Allah selalu punya kejutan untuk kita. Selama hidup di dunia, dari kecil hingga dewasa semua dipantaskanya. Segala macam ujian tak terasa ternyata kita mampu melewatinya. Tengoklah masalah dalam hidup kita, dulu seolah matematika adalah biang masalah yang tak kunjung reda. Namun, seiring waktu kita dapat menaklukannya. Begitu pula ujian hidup lainnya. Kadang kita merasa orang yang paling sengsara dan menderita. Padahal, Allah selalu membukakan jalan keluarnya.
Hujan adakalanya mereda. Yakin, yakinlah. Allah tak akan memberikan ujian melampaui batas kemampuan hambaNya. Segala yang ada di dunia sudah ada yang merancangnya. Tak usah cemas, tak usah gulana. Nikmati saja alurnya biarkan mengalir ke muara.
Beraneka bentuk ujian Allah berikan. Dari yang berupa kesenangan hingga kesengsaraan. Mulai yang berlimpah materi hingga yang serba kekurangan, atau pula ujian fisik hingga mental. Ujian berat maupun ringan. Silih berganti datang bergantian. Namun, Allah selalu memberikan kejutan. Berlimpah-limpah nikmat tak terhenti mengalir di luar hitungan.
Nikmat mana lagikah yang kau dustakan wahai manusia? Sementara Allah selalu memantaskan apa pun untuk kita, sudahkah kita pantaskan diri juga di hadapanNya?
Ya hayyu yaa qayyuum... Ampuni ya Rabb kekhilafan diri. Beri kekuatan selalu untuk menjalani ujianMu. Memantaskan diri di hadapanMu..
Sabtu, 30 September 2017
Kamis, 28 September 2017
SECANGKIR CERITA PAGI
Prit.. Prit.. Prit...
Pria itu dengan sigap memberikan aba-aba. Tubuhnya yang sudah mulai renta tak menurunkan semangatnya. Mengarahkan motor dan mobil yang datang, memperbaiki letaknya. Motor yang datang tertata rapi berjajar di tepi jalan. Mobil pun juga demikian, tugasnyalah menjaga parkiran tetap nyaman.
Yanto Achmad, kulihat namanya tertera. Untuk ukuran juru parkir atributnya lengkap. Mungkin karena lahan tempatnya mencari nafkah berada di tempat yang membutuhkan disiplin tinggi sehingga seragamnya lebih rapi. Seragam warna biru yang dilengkapi atribut Polda terpasang di lengan kirinya. Plus rompi warna hijau terang dengan tulisan Mitra Polantas.
Profesi itu dijalaninya lebih dari separuh bagian kehidupannya. Bangga ia mengenakan seragamnya. Meski upah yang diterimanya tak seberapa, namun ia mampu menuntaskan pendidikan anak-anaknya hingga jenjang SMA. Kini anak-anaknya telah bekerja. Pak Yanto panggilan akrabnya, tak ingin membebani ketiga anaknya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di lahan parkirnya.
Pagi-pagi setelah sholat Shubuh ia berangkat. Meski jadwal masuk kerjanya pukul 07.00 tapi Pak Yanto datang lebih awal. Diambilnya sapu kemudian mulai membersihkan jalan sepanjang gedung tempatnya bekerja. Hitung-hitung olahraga pagi katanya. Sebelum pukul tujuh, orang-orang sudah berdatangan. Lahan parkirnya pun mulai dipadati kendaraan. Orang-orang datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang membuat SIM, memperpanjang SIM, mengurus surat tilang, atau mengurus surat-surat kendaraan lainnya. Pukul 17.00 barulah ia pulang ke rumah merebahkan tubuh yang lelah.
"Hidup ini teh kalau dijalani sungguh-sungguh dan ikhlas akan terasa indah. Sepahit apa pun itu. "Pesannya kepadaku.
"Bapak mah sudah tua, tinggal menunggu waktu saja. Berbuat sebaik-baiknya, berbuat yang Bapak bisa. "Sahutnya sambil memberi aba-aba kepada rekannya untuk mempersilakan motor yang datang.
Aku khidmat mendengar ceritanya. Di usia senjanya, Pak Yanto masih semangat mengabdi. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul 07.30. Sepertinya loket pelayanan pendaftaran SIM sudah mulai dibuka. Pak Yanto sudah mulai bersiap mengatur kendaraan yang datang. Tak ingin mengganggu waktunya, aku beranjak dari tempat duduk, mengucapkan permisi untuk secangkir ceritanya pagi ini.
Ah..hidup selalu menyimpan kisah.
Pagi-pagi setelah sholat Shubuh ia berangkat. Meski jadwal masuk kerjanya pukul 07.00 tapi Pak Yanto datang lebih awal. Diambilnya sapu kemudian mulai membersihkan jalan sepanjang gedung tempatnya bekerja. Hitung-hitung olahraga pagi katanya. Sebelum pukul tujuh, orang-orang sudah berdatangan. Lahan parkirnya pun mulai dipadati kendaraan. Orang-orang datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang membuat SIM, memperpanjang SIM, mengurus surat tilang, atau mengurus surat-surat kendaraan lainnya. Pukul 17.00 barulah ia pulang ke rumah merebahkan tubuh yang lelah.
"Hidup ini teh kalau dijalani sungguh-sungguh dan ikhlas akan terasa indah. Sepahit apa pun itu. "Pesannya kepadaku.
"Bapak mah sudah tua, tinggal menunggu waktu saja. Berbuat sebaik-baiknya, berbuat yang Bapak bisa. "Sahutnya sambil memberi aba-aba kepada rekannya untuk mempersilakan motor yang datang.
Aku khidmat mendengar ceritanya. Di usia senjanya, Pak Yanto masih semangat mengabdi. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul 07.30. Sepertinya loket pelayanan pendaftaran SIM sudah mulai dibuka. Pak Yanto sudah mulai bersiap mengatur kendaraan yang datang. Tak ingin mengganggu waktunya, aku beranjak dari tempat duduk, mengucapkan permisi untuk secangkir ceritanya pagi ini.
Ah..hidup selalu menyimpan kisah.
Rabu, 27 September 2017
SUDAH CEK SIM ANDA HARI INI?
Allah menegur saya dengan santun. Hari ini benar-benar merasakan kekurangan sebagai manusia. Rasa khilaf dan alpa sering kali menyerang. Termasuk sering sekali lupa terhadap sesuatu. Jadi teringat pepatah lama kalau sering lupa tandanya banyak dosa. Ah.. Pepatah itu bisa dijadikan bahan introspeksi untuk banyak beristigfar dan membenahi diri.
Saya lirik kembali SIM C yang ada di genggaman. Tertera 3 Juli 2017. Hiks itu artinya saya sudah melewatkan masa berlakunya SIM dan kembali harus berurusan dengan prosedur birokrasi. Ah... rasa malas mulai menyeruak. Bagaimana bisa saya melewatkan tanggal penting itu? Sementara membayar pajak STNK tahunan saya ingat. Ya.. itulah manusia. tempatnya khilaf dan alpa. Saya akui SIM itu tak beranjak sedikit pun dari dompet. Dia selalu duduk manis karena memang lima tahun ini saya tidak pernah ditilang. Jadi selama lima tahun itu SIM duduk manis nyaris tak tersentuh hingga akhirnya diri ini tersadar kalau SIM saya sudah masuk waktu kadaluarsa. Salah satu teman mengingatkan telat satu hari pun, harus buat SIM yang baru. Saya menghela napas, semua harus dihadapi.
Pagi-pagi sekali saya sudah tiba di kantor kepolisian. Waktu masih satu jam lagi loket baru dibuka. Seorang polisi menghampiri menanyakan keperluan saya.
"Ibu mau bikin SIM baru? Sudah janji dengan orang di dalam atau belum? Tanyanya menghampiri.
"Iya Pak, saya mau buat SIM baru. Tapi saya gak ada janji dengan siapa-siapa. "Sahut saya masih sedikit bingung dengan pertanyaannya.
"Ibu sendiri? Yakin mengurus semuanya sendiri?" Tanyanya kembali dengan nada heran.
"Betul Pak, saya mau urus sendiri semuanya. " Sahut saya berusaha meyakinkan.
"Ibu sudah buat sertifikat?"Tanyanya kembali.
Saya semakin tak mengerti. Saya gelengkan kepala sambil menegaskan kalau saya mau mengurus sesuai prosedur saja. Beliau pun mengangguk dan menunjukkan arah tempat dimana saya harus cek kesehatan.
Jadi teman-teman sertifikat itu berisi hasil tes mengemudi kita. Jadi kalau kita mau buat SIM dengan sertifikat itu serangkaian tes yang akan kita jalani lebih mudah. Dalam hati saya tetap berkeyakinan untuk mengikuti serangkaian tes itu tanpa sertifikat. Langkah pertama saya adalah menuju ruang praktik dokter umum yang telah ditunjuk untuk dites kesehatan.
Setelah mendapat surat keterangan sehat, saya melangkah menuju loket pendaftaran. Di loket itu saya diberi nomor antrean untuk menuju loket dua. Di loket dua nama kita akan dipanggil, dan petugas mencatat data kita di komputer. Setelah dari loket dua, saya menuju loket tiga untuk pemotretan. Nama kita akan dipanggil kemudian kita masuk ke bilik untuk difoto, sidik jari, dan tanda tangan. Setelah itu, saya menuju loket 4. Di sini kita harus menunggu terlebih dahulu untuk melakukan tes.
Ada tiga tes yang harus dijalani, yaitu:
1. Tes teori yang berisi 30 soal tentang pengetahuan berlalu-lintas yang baik. Nilai di tes ini dinyatakan lulus jika bisa menjawab minimal 21 soal.
2. Tes simulasi
Bagi yang sudah terbiasa bermain game balapan motor mungkin akan terbiasa. Tapi bagi saya yang mengikuti tes simulasi dengan motor kopling rasanya agak kaku dan canggung. Saya pikir tes simulasinya memakai motor matik. Hehehe... Alhasil saya tidak lulus di tes simulasi.
3. Tes mengemudi
Karena saya tidak lulus di tes simulasi. Saya harus mengulang kembali tesnya di minggu depan. Tapi bagi yang lulus tes simulasi bisa melanjutkan ke tes mengemudi. Di tes mengemudi itu sudah dipersiapkan jalur yang akan kita lewati beserta rambu- rambu yang harus dipatuhi.
Jika serangkaian tes itu sudah dilewati maka kita tinggal ambil pencetakan SIM baru di bagian loket yang sudah disediakan. Nah, agar kejadian yang saya alami tidak terulang sudahkah teman-teman mengecek tanggal habis berlaku SIM? Kalau sudah dicek tandai di kalender ya atau dicatat di ponsel kita.
Saya lirik kembali SIM C yang ada di genggaman. Tertera 3 Juli 2017. Hiks itu artinya saya sudah melewatkan masa berlakunya SIM dan kembali harus berurusan dengan prosedur birokrasi. Ah... rasa malas mulai menyeruak. Bagaimana bisa saya melewatkan tanggal penting itu? Sementara membayar pajak STNK tahunan saya ingat. Ya.. itulah manusia. tempatnya khilaf dan alpa. Saya akui SIM itu tak beranjak sedikit pun dari dompet. Dia selalu duduk manis karena memang lima tahun ini saya tidak pernah ditilang. Jadi selama lima tahun itu SIM duduk manis nyaris tak tersentuh hingga akhirnya diri ini tersadar kalau SIM saya sudah masuk waktu kadaluarsa. Salah satu teman mengingatkan telat satu hari pun, harus buat SIM yang baru. Saya menghela napas, semua harus dihadapi.
Pagi-pagi sekali saya sudah tiba di kantor kepolisian. Waktu masih satu jam lagi loket baru dibuka. Seorang polisi menghampiri menanyakan keperluan saya.
"Ibu mau bikin SIM baru? Sudah janji dengan orang di dalam atau belum? Tanyanya menghampiri.
"Iya Pak, saya mau buat SIM baru. Tapi saya gak ada janji dengan siapa-siapa. "Sahut saya masih sedikit bingung dengan pertanyaannya.
"Ibu sendiri? Yakin mengurus semuanya sendiri?" Tanyanya kembali dengan nada heran.
"Betul Pak, saya mau urus sendiri semuanya. " Sahut saya berusaha meyakinkan.
"Ibu sudah buat sertifikat?"Tanyanya kembali.
Saya semakin tak mengerti. Saya gelengkan kepala sambil menegaskan kalau saya mau mengurus sesuai prosedur saja. Beliau pun mengangguk dan menunjukkan arah tempat dimana saya harus cek kesehatan.
Jadi teman-teman sertifikat itu berisi hasil tes mengemudi kita. Jadi kalau kita mau buat SIM dengan sertifikat itu serangkaian tes yang akan kita jalani lebih mudah. Dalam hati saya tetap berkeyakinan untuk mengikuti serangkaian tes itu tanpa sertifikat. Langkah pertama saya adalah menuju ruang praktik dokter umum yang telah ditunjuk untuk dites kesehatan.
Setelah mendapat surat keterangan sehat, saya melangkah menuju loket pendaftaran. Di loket itu saya diberi nomor antrean untuk menuju loket dua. Di loket dua nama kita akan dipanggil, dan petugas mencatat data kita di komputer. Setelah dari loket dua, saya menuju loket tiga untuk pemotretan. Nama kita akan dipanggil kemudian kita masuk ke bilik untuk difoto, sidik jari, dan tanda tangan. Setelah itu, saya menuju loket 4. Di sini kita harus menunggu terlebih dahulu untuk melakukan tes.
Ada tiga tes yang harus dijalani, yaitu:
1. Tes teori yang berisi 30 soal tentang pengetahuan berlalu-lintas yang baik. Nilai di tes ini dinyatakan lulus jika bisa menjawab minimal 21 soal.
2. Tes simulasi
Bagi yang sudah terbiasa bermain game balapan motor mungkin akan terbiasa. Tapi bagi saya yang mengikuti tes simulasi dengan motor kopling rasanya agak kaku dan canggung. Saya pikir tes simulasinya memakai motor matik. Hehehe... Alhasil saya tidak lulus di tes simulasi.
3. Tes mengemudi
Karena saya tidak lulus di tes simulasi. Saya harus mengulang kembali tesnya di minggu depan. Tapi bagi yang lulus tes simulasi bisa melanjutkan ke tes mengemudi. Di tes mengemudi itu sudah dipersiapkan jalur yang akan kita lewati beserta rambu- rambu yang harus dipatuhi.
Jika serangkaian tes itu sudah dilewati maka kita tinggal ambil pencetakan SIM baru di bagian loket yang sudah disediakan. Nah, agar kejadian yang saya alami tidak terulang sudahkah teman-teman mengecek tanggal habis berlaku SIM? Kalau sudah dicek tandai di kalender ya atau dicatat di ponsel kita.
SEPENGGAL KISAH IBU
Kuparkir kendaraan di sebuah
halaman rumah milik pamanku. Aku biasa memarkirkan kendaraan di sana jika aku
mengunjungi Ibu. Rumah Ibu memang masuk gang. Jadi tak bisa kuparkir kendaraan
di depan rumah Ibu. Hari ini setelah sekian lama tak pulang, akhirnya,
kuinjakkan kembali kaki di tanah kelahiran. Kota kecil yang selalu
memberikan aku kesempatan untuk terus menghirup wanginya. Empat jam kira-kira
perjalanan dari kotaku tinggal menuju kota kelahiranku. Aku memang sengaja mengambil
rute normal tanpa melewati jalan tol. Bagiku, perjalanan Minggu pagi ini adalah
perjalanan yang selalu membuat aku ingin selalu mengenang jalan-jalan menuju kota kelahiranku. Termasuk menyempatkan
membeli oleh-oleh untuk Ibu. Aku tersenyum, kujinjing
keranjang berisi tahu, tak sabar kakiku melangkah ke rumah Ibu. Setelah
menyalami Paman, aku bergegas ke rumah Ibu.
Tak terkira girang ibu menyambutku.
Wajahnya yang mulai berkerut menyunggingkan senyum kerinduan. Kusalami sosok
paruh baya itu. Ibu memelukku.
“Zul akhirnya kau pulang, Nak…jam
berapa dari Bandung?” Tanya Ibu lembut.
“Jam empat Shubuh Bu. Aku sengaja
berangkat pagi agar tak terkena macet.” Jawabku tersenyum melepas kerinduan.
“Kubawakan tahu kesukaan Ibu, tadi
masih hangat di jalan tapi kayaknya sekarang sudah dingin Bu..” Sahutku menyerahkan keranjang berisi tahu
yang kubeli di Sumedang.
“Terima kasih Zul….nanti biar Ibu
hangatkan.” Sahut Ibu tersenyum merangkulku.
“Zul tahukah kau Wak Kodir
meninggal dua hari yang lalu…” Sahut Ibu mengawali percakapan sambil mengajakku
ke ruang makan.
“Innalillahi wa Innailaihi
Roojiuun….”Aku tercekat ketika Ibu menyebutkan nama itu.
“Iya sakit selama seminggu.
sakitnya parah. Dia sering berteriak-teriak. Semua anak-anaknya angkat tangan,
dokter pun sudah tak ada yang bisa menolongnya.” Sahut Ibu melanjutkan kisahnya.
Aku tercenung mendengar cerita Ibu.
Tiba-tiba wajah Wak Kodir hadir di pelupuk mataku. Mendengar kematiannya ada
sedikit rasa syukur terbersit di hatiku. Ya..entahlah aku tiba-tiba merasa tentram
mendengar kepergian orang itu. Setelah sekian lama perlakuannya yang buruk
kepada almarhum Bapak dan Ibu. Aku menghela napas. Memandang wajah Ibu yang
tengah menyiapkan makanan untukku. Aku memang jarang pulang ke rumah. Tapi Ibu
selalu berkisah kepadaku lewat telepon tentang perlakuan Wak Kodir kepada almarhum Bapak dan Ibu.
Dulu sewaktu almarhum Bapak masih
ada. Wak Kodir sering meneror keluargaku. Almarhum Bapak adalah seorang imam
mushala. Ia sering memimpin sholat di mushola dekat rumah kami. Wak Kodir tidak
suka jika mushola itu dipimpin oleh almarhum Bapak. Kata Ibu tanah mushola itu
dulunya milik keluarga Wak Kodir. Tapi pembangunan musholanya adalah swadaya
masyarakat. Wak Kodir tidak suka jika kepengurusan mushola dipegang almarhum
Bapak. Katanya dialah yang lebih berhak untuk menjadi pemimpin di mushola itu.
Sering Wak Kodir meneror almarhum
Bapak dan Ibu dengan menghadang mereka ketika akan sholat Shubuh. Menganggap
mereka tidak pantas untuk mengurusi mushola yang dianggap miliknya. Tapi
almarhum Bapak selalu berbicara baik-baik kepadanya, menyampaikan bahwa Bapak
siap untuk mundur dan tidak menjadi imam di mushola itu lagi jika Wak Kodir
menghendaki. Aku masih ingat ketika ibu bercerita sambil menangis tentang
perbuatan Wak Kodir.
Mushola itu sempat vakum. Almarhum
Bapak dan Ibu memilih mengalah. Mereka sholat berjamaah di rumah. Beberapa
warga kampung pun tak ada yang berani memasuki mushola karena takut dengan
sikap Wak Kodir. Beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk ikut sholat berjamaah
di rumah Ibu. Apalagi waktu itu jelang Ramadahan, suasana Ramadhan yang
menyedihkan kata Ibu sepanjang hidupnya waktu itu. Sempat Ibu meneleponku,
memintaku untuk membuatkan mushola di belakang rumah Ibu. Namun, karena jarak
dengan mushola Wak Kodir kurang dari 500 meter rencana ibu terpaksa ditunda.
Untunglah, vakumnya mushola itu
tidak berlangsung lama. Beberapa pemuka masyarakat sekitar turut membantu
mendamaikan konflik itu. Pihak almarhum Bapak dan pihak Wak Kodir dipanggil
kemudian disepakati jalan keluar. Bahwa almarhum Bapak diminta kembali untuk
hadir ke mushola tapi tidak untuk menjadi imam. Keputusan yang berat memang,
karena dari dulu almarhum Bapaklah yang selalu menghidupkan mushola itu.
Berpuluh-puluh tahun Bapak menjadi imam di mushola. namun ternyata hal itu menimbulkan
rasa iri di hati Wak Kodir. Ibu bercerita waktu itu, Bapak ikhlas menerima
keputusan itu demi kemaslahatan bersama.
Bertahun-tahun kemudian tak
kudengar lagi konflik tentang mushola itu. Hingga akhirnya Bapak pergi
meninggalkan kami selama-lamanya. Kanker prostat merenggut hidup Bapak.
Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di hati Ibu, dan juga di hatiku. Aku
sering membujuk Ibu untuk tinggal bersamaku. Tapi, Ibu selalu menolak.
“Rumah ini adalah satu-satunya
kenangan yang tersisa dari Bapakmu Zul..Ibu tak akan meninggalkannya..” Sahut
Ibu waktu itu menahan kesedihan.
“Tapi Bu…aku tak tenang kalau Ibu
tinggal di sini sendiri. Ayolah Bu…tinggal bersama Zul di Bandung. Zul sudah punya segalanya sekarang…”Bujukku pada
Ibu.
“Ibu di sini saja Zul…ada pamanmu
yang masih tinggal dekat dengan Ibu..InsyaAllah
Pamanmu akan selalu menjaga Ibu..”Sahut
Ibu lirih.
Sejak saat itu, Ibu memang tinggal
sendiri. Sesekali aku menengoknya. Aku bersyukur pamanku dengan
sukarela mau turut menjaga Ibu. Jika aku tak sempat menengok Ibu, Ia pasti
meneleponku. Bercerita banyak hal termasuk perangai Wak Kodir yang kadang
membuatku geram.
Pernah suatu hari Ibu meneleponku.
Mengabarkan kalau pipa yang menghubungkan air dari sumur ke kamar mandi
terlihat diputus orang. Ibu menemukan serpihan potongan pipa itu di belakang
rumah. Patahannya berada di sebelah sumur. Aku geleng-geleng kepala. Siapa
orang yang berani tega merusak pipa air di sumur Ibu? Aku menelepon Paman minta
tolong untuk memperbaiki pipa itu dan mengusut siapa pelakunya. Keesokan
harinya Paman membuat pengamanan. Dipasangnya lagi pipa air yang menghubungkan sumur
dan kamar mandi di rumah Ibu. Dipasangnya kawat di sekitar sumur. Kawat itu
melingkar di antara pagar bambu yang mengelilingi sumur. Pipa itu aman untuk
beberapa hari. Ibu lega, Paman juga lega. Namun, kembali aku menerima telepon
dari Ibu kalau pipa itu kembali dirusak orang. Tapi kali ini ada sobekan sarung
di antara kawat yang memagari sumur Ibu.
“Kamu tahu Zul itu sobekan sarung
siapa?” Tanya Ibu padaku ketika bercerita.
“Siapa Bu….?”Tanyaku penasaran.
“Sobekan sarung itu milik Wa Kodir…kamu
tau Zul…tega sekali orang itu..”Sahut Ibu
menahan kesedihan.
“Bagaimana Ibu bisa tahu kalau itu
milik Wak Kodir Bu…?”Tanyaku tak mengerti.
“Ibu menanyakan pada anaknya dan
motif sarung itu sama persis dengan motif sarung Wak Kodir Zul. Pulanglah ke rumah biar Ibu ceritakan nanti.”
Sahut Ibu memintaku pulang.
Aku terpaksa pulang untuk melihat
kondisi Ibu waktu itu. Tak tega rasanya jika mendengar kabar yang tidak enak
tentang Ibu. Aku sendiri pernah bertemu Wak Kodir saat kepulanganku waktu itu.
Tatapannya sinis, menatapku dengan aneh. Aku tak mempedulikan sikapnya. Aku
tahu Wak Kodir memang tidak menyukaiku dan keluargaku. Pajero Sport yang
kuparkir di halaman rumah Paman seperti biasa, menjadi incaran tatapan aneh Wak
Kodir.
“Minum dulu tehnya Zul…Ibu senang
kamu datang…” Ibu menepuk pundakku dan membuyarkan lamunan dan ingatanku
tentang Wak Kodir.
“Begitulah Zul..umur manusia hanya
Allah yang tahu. Kita tak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita. Wak Kodir telah pergi. Ibu sudah memaafkan
kesalahan- kesalahannya. Bagi Ibu, setiap
perbuatan akan selalu ada balasannya. Kita ambil hikmah dari semua ini ya Zul. Ibu sudah tua…Bapakmu sudah tak ada.
Ibu hanya ingin melihatmu
bahagia..” Suara Ibu teramat menyentuh kalbuku.
Aku memeluk Ibu…erat sekali.
memeluk wanita yang kukasihi seumur hidupku. Dalam hati aku berbisik….”Tuhan
panjangkan umur ibuku….biarkan aku membahagiakannya di sisa usia senjanya ya
Rabb…”.
“Nanti kita takziah ke rumah Wak
Kodir ya Zul. Walau bagaimana pun kewajiban seorang muslim untuk mengunjungi
keluarga yang berduka.” Sahut Ibu syahdu.
Aku mengangguk. Ketulusan Ibu
terpancar di wajahnya. Ibu menatapku kemudian tersenyum “Jadi kapan kau
kenalkan Ibu pada Rhania calonmu Zul….?”
Aku tersipu malu….”Secepatnya Bu…kepulanganku
kali ini juga karena memohon restu Ibu
untuk melamar Rahania .”
Ah ….lega rasanya. Selangkah lagi aku bisa melihat
senyum Ibu ketika melihatku bersanding dengan Rhania nanti.
Selasa, 26 September 2017
PIJAR ASA
Biarkan esok kaki tetap melangkah
Menapaki jejak jalanan yang menanjak
Semangat di dada menyala
Seperti lilin yang berpijar saat gulita
Taklukkan... Taklukkan rimba
Belukar tak surutkan asa
Di sudut ruang semerbak doa
Menyeruak bangkitkan raga
Nyanyian sunyi sepanjang perjalanan
Tak perlu menjadi ratapan
Seperti cicit bersenandung
Mencari butiran gandum
Ini puzzle semesta
Mari rangkai dengan suka cita
Bukankah tak ada daun yang jatuh
tanpa seizinNya
Ikuti alirannya
Sungai akan ke muara
Menjemput para ksatria
Yang tak surut taklukkan duka
Menapaki jejak jalanan yang menanjak
Semangat di dada menyala
Seperti lilin yang berpijar saat gulita
Taklukkan... Taklukkan rimba
Belukar tak surutkan asa
Di sudut ruang semerbak doa
Menyeruak bangkitkan raga
Nyanyian sunyi sepanjang perjalanan
Tak perlu menjadi ratapan
Seperti cicit bersenandung
Mencari butiran gandum
Ini puzzle semesta
Mari rangkai dengan suka cita
Bukankah tak ada daun yang jatuh
tanpa seizinNya
Ikuti alirannya
Sungai akan ke muara
Menjemput para ksatria
Yang tak surut taklukkan duka
Senin, 25 September 2017
KARENA SAYA SEORANG IBU
Ketika ditanya peristiwa apa yang paling berkesan dalam hidup tentu saya akan menjawab peristiwa ketika saya merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Ya.. Sebuah anugerah terbesar dalam hidup telah Allah karuniakan untuk saya dan suami. Empat belas tahun yang lalu telah lahir seorang puteri kami, penghibur hati kami.
Kelahiran putri kami memberi warna tersendiri di hati kami. Rasa tanggung jawab menjadi orang tua seolah begitu terasa. Amanat dari Illahi untuk menjaganya sebaik-baiknya. Mendidiknya dengan kasih sayang sehingga terbentuk pribadi yang sholehah dan berahlak mulia, serta berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Ada pepatah yang mengatakan kita tak pernah tahu perjuangan sebenarnya seorang ibu sampai kita benar-benar merasakan menjadi seorang ibu. Kini, pepatah itu begitu terasa. Perjuangan ibu kita dahulu ketika berjuang mengasuh, mendidik, dan membesarkan dari dalam kandungan hingga seperti saat ini benar-benar saya rasakan. Terlebih ibu adalah madrasah pertama dalam keluarga. Tumbuh kembang seorang anak menjadi perhatian khusus seorang ibu tanpa mengurangi nilai perhatian seorang ayah.
Kesabaran dan cinta kasih seorang ibu tak terbatas. Setiap saat setiap detik, doa-doa terhantar untuk orang-orang terkasih. Memberikan segala yang terbaik tanpa meminta balas jasa.
Kini empat belas tahun sudah putriku tumbuh menjadi remaja. Kadang rindu sekali, ingat masa-masa kecilnya dulu. Rindu celotehnya mengeja kata ayah dan ibu. Kadang rindu tangisnya yang membangunkan kami tengah malam, mengganti popoknya, atau menyeduh susu untuknya. Ya waktu seolah berjalan begitu cepat. Saya merasa semakin tua dan belum memberi apa-apa. Saya hanya selalu berusaha mendampinginya, berada di dekatnya, dan menjadi sahabatnya. Mendidiknya dengan sepenuh jiwa agar ia bisa belajar dari semesta.
Saya sadar menjadi ibu di era milenial begitu berat tantangannya. Namun, saya percaya Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan untuk selalu bisa menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan. Kekuatan seorang ibu menjadi benteng yang kuat untuk seorang anak. Tetap semangat untuk seluruh ibu di Indonesia... dari rahimmu lahir generasi-generasi hebat yang bisa membuat negeri ini menjadi bermartabat.
Kelahiran putri kami memberi warna tersendiri di hati kami. Rasa tanggung jawab menjadi orang tua seolah begitu terasa. Amanat dari Illahi untuk menjaganya sebaik-baiknya. Mendidiknya dengan kasih sayang sehingga terbentuk pribadi yang sholehah dan berahlak mulia, serta berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Ada pepatah yang mengatakan kita tak pernah tahu perjuangan sebenarnya seorang ibu sampai kita benar-benar merasakan menjadi seorang ibu. Kini, pepatah itu begitu terasa. Perjuangan ibu kita dahulu ketika berjuang mengasuh, mendidik, dan membesarkan dari dalam kandungan hingga seperti saat ini benar-benar saya rasakan. Terlebih ibu adalah madrasah pertama dalam keluarga. Tumbuh kembang seorang anak menjadi perhatian khusus seorang ibu tanpa mengurangi nilai perhatian seorang ayah.
Kesabaran dan cinta kasih seorang ibu tak terbatas. Setiap saat setiap detik, doa-doa terhantar untuk orang-orang terkasih. Memberikan segala yang terbaik tanpa meminta balas jasa.
Kini empat belas tahun sudah putriku tumbuh menjadi remaja. Kadang rindu sekali, ingat masa-masa kecilnya dulu. Rindu celotehnya mengeja kata ayah dan ibu. Kadang rindu tangisnya yang membangunkan kami tengah malam, mengganti popoknya, atau menyeduh susu untuknya. Ya waktu seolah berjalan begitu cepat. Saya merasa semakin tua dan belum memberi apa-apa. Saya hanya selalu berusaha mendampinginya, berada di dekatnya, dan menjadi sahabatnya. Mendidiknya dengan sepenuh jiwa agar ia bisa belajar dari semesta.
Saya sadar menjadi ibu di era milenial begitu berat tantangannya. Namun, saya percaya Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan untuk selalu bisa menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan. Kekuatan seorang ibu menjadi benteng yang kuat untuk seorang anak. Tetap semangat untuk seluruh ibu di Indonesia... dari rahimmu lahir generasi-generasi hebat yang bisa membuat negeri ini menjadi bermartabat.
Minggu, 24 September 2017
8 MANFAAT BEROLAHRAGA BERSAMA PASANGAN
Olahraga menjadi pilihan bagi setiap orang yang ingin tetap menjaga kondisi stamina tubuhnya. Dengan berolahraga secara teratur maka akan sangat terasa manfaatnya. Tubuh menjadi lebih segar, bugar, dan tidak mudah terserang penyakit. Namun karena kesibukan tak jarang kita sering melupakan bahkan malas untuk melakukan olahraga. Nah, salah satu cara agar kita semangat untuk berolahraga adalah dengan mengajak pasangan kita untuk bersama-sama berolahraga. Wah.. pasti sangat menyenangkan bisa bersama-sama berolahraga dengan pasangan. Rasulullah SAW sendiri menganjurkan agar kita sering melakukan kegiatan bersama-sama dengan pasangan, termasuk kegiatan berolahraga.
Nah.. di Minggu pagi ini, mumpung libur rasanya waktu yang tepat untuk mengajak pasangan berolahraga. Kegiatan ini bisa menjadi suplemen yang murah meriah dalam menjaga keharmonisan keluarga. Kebetulan saya dan suami lagi keranjingan banget bersepeda. Kami biasanya melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan meregangkan otot-otot tangan dan kaki kemudian menentukan rute terlebih dahulu sebelum berangkat. Setiap minggu rutenya berbeda-beda biar tidak bosan. Kadang kami hanya bersepeda mengelilingi perumahan di daerah kami. Minggu depannya lagi kami mengambil rute yang berbeda. Kadang Ciwaruga-Pondok Hijau-UPI atau Ciwaruga-Sarijadi-Polban. Hihihi atau rute bersepeda kami hanya dari rumah ke pasar. Nah, Pagi ini kami memilih rute Ciwaruga-Pondok Hijau-Cihideung-balik lagi Ciwaruga. Teman-teman yang tinggal di wilayah Bandung pasti tahu daerah-daerah tersebut. Lumayan panjang kan rutenya? Hehe adalah sekitar 8km. Nah jarak sejauh itu kalau dilakukan bersama pasangan rasanya pasti menyenangkan.
Bersepeda memiliki manfaat yang luar biasa untuk tubuh terutama kesehatan jantung dan pernapasan. Mengayuh sepeda membutuhkan kekuatan apalagi dengan jarak tempuh yang cukup membantu kerja jantung dan melatih pernapasan kita. Jalan yang menanjak dan menurun membantu otot-otot tubuh untuk bekerja secara teratur. Apalagi kalau bersepeda dengan pasangan. Nah, berikut manfaat yang bisa kita petik saat bersepeda bersama pasangan:
1. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Berolahraga bersama pasangan dapat meningkatkan rasa syukur dan keimanan kepada Allah SWT. Nikmat sehat dan kebersamaan yang Allah berikan untuk keluarga menjadi ajang rasa syukur akan nikmat yang Allah beri. Apalagi kalau bersepeda di tempat yang sejuk, indah, dan asri, rasanya keagungan Allah begitu terasa.
2. Menambah rasa saling memahami dan melindungi.
Contohnya ketika sedang bersepeda kemudian istri tertinggal di belakang karena jalanan yang menanjak, sang suami dengan setia menunggu dan melindungi istri dari jatuh atau cedera.
3. Memupuk kebersamaan dan toleransi.
Sebelum bersepeda, biasanya bersama-sama pasangan menentukan rute yang dipilih dan saling bertoleransi dengan kemampuan kayuhan masing-masing. Tidak ada yang memaksakan kehendak. Jika salah satu lelah mengayuh, maka bisa sama-sama berjalan kaki sambil mendorong sepeda.
4. Menjaga keharmonisan
Ibaratnya setiap kayuhan selalu ada cinta. Pupuklah rasa cinta itu dengan kebersamaan. Sambil bersepeda bisa juga sambil mengenang saat-saat awal bertemu pasangan atau saat cinta pertama kali bersemi dengan pasangan. Meskipun bertahun-tahun menikah, tapi keharmonisan tetap terjaga.
5. Refreshing sekaligus hiburan.
Bersepeda ke alam bebas maka tubuh menjadi lebih segar dan pikiran pun menjadi lebih jernih. Apalagi jika diselingi canda tawa bersama pasangan maka bersepeda bisa menjadi hiburan yang gratis.
6. Memotivasi satu sama lain.
Bersepeda bersama juga bisa sebagai ajang saling menguatkan dan saling memotivasi. Support dari pasangan adalah magnet yang bisa menggerakkan untuk menjadi pribadi luar biasa. Ada pepatah yang mengatakan dibalik suami hebat ada istri yang hebat di belakangnya. Begitu pun sebaliknya.
7. Memupuk kepercayaan.
Tanamkan selalu kepercayaan terhadap pasangan. Dengan bersepeda semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk bercerita tentang banyak hal. Semakin kebersamaan terjalin maka kepercayaan akan tumbuh di hati pasangan.
8. Menambah rasa percaya diri.
Bersepeda ibaratnya mengayuh bahtera kehidupan. Jalan yang dilalui kadang menanjak, kadang juga menurun. Saling menyemangati ketika menemukan tanjakan maka akan menumbuhkan rasa percaya diri terhadap pasangan bahwa setiap masalah dalam kehidupan dapat diatasi bersama. Karena setelah tanjakan pasti ketemu turunan. Hehe...
Dari delapan manfaat di antara sekian banyak manfaat berolahraga bersama pasangan yang saya uraikan dengan sederhana di atas, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Istimewakan pasangan kita dalam setiap kegiatan. Dengan kebersamaan maka akan terjalin rasa saling memiliki. Sakinah mawaddah wa rahmah Insyaallah akan selalu terjaga..
Nah.. di Minggu pagi ini, mumpung libur rasanya waktu yang tepat untuk mengajak pasangan berolahraga. Kegiatan ini bisa menjadi suplemen yang murah meriah dalam menjaga keharmonisan keluarga. Kebetulan saya dan suami lagi keranjingan banget bersepeda. Kami biasanya melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan meregangkan otot-otot tangan dan kaki kemudian menentukan rute terlebih dahulu sebelum berangkat. Setiap minggu rutenya berbeda-beda biar tidak bosan. Kadang kami hanya bersepeda mengelilingi perumahan di daerah kami. Minggu depannya lagi kami mengambil rute yang berbeda. Kadang Ciwaruga-Pondok Hijau-UPI atau Ciwaruga-Sarijadi-Polban. Hihihi atau rute bersepeda kami hanya dari rumah ke pasar. Nah, Pagi ini kami memilih rute Ciwaruga-Pondok Hijau-Cihideung-balik lagi Ciwaruga. Teman-teman yang tinggal di wilayah Bandung pasti tahu daerah-daerah tersebut. Lumayan panjang kan rutenya? Hehe adalah sekitar 8km. Nah jarak sejauh itu kalau dilakukan bersama pasangan rasanya pasti menyenangkan.
Bersepeda memiliki manfaat yang luar biasa untuk tubuh terutama kesehatan jantung dan pernapasan. Mengayuh sepeda membutuhkan kekuatan apalagi dengan jarak tempuh yang cukup membantu kerja jantung dan melatih pernapasan kita. Jalan yang menanjak dan menurun membantu otot-otot tubuh untuk bekerja secara teratur. Apalagi kalau bersepeda dengan pasangan. Nah, berikut manfaat yang bisa kita petik saat bersepeda bersama pasangan:
1. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Berolahraga bersama pasangan dapat meningkatkan rasa syukur dan keimanan kepada Allah SWT. Nikmat sehat dan kebersamaan yang Allah berikan untuk keluarga menjadi ajang rasa syukur akan nikmat yang Allah beri. Apalagi kalau bersepeda di tempat yang sejuk, indah, dan asri, rasanya keagungan Allah begitu terasa.
2. Menambah rasa saling memahami dan melindungi.
Contohnya ketika sedang bersepeda kemudian istri tertinggal di belakang karena jalanan yang menanjak, sang suami dengan setia menunggu dan melindungi istri dari jatuh atau cedera.
3. Memupuk kebersamaan dan toleransi.
Sebelum bersepeda, biasanya bersama-sama pasangan menentukan rute yang dipilih dan saling bertoleransi dengan kemampuan kayuhan masing-masing. Tidak ada yang memaksakan kehendak. Jika salah satu lelah mengayuh, maka bisa sama-sama berjalan kaki sambil mendorong sepeda.
4. Menjaga keharmonisan
Ibaratnya setiap kayuhan selalu ada cinta. Pupuklah rasa cinta itu dengan kebersamaan. Sambil bersepeda bisa juga sambil mengenang saat-saat awal bertemu pasangan atau saat cinta pertama kali bersemi dengan pasangan. Meskipun bertahun-tahun menikah, tapi keharmonisan tetap terjaga.
5. Refreshing sekaligus hiburan.
Bersepeda ke alam bebas maka tubuh menjadi lebih segar dan pikiran pun menjadi lebih jernih. Apalagi jika diselingi canda tawa bersama pasangan maka bersepeda bisa menjadi hiburan yang gratis.
6. Memotivasi satu sama lain.
Bersepeda bersama juga bisa sebagai ajang saling menguatkan dan saling memotivasi. Support dari pasangan adalah magnet yang bisa menggerakkan untuk menjadi pribadi luar biasa. Ada pepatah yang mengatakan dibalik suami hebat ada istri yang hebat di belakangnya. Begitu pun sebaliknya.
7. Memupuk kepercayaan.
Tanamkan selalu kepercayaan terhadap pasangan. Dengan bersepeda semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk bercerita tentang banyak hal. Semakin kebersamaan terjalin maka kepercayaan akan tumbuh di hati pasangan.
8. Menambah rasa percaya diri.
Bersepeda ibaratnya mengayuh bahtera kehidupan. Jalan yang dilalui kadang menanjak, kadang juga menurun. Saling menyemangati ketika menemukan tanjakan maka akan menumbuhkan rasa percaya diri terhadap pasangan bahwa setiap masalah dalam kehidupan dapat diatasi bersama. Karena setelah tanjakan pasti ketemu turunan. Hehe...
Dari delapan manfaat di antara sekian banyak manfaat berolahraga bersama pasangan yang saya uraikan dengan sederhana di atas, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Istimewakan pasangan kita dalam setiap kegiatan. Dengan kebersamaan maka akan terjalin rasa saling memiliki. Sakinah mawaddah wa rahmah Insyaallah akan selalu terjaga..
Sabtu, 23 September 2017
Rindu Ibunda
Malam ini kutelepon Ibu
Suaranya tetap syahdu
Berbagi kabar
Rindu yang tersiar
Dalam bentangan jarak dan waktu
Kasih Ibu seperti anak-anak sungai yang tak henti mengalir
Dalam riaknya selalu ada doa
Mencecap dari jemari hingga ulu hati
Lelah, letihmu Ibu
di sepanjang perjalanan anak-anakmu
Bisakah kami membalas ketulusanmu?
Mampukah kami membalas perjuanganmu?
Adakah sedikit waktu kami bisa meluangkan waktu bersamamu?
Menemani hari-hari sepi di ujung usiamu Ibu..
Maafkan anakmu...
Malam ini kutelepon Ibu
Dalam dekap ingin kembali menangis
Betapa perjalanan ini tak mungkin terlalui tanpa berkah, doa, dan kasih sayang Ibu
Sedangkan puisi tak mampu menggantikan rindu
Malam ini kutelepon Ibu
Suara Ibu begitu jauh
namun doanya begitu dekat...
Kamis, 21 September 2017
SYUKUR KAMI YA RABB
Beribu yang kami pinta
Engkau beri yang kami butuh
Beribu keluh hadir dalam sujud
Engkau beri kecukupan ya Allah
Di sela ujian kehidupan
Engkau hadir membuka jalan
Memayungi dengan berjuta kenikmatan
Mengasihi kami yang kadang lupa ingatan
Di pintuMu ya Rabb kami mengetuk
Memohon ampunan dari setiap khilaf
Menekuk habis kepongahan
Menenun jerami keikhlasan
RidhoMu lapangkan hati kami
BerkahMu sempurnakan hidup kami
Engkau beri yang kami butuh
Beribu keluh hadir dalam sujud
Engkau beri kecukupan ya Allah
Di sela ujian kehidupan
Engkau hadir membuka jalan
Memayungi dengan berjuta kenikmatan
Mengasihi kami yang kadang lupa ingatan
Di pintuMu ya Rabb kami mengetuk
Memohon ampunan dari setiap khilaf
Menekuk habis kepongahan
Menenun jerami keikhlasan
RidhoMu lapangkan hati kami
BerkahMu sempurnakan hidup kami
Payung Teduh dan Hatiku Terenyuh
Jujur ya saya sering heran kok banyak banget yang suka dengan lagu-lagunya "Payung Teduh". Bahkan ada beberapa sahabat yang sering mendengarkan lagu "Akad" di playlist mereka. Nama grup musiknya saja saya baru dengar. Lagunya pun saya dengar samar-samar dari senandung anak saya. Ternyata hari ini ketika saya melihat video klipnya, hiks saya pun jatuh cinta sama lagu "Akad" tersebut.
Video klipnya keren banget. Mengisahkan seorang Bapak paruh baya yang bekerja sebagai sopir taksi. Dia selalu mengantar penumpang yang beragam. Ada sepasang kekasih yang berbahagia karena akan melamar pasangannya, ada keluarga kecil yang bahagia dengan anaknya yang menggemaskan, ada tiga orang sahabat yang ceria dengan kebersamaannya, juga ada penumpang yang tengah bersedih karena masalah yang dihadapinya. Namun, beragam penumpang itu dilayani dengan penuh senyuman dan kebaikan oleh Bapak paruh baya itu.
Di akhir video klip lagu tersebut, tiba-tiba mata saya berlinang. Bapak paruh baya itu mendapat kejutan dari putri tercintanya. Sebuah perayaan kecil tersaji. Perayaan ulang tahun pernikahan yang ke-25. Ada foto seorang perempuan di antara mereka. Wajah Bapak paruh baya itu tak kuasa menahan kesedihan. Memandang foto mendiang istrinya. Menatap foto itu penuh kasih. Sang putri tercinta pun menuntun ayahandanya untuk duduk dan meniup lilin perayaan.
Tiba-tiba saya tertegun. Hiks brebes mili ya Allah umur manusia ada di tanganMu..
Payung Teduh - Akad
Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku
Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Tapi ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya
Dan bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Membuat kau bersedih
Bila nanti saatnya t'lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian ke sana ke mari dan tertawa
Namun bila saat nanti senja tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudikah kau temani diriku
Dan bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya t'lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian ke sana ke mari dan tertawa
Namun bila saat berpisah tlah tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Sudilah kau menjadi temanku
Sudilah kau menjadi istriku
Rabu, 13 September 2017
ODOP Siapa Takut?
Gerakan literasi yang saat ini tengah digencarkan pemerintah tentu membawa angin segar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Gerakan ini seolah membangunkan masyarakat Indonesia dari tidur panjangnya. Semangat untuk menggelorakan membaca dan menulis menjadi sebuah budaya adalah tujuan yang diharapkan dari program ini. Gerakan ini kini menjadi virus yang menyebarkan aroma positif dalam upaya menumbuhkan generasi yang berkarakter.
Kemampuan baca-tulis sangat berkaitan erat. Semakin seseorang mahir membaca maka akan semakin mahir menulis. Pengertian menulis menurut Henry Guntur Tarigan (1986:15) adalah kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. Kemampuan menulis tidak lahir secara instan. Kemampuan ini membutuhkan latihan yang terus menerus. Semakin banyak berlatih maka akan lahir menjadi sebuah keterampilan. Kemampuan menuangkan gagasan atau pikiran ke dalam bentuk tulisan harus disertai juga dengan kemampuan membaca. Menulis tanpa membaca seperti berjalan tanpa cahaya. Semakin sering kita membaca maka kemampuan dalam mengungkapkan ide ke dalam bentuk tulisan akan sangat terbuka lebar. Seorang penulis tidak akan kehabisan ide karena memiliki referensi yang banyak. Semakin banyak buku yang dibaca maka akan semakin mengalir ide dalam tulisan.
Salah satu komunitas yang turut menghidupkan Gerakan Literasi di negeri ini adalah Komunitas ODOP. Komunitas ini selain sebagai salah satu wadah berkumpulnya orang-orang yang memiliki integritas yang tinggi dalam dunia kepenulisan juga memiliki peran yang sangat penting dalam menghembuskan semangat literasi. One Day One Post tentu memiliki tantangan tersendiri bagi setiap anggotanya. Kemampuan mengungkapkan nalar, ide, dan pengetahuan ke dalam bentuk tulis menjadi magnet yang menantang. Satu hari minimal satu tulisan akan sangat merangsang setiap anggotanya untuk berpikir dan terus berkarya.
Melalui komunitas ODOP manfaat menulis akan sangat dirasakan oleh anggotanya. Dengan menulis berarti mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Dengan demikian, menulis dapat menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri, orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.
Menulislah maka namamu akan selalu dikenang. Seperti yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Menulis juga bagian dari ibadah dengan menuangkan kebaikan melalui sebuah tulisan sehingga pembaca dapat memetik hikmahnya. Menulislah... agar diri kita lebih bermanfaat.
Kemampuan baca-tulis sangat berkaitan erat. Semakin seseorang mahir membaca maka akan semakin mahir menulis. Pengertian menulis menurut Henry Guntur Tarigan (1986:15) adalah kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. Kemampuan menulis tidak lahir secara instan. Kemampuan ini membutuhkan latihan yang terus menerus. Semakin banyak berlatih maka akan lahir menjadi sebuah keterampilan. Kemampuan menuangkan gagasan atau pikiran ke dalam bentuk tulisan harus disertai juga dengan kemampuan membaca. Menulis tanpa membaca seperti berjalan tanpa cahaya. Semakin sering kita membaca maka kemampuan dalam mengungkapkan ide ke dalam bentuk tulisan akan sangat terbuka lebar. Seorang penulis tidak akan kehabisan ide karena memiliki referensi yang banyak. Semakin banyak buku yang dibaca maka akan semakin mengalir ide dalam tulisan.
Salah satu komunitas yang turut menghidupkan Gerakan Literasi di negeri ini adalah Komunitas ODOP. Komunitas ini selain sebagai salah satu wadah berkumpulnya orang-orang yang memiliki integritas yang tinggi dalam dunia kepenulisan juga memiliki peran yang sangat penting dalam menghembuskan semangat literasi. One Day One Post tentu memiliki tantangan tersendiri bagi setiap anggotanya. Kemampuan mengungkapkan nalar, ide, dan pengetahuan ke dalam bentuk tulis menjadi magnet yang menantang. Satu hari minimal satu tulisan akan sangat merangsang setiap anggotanya untuk berpikir dan terus berkarya.
Melalui komunitas ODOP manfaat menulis akan sangat dirasakan oleh anggotanya. Dengan menulis berarti mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Dengan demikian, menulis dapat menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri, orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.
Menulislah maka namamu akan selalu dikenang. Seperti yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Menulis juga bagian dari ibadah dengan menuangkan kebaikan melalui sebuah tulisan sehingga pembaca dapat memetik hikmahnya. Menulislah... agar diri kita lebih bermanfaat.
Rabu, 06 September 2017
RESENSI NOVEL"AYAH" KARYA ANDREA HIRATA
Judul
Buku : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit :
Bentang Pustaka
Cetakan
keenambelas : Februari 2017
Tebal
Halaman : xvii+396 halaman
Bismillahirrohmaanirrohiim…
Novel berikutnya karya Andrea
Hirata yang mengundang penasaran untuk dibaca adalah novel “Ayah”. Halaman sampul
bergambar seorang ayah bersama anak laki-laki yang memegang kembang gula dengan
sepeda berhias balon di bagian setirnya seolah memunculkan pertanyaan tentang isi dalam novel
ini. Figur seorang ayah seperti apakah yang ingin digambarkan Andrea Hirata
dalam novel ini? Apakah ada kaitannya dengan novel-novel sebelumnya? Rasa
penasaran itulah yang mendorong untuk tak sabar segera membaca novel ini.
Novel “Ayah” berkisah tentang cinta
sejati dan perjuangan seorang ayah bernama Sabari kepada Marlena dan Zorro
anaknya. Cinta sejati yang dibawanya hingga tutup usia. Perjuangan seorang ayah
yang dapat menginspirasi kaum ayah saat ini. Dengan cinta dan pengorbanannya memberikan
kasih sayang kepada orang-orang tercinta dengan penuh ketulusan. Cinta tanpa
Syarat itulah yang dicoba diusung dalam novel ini. Peran dan kasih sayang yang
diberikan seorang ayah ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa pada diri
sang anak. Sabari yang sangat senang dengan kehadiran zorro, semakin bersemangat
dan berusaha memberikan segala yang terbaik untuk anaknya. Menyandang gelar “Ayah”
adalah anugerah luar biasa yang disyukuri Sabari. Tidak ada kesenangan dunia
yang bisa mengalahkan kebersamaan Sabari dan Zorro. Di tengah kemiskinan dan kesederhanaan
hidupnya, Sabari selalu memberikan kebahagiaan untuk Zorro, termasuk
kebiasaannya bercerita dan membacakan
puisi untuk Zorro. Namun, ketulusan cinta Sabari tidak disambut oleh Marlena. Perpisahannya
dengan Marlena dan Zorro adalah pukulan telak dalam kehidupan Sabari.
Kehidupannya hancur namun dua orang sahabatnya yaitu Ukun dan Tamat akhirnya turut membantu
perjuangan Sabari.
Latar novel ini sebagian besar masih mengambil latar
di Pulau Belitong. Kehidupan Sabari di Pulau Belantik dan Marlena yang senang
sekali jalan-jalan ke enam kota di Pulau Sumatera tergambar dengan jelas.
Pembaca dapat mengetahui tempat-tempat yang dikunjungi Marlena lewat
puisi-puisi yang dibuat Zorro. Kebiasaan menulis puisi yang diwariskan Sabari
kepada Zorro adalah juga kebiasaan yang diturunkan Insyafi kepada Sabari.
Insyafi adalah ayah Sabari yang membesarkannya dengan puisi juga.
Membaca keseluruhan novel ini
rasanya pembaca diajak untuk berlompatan dari waktu ke waktu. Kisah masa lalu
Amiru, Sabari, dan Marlena terbentang dengan rinci kemudian ditutup dengan manis di bagian
akhir khas Andrea Hirata. Namun, ada beberapa bagian cerita yang terlalu
singkat penyelesaiannya sehingga sedikit mengurangi kenikmatan membaca
novelnya. Termasuk pembaca sedikit terkecoh dengan penggunaan sudut pandang Zorro
dan Amiru dalam kisah ini. Lagi-lagi ini merupakan gaya khas Andrea Hirata. Selain
itu, berbeda dengan novel Tetralogi Laskar
Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan,
dalam novel ini Andrea Hirata hanya berperan sebagai pencerita dari awal sampai
akhir. Gaya khas yang kocak dan menggelitik
pun tetap muncul dalam novel ini dengan kehadiran tokoh Ukun dan Tamat sebagai sahabat
Sabari.
Membaca novel ini mengajarkan kita
banyak hal. Tentang peran seorang ayah yang tak kalah penting dengan peran
ibu. Peran Ayah tidak hanya sebagai figur pencari nafkah keluarga, namun
sosok ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ayah juga menjadi pelindung, pemberi
teladan, motivator, pembimbing, bahkan sahabat
bagi seorang anak. Kisah dalam novel
ini mengajarkan kepada seluruh ayah tentang
ketulusan yang sesungguhnya bahwa seorang ayah akan melakukan segala yang terbaik untuk anaknya. Kasih
sayang ayah dan ibu akan sangat membantu tumbuh kembang seorang anak. Hal yang juga paling dibutuhkan bangsa Indonesia saat
ini yaitu keteladanan dari orang tua. Kehadiran, kasih sayang, dan keteladanan orang tua melahirkan
generasi-generasi yang beriman , bertakwa,
dan berakhlak mulia. Generasi-generasi hebat
yang siap memimpin negeri ini ke arah yang lebih bermartabat.
Langganan:
Komentar (Atom)