Kuparkir kendaraan di sebuah
halaman rumah milik pamanku. Aku biasa memarkirkan kendaraan di sana jika aku
mengunjungi Ibu. Rumah Ibu memang masuk gang. Jadi tak bisa kuparkir kendaraan
di depan rumah Ibu. Hari ini setelah sekian lama tak pulang, akhirnya,
kuinjakkan kembali kaki di tanah kelahiran. Kota kecil yang selalu
memberikan aku kesempatan untuk terus menghirup wanginya. Empat jam kira-kira
perjalanan dari kotaku tinggal menuju kota kelahiranku. Aku memang sengaja mengambil
rute normal tanpa melewati jalan tol. Bagiku, perjalanan Minggu pagi ini adalah
perjalanan yang selalu membuat aku ingin selalu mengenang jalan-jalan menuju kota kelahiranku. Termasuk menyempatkan
membeli oleh-oleh untuk Ibu. Aku tersenyum, kujinjing
keranjang berisi tahu, tak sabar kakiku melangkah ke rumah Ibu. Setelah
menyalami Paman, aku bergegas ke rumah Ibu.
Tak terkira girang ibu menyambutku.
Wajahnya yang mulai berkerut menyunggingkan senyum kerinduan. Kusalami sosok
paruh baya itu. Ibu memelukku.
“Zul akhirnya kau pulang, Nak…jam
berapa dari Bandung?” Tanya Ibu lembut.
“Jam empat Shubuh Bu. Aku sengaja
berangkat pagi agar tak terkena macet.” Jawabku tersenyum melepas kerinduan.
“Kubawakan tahu kesukaan Ibu, tadi
masih hangat di jalan tapi kayaknya sekarang sudah dingin Bu..” Sahutku menyerahkan keranjang berisi tahu
yang kubeli di Sumedang.
“Terima kasih Zul….nanti biar Ibu
hangatkan.” Sahut Ibu tersenyum merangkulku.
“Zul tahukah kau Wak Kodir
meninggal dua hari yang lalu…” Sahut Ibu mengawali percakapan sambil mengajakku
ke ruang makan.
“Innalillahi wa Innailaihi
Roojiuun….”Aku tercekat ketika Ibu menyebutkan nama itu.
“Iya sakit selama seminggu.
sakitnya parah. Dia sering berteriak-teriak. Semua anak-anaknya angkat tangan,
dokter pun sudah tak ada yang bisa menolongnya.” Sahut Ibu melanjutkan kisahnya.
Aku tercenung mendengar cerita Ibu.
Tiba-tiba wajah Wak Kodir hadir di pelupuk mataku. Mendengar kematiannya ada
sedikit rasa syukur terbersit di hatiku. Ya..entahlah aku tiba-tiba merasa tentram
mendengar kepergian orang itu. Setelah sekian lama perlakuannya yang buruk
kepada almarhum Bapak dan Ibu. Aku menghela napas. Memandang wajah Ibu yang
tengah menyiapkan makanan untukku. Aku memang jarang pulang ke rumah. Tapi Ibu
selalu berkisah kepadaku lewat telepon tentang perlakuan Wak Kodir kepada almarhum Bapak dan Ibu.
Dulu sewaktu almarhum Bapak masih
ada. Wak Kodir sering meneror keluargaku. Almarhum Bapak adalah seorang imam
mushala. Ia sering memimpin sholat di mushola dekat rumah kami. Wak Kodir tidak
suka jika mushola itu dipimpin oleh almarhum Bapak. Kata Ibu tanah mushola itu
dulunya milik keluarga Wak Kodir. Tapi pembangunan musholanya adalah swadaya
masyarakat. Wak Kodir tidak suka jika kepengurusan mushola dipegang almarhum
Bapak. Katanya dialah yang lebih berhak untuk menjadi pemimpin di mushola itu.
Sering Wak Kodir meneror almarhum
Bapak dan Ibu dengan menghadang mereka ketika akan sholat Shubuh. Menganggap
mereka tidak pantas untuk mengurusi mushola yang dianggap miliknya. Tapi
almarhum Bapak selalu berbicara baik-baik kepadanya, menyampaikan bahwa Bapak
siap untuk mundur dan tidak menjadi imam di mushola itu lagi jika Wak Kodir
menghendaki. Aku masih ingat ketika ibu bercerita sambil menangis tentang
perbuatan Wak Kodir.
Mushola itu sempat vakum. Almarhum
Bapak dan Ibu memilih mengalah. Mereka sholat berjamaah di rumah. Beberapa
warga kampung pun tak ada yang berani memasuki mushola karena takut dengan
sikap Wak Kodir. Beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk ikut sholat berjamaah
di rumah Ibu. Apalagi waktu itu jelang Ramadahan, suasana Ramadhan yang
menyedihkan kata Ibu sepanjang hidupnya waktu itu. Sempat Ibu meneleponku,
memintaku untuk membuatkan mushola di belakang rumah Ibu. Namun, karena jarak
dengan mushola Wak Kodir kurang dari 500 meter rencana ibu terpaksa ditunda.
Untunglah, vakumnya mushola itu
tidak berlangsung lama. Beberapa pemuka masyarakat sekitar turut membantu
mendamaikan konflik itu. Pihak almarhum Bapak dan pihak Wak Kodir dipanggil
kemudian disepakati jalan keluar. Bahwa almarhum Bapak diminta kembali untuk
hadir ke mushola tapi tidak untuk menjadi imam. Keputusan yang berat memang,
karena dari dulu almarhum Bapaklah yang selalu menghidupkan mushola itu.
Berpuluh-puluh tahun Bapak menjadi imam di mushola. namun ternyata hal itu menimbulkan
rasa iri di hati Wak Kodir. Ibu bercerita waktu itu, Bapak ikhlas menerima
keputusan itu demi kemaslahatan bersama.
Bertahun-tahun kemudian tak
kudengar lagi konflik tentang mushola itu. Hingga akhirnya Bapak pergi
meninggalkan kami selama-lamanya. Kanker prostat merenggut hidup Bapak.
Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di hati Ibu, dan juga di hatiku. Aku
sering membujuk Ibu untuk tinggal bersamaku. Tapi, Ibu selalu menolak.
“Rumah ini adalah satu-satunya
kenangan yang tersisa dari Bapakmu Zul..Ibu tak akan meninggalkannya..” Sahut
Ibu waktu itu menahan kesedihan.
“Tapi Bu…aku tak tenang kalau Ibu
tinggal di sini sendiri. Ayolah Bu…tinggal bersama Zul di Bandung. Zul sudah punya segalanya sekarang…”Bujukku pada
Ibu.
“Ibu di sini saja Zul…ada pamanmu
yang masih tinggal dekat dengan Ibu..InsyaAllah
Pamanmu akan selalu menjaga Ibu..”Sahut
Ibu lirih.
Sejak saat itu, Ibu memang tinggal
sendiri. Sesekali aku menengoknya. Aku bersyukur pamanku dengan
sukarela mau turut menjaga Ibu. Jika aku tak sempat menengok Ibu, Ia pasti
meneleponku. Bercerita banyak hal termasuk perangai Wak Kodir yang kadang
membuatku geram.
Pernah suatu hari Ibu meneleponku.
Mengabarkan kalau pipa yang menghubungkan air dari sumur ke kamar mandi
terlihat diputus orang. Ibu menemukan serpihan potongan pipa itu di belakang
rumah. Patahannya berada di sebelah sumur. Aku geleng-geleng kepala. Siapa
orang yang berani tega merusak pipa air di sumur Ibu? Aku menelepon Paman minta
tolong untuk memperbaiki pipa itu dan mengusut siapa pelakunya. Keesokan
harinya Paman membuat pengamanan. Dipasangnya lagi pipa air yang menghubungkan sumur
dan kamar mandi di rumah Ibu. Dipasangnya kawat di sekitar sumur. Kawat itu
melingkar di antara pagar bambu yang mengelilingi sumur. Pipa itu aman untuk
beberapa hari. Ibu lega, Paman juga lega. Namun, kembali aku menerima telepon
dari Ibu kalau pipa itu kembali dirusak orang. Tapi kali ini ada sobekan sarung
di antara kawat yang memagari sumur Ibu.
“Kamu tahu Zul itu sobekan sarung
siapa?” Tanya Ibu padaku ketika bercerita.
“Siapa Bu….?”Tanyaku penasaran.
“Sobekan sarung itu milik Wa Kodir…kamu
tau Zul…tega sekali orang itu..”Sahut Ibu
menahan kesedihan.
“Bagaimana Ibu bisa tahu kalau itu
milik Wak Kodir Bu…?”Tanyaku tak mengerti.
“Ibu menanyakan pada anaknya dan
motif sarung itu sama persis dengan motif sarung Wak Kodir Zul. Pulanglah ke rumah biar Ibu ceritakan nanti.”
Sahut Ibu memintaku pulang.
Aku terpaksa pulang untuk melihat
kondisi Ibu waktu itu. Tak tega rasanya jika mendengar kabar yang tidak enak
tentang Ibu. Aku sendiri pernah bertemu Wak Kodir saat kepulanganku waktu itu.
Tatapannya sinis, menatapku dengan aneh. Aku tak mempedulikan sikapnya. Aku
tahu Wak Kodir memang tidak menyukaiku dan keluargaku. Pajero Sport yang
kuparkir di halaman rumah Paman seperti biasa, menjadi incaran tatapan aneh Wak
Kodir.
“Minum dulu tehnya Zul…Ibu senang
kamu datang…” Ibu menepuk pundakku dan membuyarkan lamunan dan ingatanku
tentang Wak Kodir.
“Begitulah Zul..umur manusia hanya
Allah yang tahu. Kita tak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita. Wak Kodir telah pergi. Ibu sudah memaafkan
kesalahan- kesalahannya. Bagi Ibu, setiap
perbuatan akan selalu ada balasannya. Kita ambil hikmah dari semua ini ya Zul. Ibu sudah tua…Bapakmu sudah tak ada.
Ibu hanya ingin melihatmu
bahagia..” Suara Ibu teramat menyentuh kalbuku.
Aku memeluk Ibu…erat sekali.
memeluk wanita yang kukasihi seumur hidupku. Dalam hati aku berbisik….”Tuhan
panjangkan umur ibuku….biarkan aku membahagiakannya di sisa usia senjanya ya
Rabb…”.
“Nanti kita takziah ke rumah Wak
Kodir ya Zul. Walau bagaimana pun kewajiban seorang muslim untuk mengunjungi
keluarga yang berduka.” Sahut Ibu syahdu.
Aku mengangguk. Ketulusan Ibu
terpancar di wajahnya. Ibu menatapku kemudian tersenyum “Jadi kapan kau
kenalkan Ibu pada Rhania calonmu Zul….?”
Aku tersipu malu….”Secepatnya Bu…kepulanganku
kali ini juga karena memohon restu Ibu
untuk melamar Rahania .”
Ah ….lega rasanya. Selangkah lagi aku bisa melihat
senyum Ibu ketika melihatku bersanding dengan Rhania nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar