Senin, 31 Oktober 2016

Resensi Novel "Pulang" Tere Liye



Sosok Bujang dan  Jet Lee dalam Novel "Pulang" Tere Liye

 Judul Buku : Pulang
Pengarang   : Tere Liye
Penerbit      : Republika
Tebal Buku : iv + 400 hal. ; 13.5 x 20.5 cm

       Setelah novel "Rindu", dan  "Hujan", karya Tere Liye berikutnya yang akan saya ulas adalah novel "Pulang". Novel ini memiliki cover yang menarik. Berwarna hijau dengan lukisan suasana matahari tenggelam di laut ketika senja dengan paduan warna mistis ungu di bagian awan dan birunya laut  sangat kontras dengan sinar matahari berwarna kuning bercampur gradasi warna pelangi.Kesan misterius pun bertambah dengan judul "Pulang" semakin membuat pembaca pada umumnya bertanya akan seperti apa alurnya? Setipe dengan novel-novel Tere Liye lainnya ataukah berbeda?
       Rasa penasaran ini dilengkapi dengan beberapa testimoni dari pembaca yang merespon positif semua karya-karya Tere Liye.Salah satunya yang mengungkapkan bahwa membaca novel-novel Tere Liye seperti pulang ke rumah, berapa jauh pun kaki melangkah, selalu ingin kembali.
        "Pulang" dalam novel ini tentu bukan tanpa makna. Pembaca dapat mengetahui makna "Pulang" dalam novel ini setelah membaca utuh cerita yang dikemas menjadi 25 bagian. Jangan kaget ketika membaca tiap bagiannya,  penulis seolah memainkan pikiran pembaca dengan alur yang berlompat-lompatan.Rasanya, ini bagian yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Emosi pembaca sengaja dibuat berpindah-pindah dengan pengalihan alur dari perjalanan masa depan tokoh hingga kilas balik tokoh dimainkan begitu hebat oleh penulis.
        Di awal cerita, novel ini jelas berbeda dengan novel Tere Liye lainnya. Pembaca langsung disodorkan konflik dan ketegangan yang dialami Tokoh Bujang yang saat itu berusia lima belas tahun. Pemuda sederhana tanpa alas kaki yang ikut berburu babi hutan bersama Tauke Muda yang merupakan kawan ayahnya. Samad ayah Bujang adalah seorang jagal kepercayaan Tauke Besar ayah Tauke Muda. Ayah Bujang sepantar dengan Tauke Muda. Usianya berkisar lima puluh. Kedatangan Tauke Muda membawa kegembiraan bagi Samad dan mengizinkan putra semata wayangnya bertempur di belantara rimba Sumatera menumpas babi hutan. Dalam pertempuran melawan babi hutan itu pembaca betul-betul merasakan ketegangan sudah dimulai di awal cerita. Ketegangan saat  kemudian tokoh Bujang dapat meyelamatkan nyawa Tauke Muda dari serangan babi hutan raksasa hingga penulis menggambarkan sosok Bujang sebagai tokoh yang sudah tidak lagi mengenal rasa takut.
       Samad yang kehilangan  kaki satu dan menjadi orang kepercayaan Tauke Besar di masa lalu pun memberikan restu ketika akhirnya Bujang anak satu-satunya diminta untuk tinggal bersama Tauke Muda di ibukota provinsi. Kisah penyelamatan Bujang terhadap Tauke Muda memberi pengaruh besar bagi kehidupan Bujang kelak. Meski, tentu yang terluka adalah Mamak Bujang. Perempuan yang selalu mengajari Bujang mengaji dan memberikan ilmu agama. Dia harus terpisah dengan anak satu-satunya tersebut.
         Pada bagian berikutnya, saya seperti menemukan sosok Jet Lee dalam film-film mandarin yang tereplika dalam kisah yang tertuang dalam novel ini. Kisah perjalanan sosok Bujang dari remaja desa sederhana yang berubah menjadi sosok menakjubkan. Sosok yang berubah 180 derajat. Dari pemuda tanpa alas kaki menjadi pemuda luar biasa. Sosok yang tangguh yang mau belajar apa saja. Belajar kungfu, belajar pedang dan samurai dari Guru Bushi, belajar gulat dan berkelahi dari Guru Kopong, belajar menembak dari Salonga asal Filipina, bahkan belajar ilmu akademik dari Frans si Amerika.
          Bujang yang tumbuh menjadi pemuda yang mengagumkan kemudian  menjadi anak angkat kesayangan Tauke.  Bujang disekolahkan dan mendapat fasilitas terbaik untuk bisa melengkapi Puzzle bagi keluarga Tong. Bakat dan kemampuan yang dimiliki Bujang mampu memperkuat bisnis keluarga Tong hingga merajai ibu kota. Pembaca disuguhi intrik-intrik khas bisnis gelap. Bisnis Shadow Economy menjadi konflik yang mewarnai ketegangan cerita. Kisah-kisah mafia dalam film Mandarin seolah menjelma dalam novel ini. Rangkaian deskripsi latar yang dikisahkan dalam novel ini membuat pembaca tersihir dan seolah-olah sedang menyaksikan adegan laga yang nyata.
        Kisah Bujang yang berkamuflase menjadi seorang yang berpendidikan, penyelesai konflik tingkat tinggi, mampu mengendarai jet dan mahir ilmu bela diri,  lagi-lagi mengingatkan saya dengan sosok Jet Lee. Kelihaian Bujang dalam bertempur dengan intrik halus serta kecerdasannya dalam  membangun bisnis keluarga Tong membuat pembaca seolah berada dalam laga sesungguhnya.Bahkan ketika puncak ketegangan cerita terjadi yaitu ketika penghianatan yang datang dari orang paling dekat dalam kehidupan Bujang dan Tauke. pembaca disuguhkan adegan laga kolosal saat peperangan antara Bujang dan Basyir.
            Kemenangan Bujang melawan Basyir adalah pertempuran yang diwarnai konflik masa lalu. Konflik yang terjalin erat satu dengan yang lainnya. Dari awal permasalahan hingga akhir diuntai dalam  jalinan erat antartokohnya. Semua menjadi satu rangkaian cerita yang padu dan menarik. Hubungan antara Samad-Mamak-dan Tuanku Imam yang terjalin utuh di bagian akhir cerita. Bahkan tokoh yang terhubung di masa lalu  oleh pengarang dihadirkan keterkaitannya. Contohnya keterikatan emosi antara Guru Kopong dan Bujang oleh hutang budi masa lalu, hubungan antara guru Frans si Amerika dan anaknya yang bernama White, keterikatan tokoh Guru Bushi dengan dua cucunya yang bernama Yuki dan Kiko, bahkan keterikatan tokoh Salonga dari Filipina yang membuat intrik cerita dalam novel ini begitu hidup karena terjalin hubungan erat ketika tokoh-tokoh tersebut kemudian turut membantu penyerangan Bujang terhadap Basyir.
            Bagi pembaca yang awam  terhadap lompatan cerita tentu akan merasa kesulitan bahkan kesal karena emosinya seperti diaduk-aduk. Contohnya ketika membaca bagian yang merupakan klimaks cerita di halaman 243yang merupakan bagian 16 (Penghianatan bagian satu). Oleh penulis perhatian pembaca dialihkan sejenak sehingga emosi pembaca yang mulai meningkat dipaksa turun dengan adanya penurunan konflik berupa  kilas balik atau kisah masa lalu tokoh di bagian 17 ( Utang 40 Juta dolar). Ketegangan berlanjut justru di bagian 18 (Penghianatan bagian kedua). Entah ini disengaja atau tidak atau malah membuat novel ini memang sengaja dibuat terasa berbeda oleh penulisnya.
            Namun, bagi pecinta novel dengan intrik laga dan adu fisik secara kolosal, novel ini adalah novel yang patut direkomendasikan menjadi bacaan wajib. Termasuk saya yang juga penikmat film-film laga, novel ini menjadi teramat berkesan karena penuh hikmah dan pelajaran berharga tentang kesetiaan, pengabdian, pengorbanan bagi orang tercinta, kerja keras, semangat untuk terus belajar, pantang menyerah, dan tentunya memahami makna pulang yang sesungguhnya bahwa meski perjalanan hidup kita dibesarkan dengan rasionalitas, namun pada suatu saat kita akan bertemu pada satu titik yaitu ketika pertempuran yang sesungguhnya adalah bukan pertempuran melawan orang lain melainkan pertempuran mengalahkan diri sendiri, egoisme, ambisi, rasa takut, pertanyaan, dan bermacam keraguan. Saat kita bisa mengalahkannya, Saat itu juga kita telah pulang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang memeluk erat kesedihan dan kegembiraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar