Minggu, 18 Desember 2016

PRESENTASI REVIU BUKU SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA






Gerakan literasi yang saat ini tengah gencar dicanangkan oleh pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui tantangan membaca dari Gubernur Jawa Barat atau West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) tentu membawa angin segar dalam upaya menumbuhkan minat dan bakat siswa terhadap budaya membaca. Gerakan ini pun merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan budi pekerti luhur seperti yang tercantum dalam Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.(Panduan GLS SD, hal 2, Kemdikbud, 2016). Tahapan dalam Gerakan Literasi Sekolah ini meliputi:(1) Tahap pembiasaan berupa penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran di awal pelajaran; (2) Tahap pengembangan meliputi kegiatan meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan (ada tagihan nonakademik); (3) Tahap pembelajaran meliputi kegiatan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran (ada tagihan akademik).
    Tahapan gerakan literasi tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki setiap satuan pendidikan. Jika pada tahap pembiasaan sudah terpenuhi dengan konsisten menjalankan kegiatan membaca lima belas menit di awal pelajaran dan Readhaton (membaca senyap 42 menit secara berkala), maka sekolah dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya yaitu tahapan pengembangan. Tahapan ini dapat dilakukan melalui membaca dengan tagihan (membuat peta, grafik organizer, dan bincang buku) dan menulis reviu dengan teknik Deskripsi, Y Chart, Ishikawa Fishbone, Infografis, dan lain lain, mempresentasikan hasil reviu kemudian mendiskusikan hasil reviu. Tahapan ini sebetulnya dapat dilakukan tidak hanya bagi siswa peserta WJLRC saja. Siswa lain pun dapat mengikuti kegiatan ini terutama presentasi hasil reviu buku yang telah dibuatnya.
      Presentasi menurut KBBI adalah (1) pemberian; (2) pengucapan pidato (pada penerimaan suatu jabatan; (3) perkenalan (tentang seseorang kepada seseorang, biasanya kedudukannya lebih tinggi ; (4) penyajian atau pertunjukan ( tentang sandiwara, film, dsb), kepada orang-orang yang diundang; mempresentasikan  v  ,menyajikan; mengemukakan (dalam diskusi, dsb). Presentasi reviu buku adalah kegiatan menyajikan atau mengkomunikasikan hasil karya siswa berupa bahan bacaan yang dituangkan dalam bentuk menceritakan kembali isi buku. Siswa menyebutkan pula hikmah setelah membaca buku tersebut. Kegiatan presentasi reviu buku ini dapat dilakukan setelah membaca 15 menit sebelum  pelajaran di dalam kelas. Siswa mempresentasikannya di dalam  kelas dan teman-teman di kelasnya memberikan tanggapan. Kegiatan presentasi reviu ini pun dapat dilakukan pada saat kegiatan Readhaton (membaca senyap 42 menit secara berkala). Kegiatan Readhaton dapat dilakukan sesuai dengan program Gerakan Literasi Sekolah di masing-masing satuan pendidikan. Minimal kegiatan ini dapat dilakukan satu bulan sekali. Setelah kegiatan Readhaton berlangsung, pihak sekolah dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan reviu buku yang telah dibuatnya di hadapan seluruh warga sekolah. Siswa yang tampil dapat dipilih berdasarkan penilaian terbaik dari reviu buku yang telah dibuat.
     Manfaat dari kegiatan presentasi reviu buku ini tentu sangat banyak, diantaranya (1) menumbuhkan budaya gemar membaca; (2) melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis; (3) melatih kemampuan berbicara dan menulis; (4) melatih kemandirian dan kepercayaan diri; (5) melatih kemampuan bersosialisasi; (6) Menumbuhkan jiwa kepemimpinan; (7) menumbuhkan interaksi positif siswa dengan lingkungan; (8) melatih kemampuan daya ingat dan konsentrasi; (9) meningkatkan keterampilan berdiskusi di komunitas sekolah, keluarga, dan masyarakat; (10) melatih siswa untuk bisa menemukan banyak hal yang menarik dari buku dan lingkungan.
     Setelah tahap pengembangan ini dapat dilakukan di setiap satuan pendidikan, tentu tahap pembelajaran dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah pun pun akan mudah diterapkan. Kegiatan presentasi reviu siswa mendorong siswa untuk memiliki kecerdasan emosional dan intelegensi yang tinggi sehingga mampu membentuk generasi Indonesia di masa depan yang mampu memiliki karakter dan budi pekerti luhur. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyediakan dan memfasilitasi sistem dan pelayanan pendidikan sesuai dengan UUD 1945 (Pasal 31 ayat 3). Ayat ini menegaskan bahwa kegiatan literasi juga mencakup upaya mengembangkan potensi kemanusiaan yang mencakup kecerdasan intelektual, emosi, bahasa, estetika, sosial, spiritual, dengan daya adaptasi terhadap perkembangan arus teknologi dan informasi.            
    Sekolah sebagai lembaga pencetak generasi emas Indonesia sudah saatnya untuk bangkit dan mulai membenahi diri dengan sungguh-sungguh  melaksanakan  tahapan Gerakan Literasi Sekolah. Generasi emas Indonesia yang gemar membaca, yang memiliki budaya literat InsyaAllah akan terwujud dengan konsistensi dan kerjasama dari seluruh warga sekolah.   



Jumat, 16 Desember 2016



Judul Buku      : Pondok Mertua Indah
Pengarang       : Nunung Nurlaela
Tebal Halaman : 147+ix halaman
Tahun Terbit     : 2014

PONDOK MERTUA INDAH? SIAPA TAKUT......:)
 
      Pertama kali menemukan buku ini saat diskon buku di Gramedia Bandung Indah Plaza. Judul yang menarik dan harganya yang sangat terjangkau semakin membuat saya penasaran ingin mengetahui 101 cara hidup bersama mertua yang ditawarkan dalam buku ini. Di bagian atas judul buku terdapat testimoni dari Felix Y. Siauw yang mengatakan pembahasan Mbak Nunung dalam buku ini asyik, lengkap, tak menggurui tapi tetap bernilai dan memberi solusi. Testimoni ini didukung pula oleh beberapa testimoni lain yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Mulai dari ibu rumah tangga, penulis, maupun blogger yang terdapat di bagian belakang cover buku. Hal ini semakin membuat saya tertarik untuk membaca buku karya Mbak Nunung Nurlaela ini.
      Mertua adalah orang tua dari pasangan hidup kita. Baik orang tua laki-laki maupun perempuan. Mereka adalah orang tua pasangan hidup kita yang tetap harus kita hargai dan hormati. Mereka adalah orang tua yang telah membesarkan pasangan hidup kita dengan penuh kasih sayang hingga pasangan hidup kita mencapai kesuksesan. Dua-duanya memegang peranan penting dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan kadang saling mempengaruhi.
      Saat ini mungkin banyak sebagian orang yang masih "risih" untuk harus tinggal bersama mertua. Bahkan ada yang sudah wanti-wanti untuk "say no" ketika harus tinggal bersama mertua. Tentu masing-masing punya alasan tersendiri apalagi pada umumnya pasangan menikah lebih menyukai hidup mandiri tanpa campur tangan orang tua.  Namun  ketika pasangan tidak bisa mengelak dari keadaan yang mengkondisikan mereka hidup dan tinggal bersama mertua maka buku ini dapat menjadi solusinya.
      Buku setebal 147 halaman ini terbagi menjadi tiga bab yang dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi kejadian yang pernah dialami baik oleh menantu laki-laki maupun menantu perempuan. Ilustrasi tersebut memudahkan pembaca untuk bisa memahami isinya dan bisa dibaca tidak hanya oleh menantu perempuan saja. Bab I dalam buku ini membahas tentang Menantu dan Mertua. Dalam bab ini penulis berusaha memaparkan tentang definisi mertua, hubungan antara menantu dan mertua, pengantar penulis untuk menyatukan dua hati dan dua keluarga, serta paparan tentang beberapa kondisi mengapa pasangan tinggal bersama mertua. Bagian ini yang paling menarik, karena terkadang kita tidak megetahui alasan pasti mengapa pasangan yang sudah menikah masih mau untuk tinggal bersama mertua. Berikut alasan yang dipaparkan oleh penulis.
1. Pasangan masih tinggal bersama mertua karena belum mampu membeli rumah sendiri.
2. Karena tidak ada dana atau belum menemukan rumah kontrakan yang cocok
3. Karena pekerjaan
4. Karena kemauan salah satu pasangan
5. Karena keinginan mertua
6. Karena penyebab lainnya seperti mertua yang sudah sangat tua atau mertua yang tidak mau berpisah dengan anak atau cucunya.
       Enam alasan yang dipaparkan penulis dalam buku ini  tentu pernah dialami oleh pasangan yang saat ini terkondisikan untuk tinggal bersama mertua. Oleh karena itu dalam bab ini Mbak Nunung memberikan solusi untuk kembali meluruskan niat. Berniatlah tinggal di rumah mertua semata karena ikhlas ingin menghormati, berbakti, dan berbuat baik kepada mertua. Berbuat baik kepada mertua sama wajibnya dengan berbuat baik kepada orangtua kita.
       Sedangkan pada Bab II penulis berusaha menguraikan tentang 25 motivasi dan tips sederhana yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik dari menantu laki-laki maupun menantu perempuan tentang keadaan yang sering terjadi. Contohnya ketika tinggal dengan mertua, ketika merasa asing, merasa bersalah, ketika tidak bekerja, ketika bekerja, ketika mertua masih memanjakan pasangan kita, ketika mertua kepo, ketika mertua egoistis, ketika mertua mengomel, ketika berbeda pendapat, ketika berkonflik dengan anggota keluarga lain, ketika ke luar kota, ketika buah hati tak kunjung hadir, ketika hamil dan buah hati lahir, ketika mendidik buah hati, ketika menyambut hari raya, ketika bergaul dengan tetangga, ketika mertua pilih kasih, ketika berbicara tentang uang, ketika menantu tidak dipercaya lagi, ketika salah satu mertua tak sepenuhnya merestui Anda, ketika mertua berbeda keyakinan, ketika sakit, ketika dipanggil sang pencipta, ketika keputusan bercerai harus diambil. Semua tips dan motivasi yang diuraikan dalam bab ini dikemas dengan ringan, segar, dan tidak menggurui seperti testimoni yang disampaikan  Ustad Felik Y. Siauw.
      Selanjutnya Bab III adalah bagian penutup. Dalam bab ini penulis buku ini merangkum keseluruhan tulisan menjadi sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini dikemas dalam tips yang sangat bermanfaat bagi pasangan yang saat ini tinggal bersama mertua. Penulis menguraikannya dengan sederhana dan mudah dipahami yaitu :
1. Sabar
     Sabar adalah mencegah, mengekang, atau menahan. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah sabar berarti juga menahan jiwa dari perasaan cemas, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari tindakan yang tidak terpuji. Hikmah sabar ini bagi pasangan yang tinggal bersama mertua tentu sangat besar karena dengan kesabaran pintu-pintu kebaikan terbuka lebar. Seperti firman  Allah dalam QS. Ar-Ra'du:22
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, menafkahkan sebagian rejeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)." Selain itu sikap sabar juga mampu menjadi penolong, membawa keberuntungan, dan mendatangkan keuntungan yang besar. Jadi, solusi pertama yang diberikan penulis dalam buku ini adalah bersabarlah atas apa yang terjadi dalam hidup Anda, termasuk ketika harus tinggal bersama mertua.
2. Nikmatilah
Penulis buku ini memberikan solusi berikutnya bagi pasangan yang tinggal dengan mertua yaitu dengan menikmati apa pun yang diberikan Allah SWT. Nikmati suka, duka dan ritmenya. Nikmati berputarnya roda kehidupan, baik ketika berada di bawah, di tengah, maupun di atas. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan? Solusi dan kesimpulan pada bagian ini dilengkapi dengan catatan yang dibuat penulis dalam kotak kecil yang merupakan bagian penting untuk diingat oleh pasangan yang tinggal dengan mertua seperti yang terdapat di halaman 137. 
"Menikmati kebersamaan dengan mertua menjadikan Anda lebih bijak, lebih hebat, dan lebih kuat serta membuat hubungan dengan mertua semakin erat. Rasa cinta pasangan Anda pun akan semakin besar dan kuat."
3. Mensyukuri
Mensyukuri kondisi tinggal dengan mertua membuat hidup lebih bermakna. Anda bisa menjadikannya samudra pahala yang luas jika ikhlas menjalankannya
4. Meyakini
Yakini bahwa Allah SWT akan memberi yang terbaik bagi hambaNya yang bersabar, bersyukur, dan menikmati setiap ketentuan yang diberikanNya. Meyakini bahwa ketika tinggal dengan mertua, kesuksesan hidup ada di hadapan Anda. Sebab, sejatinya semua yang terjadi adalah pembelajaran dalam hidup untuk meraih sukses dunia dan akhirat.
5. Introspeksi
 Selanjutnya introspeksi atau muhasabah terhadap apa yang terjadi dalam diri kita adalah hal yang penting dilakukan. Muhasabah untuk perbaikan diri sebagai suami atau istri, sekaligus sebagai anak-menantu, akan membantu Anda menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi, dan mencoba tidak mengulangi kesalahan.
      Dari keseluruhan uraian yang disampaikan penulis pada Bab I sampai Bab III tentu dapat memberikan pencerahan dan penyejuk serta penyemangat bagi pasangan yang saat ini tinggal bersama mertua atau bagi calon pasangan yang memutuskan untuk tinggal bersama mertua.Meski masih terdapat kekurangan dari buku ini yaitu huruf dalam buku ini diketik dengan ukuran kecil tentu sedikit menyulitkan pembaca. Namun secara keseluruhan penyajian isi buku ini patut diacungi jempol dengan catatan-catatan menarik dan solusi berharga yang dipaparkan penulis. Terima kasih Mbak Nunung Nurlaela. Bukunya keren sekali...:)







Selasa, 06 Desember 2016

PELANGI HARAPAN

Pelangi Harapan

Aku selalu suka senja karena senja adalah saat bagiku bisa melukis aneka warna.
Merah selalu kulukis di gaun malamku. Menyambutmu di gerbang pintu.
Ada yang lebih membahagiakanku saat kau selalu memuji gaun merahku.
Senyumku merekah.
Lalu kita bercakap di keheningan malam hingga lelah usai.

Aku penyuka senja karena jingga selalu kulukis di kedalaman hari.
Saat matahari menepi dan aku terduduk mengusir sepi.
Warna emas berpadu menggenapkan rindu.

Aku penikmat senja.
Menikmati birunya langit yang mulai memudar.
Pucat berkabut awan tersambut.
Putih memendar barisan awan tersebar.

Aku pecinta senja.
Menikmati hamparan hijau ilalang dan cemara.
Tubuh rebah.
Wangi surga begitu terasa.
Hening hanya sayup-sayup desiran angin.

Aku pelukis senja.
Menggenapkannya dengan aneka warna.
Hitam membayang saat senja menghilang.
Pelangi datang serupa harapan.

~6 December

Senin, 31 Oktober 2016

Resensi Novel "Pulang" Tere Liye



Sosok Bujang dan  Jet Lee dalam Novel "Pulang" Tere Liye

 Judul Buku : Pulang
Pengarang   : Tere Liye
Penerbit      : Republika
Tebal Buku : iv + 400 hal. ; 13.5 x 20.5 cm

       Setelah novel "Rindu", dan  "Hujan", karya Tere Liye berikutnya yang akan saya ulas adalah novel "Pulang". Novel ini memiliki cover yang menarik. Berwarna hijau dengan lukisan suasana matahari tenggelam di laut ketika senja dengan paduan warna mistis ungu di bagian awan dan birunya laut  sangat kontras dengan sinar matahari berwarna kuning bercampur gradasi warna pelangi.Kesan misterius pun bertambah dengan judul "Pulang" semakin membuat pembaca pada umumnya bertanya akan seperti apa alurnya? Setipe dengan novel-novel Tere Liye lainnya ataukah berbeda?
       Rasa penasaran ini dilengkapi dengan beberapa testimoni dari pembaca yang merespon positif semua karya-karya Tere Liye.Salah satunya yang mengungkapkan bahwa membaca novel-novel Tere Liye seperti pulang ke rumah, berapa jauh pun kaki melangkah, selalu ingin kembali.
        "Pulang" dalam novel ini tentu bukan tanpa makna. Pembaca dapat mengetahui makna "Pulang" dalam novel ini setelah membaca utuh cerita yang dikemas menjadi 25 bagian. Jangan kaget ketika membaca tiap bagiannya,  penulis seolah memainkan pikiran pembaca dengan alur yang berlompat-lompatan.Rasanya, ini bagian yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Emosi pembaca sengaja dibuat berpindah-pindah dengan pengalihan alur dari perjalanan masa depan tokoh hingga kilas balik tokoh dimainkan begitu hebat oleh penulis.
        Di awal cerita, novel ini jelas berbeda dengan novel Tere Liye lainnya. Pembaca langsung disodorkan konflik dan ketegangan yang dialami Tokoh Bujang yang saat itu berusia lima belas tahun. Pemuda sederhana tanpa alas kaki yang ikut berburu babi hutan bersama Tauke Muda yang merupakan kawan ayahnya. Samad ayah Bujang adalah seorang jagal kepercayaan Tauke Besar ayah Tauke Muda. Ayah Bujang sepantar dengan Tauke Muda. Usianya berkisar lima puluh. Kedatangan Tauke Muda membawa kegembiraan bagi Samad dan mengizinkan putra semata wayangnya bertempur di belantara rimba Sumatera menumpas babi hutan. Dalam pertempuran melawan babi hutan itu pembaca betul-betul merasakan ketegangan sudah dimulai di awal cerita. Ketegangan saat  kemudian tokoh Bujang dapat meyelamatkan nyawa Tauke Muda dari serangan babi hutan raksasa hingga penulis menggambarkan sosok Bujang sebagai tokoh yang sudah tidak lagi mengenal rasa takut.
       Samad yang kehilangan  kaki satu dan menjadi orang kepercayaan Tauke Besar di masa lalu pun memberikan restu ketika akhirnya Bujang anak satu-satunya diminta untuk tinggal bersama Tauke Muda di ibukota provinsi. Kisah penyelamatan Bujang terhadap Tauke Muda memberi pengaruh besar bagi kehidupan Bujang kelak. Meski, tentu yang terluka adalah Mamak Bujang. Perempuan yang selalu mengajari Bujang mengaji dan memberikan ilmu agama. Dia harus terpisah dengan anak satu-satunya tersebut.
         Pada bagian berikutnya, saya seperti menemukan sosok Jet Lee dalam film-film mandarin yang tereplika dalam kisah yang tertuang dalam novel ini. Kisah perjalanan sosok Bujang dari remaja desa sederhana yang berubah menjadi sosok menakjubkan. Sosok yang berubah 180 derajat. Dari pemuda tanpa alas kaki menjadi pemuda luar biasa. Sosok yang tangguh yang mau belajar apa saja. Belajar kungfu, belajar pedang dan samurai dari Guru Bushi, belajar gulat dan berkelahi dari Guru Kopong, belajar menembak dari Salonga asal Filipina, bahkan belajar ilmu akademik dari Frans si Amerika.
          Bujang yang tumbuh menjadi pemuda yang mengagumkan kemudian  menjadi anak angkat kesayangan Tauke.  Bujang disekolahkan dan mendapat fasilitas terbaik untuk bisa melengkapi Puzzle bagi keluarga Tong. Bakat dan kemampuan yang dimiliki Bujang mampu memperkuat bisnis keluarga Tong hingga merajai ibu kota. Pembaca disuguhi intrik-intrik khas bisnis gelap. Bisnis Shadow Economy menjadi konflik yang mewarnai ketegangan cerita. Kisah-kisah mafia dalam film Mandarin seolah menjelma dalam novel ini. Rangkaian deskripsi latar yang dikisahkan dalam novel ini membuat pembaca tersihir dan seolah-olah sedang menyaksikan adegan laga yang nyata.
        Kisah Bujang yang berkamuflase menjadi seorang yang berpendidikan, penyelesai konflik tingkat tinggi, mampu mengendarai jet dan mahir ilmu bela diri,  lagi-lagi mengingatkan saya dengan sosok Jet Lee. Kelihaian Bujang dalam bertempur dengan intrik halus serta kecerdasannya dalam  membangun bisnis keluarga Tong membuat pembaca seolah berada dalam laga sesungguhnya.Bahkan ketika puncak ketegangan cerita terjadi yaitu ketika penghianatan yang datang dari orang paling dekat dalam kehidupan Bujang dan Tauke. pembaca disuguhkan adegan laga kolosal saat peperangan antara Bujang dan Basyir.
            Kemenangan Bujang melawan Basyir adalah pertempuran yang diwarnai konflik masa lalu. Konflik yang terjalin erat satu dengan yang lainnya. Dari awal permasalahan hingga akhir diuntai dalam  jalinan erat antartokohnya. Semua menjadi satu rangkaian cerita yang padu dan menarik. Hubungan antara Samad-Mamak-dan Tuanku Imam yang terjalin utuh di bagian akhir cerita. Bahkan tokoh yang terhubung di masa lalu  oleh pengarang dihadirkan keterkaitannya. Contohnya keterikatan emosi antara Guru Kopong dan Bujang oleh hutang budi masa lalu, hubungan antara guru Frans si Amerika dan anaknya yang bernama White, keterikatan tokoh Guru Bushi dengan dua cucunya yang bernama Yuki dan Kiko, bahkan keterikatan tokoh Salonga dari Filipina yang membuat intrik cerita dalam novel ini begitu hidup karena terjalin hubungan erat ketika tokoh-tokoh tersebut kemudian turut membantu penyerangan Bujang terhadap Basyir.
            Bagi pembaca yang awam  terhadap lompatan cerita tentu akan merasa kesulitan bahkan kesal karena emosinya seperti diaduk-aduk. Contohnya ketika membaca bagian yang merupakan klimaks cerita di halaman 243yang merupakan bagian 16 (Penghianatan bagian satu). Oleh penulis perhatian pembaca dialihkan sejenak sehingga emosi pembaca yang mulai meningkat dipaksa turun dengan adanya penurunan konflik berupa  kilas balik atau kisah masa lalu tokoh di bagian 17 ( Utang 40 Juta dolar). Ketegangan berlanjut justru di bagian 18 (Penghianatan bagian kedua). Entah ini disengaja atau tidak atau malah membuat novel ini memang sengaja dibuat terasa berbeda oleh penulisnya.
            Namun, bagi pecinta novel dengan intrik laga dan adu fisik secara kolosal, novel ini adalah novel yang patut direkomendasikan menjadi bacaan wajib. Termasuk saya yang juga penikmat film-film laga, novel ini menjadi teramat berkesan karena penuh hikmah dan pelajaran berharga tentang kesetiaan, pengabdian, pengorbanan bagi orang tercinta, kerja keras, semangat untuk terus belajar, pantang menyerah, dan tentunya memahami makna pulang yang sesungguhnya bahwa meski perjalanan hidup kita dibesarkan dengan rasionalitas, namun pada suatu saat kita akan bertemu pada satu titik yaitu ketika pertempuran yang sesungguhnya adalah bukan pertempuran melawan orang lain melainkan pertempuran mengalahkan diri sendiri, egoisme, ambisi, rasa takut, pertanyaan, dan bermacam keraguan. Saat kita bisa mengalahkannya, Saat itu juga kita telah pulang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang memeluk erat kesedihan dan kegembiraan.

Tatapan Manusia

Tatapan Manusia

Wahai manusia pecinta
Kau pandang penuh kasih terhadap sesama
Menebar benih cinta
merangkul dengan jiwa
Tak membedakan tak jua merendahkan
Semua di matamu sama

Wahai manusia pendusta
Kau tipu sesama dengan tabiat nista
Kau makan daging sesama
Menggunjingkannya tanpa merasa berdosa
Gajah di pelupuk mata tak nampak
Sibuk mencela tanpa mencerna

Mata pecinta penuh suka cita
Penebar suasana bahagia
Mata pendusta penuh kebencian
Penebar dengki yang bertambah nian

Pecinta dan pendusta dua-duanya ada
Berkelindaan di sekitar kita
Pecinta dan pendusta
Dua-duanya hanya tafsiran kita...

Sabtu, 22 Oktober 2016

RESENSI NOVEL "RINDU" TERE LIYE



MEMAKNAI “RINDU” DALAM PERJALANAN PANJANG

Judul            : Rindu
Pengarang    : Tere Liye
Penerbit       : Republika
Tebal            : 544 halaman
Bismillahirrahmanirrahiim…

Novel Rindu adalah novel karya Tere Liye yang  telah mendapatkan penghargaan sebagai novel religi terbaik dalam ajang Islamic Book Award 2015 dan menjadi best seller sebagaimana karya Tere Liye yang lain. Tere Liye adalah Pengarang yang dikenal sebagai penulis novel. Lahir di Sumatra Selatan, 21 Mei 1979. Beberapa karyanya yang pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Sholat Delisha dan Moga Bunda Disayang Allah. Selain novel Rindu, karya –karya Tere Liye yang lain adalah Matahari (2016), Bulan (2016), Bumi (2016), Hujan (2016), Pulang (2016), Pukat (2010), Burlian, Eliana, Amelia, Abaout Love, Negeri Di Ujung tanduk, Sepotong Hati yang Baru, Negeri Para Bedebah, Berjuta Rasanya, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (2012), Sunset Bersama Rosie (2008), Kisah Sang Penandai (2007), Ayahku (BUKAN) Pembohong, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (2010), Hafalan Sholat Delisha (2005), Moga Bunda Disayang Allah (2005), Bidadari-Bidadari Surga (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu(2009), Dikatakan Atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta.

Novel setebal 544 halaman  ini mengisahkan sebuah perjalanan panjang tentang kerinduan yang hakiki. Kerinduan manusia akan sebuah kebenaran. Kerinduan yang dikemas dalam kisah masa  lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang  seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Kerinduan yang dikemas dalam perjalanan suci ibadah haji. Perjalanan dari sebuah kapal Blitar Holland menuju Mekkah. Kota suci tempat umat Islam melaksanakan rukun Islam yang kelima.

Cerita ini berawal dari perjalan ibadah haji sebuah keluarga yaitu keluarga Daeng Andipati dan istrinya serta kedua putrinya yang bernama Ana dan Elsa yang mengambil latar waktu pada tahun 1938. Tepatnya 1 Desember 1938 perjalanan ibadah haji menggunakan kapal Blitar Holland itu dimulai. Ana adalah gadis kecil berusia sembilan tahun yang memiliki sifat periang, baik hati, senang berceloteh, dan selalu ingin tahu. sedangkan Elsa gadis berusia lima belas tahun. Elsa memiliki sifat lebih pendiam, baik hati, dan sering berdebat dengan Ana jika adiknya itu membuat ulah yang kadang membuat Elsa jengkel. Namun, mereka adalah anak-anak yang patuh terhadap orang tuanya.

Cerita dimulai dari Pelabuhan Makasar saat Kapal Blitar Holland merapat di sana. Kapal ini merupakan kapal buatan Eropa yang berukuran 136 meter, dengan lebar 16 meter. Kapal tersebut adalah kapal uap kargo terbesar pada zaman itu yang dimiliki oleh salah satu raksasa perusahaan logistik dan transportasi besar asal Belanda, Koninklijke Rotterdam.

Saat tiba di pelabuhan Makasar keluarga Ana dan Elsa disambut hangat oleh kapten kapal yang bernama Kapten Phillips. Daeng Andipati yang pernah mengenyam pendidikan di Rotterdam school of Commerce pun langsung terlibat percakapan dengan Kapten Phillips dalam bahasa Belanda. Selain keluarga Daeng Andipati, tokoh lain yang ikut dalam perjalanan tersebut adalah Ahmad Karaeng. Semua penduduk Makasar hingga Pare-Pare lebih mengenalnya dengan sebutan Gurutta. Ia merupakan salah seorang ulama masyur di zaman itu. Perawakannya tinggi, tidak kurus, tidak juga gemuk. Jalannya masih kokoh untuk seseorang yang berusia tujuh puluh lima tahun. Gurutta berpenampilan mengenakan serban putih, kemeja polos, celana kain bersahaja, dan terompah kayu. Tokoh Gurutta ini memiliki pengaruh besar dalam cerita-cerita yang dikemas menjadi 48 bagian dalam novel ini.

Selanjutnya, penumpang berikutnya dalam Kapal Blitar Holland yang merupakan tokoh yang memiliki peran penting juga adalah Ambo Uleng. Seorang pemuda yang berusia dua puluh tahun lebih, memiliki karakter tertutup cenderung pendiam, namun dia memiliki sifat pemberani, rahang dan pipinya tegas, khas seorang pelaut Bugis yang tangguh.

Selain Ambo Uleng, tokoh Ruben si Boatswain yang asli keturunan Belanda juga turut menghiasi cerita dalam novel ini. Ruben adalah teman sekamar Ambo Uleng di Kapal Blitar Holland. Tokoh lain seperti Bonda Upe dan suaminya juga adalah tokoh yang mampu melarutkan emosi pembaca dengan kisah yang dialaminya. Bonda Upe adalah guru yang ditunjuk Gurutta untuk mengajarkan anak-anak mengaji termasuk mengajarai Ana dan Elsa selama perjalanan itu.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Makasar menuju Surabaya. Setelah tiba di Pelabuhan Surabaya, Daeng Andipati mengajak Ana dan Elsa ke Pasar Turi di Surabaya. Ana yang kehilangan tas birunya pada saat akan menaiki kapal di Pelabuhan Makasar merasa senang karena Ana dapat memiliki baju-baju baru lagi. Namun, di sinilah konflik dimulai. Ketika Daeng Andipati dan kedua putrinya sedang membeli baju untuk Ana, terdengar dentuman keras dari arah pasar. Daeng Andipati segera tahu apa yang terjadi. Itu suara granat. Masa-masa itu, Kota Surabaya dipenuhi oleh pejuang kemerdekaan. Di kota ini, hampir setiap bulan gerilyawan menyerbu serdadu Belanda. Anna dan Elsa terduduk di depan toko karena mendengar suara dentuman, langsung gentar seketika mendengar raungan sirene. wajah mereka pucat. Belum sempat berpikir harus melakukan apa, kepanikan besar telah melanda seluruh pasar. Pengunjung berteriak-teriak ribuan jumlahnya. Berlarian menjauhi gerbang pasar. Dalam kejadian ini Anna terpisah dari Daeng Andipati. Namun, pembaca dibuat lega karena Anna diselamatkan oleh Ambo Uleng yang saat itu sedang berbelanja keperluan di pasar tersebut. Peristiwa itu dibuat secara dramatis oleh penulisnya sehingga pembaca ikut larut dalam ketegangan cerita.

Dua tokoh berikutnya yang turut menaiki kapal Blitar Holland dari Pelabuhan Surabaya adalah Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangunkusumo. Usia mereka sekitar empat puluhan, sepantaran dengan Daeng Andipati. Mereka mengenakan peci, kemeja lengan panjang, berpakaian rapi khas kalangan terdidik zaman itu. Merekalah yang bersedia mengajar anak-anak bersekolah  di Kapal Blitar Holland. Gurutta yang memiliki peran sentral dalam kapal itu merasa senang karena anak-anak akhirnya dapat mengenyam pendidikan dalam perjalanan tersebut.

Dari Pelabuhan Surabaya, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Semarang. Ada delapan puluh jamaah haji yang naik di pelabuhan Kota Semarang.Lima puluh jamaah laki-laki. Sisanya jamaah perempuan. tidak ada anak-anak, seluruh penumpangnya dewasa. Dari pelabuhan Kota Semarang ini terdapat dua tokoh yang ikut yaitu Mbah Kakung dan Mbah Putri. Pasangan yang usianya hampir delapan puluh, mungkin penumpang paling tua di Kapal Blitar Holland. Pasangan tersebut menempati kabin di sebelah kabin keluarga Daeng Andipati. Pasangan sepuh tersebut membuat cerita yang disuguhkan penulis lebih segar karena terdapat adegan-adegan lucu saat Ana merasa kesal karena setiap obrolannya dengan Mbah Kakung menjadi hal yang paling mengocok perut. Mbah Kakung yang kurang pendengaran membuat perjalanan dalam kapal tersebut menjadi lebih berwarna dan kisah inspiratifnya tentang cinta sejati bersama Mbah Putri membuat cerita menjadi lebih berkesan.

Sore tanggal 8 Desember 1938, hari ketujuh perjalanan, Kapal Blitar Holland tiba di Pelabuhan Batavia. Saat berlabuh di pelabuhan ini, pembaca dikejutkan dengan kisah dramatik dari Bonda Upe, guru mengaji  Ana dan Elsa. Kisah masa lalu Bonda Upe yang membuat  rombongan Daeng Andipati yang turun untuk menikmati soto betawi terkejut karena terjadi konflik saat Bonda Upe berlari sambil menangis ditemani suaminya. Semua bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bonda Upe. Namun, seiring perjalanan cerita kisah dramatik ini terjawab kemudian.

Keunggulan dalam novel ini adalah setiap tokoh yang terlibat dalam cerita begitu kuat dengan permasalahan masing-masing. Konflik demi konflik yang menimpa tokoh tentang masa lalu mereka membuat pembaca lebih mengerti dan memahami ketika dihadapkan pada permasalahan yang sama. Banyak hikmah yang bisa dipetik dalam novel ini karena dilengkapi dengan kata-kata bijak yang disampaikan Gurutta dalam setiap permasalahan yang dihadapi tokoh. Seperti kutipan Gurutta di halaman 375 “Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih , dengan apa pun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong”.

Pembaca juga dikejutkan dengan konflik batin yang dialami Daeng Andipati maupun Gurutta sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian terjawab dengan jawaban bijak oleh tokoh Gurutta membuat novel ini teramat berkesan.

Namun, dari sekian banyak kelebihan yang terdapat dalam novel ini tetap ada bagian yang masih terkesan terburu-buru di bagian penyelesaian. Selama 500-an halaman seluruh konflik digambarkan dengan detail, namun di akhir cerita penulis menutupnya dengan begitu ringan seolah-olah semua tokoh dalam novel ini dipaksakan untuk berakhir bahagia.

Walaupun begitu, sebagaimana karya Tere Liye yang lain novel ini adalah novel yang layak untuk dibaca. Pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia tentang hakikat kebenaran, tentang Tuhan, tentang cinta dan ketulusan, tentang nasionalisme, tentang kebahagiaan yang sesungguhnya begitu kental terasa dalam novel ini sehingga memberi pelajaran hidup yang berharga bagi siapa pun yang membacanya.