Rabu, 06 September 2017

RESENSI NOVEL"AYAH" KARYA ANDREA HIRATA



    
 Judul Buku                           : Ayah
 Penulis                                   : Andrea Hirata
 Penerbit                                 : Bentang Pustaka
 Cetakan keenambelas         : Februari 2017
 Tebal Halaman                     : xvii+396 halaman

Bismillahirrohmaanirrohiim…
                Novel berikutnya karya Andrea Hirata yang mengundang penasaran untuk dibaca adalah novel “Ayah”. Halaman sampul bergambar seorang ayah bersama anak laki-laki yang memegang kembang gula dengan sepeda berhias balon di bagian setirnya seolah memunculkan pertanyaan tentang isi dalam novel ini. Figur seorang ayah seperti apakah yang ingin digambarkan Andrea Hirata dalam novel ini? Apakah ada kaitannya dengan novel-novel sebelumnya? Rasa penasaran itulah yang mendorong untuk tak sabar segera membaca novel ini.
            Novel “Ayah” berkisah tentang cinta sejati dan perjuangan seorang ayah bernama Sabari kepada Marlena dan Zorro anaknya. Cinta sejati yang dibawanya hingga tutup usia. Perjuangan seorang ayah yang dapat menginspirasi kaum ayah saat ini. Dengan cinta dan pengorbanannya memberikan kasih sayang kepada orang-orang tercinta dengan penuh ketulusan. Cinta tanpa Syarat itulah yang dicoba diusung dalam novel ini. Peran dan kasih sayang yang diberikan seorang ayah ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa pada diri sang anak. Sabari yang sangat senang dengan kehadiran zorro, semakin bersemangat dan berusaha memberikan segala yang terbaik untuk anaknya. Menyandang gelar “Ayah” adalah anugerah luar biasa yang disyukuri Sabari. Tidak ada kesenangan dunia yang bisa mengalahkan kebersamaan Sabari dan Zorro. Di tengah kemiskinan dan kesederhanaan hidupnya, Sabari selalu memberikan kebahagiaan untuk Zorro, termasuk kebiasaannya bercerita  dan membacakan puisi untuk Zorro. Namun, ketulusan cinta Sabari tidak disambut oleh Marlena. Perpisahannya dengan Marlena dan Zorro adalah pukulan telak dalam kehidupan Sabari. Kehidupannya hancur namun dua orang sahabatnya  yaitu Ukun dan Tamat akhirnya turut membantu perjuangan Sabari.
            Latar  novel ini sebagian besar masih mengambil latar di Pulau Belitong. Kehidupan Sabari di Pulau Belantik dan Marlena yang senang sekali jalan-jalan ke enam kota di Pulau Sumatera tergambar dengan jelas. Pembaca dapat mengetahui tempat-tempat yang dikunjungi Marlena lewat puisi-puisi yang dibuat Zorro. Kebiasaan menulis puisi yang diwariskan Sabari kepada Zorro adalah juga kebiasaan yang diturunkan Insyafi kepada Sabari. Insyafi adalah ayah Sabari yang membesarkannya dengan puisi juga.
            Membaca keseluruhan novel ini rasanya pembaca diajak untuk berlompatan dari waktu ke waktu. Kisah masa lalu Amiru, Sabari, dan Marlena terbentang dengan  rinci kemudian ditutup dengan manis di bagian akhir khas Andrea Hirata. Namun, ada beberapa bagian cerita yang terlalu singkat penyelesaiannya sehingga sedikit mengurangi kenikmatan membaca novelnya. Termasuk pembaca sedikit terkecoh dengan penggunaan sudut pandang Zorro dan Amiru dalam kisah ini. Lagi-lagi ini merupakan gaya khas Andrea Hirata. Selain itu, berbeda dengan novel Tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan, dalam novel ini Andrea Hirata hanya berperan sebagai pencerita dari awal sampai akhir. Gaya khas yang kocak dan  menggelitik pun tetap muncul dalam novel ini dengan kehadiran tokoh Ukun dan Tamat sebagai sahabat Sabari.
            Membaca novel ini mengajarkan kita banyak hal. Tentang peran seorang ayah yang tak kalah penting  dengan peran  ibu. Peran Ayah tidak hanya sebagai figur pencari nafkah keluarga, namun sosok ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ayah juga menjadi pelindung, pemberi teladan, motivator, pembimbing, bahkan sahabat  bagi seorang anak. Kisah dalam  novel ini mengajarkan kepada seluruh ayah  tentang ketulusan yang sesungguhnya bahwa seorang ayah akan  melakukan segala yang terbaik untuk anaknya. Kasih sayang ayah dan ibu akan sangat membantu tumbuh  kembang seorang anak. Hal yang  juga paling dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini yaitu keteladanan dari orang tua. Kehadiran,  kasih sayang, dan keteladanan orang tua melahirkan generasi-generasi  yang beriman , bertakwa, dan berakhlak mulia. Generasi-generasi hebat  yang siap memimpin negeri ini ke arah yang lebih bermartabat.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar