Rabu, 27 September 2017

SEPENGGAL KISAH IBU



Kuparkir kendaraan di sebuah halaman rumah milik pamanku. Aku biasa memarkirkan kendaraan di sana jika aku mengunjungi Ibu. Rumah Ibu memang masuk gang. Jadi tak bisa kuparkir kendaraan di depan rumah Ibu. Hari ini setelah sekian lama tak pulang, akhirnya, kuinjakkan kembali kaki di tanah kelahiran. Kota kecil yang selalu memberikan aku kesempatan untuk terus menghirup wanginya. Empat jam kira-kira perjalanan dari kotaku tinggal menuju kota kelahiranku. Aku memang sengaja mengambil rute normal tanpa melewati jalan tol. Bagiku, perjalanan Minggu pagi ini adalah perjalanan yang selalu membuat aku ingin selalu mengenang jalan-jalan menuju kota kelahiranku. Termasuk  menyempatkan membeli oleh-oleh untuk Ibu. Aku tersenyum, kujinjing keranjang berisi tahu, tak sabar kakiku melangkah ke rumah Ibu. Setelah menyalami Paman, aku bergegas ke rumah Ibu.

Tak terkira girang ibu menyambutku. Wajahnya yang mulai berkerut menyunggingkan senyum kerinduan. Kusalami sosok paruh baya itu. Ibu memelukku.

“Zul akhirnya kau pulang, Nak…jam berapa dari Bandung?” Tanya Ibu lembut.
“Jam empat Shubuh Bu. Aku sengaja berangkat pagi agar tak terkena macet.” Jawabku tersenyum melepas kerinduan.
“Kubawakan tahu kesukaan Ibu, tadi masih hangat di jalan tapi kayaknya sekarang sudah             dingin Bu..” Sahutku menyerahkan keranjang berisi tahu yang kubeli di Sumedang.
“Terima kasih Zul….nanti biar Ibu hangatkan.” Sahut Ibu tersenyum merangkulku.
“Zul tahukah kau Wak Kodir meninggal dua hari yang lalu…” Sahut Ibu mengawali percakapan sambil mengajakku ke ruang makan.
“Innalillahi wa Innailaihi Roojiuun….”Aku tercekat ketika Ibu menyebutkan nama itu.
“Iya sakit selama seminggu. sakitnya parah. Dia sering berteriak-teriak. Semua anak-anaknya angkat tangan, dokter pun sudah tak ada yang bisa menolongnya.” Sahut Ibu melanjutkan kisahnya.


Aku tercenung mendengar cerita Ibu. Tiba-tiba wajah Wak Kodir hadir di pelupuk mataku. Mendengar kematiannya ada sedikit rasa syukur terbersit di hatiku. Ya..entahlah aku tiba-tiba merasa tentram mendengar kepergian orang itu. Setelah sekian lama perlakuannya yang buruk kepada almarhum Bapak dan Ibu. Aku menghela napas. Memandang wajah Ibu yang tengah menyiapkan makanan untukku. Aku memang jarang pulang ke rumah. Tapi Ibu selalu berkisah kepadaku lewat telepon tentang perlakuan Wak Kodir kepada almarhum Bapak dan Ibu.

Dulu sewaktu almarhum Bapak masih ada. Wak Kodir sering meneror keluargaku. Almarhum Bapak adalah seorang imam mushala. Ia sering memimpin sholat di mushola dekat rumah kami. Wak Kodir tidak suka jika mushola itu dipimpin oleh almarhum Bapak. Kata Ibu tanah mushola itu dulunya milik keluarga Wak Kodir. Tapi pembangunan musholanya adalah swadaya masyarakat. Wak Kodir tidak suka jika kepengurusan mushola dipegang almarhum Bapak. Katanya dialah yang lebih berhak untuk menjadi pemimpin di mushola itu.

Sering Wak Kodir meneror almarhum Bapak dan Ibu dengan menghadang mereka ketika akan sholat Shubuh. Menganggap mereka tidak pantas untuk mengurusi mushola yang dianggap miliknya. Tapi almarhum Bapak selalu berbicara baik-baik kepadanya, menyampaikan bahwa Bapak siap untuk mundur dan tidak menjadi imam di mushola itu lagi jika Wak Kodir menghendaki. Aku masih ingat ketika ibu bercerita sambil menangis tentang perbuatan Wak Kodir.

Mushola itu sempat vakum. Almarhum Bapak dan Ibu memilih mengalah. Mereka sholat berjamaah di rumah. Beberapa warga kampung pun tak ada yang berani memasuki mushola karena takut dengan sikap Wak Kodir. Beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk ikut sholat berjamaah di rumah Ibu. Apalagi waktu itu jelang Ramadahan, suasana Ramadhan yang menyedihkan kata Ibu sepanjang hidupnya waktu itu. Sempat Ibu meneleponku, memintaku untuk membuatkan mushola di belakang rumah Ibu. Namun, karena jarak dengan mushola Wak Kodir kurang dari 500 meter rencana ibu terpaksa ditunda.

Untunglah, vakumnya mushola itu tidak berlangsung lama. Beberapa pemuka masyarakat sekitar turut membantu mendamaikan konflik itu. Pihak almarhum Bapak dan pihak Wak Kodir dipanggil kemudian disepakati jalan keluar. Bahwa almarhum Bapak diminta kembali untuk hadir ke mushola tapi tidak untuk menjadi imam. Keputusan yang berat memang, karena dari dulu almarhum Bapaklah yang selalu menghidupkan mushola itu. Berpuluh-puluh tahun Bapak menjadi imam di mushola. namun ternyata hal itu menimbulkan rasa iri di hati Wak Kodir. Ibu bercerita waktu itu, Bapak ikhlas menerima keputusan itu demi kemaslahatan bersama.

Bertahun-tahun kemudian tak kudengar lagi konflik tentang mushola itu. Hingga akhirnya Bapak pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Kanker prostat merenggut hidup Bapak. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di hati Ibu, dan juga di hatiku. Aku sering membujuk Ibu untuk tinggal bersamaku. Tapi, Ibu selalu menolak.
“Rumah ini adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari Bapakmu Zul..Ibu tak akan meninggalkannya..” Sahut Ibu waktu itu menahan kesedihan.
“Tapi Bu…aku tak tenang kalau Ibu tinggal di sini sendiri. Ayolah Bu…tinggal bersama   Zul di Bandung. Zul sudah punya segalanya sekarang…”Bujukku pada Ibu.
“Ibu di sini saja Zul…ada pamanmu yang masih tinggal dekat dengan Ibu..InsyaAllah
Pamanmu akan selalu menjaga Ibu..”Sahut Ibu lirih.

Sejak saat itu, Ibu memang tinggal sendiri. Sesekali aku menengoknya. Aku bersyukur pamanku dengan sukarela mau turut menjaga Ibu. Jika aku tak sempat menengok Ibu, Ia pasti meneleponku. Bercerita banyak hal termasuk perangai Wak Kodir yang kadang membuatku geram.

Pernah suatu hari Ibu meneleponku. Mengabarkan kalau pipa yang menghubungkan air dari sumur ke kamar mandi terlihat diputus orang. Ibu menemukan serpihan potongan pipa itu di belakang rumah. Patahannya berada di sebelah sumur. Aku geleng-geleng kepala. Siapa orang yang berani tega merusak pipa air di sumur Ibu? Aku menelepon Paman minta tolong untuk memperbaiki pipa itu dan mengusut siapa pelakunya. Keesokan harinya Paman membuat pengamanan. Dipasangnya lagi pipa air yang menghubungkan sumur dan kamar mandi di rumah Ibu. Dipasangnya kawat di sekitar sumur. Kawat itu melingkar di antara pagar bambu yang mengelilingi sumur. Pipa itu aman untuk beberapa hari. Ibu lega, Paman juga lega. Namun, kembali aku menerima telepon dari Ibu kalau pipa itu kembali dirusak orang. Tapi kali ini ada sobekan sarung di antara kawat yang memagari sumur Ibu.

“Kamu tahu Zul itu sobekan sarung siapa?” Tanya Ibu padaku ketika bercerita.
“Siapa Bu….?”Tanyaku penasaran.
“Sobekan sarung itu milik Wa Kodir…kamu tau Zul…tega sekali orang itu..”Sahut Ibu
menahan kesedihan.
“Bagaimana Ibu bisa tahu kalau itu milik Wak Kodir Bu…?”Tanyaku tak mengerti.
“Ibu menanyakan pada anaknya dan motif sarung itu sama persis dengan motif sarung      Wak Kodir Zul. Pulanglah ke rumah biar Ibu ceritakan nanti.” Sahut Ibu memintaku     pulang.

Aku terpaksa pulang untuk melihat kondisi Ibu waktu itu. Tak tega rasanya jika mendengar kabar yang tidak enak tentang Ibu. Aku sendiri pernah bertemu Wak Kodir saat kepulanganku waktu itu. Tatapannya sinis, menatapku dengan aneh. Aku tak mempedulikan sikapnya. Aku tahu Wak Kodir memang tidak menyukaiku dan keluargaku. Pajero Sport yang kuparkir di halaman rumah Paman seperti biasa, menjadi incaran tatapan aneh Wak Kodir.

“Minum dulu tehnya Zul…Ibu senang kamu datang…” Ibu menepuk pundakku dan membuyarkan lamunan dan ingatanku tentang Wak Kodir.
“Begitulah Zul..umur manusia hanya Allah yang tahu. Kita tak pernah tahu kapan Allah    akan memanggil kita. Wak Kodir telah pergi. Ibu sudah memaafkan kesalahan-  kesalahannya. Bagi Ibu, setiap perbuatan akan selalu ada balasannya. Kita ambil hikmah           dari semua ini ya Zul. Ibu sudah tua…Bapakmu sudah tak ada. Ibu hanya ingin             melihatmu bahagia..”  Suara  Ibu teramat menyentuh kalbuku.

Aku memeluk Ibu…erat sekali. memeluk wanita yang kukasihi seumur hidupku. Dalam hati aku berbisik….”Tuhan panjangkan umur ibuku….biarkan aku membahagiakannya di sisa usia senjanya ya Rabb…”.
“Nanti kita takziah ke rumah Wak Kodir ya Zul. Walau bagaimana pun kewajiban seorang muslim untuk mengunjungi keluarga yang berduka.” Sahut Ibu syahdu.

Aku mengangguk. Ketulusan Ibu terpancar di wajahnya. Ibu menatapku kemudian tersenyum “Jadi kapan kau kenalkan Ibu pada Rhania calonmu    Zul….?”
Aku tersipu malu….”Secepatnya Bu…kepulanganku kali ini juga karena memohon restu   Ibu untuk melamar Rahania .”

Ah ….lega rasanya. Selangkah lagi aku bisa melihat senyum Ibu ketika melihatku bersanding dengan Rhania nanti.









 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar