Rabu, 25 Oktober 2017

POLUSI RINDU

Ada kalanya rindu seperti batu-batu
Diam mengeras kadang diselimuti lumut dan perdu
Menyesap... 
Dari balik setir saat musik mengalun
Di antara kemacetan jalan
Dan hanya kenangan yang jadi hiburan

Rindu adalah aroma yang menebar 
Di antara belantara kota
Ingatan yang berlompatan
Seolah menyusuri tiap lekuknya
Bayang fatamorgana

Kau, aku, dan kota ini
Tergerus deru waktu
Di lintasan berbeda tanpa jeda
Menimbun jejak yang sama
Seperti polusi yang melingkupi kota
Rindu menguap menyesakkan raga











Rabu, 11 Oktober 2017

Etalase Hujan

Hujan di beranda. Deras menjatuhkan segenap yang tumpah. Air dari langit mengguyur seisi bumi basah. Subhanallah... Kekuatan maha dahsyat dari sang Maha berkehendak. Tetesannya tidak satu tapi milyaran bahkan tak terhitung luas jagat. Membentuk garis vertikal, indah seperti melodi yang berbaris. Kadang meliuk mengikuti hembusan angin.

Senja dan hujan yang kesekian. Tanah basah,  air menggenang. Rumput tersenyum,  berbisik dahagaku hilang katanya.  Aku hanya menatap dari jendela kamar. Tersenyum, ritme yang menawan. Meski hari ini delapan hari sudah terpaksa bedrest. Dan aku hanya bisa menatap hujan dari balik kamar.  Ah... Sederas apa pun engkau pasti ada masanya reda.

Begitu pun sakitku kali ini. Dua orang dokter dengan diagnosa yang sama. Infeksi lambung. Tapi aneh,  empat hari tak kunjung reda. Akhirnya suami membawaku ke sebuah rumah sakit dan terpaksa harus diambil darah. Hasilnya positif tifus. Lima hari total kembali harus bedrest. Ultimatum dokter tak boleh melakukan aktivitas apa pun selain berbaring dan ke kamar mandi. Hiks... Menyiksa sekali rasanya. Aku yang terbiasa dengan berbagai aktivitas terpaksa harus mematuhinya. Untungnya,  dokter memperbolehkanku dirawat di rumah. Sungguh,  aku trauma masuk rumah sakit. Aku ingat almarhum Bapak. Aku gak mau dirawat di rumah sakit.

Pekerjaan rumah dihandle suami dan anakku. Mereka berbagi tugas,  kompak sekali. Ayah menyediakan semua kebutuhanku,  menyiapkan makananan dan minum untuku. Anakku membantu mencuci dan membersihkan rumah. Begitu pun Ibu mertua memasakkan sup dan menu yang harus kumakan. Adik ipar tak kalah membantu. Setiap hari harus menggantikanku mengantar jemput anakku. Ah...Adakah kawan sejati selain keluarga?

Murid-muridku tak kalah membuatku terharu. Setiap hari menanyakan kabar dan mendoakanku. Mereka sampai blusukan mencari alamat rumah hanya untuk menjengukku. Oh dear Allah mereka adalah mutiara bangsa. Dibalik sikap dan kelakuan mereka yang kadang membuat kita mengelus dada,  ternyata selalu ada kebaikan di dalamnya. Betapa aku kangen.. Kangen mereka.

Pekerjaan sekolah terpaksa ditunda. Ayah selalu kasih aba-aba kalau aku tak boleh melakukan apa-apa. Tifus memang menyebalkan. Badan begitu lemas sehingga meskipun otak kita meminta tubuh kita bekerja,  tetap badan kita lemah melakukannya. Bersyukur pihak sekolah bisa mengerti dan memberikan toleransi untuk aku bisa istirahat total. Hatur nuhun untuk pimpinan sekolah, kurikulum,  dan seluruh staf SMP PGRI 4 Cimahi terkhusus my dearest  Bu Rini Suryantini. Maaf merepotkan ya...

Lalu penyakit apakah tifus itu? Ini hasil googlingku untuk mengobati rasa penasaran dan keras kepalanya aku kenapa sih harus bed rest?

Tifus merupakan penyakit peradangan pada usus yang disebabkan infeksi bakteri Salmonella typhi yang tertular lewat makanan dan minuman yang airnya terinfeksi bakteri. Kuman ini masuk melalui mulut dan menyebar ke lambung lalu ke usus halus. Bakteri ini memperbanyak diri di dalam usus. Pada minggu pertama, kuman dari tifus hanya bisa dilihat dari feses. Lalu pada minggu kedua baru bisa diketahui lewat darah karena infeksi yang ada di usus sudah masuk ke dalam pembuluh darah. Dan pada minggu ketiga diagnosis bisa terlihat positif di urin.

Selain itu yang menjadi ciri paling khas dari tifus adalah melihat jumlah leukositnya (sel darah putih). Umumnya jika suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri akan menyebabkan jumlah leukositnya meningkat, tapi tidak begitu pada penyakit tifus.

Gejala yang biasa muncul dari penyakit tifus adalah badan panas atau demam selama beberapa hari terutama siang dan malam, rasa sakit di perut bagian kiri, lidah bagian tengah berwarna putih tapi pinggirnya merah serta terjadi perubahan pola buang air besar (BAB).

Kenapa perlu istirahat yang cukup di tempat tidur?

Penyembuhan penyakit tifus ini adalah untuk menghilangkan bakteri yang masuk di tubuh. Karena itu penderita harus istirahat total dan tidak banyak bergerak agar panas badan cepat turun.

Jika banyak bergerak bisa membuat suhu badan naik dan kuman akan terus berkembang biak masuk ke dalam darah. Banyak bergerak juga tidak baik karena orang dengan tifus sedang mengalami masalah ususnya yang sedang ringkih yang bisa makin sakit jika banyak gerak.

Yang tak kalah penting selama proses penyembuhan dari sakit tifus adalah asupan makanan. Jangan harap makanan yang pedas dan bersantan bisa dinikmati karena hukumnya dilarang. Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang lembut dan mudah dicerna. Seperti bubur, kentang yang dikukus,  biskuit. Hindari juga makanan yang bertekstur keras dan berserat tinggi. Ingat.. Usus sedang dalam pemulihan jadi tidak boleh bekerja terlalu keras. Alternatif  buah yang bisa dikonsumsi adalah melon,  pepaya, dan pisang.

Ah hujan di beranda sudah mulai reda. Ya Allah jauhkan kami dari segala penyakit berbahaya. Seperti hujan yang Engkau turunkan ya Rabb.. Semua adalah kehendakMu. Tiap tetesnya membawa rahmat bagi semesta. Begitu pun setiap penyakit yang Allah timpakan,  semata-mata agar kita berpikir untuk selalu bersyukur dan bersyukur...

Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?




DAFTAR PUSTAKA

http://m.detik.com/health/read/2011/05/27/151959/1648666/763/kenapa-orang-tifus-tidak-boleh-banyak-bergerak










Rabu, 04 Oktober 2017

CINTA DUA ORANG LELAKIKU

Hari ini masih terbaring sakit. Mual,  muntah,  dan perut yang melilit. Dokter mengatakan aku terkena infeksi lambung. Dua hari disarankan untuk istirahat. Aku sendiri tak habis pikir mengapa lambungku bisa terluka. Padahal sudah sangat berhati-hati menjaga makanan. Tapi begitulah, manusia hanya bisa berusaha dan berharap sakit ini bisa dijadikan bahan renungan.

Aku bersyukur punya suami yang pengertian,  melihatku muntah-muntah nyaris pingsan segera dibawanya ke dokter. Padahal waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dan yang lebih membuat sedih pukul 04.30 dia harus terbang ke Makasar. Ada tugas kantor menanti di sana. 

Bersyukur dokter 24 jam ada. Sehingga aku yang nyaris pingsan karena sakit di perutku bisa segera tertolong. Obat yang diberikan dokter pun aku minum. Lumayan pukul 03.00 dini hari bisa tertidur karena rasa sakit di perut mulai mereda. 

Aku tak ingin menghalangi tugas suami ke Makasar. Meyakinkannya  bahwa aku baik-baik saja. Bagiku,  perhatian dan tanggung jawabnya sudah lebih dari cukup. Aku tak mau karena sakitku pekerjaan suami jadi terganggu. 

Kupandangi wajahnya ketika pamit akan berangkat. Tiba-tiba aku teringat almarhum Ayah. Dulu,  ayahlah yang membawaku ke rumah sakit ketika nyaris nyawaku hampir tak tertolong oleh demam berdarah. Peristiwa itu akan selalu membekas dalam ingatan. Pertama kali dalam hidupku harus masuk rumah sakit. Sudah dua orang dokter menangani sakitku. Namun,  demamku tak kunjung reda. Tak ada satu makanan yang masuk karena perutku seperti dililit mual dan muntah. Pukul 02.00 lebih ayah membawaku ke rumah sakit. 

Bagiku cinta dan kasih sayang Allah dan orang-orang tercinta adalah obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit.  Semoga Allah menaungi rahmat untukmu selalu Ayah di syurga terindahNya. Semoga Allah pun selalu menjaga suamiku di mana pun ia berada. Lindungi selalu orang-orang yang kusayangi ya Rabb... Berkahi selalu... 




Selasa, 03 Oktober 2017

RESENSI BUKU TRANSFORMASI MEDIA SOSIAL KE BAHASA INDONESIA






Judul Buku : Transformasi Media Sosial ke Bahasa Indonesia
Penulis         : Sri Rahayu Setiawati, S.Pd.
Jenis Buku : Nonfiksi
Penerbit       : Media Guru
Cetakan IV : Agustus 2017
Tebal Halaman : viii+70 halaman

Siang ini mendapat kunjungan istimewa dari salah satu rekan kerja yang telah menelurkan  karya terbarunya. Sebuah karya yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kedatangannya sengaja memberikan sebuah buku karyanya yang berjudul “Transformasi Media Sosial ke Bahasa Indonesia.” Sebuah kebanggan karena buku tersebut langsung diantarkan oleh penulisnya dan ditandatangani pula. Melihat judul dan covernya tak sabar rasanya ingin segera melahapnya.

Buku ini awalnya merupakan tulisan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Bu Sri Rahayu Setiawati di tempatnya mengajar, yaitu SMPN 1 Cimahi. Bu Yayu panggilan akrabnya memang sangat dekat dengan dunia tulis menulis. Keaktifannya dalam beberapa forum blog kepenulisan dan komunitas menulis membuatnya semakin terampil dalam menelurkan karya. Buku ini juga merupakan sumbangsihnya terhadap dunia literasi di Indonesia.

Dalam buku ini pembaca digiring untuk memahami bahwa teknologi memiliki peran yang sangat penting terutama bagi remaja di era milenial. Kedekatan remaja dengan aktivitasnya di media sosial dapat dimanfaatkan oleh guru, orang tua, remaja, bahkan siapa pun untuk menjadikannya sebagai media pembelajaran. Buku ini pun dapat menjadi panduan lengkap bagi seluruh guru bahasa Indonesia yang ingin mengembangkan media pembelajaran dalam proses belajar mengajarnya. Latar belakang  dan pengalaman penulis sebagai guru bahasa Indonesia dapat menjadi inspirasi bahwa kretivitas berbahasa dapat dituangkan dalam berbagai media teknologi, seperti facebook dan instagram,

Buku ini memuat delapan bab yang mengkaji Remaja dan Media Sosial, Peran Guru di Dunia Maya, Remaja dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, Media Sosial sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia, Materi Pengayaan Bahasa Indonesia, Evaluasi Pembelajaran, Dampak Positif dan Negatif Belajar dengan Facebook yang keseluruhannya dibahas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Terdapat bagian yang menggugah hati pembaca yaitu ketika penulis membahas tentang Peran Guru di dunia Maya  pada bab II. Di bab ini terasa semangat yang digelorakan penulis untuk memerangi konten-konten negatif di dunia maya dengan mengajak seluruh komponen masyarakat  khususnya guru untuk membuat karya berupa tulisan positif  guna memerangi konten negatif tersebut.
“Jumlah konten negatif  itu sangat banyak dan tak terbendung. Jika hanya para blogger WB (Warung Blogger) saja yang berperan, tentunya konten-konten negatif itu masih berada di atas angin. Perlu keterlibatan banyak pihak. Perlu tulisan yang lebih banyak. Jutaan bahkan milyaran. Guru-guru se-Indonesia, bahkan se-dunia wajib terlibat di dalamnya. Mereka adalah ujung tombak dalam pendidikan remaja. Baik pendidikan fisik maupun psikis. Mereka mengajar dan mendidik. Para guru tersebut harus menulis. Mereka wajib menyumbangkan konten-konten positif di dunia maya.

Selain pembahasan tentang peran guru di dunia maya, penulis pun memberikan solusi dalam menciptakan pembelajaran bahasa Indonesia yang menyenangkan melalui pemanfaatan media sosial facebook dan instagram. Keterampilan empat berbahasa dikemas dengan apik melalui media sosial tersebut. Terdapat beberapa teknik yang disampaikan penulis agar proses belajar mengajar berjalan efektif  dan memiliki daya tarik. Salah satunya dengan menggunakan teknik foto bercerita. Meski sayang lampiran karya siswa tentang foto bercerita belum ada.

Dari 70 halaman buku ini, tampilan keseluruhannya cukup menarik meski  ukuran huruf masih terlalu kecil dan hasil cetakan kurang terang. Mudah-mudahan di cetakan selanjutnya, hal ini bisa diperbaiki.

Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat bagi seluruh guru di Indonesia khususnya guru bahasa Indonesia.  Teknologi bukan racun dunia. Ia adalah madu peradaban yang dibalut jari-jari lentik pemakainya. Pengalaman berharga penulis bisa menjadi pencerah demi terwujudnya pembelajaran yang bermakna sehingga dapat lahir generasi-generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia yang mampu membanggakan bangsa.

Senin, 02 Oktober 2017

BAIT AKSARA

Waktu melesat begitu cepat
Laksana anak panah keluar dari busurnya
Siang cepat berganti malam
Sedang hati hanya menggumam

Otak berpikir keras
Tumpukan tugas melambai bebas
Jarum jam terus berpacu
Baris aksara tak menderu

Mataku terpejam
Ada di halaman berapa sekarang?
Tubuhku berada di tumpukan aksara
Mengeja bait demi bait karya

Ah...aku tetap rindu senja
Mengabadikanku dalam bait aksara