MEMAKNAI “RINDU” DALAM
PERJALANAN PANJANG
Judul
: Rindu
Pengarang : Tere
Liye
Penerbit
: Republika
Tebal
: 544 halaman
Bismillahirrahmanirrahiim…
Novel Rindu adalah novel karya Tere Liye yang telah mendapatkan penghargaan sebagai novel
religi terbaik dalam ajang Islamic Book Award 2015 dan menjadi best seller sebagaimana karya Tere Liye
yang lain. Tere Liye adalah Pengarang yang dikenal sebagai penulis novel. Lahir
di Sumatra Selatan, 21 Mei 1979. Beberapa karyanya yang pernah diangkat ke
layar kaca yaitu Hafalan Sholat Delisha
dan Moga Bunda Disayang Allah. Selain
novel Rindu, karya –karya Tere Liye
yang lain adalah Matahari (2016), Bulan (2016), Bumi (2016), Hujan
(2016), Pulang (2016), Pukat (2010), Burlian, Eliana, Amelia, Abaout Love, Negeri Di Ujung
tanduk, Sepotong Hati yang Baru, Negeri Para Bedebah, Berjuta Rasanya, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (2012), Sunset Bersama Rosie (2008), Kisah
Sang Penandai (2007), Ayahku (BUKAN)
Pembohong, Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin (2010), Hafalan Sholat
Delisha (2005), Moga Bunda Disayang
Allah (2005), Bidadari-Bidadari Surga
(2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu(2009),
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan Itu Tetap
Cinta.
Novel setebal 544 halaman ini mengisahkan sebuah perjalanan panjang
tentang kerinduan yang hakiki. Kerinduan manusia akan sebuah kebenaran.
Kerinduan yang dikemas dalam kisah masa
lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan
kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam
sebuah perjalanan panjang kerinduan. Kerinduan yang dikemas dalam perjalanan
suci ibadah haji. Perjalanan dari sebuah kapal Blitar Holland menuju Mekkah.
Kota suci tempat umat Islam melaksanakan rukun Islam yang kelima.
Cerita ini berawal dari perjalan ibadah haji sebuah
keluarga yaitu keluarga Daeng Andipati dan istrinya serta kedua putrinya yang
bernama Ana dan Elsa yang mengambil latar waktu pada tahun 1938. Tepatnya 1
Desember 1938 perjalanan ibadah haji menggunakan kapal Blitar Holland itu
dimulai. Ana adalah gadis kecil berusia sembilan tahun yang memiliki sifat
periang, baik hati, senang berceloteh, dan selalu ingin tahu. sedangkan Elsa gadis
berusia lima belas tahun. Elsa memiliki sifat lebih pendiam, baik hati, dan
sering berdebat dengan Ana jika adiknya itu membuat ulah yang kadang membuat
Elsa jengkel. Namun, mereka adalah anak-anak yang patuh terhadap orang tuanya.
Cerita dimulai dari Pelabuhan Makasar saat Kapal
Blitar Holland merapat di sana. Kapal ini merupakan kapal buatan Eropa yang
berukuran 136 meter, dengan lebar 16 meter. Kapal tersebut adalah kapal uap
kargo terbesar pada zaman itu yang dimiliki oleh salah satu raksasa perusahaan
logistik dan transportasi besar asal Belanda, Koninklijke Rotterdam.
Saat tiba di pelabuhan Makasar keluarga Ana dan Elsa
disambut hangat oleh kapten kapal yang bernama Kapten Phillips. Daeng Andipati
yang pernah mengenyam pendidikan di Rotterdam
school of Commerce pun langsung terlibat percakapan dengan Kapten Phillips
dalam bahasa Belanda. Selain keluarga Daeng Andipati, tokoh lain yang ikut
dalam perjalanan tersebut adalah Ahmad Karaeng. Semua penduduk Makasar hingga
Pare-Pare lebih mengenalnya dengan sebutan Gurutta. Ia merupakan salah seorang
ulama masyur di zaman itu. Perawakannya tinggi, tidak kurus, tidak juga gemuk.
Jalannya masih kokoh untuk seseorang yang berusia tujuh puluh lima tahun.
Gurutta berpenampilan mengenakan serban putih, kemeja polos, celana kain
bersahaja, dan terompah kayu. Tokoh Gurutta ini memiliki pengaruh besar dalam
cerita-cerita yang dikemas menjadi 48 bagian dalam novel ini.
Selanjutnya, penumpang berikutnya dalam Kapal Blitar
Holland yang merupakan tokoh yang memiliki peran penting juga adalah Ambo
Uleng. Seorang pemuda yang berusia dua puluh tahun lebih, memiliki karakter
tertutup cenderung pendiam, namun dia memiliki sifat pemberani, rahang dan
pipinya tegas, khas seorang pelaut Bugis yang tangguh.
Selain Ambo Uleng, tokoh Ruben si Boatswain yang
asli keturunan Belanda juga turut menghiasi cerita dalam novel ini. Ruben
adalah teman sekamar Ambo Uleng di Kapal Blitar Holland. Tokoh lain seperti
Bonda Upe dan suaminya juga adalah tokoh yang mampu melarutkan emosi pembaca
dengan kisah yang dialaminya. Bonda Upe adalah guru yang ditunjuk Gurutta untuk
mengajarkan anak-anak mengaji termasuk mengajarai Ana dan Elsa selama
perjalanan itu.
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Makasar menuju
Surabaya. Setelah tiba di Pelabuhan Surabaya, Daeng Andipati mengajak Ana dan
Elsa ke Pasar Turi di Surabaya. Ana yang kehilangan tas birunya pada saat akan
menaiki kapal di Pelabuhan Makasar merasa senang karena Ana dapat memiliki
baju-baju baru lagi. Namun, di sinilah konflik dimulai. Ketika Daeng Andipati
dan kedua putrinya sedang membeli baju untuk Ana, terdengar dentuman keras dari
arah pasar. Daeng Andipati segera tahu apa yang terjadi. Itu suara granat.
Masa-masa itu, Kota Surabaya dipenuhi oleh pejuang kemerdekaan. Di kota ini,
hampir setiap bulan gerilyawan menyerbu serdadu Belanda. Anna dan Elsa terduduk
di depan toko karena mendengar suara dentuman, langsung gentar seketika
mendengar raungan sirene. wajah mereka pucat. Belum sempat berpikir harus
melakukan apa, kepanikan besar telah melanda seluruh pasar. Pengunjung
berteriak-teriak ribuan jumlahnya. Berlarian menjauhi gerbang pasar. Dalam
kejadian ini Anna terpisah dari Daeng Andipati. Namun, pembaca dibuat lega
karena Anna diselamatkan oleh Ambo Uleng yang saat itu sedang berbelanja
keperluan di pasar tersebut. Peristiwa itu dibuat secara dramatis oleh
penulisnya sehingga pembaca ikut larut dalam ketegangan cerita.
Dua tokoh berikutnya yang turut menaiki kapal Blitar
Holland dari Pelabuhan Surabaya adalah Bapak Soerjaningrat dan Bapak
Mangunkusumo. Usia mereka sekitar empat puluhan, sepantaran dengan Daeng
Andipati. Mereka mengenakan peci, kemeja lengan panjang, berpakaian rapi khas
kalangan terdidik zaman itu. Merekalah yang bersedia mengajar anak-anak
bersekolah di Kapal Blitar Holland.
Gurutta yang memiliki peran sentral dalam kapal itu merasa senang karena
anak-anak akhirnya dapat mengenyam pendidikan dalam perjalanan tersebut.
Dari Pelabuhan Surabaya, perjalanan dilanjutkan
menuju Pelabuhan Semarang. Ada delapan puluh jamaah haji yang naik di pelabuhan
Kota Semarang.Lima puluh jamaah laki-laki. Sisanya jamaah perempuan. tidak ada
anak-anak, seluruh penumpangnya dewasa. Dari pelabuhan Kota Semarang ini
terdapat dua tokoh yang ikut yaitu Mbah Kakung dan Mbah Putri. Pasangan yang
usianya hampir delapan puluh, mungkin penumpang paling tua di Kapal Blitar
Holland. Pasangan tersebut menempati kabin di sebelah kabin keluarga Daeng
Andipati. Pasangan sepuh tersebut membuat cerita yang disuguhkan penulis lebih
segar karena terdapat adegan-adegan lucu saat Ana merasa kesal karena setiap obrolannya
dengan Mbah Kakung menjadi hal yang paling mengocok perut. Mbah Kakung yang
kurang pendengaran membuat perjalanan dalam kapal tersebut menjadi lebih
berwarna dan kisah inspiratifnya tentang cinta sejati bersama Mbah Putri
membuat cerita menjadi lebih berkesan.
Sore tanggal 8 Desember 1938, hari ketujuh
perjalanan, Kapal Blitar Holland tiba di Pelabuhan Batavia. Saat berlabuh di
pelabuhan ini, pembaca dikejutkan dengan kisah dramatik dari Bonda Upe, guru
mengaji Ana dan Elsa. Kisah masa lalu
Bonda Upe yang membuat rombongan Daeng
Andipati yang turun untuk menikmati soto betawi terkejut karena terjadi konflik
saat Bonda Upe berlari sambil menangis ditemani suaminya. Semua bertanya-tanya
apa yang terjadi dengan Bonda Upe. Namun, seiring perjalanan cerita kisah
dramatik ini terjawab kemudian.
Keunggulan dalam novel ini adalah setiap tokoh yang
terlibat dalam cerita begitu kuat dengan permasalahan masing-masing. Konflik
demi konflik yang menimpa tokoh tentang masa lalu mereka membuat pembaca lebih
mengerti dan memahami ketika dihadapkan pada permasalahan yang sama. Banyak
hikmah yang bisa dipetik dalam novel ini karena dilengkapi dengan kata-kata
bijak yang disampaikan Gurutta dalam setiap permasalahan yang dihadapi tokoh.
Seperti kutipan Gurutta di halaman 375 “Kesalahan itu ibarat halaman kosong.
Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan
menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus
canggih , dengan apa pun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar
semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas
baru yang benar-benar kosong”.
Pembaca juga dikejutkan dengan konflik batin yang
dialami Daeng Andipati maupun Gurutta sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang
kemudian terjawab dengan jawaban bijak oleh tokoh Gurutta membuat novel ini
teramat berkesan.
Namun, dari sekian banyak kelebihan yang terdapat
dalam novel ini tetap ada bagian yang masih terkesan terburu-buru di bagian
penyelesaian. Selama 500-an halaman seluruh konflik digambarkan dengan detail,
namun di akhir cerita penulis menutupnya dengan begitu ringan seolah-olah semua
tokoh dalam novel ini dipaksakan untuk berakhir bahagia.
Walaupun begitu, sebagaimana karya Tere Liye yang
lain novel ini adalah novel yang layak untuk dibaca. Pertanyaan-pertanyaan
mendasar manusia tentang hakikat kebenaran, tentang Tuhan, tentang cinta dan
ketulusan, tentang nasionalisme, tentang kebahagiaan yang sesungguhnya begitu
kental terasa dalam novel ini sehingga memberi pelajaran hidup yang berharga
bagi siapa pun yang membacanya.
keren. bahasanya ciamik. lanjutkan ngeblognya yah.
BalasHapuscoba buat link k penerbit dsb. sebarkan k medsos biar orang tau blogmu dan rajin2 blogwalking yah.
salam blogger
Makasih Bu Yay...sip insyaallah siap rajin blogwalking hihihi
BalasHapus