloteh senandungkan asmaMu

Sunyi adalah saat kontemplasi diri
Bersimpuh menghadapMu
dan air mata pecah
di altar perjamuan kita

Di sepertiga malam, sunyiku kian menikam
Saat bibir kelu mengeja larik suciMu
Masih pantaskah?Cukup waktukah?
Diri dalam balutan alpa
Mengais jejak kebaikan yang tersisa.. 






Selasa, 28 April 2020

DI RUANGAN INI

Di ruang ini kita selalu bertemu
mengurai musim satu persatu
Rindu terbungkus tawa
Meski semu adanya

Di ruangan ini kita kembali bertemu
Dalam gelak tawa riang 
Bercakap tentang impian yang tertunda
Saat kubuka mata
Kau tak ada

Di ruangan ini kita kembali bertemu
Rinduku masih selalu sama
Dan cinta tak pernah reda
Untuk orang yang sama.

Kamis, 02 April 2020

BATAS KEMATIAN

Batas kematian begitu dekat
Di antara deru napas orang-orang di jalanan
Menjaga jarak seolah raga akan lepas
Sementara ragaku, jiwaku pun berjuang
Hidup dan kehidupan makin tipis saja
Dibalut angan-angan
Dan tawa riang dalam kesemuan
Dari jendela kamar langit kian dekat
Menjulurkan lengannya merengkuh kapan saja
Bukan kehilangan yang kutakutkan
Karena yang hilang akan mudah tergantikan
Tapi kematian yang begitu dekat 
Kian nyata
Sementara bekal belum cukup apa-apa

Selasa, 11 Februari 2020

CAMPAK, TUGAS MENGAJAR, DAN OEMAH QIVA

Qodarullah, begitulah saat manusia hanya berencana, Allah menentukan. Niat banget jauh-jauh hari untuk menjaga kesehatan. Tapi kalau Allah tentukan sakit, kita bisa apa. Terlebih, di musim penghujan ini. Saat tiap hari sepulang sekolah, Alhamdulillah kehujanan. Cuaca memang bukan alasan utama. Lebih introspeksi, bahwa tubuh kita punya imunitasnya sendiri.

Jumat, empat hari yang lalu sebetulnya gejalanya sudah terasa. Kepala berat, badan demam. Tapi karena rutinitas dan kesibukan yang lebih padat, semua seperti gak dirasa. Cukup minum sanmol dan istirahat yang cukup. Esoknya, bisa beraktivitas seperti biasa. Meskipun, agak heran juga sejak hari itu mulai muncul ruam di sekitar leher. Hari Sabtu, Minggu, hingga hari Senin, ruam merah mulai menjalar semakin banyak. Hari kelima suhu tubuh mulai meninggi. Demam disertai linu di seluruh tubuh mulai melanda. Kali ini benar-benar nyerah untuk segera pergi ke dokter. Suami sudah menyarankan untuk segera berobat. 

Di hari Selasa, aku terpaksa meminta izin untuk tidak ke sekolah. Tugas mengajar terpaksa ditinggalkan. Tugas untuk anak-anak, aku sampaikan ke piket via WA. Sedih sebetulnya tidak bisa melaksanakan tugas seperti biasa, apalagi meninggalkan tugas di kelas IX. Sebentar lagi mereka ujian.

Setelah memberi tugas untuk anak-anak di sekolah, agendaku adalah bertemu dokter langgananku. Dokter Indri, dokter yang biasa aku kunjungi. Dinasnya di RS Santosa Bandung. Dokter Indri, dokter yang ramah dan perhatian. Ketika bertemu dengannya, beliau memeriksaku dengan rinci. Mengecek setiap bagian ruam yang muncul. Memastikan bahwa itu bukan maningitis atau pun penyakit berbahaya lainnya.

Dokter Indri mengatakan aku terkena virus. Untuk memastikannya, dibutuhkan tes darah. Aku pun melakukan tes darah di laboratorium yang terletak di lantai dasar rumah sakit ini. Butuh satu jam untuk melihat hasilnya. Biasanya sambil menunggu hasil lab,  aku bisa berkeliling RS terutama di lantai 9 karena ada Taman Pemulihan. Di sana bisa melihat keindahan Kota Bandung dan menikmati tanaman yang tertata rapi. Atau kalau bosan, aku hanya menunggu di ruang tunggu pasien. Mengamati beraneka ragam karakter orang. 

Setelah satu jam, suster memanggilku bahwa hasil lab sudah ada. Dokter Indri menjelaskan bahwa aku terkena virus sejenis campak. Virus itu bisa berasal dari udara yang kita hirup. Gejalanya demam di awal dan muncul ruam-ruam merah di tubuh disertai rasa panas dan gatal juga. Ya Allah...ada aja caraMu yang indah untuk aku mensyukuri hidup. Denger kata campak itu kok mirip-mirip penyakit cacar. Dari kecil memang belum pernah kena campak. Kalau cacar, aku pernah kena ketika bangku SMP. 

Mungkin itulah gunanya vaksinasi. Aku sendiri lupa apakah Mimi memberiku vaksin campak atau tidak ketika aku kecil. Seingatku dulu waktu SD kalau ada Pak Mantri bawa suntikan,  aku akan langsung masuk kolong meja, atau menangis histeris gak mau disuntik.๐Ÿ˜‚

Sekarang jadi tahu kan pentingnya vaksinasi. Alhamdulillahnya anakku Rifqah InsyaAllah lengkap vaksinasi dasarnya. Termasuk vaksinasi campak. Dokter Indri juga menjelaskan bahwa minggu ini pasien terpapar campak sedang merebak. Hari ini saja sampai tiga orang yang berobat dengan keluhan yang sama, sahutnya. Bahkan ada satu sekolah, yang siswanya hampir sebagian besar terpapar campak. Deg...mendengar penjelasan dokter, aku pun tidak boleh egois. Tidak boleh memaksakan diri untuk masuk sekolah. Tiga hari wajib istirahat di rumah. Jangan sampai sebelum virusnya hilang, kita tanpa sadar menjadi penyebab orang lain tertular. Apalagi terhadap siswaku.

Begitu pun di rumah, aku mulai menjaga jarak dengan suami dan anakku agar mereka tidak tertular. Memakai masker, memisahkan barang-barang pribadi yang dipakai olehku, pun harus menjaga sterilisasi di rumah. Agar virusnya tidak menyebar. Qodarullahnya, putriku sedang studi tour empat hari. Setidaknya aku bisa menjaga jarak dahulu, sampai kondisiku benar-benar pulih.

Dokter Indri memberiku obat-obatan yang dibutuhkan. Vitamin diberikan lebih banyak agar imunitas tubuhku segera pulih dan virusnya benar-benar hilang. Sungguh, sakit itu tidak ada yang enak. Maka jagalah kesehatan. Jangan pernah mengabaikan sedetik pun waktu saat tubuhmu benar-benar membutuhkan makan. Kadang karena kesibukan, kita abai dan telat makan. Telat makan salah satu yang bisa membuat kondisi tubuh menurun. Saat kondisi tubuh menurun inilah, segala virus dan penyakit akan lebih mudah menyerang.

Cepat sehat lagi ya wahai diri. Kasian Oemah_Qiva, kasian siswa di sekolah. Mencegah itu lebih baik dari mengobati. Jika saat ini Allah berikan sakit. Itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Lebih menghargai diri sendiri dan tidak abai dengan hak-hak diri. Jangan kalah oleh virus apa pun. Setiap sakit InsyaAllah obatnya dari dalam diri sendiri...๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š










VIRUS

Virus-virus aneh menjalar
Dihembus udara yang liar
Mata manusia mulai nanar
Segala nampak di luar nalar

Orang-orang dan virus saling menyerang
Ditawan lapar berperang
Jiwa raga mengerang
Virus tertawa riang

Menggerogoti jiwa
Medekam di raga
Virus yang melanda
Bukankah kesalahan manusia juga?

Virus mati manusia pergi
Virus ada manusia terjaga




Aku Tahu

Aku tahu kau akan selalu mendoakanku dari jauh. Dari lubuk rindu yang paling dalam. Dari angan yang diterbangkan angin. Dari satu mimpi ke mimpi berikutnya.

Aku tahu kau akan menatapku dari jauh. Dari sela-sela dinding kota. Dari letihnya perjalanan. Dari senda gurau kehidupan.

Aku tahu kau akan mendekapku dari jauh.
 Dari hamparan ilalang semesta. Dari rinai yang menggenangi. Dari terik yang membumi. Dari debur dan riak sore hari. 

Saat jiwa berlabuh. Pantai telah surut...


Rabu, 15 Januari 2020

PASIEN SEBELAH (BAGIAN 2)

"Teh..Ibu pamit ya. Hari ini Bapak sudah boleh pulang." Sahut perempuan paruh baya yang kemarin curhat padaku.

"Mangga Ibu. Sehat selalu ya untuk Bapak." Sahutku sambil menyalami perempuan itu.

Kusalami juga suaminya yang turut menganggukkan kepala kepadaku. Dua putri mereka yang cantik ikut menjemput. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka. Seolah menghapus percakapan-percakapan yang seharian kemarin kudengar tanpa sengaja.

"Yaaaa sepi deh kita Yah. Sambil nunggu dokter datang mending kita main game tangan yuk Yah." Sahutku mengajak bermain suami. Mengisi waktu agar tidak jenuh. Kalau capek berceloteh, aku ajak suamiku bercanda biar gak terasa sakitnya.

Alhamdulillah di hari kedua ini kondisinya mulai membaik. Makanan sudah mulai masuk. Hanya mual dan kembung masih terasa. Begitu pula sakit kepalanya. Leng-lengan katanya.

Aku menjulurkan tiga jariku. Telunjuk, jempol, dan kelingking. Saat bosan aku biasa mengajak suamiku bermain game jadul ini. Karena yang memulai duluan biasanya selalu menang. Maka aku selalu memilih jadi pemilih pertama. Hehe alhasil akulah yang selalu menang. Tapi lumayanlah permainan ini bisa membuat suamiku tertawa. Atau kadang aku ajak swafoto bareng. Tentu saja ekspresi suamiku selalu galfok.

"Ini ruangannya Pak. Di sini kosong." Sahut seorang suster yang membawa pasien baru menggantikan suami Ibu paruh baya yang pamit tadi.

Aku memandang suamiku. Mengernyitkan kening. Wajahku menyiratkan pertanyaan. Seperti apa karakter pasien sebelah kali ini. Suamiku hanya tertawa melihat ekapresiku.

"Buru atuh urang lapar. Manya teu dibere.makan" Sahut suara Bapak di sebelah.

"Engke heula atuh Pak, sabar. Pan saur dokter oge teu meunang tuang nanaon hela. Susu hungkul anu tiasa mah." Sahut suara perempuan di tirai sebelah.

Ah...aku menutup telingaku kembali. Percakapan-percakapan yang tak ingin kudengar kembali terdengar tanpa sengaja. Suami tertawa geli ketika melihat ekspresiku. Apalagi mendengar suara-suara bom meletus yang membuatku tertawa tertahan.

" Dut..dut...dut...."

Duh gusti aya-aya wae nih tetangga sebelah. Aku menepuk jidat. Suamiku semakin tertawa melihat ekspresi wajahku yang sudah tak betah. Tapi aku mencoba memaklumi. Namanya juga orang sakit. Alhamdulillah masih bisa buang angin. Bukankah itu juga anugerah.

Aku mencoba menyambut tetangga sebelah dengan santun. Melupakan kejadian tadi dan mulai akrab dengan istrinya. Seorang Ibu berusia 60 tahunan. Kesabaran pun terpatri dari ceritanya. Suaminya yang berusia 65 tahun harus bolak-balik ke rumah sakit. Dua ring sudah dipasang di tubuhnya. Penyakit jatungnya sudah cukup parah. Komplikasi juga di kaki. Hari ini masuk rumah sakit karena harus menjalani endoskopi untuk memastikan sakit lambungnya.

Kembali, aku melihat ketabahan yang luar biasa dari seorang ibu, seorang istri. Ketabahan yang semoga aku juga bisa ambil hikmahnya. Kesabaran memupuk.pernikahan meski aneka ujian menghadang.

Kulirik suamiku yang mulai segar. Wajahnya sudah mulai bertenaga.Sambil menyuapkan buah untuknya, ada berjuta tangkup sabar yang juga harus kupupuk selalu.

"Yah kalau besok sehat,  kita pulang ke rumah yuk.."😄

TAMAT

PASIEN SEBELAH (Bagian 1)

"Teteh masih pengantin baru ya? Sakit apa Aanya?" Sahut perempuan itu ramah.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Aneh juga mengapa perempuan itu bertanya demikian.

"Nggak Bu...sudah 17 tahun pernikahan. Anak saya juga sudah besar. Sudah SMA kelas dua." Sahutku menahan geli.
"Suami sakit lambung Bu. Ada infeksi usus yang ikut menyerang lambungnya.Kalau suami Ibu sakit apa?" Lanjutku pada perempuan itu.

"Oh gak keliatan ya. Masih sama-sama muda. Liatnya juga meuni resep. Akur terus." Sahut perempuan itu sambil tertawa.
"Ah Ibu mah Neng...sudah hampir 30 tahun pernikahan bareng Bapak. Harus sering-sering bersabar, ngurut dada." Celotehnya membuka sesi curhat kami.

Aku sedikit menggeser tempat duduk. Lebih mendekat dengan perempuan paruh baya itu. Kami berbincang di luar kamar rumah sakit. Suamiku dan suami perempuan itu satu kamar. Ruang kelas satu memang diisi oleh dua orang di rumah sakit ini. Semalam ketika suamiku masuk ruangan ini, tak kulihat perempuan itu. Aku hanya mendengar suara dengkuran seseorang di seberang tirai yang membatasi antarruang. Hingga Subuh menjelang tak kudengar suara orang lain di seberang tirai itu.

"Bapak mah udah biasa Neng masuk rumah sakit. Jadi Bapak udah biasa kalau Ibu tinggal sendiri semalaman." Sahut perempuan itu seolah menjawab pertanyaanku semalam.

"Bapak sakit kanker usus. Ini tahun kedua Teh. Hari ini genap 24 paket kemo yang harus Bapak jalani. Tiap selesai kemo, Bapak harus dirawat tiga hari. Bapak perokok berat. Satu hari bisa menghabiskan enam bungkus rokok. Makan mie isntannya juga jago. Sekali makan yang doubel pula isinya." Sahut perempuan itu dengan nada sedikit merendah, sambil melirik ke arah dalam kamar.

Aku menyimak serius. Mencoba menyelami perasaan perempuan paruh baya itu. Kuamati sekilas, wajahnya masih cantik. Riasan tipis dengan hijab. Bahasanya juga santun tipikal perempuan berpendidikan. Kulirik juga di tangannya memegang buku bacaan. Kucoba terka profesi perempuan itu. Bisa seorang guru, bisa juga pegawai kantor. Aku segan bertanya.

"Segala sesuatu juga ya Teh kalau berlebihan gak bagus. Itulah yang dialami Bapak. Kanker ususnya sudah stadium 4 ketika awal dicek. Tapi semangat Bapak luar biasa untuk sembuh. Bapak mau jalani. Semangat untuk hidup Teh, yang Ibu lihat di Bapak." Sahutnya membuatku takjub.

Aku menghela napas panjang memandangi perempuan paruh baya di hadapanku. Sungguh tak mudah berada di posisi beliau. Kesabaran yang luar biasa terpancar di wajahnya. Kejadian Subuh yang kulihat cukup membuatku menerka perangai suaminya. Pun rangkaian kejadian lainnya yang kudengar tanpa sengaja. Nada suara suami perempuan paruh baya itu cukup tinggi. terpaksa didengar aku dan suamiku. Memerintah ini dan itu kepada istrinya. Bahkan bentakan sering terdengar. Aku sampai menutup telinga. Gak ingin mendengar jika perempuan paruh baya itu dibentak.

"Bapak memang emosional Teh sejak sakit. Cepat sekali marah jika keinginan atau pertanyaannya tak dijawab. Tapi ya Ibu mah dinikmati aja."Sahut perempuan paruh baya itu tersenyum getir.

Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya. Sampai ia pamit menuju ruangan suaminya, aku masih termangu. Masih terngiang percakapan Bapak itu dengan istrinya.

"Kalau suami tanya, jawab atuh!! Ngomongin agama. Baca buku agama. Gak pernah dipraktikkan. Buat apa? Kalau jawab pertanyaan suami saja berat." Sahut suara laki-laki di seberang tirai dengan suara berat. Tak ada sahutan yang kudengar. Aku kembali menutup telinga. Mencoba merasakan perasaan perempuan di seberang tirai.

Segala hikmah berkecamuk di dadaku. Memandangi wajah suamiku yang terlelap tidur. Kuusap keningnya. Seuntai doa terucap. "Sehat ya Yah..."Bisikku pelan.