Sabtu, 22 Oktober 2016

RESENSI NOVEL "RINDU" TERE LIYE



MEMAKNAI “RINDU” DALAM PERJALANAN PANJANG

Judul            : Rindu
Pengarang    : Tere Liye
Penerbit       : Republika
Tebal            : 544 halaman
Bismillahirrahmanirrahiim…

Novel Rindu adalah novel karya Tere Liye yang  telah mendapatkan penghargaan sebagai novel religi terbaik dalam ajang Islamic Book Award 2015 dan menjadi best seller sebagaimana karya Tere Liye yang lain. Tere Liye adalah Pengarang yang dikenal sebagai penulis novel. Lahir di Sumatra Selatan, 21 Mei 1979. Beberapa karyanya yang pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Sholat Delisha dan Moga Bunda Disayang Allah. Selain novel Rindu, karya –karya Tere Liye yang lain adalah Matahari (2016), Bulan (2016), Bumi (2016), Hujan (2016), Pulang (2016), Pukat (2010), Burlian, Eliana, Amelia, Abaout Love, Negeri Di Ujung tanduk, Sepotong Hati yang Baru, Negeri Para Bedebah, Berjuta Rasanya, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (2012), Sunset Bersama Rosie (2008), Kisah Sang Penandai (2007), Ayahku (BUKAN) Pembohong, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (2010), Hafalan Sholat Delisha (2005), Moga Bunda Disayang Allah (2005), Bidadari-Bidadari Surga (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu(2009), Dikatakan Atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta.

Novel setebal 544 halaman  ini mengisahkan sebuah perjalanan panjang tentang kerinduan yang hakiki. Kerinduan manusia akan sebuah kebenaran. Kerinduan yang dikemas dalam kisah masa  lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang  seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Kerinduan yang dikemas dalam perjalanan suci ibadah haji. Perjalanan dari sebuah kapal Blitar Holland menuju Mekkah. Kota suci tempat umat Islam melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Cerita ini berawal dari perjalan ibadah haji sebuah keluarga yaitu keluarga Daeng Andipati dan istrinya serta kedua putrinya yang bernama Ana dan Elsa yang mengambil latar waktu pada tahun 1938. Tepatnya 1 Desember 1938 perjalanan ibadah haji menggunakan kapal Blitar Holland itu dimulai. Ana adalah gadis kecil berusia sembilan tahun yang memiliki sifat periang, baik hati, senang berceloteh, dan selalu ingin tahu. sedangkan Elsa gadis berusia lima belas tahun. Elsa memiliki sifat lebih pendiam, baik hati, dan sering berdebat dengan Ana jika adiknya itu membuat ulah yang kadang membuat Elsa jengkel. Namun, mereka adalah anak-anak yang patuh terhadap orang tuanya.

Cerita dimulai dari Pelabuhan Makasar saat Kapal Blitar Holland merapat di sana. Kapal ini merupakan kapal buatan Eropa yang berukuran 136 meter, dengan lebar 16 meter. Kapal tersebut adalah kapal uap kargo terbesar pada zaman itu yang dimiliki oleh salah satu raksasa perusahaan logistik dan transportasi besar asal Belanda, Koninklijke Rotterdam.

Saat tiba di pelabuhan Makasar keluarga Ana dan Elsa disambut hangat oleh kapten kapal yang bernama Kapten Phillips. Daeng Andipati yang pernah mengenyam pendidikan di Rotterdam school of Commerce pun langsung terlibat percakapan dengan Kapten Phillips dalam bahasa Belanda. Selain keluarga Daeng Andipati, tokoh lain yang ikut dalam perjalanan tersebut adalah Ahmad Karaeng. Semua penduduk Makasar hingga Pare-Pare lebih mengenalnya dengan sebutan Gurutta. Ia merupakan salah seorang ulama masyur di zaman itu. Perawakannya tinggi, tidak kurus, tidak juga gemuk. Jalannya masih kokoh untuk seseorang yang berusia tujuh puluh lima tahun. Gurutta berpenampilan mengenakan serban putih, kemeja polos, celana kain bersahaja, dan terompah kayu. Tokoh Gurutta ini memiliki pengaruh besar dalam cerita-cerita yang dikemas menjadi 48 bagian dalam novel ini.

Selanjutnya, penumpang berikutnya dalam Kapal Blitar Holland yang merupakan tokoh yang memiliki peran penting juga adalah Ambo Uleng. Seorang pemuda yang berusia dua puluh tahun lebih, memiliki karakter tertutup cenderung pendiam, namun dia memiliki sifat pemberani, rahang dan pipinya tegas, khas seorang pelaut Bugis yang tangguh.

Selain Ambo Uleng, tokoh Ruben si Boatswain yang asli keturunan Belanda juga turut menghiasi cerita dalam novel ini. Ruben adalah teman sekamar Ambo Uleng di Kapal Blitar Holland. Tokoh lain seperti Bonda Upe dan suaminya juga adalah tokoh yang mampu melarutkan emosi pembaca dengan kisah yang dialaminya. Bonda Upe adalah guru yang ditunjuk Gurutta untuk mengajarkan anak-anak mengaji termasuk mengajarai Ana dan Elsa selama perjalanan itu.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Makasar menuju Surabaya. Setelah tiba di Pelabuhan Surabaya, Daeng Andipati mengajak Ana dan Elsa ke Pasar Turi di Surabaya. Ana yang kehilangan tas birunya pada saat akan menaiki kapal di Pelabuhan Makasar merasa senang karena Ana dapat memiliki baju-baju baru lagi. Namun, di sinilah konflik dimulai. Ketika Daeng Andipati dan kedua putrinya sedang membeli baju untuk Ana, terdengar dentuman keras dari arah pasar. Daeng Andipati segera tahu apa yang terjadi. Itu suara granat. Masa-masa itu, Kota Surabaya dipenuhi oleh pejuang kemerdekaan. Di kota ini, hampir setiap bulan gerilyawan menyerbu serdadu Belanda. Anna dan Elsa terduduk di depan toko karena mendengar suara dentuman, langsung gentar seketika mendengar raungan sirene. wajah mereka pucat. Belum sempat berpikir harus melakukan apa, kepanikan besar telah melanda seluruh pasar. Pengunjung berteriak-teriak ribuan jumlahnya. Berlarian menjauhi gerbang pasar. Dalam kejadian ini Anna terpisah dari Daeng Andipati. Namun, pembaca dibuat lega karena Anna diselamatkan oleh Ambo Uleng yang saat itu sedang berbelanja keperluan di pasar tersebut. Peristiwa itu dibuat secara dramatis oleh penulisnya sehingga pembaca ikut larut dalam ketegangan cerita.

Dua tokoh berikutnya yang turut menaiki kapal Blitar Holland dari Pelabuhan Surabaya adalah Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangunkusumo. Usia mereka sekitar empat puluhan, sepantaran dengan Daeng Andipati. Mereka mengenakan peci, kemeja lengan panjang, berpakaian rapi khas kalangan terdidik zaman itu. Merekalah yang bersedia mengajar anak-anak bersekolah  di Kapal Blitar Holland. Gurutta yang memiliki peran sentral dalam kapal itu merasa senang karena anak-anak akhirnya dapat mengenyam pendidikan dalam perjalanan tersebut.

Dari Pelabuhan Surabaya, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Semarang. Ada delapan puluh jamaah haji yang naik di pelabuhan Kota Semarang.Lima puluh jamaah laki-laki. Sisanya jamaah perempuan. tidak ada anak-anak, seluruh penumpangnya dewasa. Dari pelabuhan Kota Semarang ini terdapat dua tokoh yang ikut yaitu Mbah Kakung dan Mbah Putri. Pasangan yang usianya hampir delapan puluh, mungkin penumpang paling tua di Kapal Blitar Holland. Pasangan tersebut menempati kabin di sebelah kabin keluarga Daeng Andipati. Pasangan sepuh tersebut membuat cerita yang disuguhkan penulis lebih segar karena terdapat adegan-adegan lucu saat Ana merasa kesal karena setiap obrolannya dengan Mbah Kakung menjadi hal yang paling mengocok perut. Mbah Kakung yang kurang pendengaran membuat perjalanan dalam kapal tersebut menjadi lebih berwarna dan kisah inspiratifnya tentang cinta sejati bersama Mbah Putri membuat cerita menjadi lebih berkesan.

Sore tanggal 8 Desember 1938, hari ketujuh perjalanan, Kapal Blitar Holland tiba di Pelabuhan Batavia. Saat berlabuh di pelabuhan ini, pembaca dikejutkan dengan kisah dramatik dari Bonda Upe, guru mengaji  Ana dan Elsa. Kisah masa lalu Bonda Upe yang membuat  rombongan Daeng Andipati yang turun untuk menikmati soto betawi terkejut karena terjadi konflik saat Bonda Upe berlari sambil menangis ditemani suaminya. Semua bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bonda Upe. Namun, seiring perjalanan cerita kisah dramatik ini terjawab kemudian.

Keunggulan dalam novel ini adalah setiap tokoh yang terlibat dalam cerita begitu kuat dengan permasalahan masing-masing. Konflik demi konflik yang menimpa tokoh tentang masa lalu mereka membuat pembaca lebih mengerti dan memahami ketika dihadapkan pada permasalahan yang sama. Banyak hikmah yang bisa dipetik dalam novel ini karena dilengkapi dengan kata-kata bijak yang disampaikan Gurutta dalam setiap permasalahan yang dihadapi tokoh. Seperti kutipan Gurutta di halaman 375 “Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih , dengan apa pun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong”.

Pembaca juga dikejutkan dengan konflik batin yang dialami Daeng Andipati maupun Gurutta sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian terjawab dengan jawaban bijak oleh tokoh Gurutta membuat novel ini teramat berkesan.

Namun, dari sekian banyak kelebihan yang terdapat dalam novel ini tetap ada bagian yang masih terkesan terburu-buru di bagian penyelesaian. Selama 500-an halaman seluruh konflik digambarkan dengan detail, namun di akhir cerita penulis menutupnya dengan begitu ringan seolah-olah semua tokoh dalam novel ini dipaksakan untuk berakhir bahagia.

Walaupun begitu, sebagaimana karya Tere Liye yang lain novel ini adalah novel yang layak untuk dibaca. Pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia tentang hakikat kebenaran, tentang Tuhan, tentang cinta dan ketulusan, tentang nasionalisme, tentang kebahagiaan yang sesungguhnya begitu kental terasa dalam novel ini sehingga memberi pelajaran hidup yang berharga bagi siapa pun yang membacanya.

2 komentar:

  1. keren. bahasanya ciamik. lanjutkan ngeblognya yah.
    coba buat link k penerbit dsb. sebarkan k medsos biar orang tau blogmu dan rajin2 blogwalking yah.
    salam blogger

    BalasHapus
  2. Makasih Bu Yay...sip insyaallah siap rajin blogwalking hihihi

    BalasHapus