Sosok Bujang dan Jet Lee
dalam Novel "Pulang" Tere Liye
Judul
Buku : Pulang
Pengarang
: Tere Liye
Penerbit
: Republika
Tebal
Buku : iv + 400 hal. ; 13.5 x 20.5 cm
Setelah novel "Rindu", dan "Hujan", karya Tere Liye
berikutnya yang akan saya ulas adalah novel "Pulang". Novel ini
memiliki cover yang menarik. Berwarna
hijau dengan lukisan suasana matahari tenggelam di laut ketika senja dengan
paduan warna mistis ungu di bagian awan dan birunya laut sangat kontras
dengan sinar matahari berwarna kuning bercampur gradasi warna pelangi.Kesan
misterius pun bertambah dengan judul "Pulang" semakin membuat pembaca
pada umumnya bertanya akan seperti apa alurnya? Setipe dengan novel-novel Tere
Liye lainnya ataukah berbeda?
Rasa penasaran ini dilengkapi dengan beberapa testimoni dari pembaca yang
merespon positif semua karya-karya Tere Liye.Salah satunya yang mengungkapkan
bahwa membaca novel-novel Tere Liye seperti pulang ke rumah, berapa jauh pun
kaki melangkah, selalu ingin kembali.
"Pulang" dalam novel ini tentu bukan tanpa
makna. Pembaca dapat mengetahui makna "Pulang" dalam novel ini
setelah membaca utuh cerita yang dikemas menjadi 25 bagian. Jangan kaget ketika
membaca tiap bagiannya, penulis seolah
memainkan pikiran pembaca dengan alur yang berlompat-lompatan.Rasanya, ini
bagian yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Emosi pembaca sengaja dibuat
berpindah-pindah dengan pengalihan alur dari perjalanan masa depan tokoh hingga
kilas balik tokoh dimainkan begitu hebat oleh penulis.
Di awal cerita, novel ini jelas berbeda dengan novel Tere
Liye lainnya. Pembaca langsung disodorkan konflik dan ketegangan yang dialami
Tokoh Bujang yang saat itu berusia lima belas tahun. Pemuda sederhana tanpa
alas kaki yang ikut berburu babi hutan bersama Tauke Muda yang merupakan kawan
ayahnya. Samad ayah Bujang adalah seorang jagal kepercayaan Tauke Besar ayah
Tauke Muda. Ayah Bujang sepantar dengan Tauke Muda. Usianya berkisar lima
puluh. Kedatangan Tauke Muda membawa kegembiraan bagi Samad dan mengizinkan
putra semata wayangnya bertempur di belantara rimba Sumatera menumpas babi
hutan. Dalam pertempuran melawan babi hutan itu pembaca betul-betul merasakan
ketegangan sudah dimulai di awal cerita. Ketegangan saat kemudian tokoh
Bujang dapat meyelamatkan nyawa Tauke Muda dari serangan babi hutan raksasa
hingga penulis menggambarkan sosok Bujang sebagai tokoh yang sudah tidak lagi
mengenal rasa takut.
Samad yang kehilangan kaki satu dan
menjadi orang kepercayaan Tauke Besar di masa lalu pun memberikan restu ketika
akhirnya Bujang anak satu-satunya diminta untuk tinggal bersama Tauke Muda di
ibukota provinsi. Kisah penyelamatan Bujang terhadap Tauke Muda memberi
pengaruh besar bagi kehidupan Bujang kelak. Meski, tentu yang terluka adalah
Mamak Bujang. Perempuan yang selalu mengajari Bujang mengaji dan memberikan
ilmu agama. Dia harus terpisah dengan anak satu-satunya tersebut.
Pada bagian berikutnya, saya seperti menemukan sosok
Jet Lee dalam film-film mandarin yang tereplika dalam kisah yang tertuang dalam
novel ini. Kisah perjalanan sosok Bujang dari remaja desa sederhana yang
berubah menjadi sosok menakjubkan. Sosok yang berubah 180 derajat. Dari pemuda tanpa
alas kaki menjadi pemuda luar biasa. Sosok yang tangguh yang mau belajar apa
saja. Belajar kungfu, belajar pedang dan samurai dari Guru Bushi, belajar gulat
dan berkelahi dari Guru Kopong, belajar menembak dari Salonga asal Filipina,
bahkan belajar ilmu akademik dari Frans si Amerika.
Bujang yang tumbuh menjadi pemuda yang mengagumkan kemudian menjadi anak angkat kesayangan Tauke. Bujang disekolahkan dan mendapat fasilitas
terbaik untuk bisa melengkapi Puzzle bagi keluarga Tong. Bakat dan
kemampuan yang dimiliki Bujang mampu memperkuat bisnis keluarga Tong hingga
merajai ibu kota. Pembaca disuguhi intrik-intrik khas bisnis gelap. Bisnis Shadow
Economy menjadi konflik yang mewarnai ketegangan cerita. Kisah-kisah mafia
dalam film Mandarin seolah menjelma dalam novel ini. Rangkaian deskripsi latar
yang dikisahkan dalam novel ini membuat pembaca tersihir dan seolah-olah sedang
menyaksikan adegan laga yang nyata.
Kisah Bujang yang berkamuflase menjadi
seorang yang berpendidikan, penyelesai konflik tingkat tinggi, mampu
mengendarai jet dan mahir ilmu bela diri, lagi-lagi mengingatkan saya dengan sosok Jet
Lee. Kelihaian Bujang dalam bertempur dengan intrik halus serta kecerdasannya
dalam membangun bisnis keluarga Tong
membuat pembaca seolah berada dalam laga sesungguhnya.Bahkan ketika puncak
ketegangan cerita terjadi yaitu ketika penghianatan yang datang dari orang
paling dekat dalam kehidupan Bujang dan Tauke. pembaca disuguhkan adegan laga
kolosal saat peperangan antara Bujang dan Basyir.
Kemenangan Bujang melawan Basyir
adalah pertempuran yang diwarnai konflik masa lalu. Konflik yang terjalin erat
satu dengan yang lainnya. Dari awal permasalahan hingga akhir diuntai dalam jalinan erat antartokohnya. Semua menjadi satu
rangkaian cerita yang padu dan menarik. Hubungan antara Samad-Mamak-dan Tuanku
Imam yang terjalin utuh di bagian akhir cerita. Bahkan tokoh yang terhubung di
masa lalu oleh pengarang dihadirkan
keterkaitannya. Contohnya keterikatan emosi antara Guru Kopong dan Bujang oleh
hutang budi masa lalu, hubungan antara guru Frans si Amerika dan anaknya yang
bernama White, keterikatan tokoh Guru Bushi dengan dua cucunya yang bernama
Yuki dan Kiko, bahkan keterikatan tokoh Salonga dari Filipina yang membuat
intrik cerita dalam novel ini begitu hidup karena terjalin hubungan erat ketika
tokoh-tokoh tersebut kemudian turut membantu penyerangan Bujang terhadap Basyir.
Bagi pembaca yang awam terhadap lompatan cerita tentu akan merasa
kesulitan bahkan kesal karena emosinya seperti diaduk-aduk. Contohnya ketika
membaca bagian yang merupakan klimaks cerita di halaman 243yang merupakan
bagian 16 (Penghianatan bagian satu). Oleh penulis perhatian pembaca dialihkan
sejenak sehingga emosi pembaca yang mulai meningkat dipaksa turun dengan adanya
penurunan konflik berupa kilas balik
atau kisah masa lalu tokoh di bagian 17 ( Utang 40 Juta dolar). Ketegangan
berlanjut justru di bagian 18 (Penghianatan bagian kedua). Entah ini disengaja
atau tidak atau malah membuat novel ini memang sengaja dibuat terasa berbeda
oleh penulisnya.
Namun, bagi pecinta novel dengan
intrik laga dan adu fisik secara kolosal, novel ini adalah novel yang patut
direkomendasikan menjadi bacaan wajib. Termasuk saya yang juga penikmat
film-film laga, novel ini menjadi teramat berkesan karena penuh hikmah dan
pelajaran berharga tentang kesetiaan, pengabdian, pengorbanan bagi orang
tercinta, kerja keras, semangat untuk terus belajar, pantang menyerah, dan
tentunya memahami makna pulang yang sesungguhnya bahwa meski perjalanan hidup
kita dibesarkan dengan rasionalitas, namun pada suatu saat kita akan bertemu
pada satu titik yaitu ketika pertempuran yang sesungguhnya adalah bukan
pertempuran melawan orang lain melainkan pertempuran mengalahkan diri sendiri, egoisme,
ambisi, rasa takut, pertanyaan, dan bermacam keraguan. Saat kita bisa mengalahkannya,
Saat itu juga kita telah pulang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang memeluk
erat kesedihan dan kegembiraan.