Aku bersyukur punya suami yang pengertian, melihatku muntah-muntah nyaris pingsan segera dibawanya ke dokter. Padahal waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dan yang lebih membuat sedih pukul 04.30 dia harus terbang ke Makasar. Ada tugas kantor menanti di sana.
Bersyukur dokter 24 jam ada. Sehingga aku yang nyaris pingsan karena sakit di perutku bisa segera tertolong. Obat yang diberikan dokter pun aku minum. Lumayan pukul 03.00 dini hari bisa tertidur karena rasa sakit di perut mulai mereda.
Aku tak ingin menghalangi tugas suami ke Makasar. Meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Bagiku, perhatian dan tanggung jawabnya sudah lebih dari cukup. Aku tak mau karena sakitku pekerjaan suami jadi terganggu.
Kupandangi wajahnya ketika pamit akan berangkat. Tiba-tiba aku teringat almarhum Ayah. Dulu, ayahlah yang membawaku ke rumah sakit ketika nyaris nyawaku hampir tak tertolong oleh demam berdarah. Peristiwa itu akan selalu membekas dalam ingatan. Pertama kali dalam hidupku harus masuk rumah sakit. Sudah dua orang dokter menangani sakitku. Namun, demamku tak kunjung reda. Tak ada satu makanan yang masuk karena perutku seperti dililit mual dan muntah. Pukul 02.00 lebih ayah membawaku ke rumah sakit.
Bagiku cinta dan kasih sayang Allah dan orang-orang tercinta adalah obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Semoga Allah menaungi rahmat untukmu selalu Ayah di syurga terindahNya. Semoga Allah pun selalu menjaga suamiku di mana pun ia berada. Lindungi selalu orang-orang yang kusayangi ya Rabb... Berkahi selalu...
Jadi teringat cerpen, dua lelaki pilihan
BalasHapusMksh mbak wid...msh Tulisan sederhana.😊
HapusBaca judulnya, saya tertarik.
BalasHapusTernyata ....
wehehehe
"Kompor gas!" Kata Pakde Indro.
kerenn
folback my blog:
dloverheruwidayanto.blogspot.co.id
Hatur nuhun Kang Heru... Sdh difolback kang..
Hapus