Gerakan literasi yang
saat ini tengah gencar dicanangkan oleh pemerintah khususnya Pemerintah
Provinsi Jawa Barat melalui tantangan membaca dari Gubernur Jawa Barat atau
West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) tentu membawa angin segar dalam upaya
menumbuhkan minat dan bakat siswa terhadap budaya membaca. Gerakan ini pun
merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan budi pekerti luhur seperti yang
tercantum dalam Permendikbud RI
Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Gerakan Literasi
Sekolah adalah sebuah upaya yang
dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai
organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.(Panduan
GLS SD, hal 2, Kemdikbud, 2016). Tahapan
dalam Gerakan Literasi Sekolah ini meliputi:(1) Tahap pembiasaan berupa
penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran di awal pelajaran; (2) Tahap pengembangan
meliputi kegiatan meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi
buku pengayaan (ada tagihan nonakademik); (3) Tahap pembelajaran meliputi
kegiatan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan
menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran (ada
tagihan akademik).
Tahapan gerakan
literasi tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki setiap
satuan pendidikan. Jika pada tahap pembiasaan sudah
terpenuhi dengan konsisten menjalankan kegiatan membaca lima belas menit di
awal pelajaran dan Readhaton (membaca senyap 42 menit secara berkala), maka
sekolah dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu tahapan pengembangan.
Tahapan ini dapat dilakukan melalui membaca
dengan tagihan (membuat peta, grafik organizer, dan bincang buku)
dan menulis reviu dengan teknik
Deskripsi, Y Chart, Ishikawa Fishbone, Infografis, dan lain lain, mempresentasikan hasil reviu
kemudian mendiskusikan hasil reviu. Tahapan ini sebetulnya dapat dilakukan tidak hanya
bagi siswa peserta WJLRC saja. Siswa lain pun dapat mengikuti kegiatan ini
terutama presentasi hasil reviu buku yang telah dibuatnya.
Presentasi menurut KBBI
adalah (1) pemberian; (2) pengucapan pidato (pada penerimaan suatu jabatan; (3)
perkenalan (tentang seseorang kepada seseorang, biasanya kedudukannya lebih tinggi
; (4) penyajian atau pertunjukan ( tentang sandiwara, film, dsb), kepada
orang-orang yang diundang; mempresentasikan
v ,menyajikan; mengemukakan
(dalam diskusi, dsb). Presentasi reviu buku adalah kegiatan menyajikan atau mengkomunikasikan
hasil karya siswa berupa bahan bacaan yang dituangkan dalam bentuk menceritakan
kembali isi buku. Siswa menyebutkan pula hikmah setelah membaca buku tersebut.
Kegiatan presentasi reviu buku ini dapat dilakukan setelah membaca 15 menit
sebelum pelajaran di dalam kelas. Siswa
mempresentasikannya di dalam kelas dan
teman-teman di kelasnya memberikan tanggapan. Kegiatan presentasi reviu ini pun
dapat dilakukan pada saat kegiatan Readhaton (membaca senyap 42 menit secara
berkala). Kegiatan Readhaton dapat dilakukan sesuai dengan program Gerakan
Literasi Sekolah di masing-masing satuan pendidikan. Minimal kegiatan ini dapat
dilakukan satu bulan sekali. Setelah kegiatan Readhaton berlangsung, pihak
sekolah dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan reviu buku
yang telah dibuatnya di hadapan seluruh warga sekolah. Siswa yang tampil dapat
dipilih berdasarkan penilaian terbaik dari reviu buku yang telah dibuat.
Manfaat dari kegiatan
presentasi reviu buku ini tentu sangat banyak, diantaranya (1) menumbuhkan
budaya gemar membaca; (2) melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis; (3) melatih
kemampuan berbicara dan menulis; (4) melatih kemandirian dan kepercayaan diri;
(5) melatih kemampuan bersosialisasi; (6) Menumbuhkan jiwa kepemimpinan; (7) menumbuhkan
interaksi positif siswa dengan lingkungan; (8) melatih kemampuan daya ingat dan
konsentrasi; (9) meningkatkan keterampilan berdiskusi di komunitas sekolah,
keluarga, dan masyarakat; (10) melatih siswa untuk bisa menemukan banyak hal
yang menarik dari buku dan lingkungan.
Setelah tahap pengembangan
ini dapat dilakukan di setiap satuan pendidikan, tentu tahap pembelajaran dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah pun pun akan mudah diterapkan. Kegiatan presentasi
reviu siswa mendorong siswa untuk memiliki kecerdasan emosional dan intelegensi
yang tinggi sehingga mampu membentuk generasi Indonesia di masa depan yang
mampu memiliki karakter dan budi pekerti luhur. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyediakan dan memfasilitasi sistem dan
pelayanan pendidikan sesuai dengan UUD 1945 (Pasal 31 ayat 3). Ayat ini menegaskan
bahwa kegiatan literasi juga mencakup upaya mengembangkan potensi kemanusiaan
yang mencakup kecerdasan intelektual, emosi, bahasa, estetika, sosial,
spiritual, dengan daya adaptasi terhadap perkembangan arus teknologi dan informasi.
Sekolah
sebagai lembaga pencetak generasi emas Indonesia sudah saatnya untuk bangkit
dan mulai membenahi diri dengan sungguh-sungguh
melaksanakan tahapan Gerakan
Literasi Sekolah. Generasi emas Indonesia yang gemar membaca, yang memiliki
budaya literat InsyaAllah akan terwujud dengan konsistensi dan kerjasama dari
seluruh warga sekolah.

