Pria itu dengan sigap memberikan aba-aba. Tubuhnya yang sudah mulai renta tak menurunkan semangatnya. Mengarahkan motor dan mobil yang datang, memperbaiki letaknya. Motor yang datang tertata rapi berjajar di tepi jalan. Mobil pun juga demikian, tugasnyalah menjaga parkiran tetap nyaman.
Yanto Achmad, kulihat namanya tertera. Untuk ukuran juru parkir atributnya lengkap. Mungkin karena lahan tempatnya mencari nafkah berada di tempat yang membutuhkan disiplin tinggi sehingga seragamnya lebih rapi. Seragam warna biru yang dilengkapi atribut Polda terpasang di lengan kirinya. Plus rompi warna hijau terang dengan tulisan Mitra Polantas.
Profesi itu dijalaninya lebih dari separuh bagian kehidupannya. Bangga ia mengenakan seragamnya. Meski upah yang diterimanya tak seberapa, namun ia mampu menuntaskan pendidikan anak-anaknya hingga jenjang SMA. Kini anak-anaknya telah bekerja. Pak Yanto panggilan akrabnya, tak ingin membebani ketiga anaknya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di lahan parkirnya.
Pagi-pagi setelah sholat Shubuh ia berangkat. Meski jadwal masuk kerjanya pukul 07.00 tapi Pak Yanto datang lebih awal. Diambilnya sapu kemudian mulai membersihkan jalan sepanjang gedung tempatnya bekerja. Hitung-hitung olahraga pagi katanya. Sebelum pukul tujuh, orang-orang sudah berdatangan. Lahan parkirnya pun mulai dipadati kendaraan. Orang-orang datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang membuat SIM, memperpanjang SIM, mengurus surat tilang, atau mengurus surat-surat kendaraan lainnya. Pukul 17.00 barulah ia pulang ke rumah merebahkan tubuh yang lelah.
"Hidup ini teh kalau dijalani sungguh-sungguh dan ikhlas akan terasa indah. Sepahit apa pun itu. "Pesannya kepadaku.
"Bapak mah sudah tua, tinggal menunggu waktu saja. Berbuat sebaik-baiknya, berbuat yang Bapak bisa. "Sahutnya sambil memberi aba-aba kepada rekannya untuk mempersilakan motor yang datang.
Aku khidmat mendengar ceritanya. Di usia senjanya, Pak Yanto masih semangat mengabdi. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul 07.30. Sepertinya loket pelayanan pendaftaran SIM sudah mulai dibuka. Pak Yanto sudah mulai bersiap mengatur kendaraan yang datang. Tak ingin mengganggu waktunya, aku beranjak dari tempat duduk, mengucapkan permisi untuk secangkir ceritanya pagi ini.
Ah..hidup selalu menyimpan kisah.
Pagi-pagi setelah sholat Shubuh ia berangkat. Meski jadwal masuk kerjanya pukul 07.00 tapi Pak Yanto datang lebih awal. Diambilnya sapu kemudian mulai membersihkan jalan sepanjang gedung tempatnya bekerja. Hitung-hitung olahraga pagi katanya. Sebelum pukul tujuh, orang-orang sudah berdatangan. Lahan parkirnya pun mulai dipadati kendaraan. Orang-orang datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang membuat SIM, memperpanjang SIM, mengurus surat tilang, atau mengurus surat-surat kendaraan lainnya. Pukul 17.00 barulah ia pulang ke rumah merebahkan tubuh yang lelah.
"Hidup ini teh kalau dijalani sungguh-sungguh dan ikhlas akan terasa indah. Sepahit apa pun itu. "Pesannya kepadaku.
"Bapak mah sudah tua, tinggal menunggu waktu saja. Berbuat sebaik-baiknya, berbuat yang Bapak bisa. "Sahutnya sambil memberi aba-aba kepada rekannya untuk mempersilakan motor yang datang.
Aku khidmat mendengar ceritanya. Di usia senjanya, Pak Yanto masih semangat mengabdi. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul 07.30. Sepertinya loket pelayanan pendaftaran SIM sudah mulai dibuka. Pak Yanto sudah mulai bersiap mengatur kendaraan yang datang. Tak ingin mengganggu waktunya, aku beranjak dari tempat duduk, mengucapkan permisi untuk secangkir ceritanya pagi ini.
Ah..hidup selalu menyimpan kisah.
Ditanyakan gk cita-cita pak yanto dulunya jadi apa?
BalasHapusSayangnya enggak De...hehe lupa...
BalasHapuswahh keren ya, kadang kita bisa belajar dari siapaun dan dimanapun
BalasHapusMksh Mas Tian... Belajar dari sekitar.. 😊
BalasHapusSo Inspire
BalasHapusHatur nuhun Cikgu... Msh trs latihan menulis.. 🙏🙏
BalasHapusSalam buat pk yanto
BalasHapus"Fighting" dan semoga diberkahi
Salam buat pk yanto
BalasHapus"Fighting" dan semoga diberkahi