Minggu, 08 Desember 2019

TITIAN 17

Alhamdulillah
ini tangga kita yang ketujuh belas.
Bersama menaikinya dengan penuh ikhlas
Bergandeng tangan mengumpulkan keping mimpi yang berserak

Titian adalah berkumpulnya harap
Dibalur doa semoga Allah selalu dekap
Meski warna tak selalu sama
Meski pandangan kadang berbeda
Meski ide beraneka rupa
Meski selera kadang berseberang
Meski jarak kadang terbentang
Namun hati tak pernah bisa hengkang

Ini tangga yang ketujuh belas
Mengukir syukur tiada batas
Biarkan tawa tetap lepas
Diantara riak dan ombak
Disampingmu wahai Nahkoda
Tetaplah tegak
mengayuh biduk dengan bijak
Layar tetap terkembang
Hingga jelajah usai
Hingga mata air syurga
Mengalir dari kaki-kaki kita.

Sarvil, 9-12-19

Rabu, 25 September 2019

DUKA PERTIWI

Ibu pertiwi kembali menangis...
Hatinya terluka
Merah saga
Di mana-mana

Anak muda menggenggam bola api jingga
Merah saga pula
Menyala mata mereka pada penguasa

Hujan batu
Gas air mata
Membahana suara
Bom molotov bicara

Duhai Ibu...
Inilah negeriku
Terbata mengeja
Inikah demokrasi sesungguhnya?

Duhai Ibu...
Seorang Bapak menatap tameng di pundaknya
Matanya berkaca
Separuh hatinya pun luka

Sementara di kursi empuknya
Koruptor menepuk dada...

Sabtu, 07 September 2019

JANGAN BILANG KANGEN

Pagiku masih dipenuhi suara burung cicit di beranda
mengais makanan penuh keriangan
Buliran embun tertawa
Keriangan pagi bersahaja

Udara pagi adalah rindu yang sama
Menghirupnya seperti dingin yang tertahan
pada setiap percakapan
Bukankah jarak selalu ada?

 Jangan bilang kangen
Sungguh langit tak mampu menahan awan
yang menurunkan hujan
Karena aku lebih kangen darimu
Bahkan burung cicit pun tetap riang sampai pagi kembali menjelang
Meski saat petang rindu selalu membayang

Sabtu, 13 Juli 2019

TUNGGU AKU

Di matamu
mengalir mata air syurga
Biar kureguk tiap tetesnya
dahaga sirna

Kesedihan, kesepian
Biar kubasuh
Meski kereta terus melaju
Meninggalkanmu perlahan

Tangan penuh kasih
Mengantarku dalam isak
Adakah luka yang lebih tak berdarah
Menahan rindu ini untukmu

Biar kupeluk jarak yang membentang
Di wajah keriputmu kubersandar
Lenteraku biarlah benderang
Di ujung usia
saat pengabdian belum reda
Jangan pergi
Jangan pergi
Jerit suaramu terngiang
Sementara kaki menjelajah waktu
Ibu....
Tuggu aku...

Rabu, 03 Juli 2019

KADO TERINDAH UNTUKKU

MasyaAllah Tabarakallahu... Hari ini bener-bener dibuat brebes mili oleh dua orang tercintaku. Setiap tahun hampir tak pernah kami rayakan hari kelahiran dengan acara khusus. Hanya ungkapan syukur sederhana berupa doa sebagai pengingat bahwa jatah umur berkurang. Pun dengan hadiah atau kado. Tak ada kewajiban bahwa setiap dari kami ulang tahun harus ada hadiah. Nah... tentang hadiah ini pun kami punya cara masing-masing menafsirkannya. Intinya seperti selalu ada semangat berbagi dan membahagiakan. Tak selalu berupa barang,  kadang berupa sepucuk surat cinta atau hanya kue yang dimakan bersama.  Bahkan kadang tak harus mahal harganya.

Nah di tanggal ini saat jatah usiaku berkurang,  tentu suamilah orang pertama yang mengucapkan. Bahkan dari malam harinya beliau sudah memberikan candaan bahwa hanya doa yang bisa diucapkan. Aku pun sudah wanti-wanti dan membalas candaannya kalau istrinya pun gk minta apa-apa.😂😂

Begitu juga dengan anakku. Nyaris tidak memperlihatkan tanda-tanda akan memberikan surprise buat emaknya. Malah dua hari ini selalu ada aja yang bikin emaknya 'tandukkan'. Bahkan ketika kemarin minta izin mau main ke rumah temen SMP nya. Tak ada gelagat untuk beli "kado" karena sengaja kukasih uang jajan pas hanya untuk ongkos dan makan siangnya😁😁

Alhasil pagi harinya semua tampak normal saja. Suami berangkat ke kantor seperti biasa. Sedangkan aku masih menikmati libur berasma anakku. Ucapan selamat hari lahir dari suami baru kubuka saat beliau sudah berangkat.  Tapi itu sudah lebih dari hadiah terindah. Doa dari yang terkasih. 😊😊

Kejadian berikutnya yang bikin brebes mili yaitu saat emaknya masih pakpikpuk dengan cucian piring tiba-tiba ada yang meluk,  nyium pipi sambil bilang "met ultah Ibu... "suara indah serasa berada di syurga. "Ini hadiah buat Ibu... "sahut anakku sambil membawa bungkusan kado bersampul merah bunga-bunga.

Hiks... Luluh haru. Rasanya ngerasa bersalah banget kemarin udah sempet tandukkan dan ngomel gara-gara anakku pulang sampai sore. Padahal dia beli kado dari uang jajan yang ia kumpulkan. Ah... Kupeluk anakku erat. Selalu ada mutiara di hatinya. "Maafin Ibu ya Ka" kuciumi pipinya... 😭😭

Sebagai rasa terima kasihku, kami pun menghabiskan waktu bersama sepanjang siang itu. "Ibu traktir ya. Kita jalan yuk sambil beli perlengkapan sekolah Kaka." Anakku tersenyum mata indahnya penuh kasih. Kugandeng tangannya erat menikmati jalanan Bandung yang mulai terik Juli ini. Menikmati bakso,  menikmati es krim, menikmati karunia yang Allah beri. 😇😇

Sore harinya saat menyiapkan makan malam. Kukirim pesan singkat ke suami kalau ia tak perlu membeli hadiah apa-apa. Kembali mengingatkan karena kutahu betul suami pasti menyiapkan sesuatu. Kubuatkan makanan kesukaannya. Tapi sampai dengan pukul 20.00 masih belum datang juga. Antara curiga kalau suami mampir dulu ke suatu tempat untuk membeli kado atau memang banyak kerjaan ya? Hatiku bertanya-tanya. Mengiriminya beberapa pesan singkat untuk tahu dimana berada.

Dan benar saja ketika sampai di rumah. Suami membawa bungkusan. Aku sudah senyum-senyum. Walaupun gak minta tapi seneng juga ya klo dapat hadiah😂😂😂 suara hatiku mesem-mesem.

"Alhamdulillah  Bu hari ini Ayah dapat kado dari anak-anak" sahut suami dengan santainya sambil membuka bungkusan berisi sepatu laki-laki. Iya itu sepatu laki-laki. Mataku terbelalak. Hmmm.. Padahal udah GR tadi. 😅😅😅Ternyata itu kado dari anak-anak di kantor suami yang belum sempat dikasihkan karena suami keburu ke luar kota. Kebetulan bulan lalu suamiku memang ulang tahun.
"Ayah sibuk banget td, jadi maaf ya gk bisa kasih kado... " sahut suami seakan tau isi hatiku. 😅

Aku tersenyum. Ada perasaan geli karena tadi sempet kecele. Selesai makan malam dan membuka pintu kamar...ternyata ada kado istimewa yang sudah disiapkan. Sepasang sepatu dan tas yang senada warnanya. Dibungkus dengan tas jinjing. Sebaris pesan berupa untaian tulus cukup membuatku kembali brebes mili. Ya Allah terima kasih untuk kado terindah yaitu dua orang tercinta yang Engkau anugerahkan untukku..... Barakallahu.....

Selasa, 02 Juli 2019

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS GENRE

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS GENRE
Oleh : Syarifatul Musyarofah, S.Pd.

Di Tahun ajaran baru 2019-2020 hampir seluruh sekolah akan memberlakukan kurikulum 2013 di semua jenjang. Kurikulum 2006 yang semula masih diberlakukan di beberapa sekolah sudah harus beralih ke kurikulum 2013. Perubahan ini tentu berpengaruh terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya di kelas IX yang tahun sebelumnya, beberapa sekolah masih menggunakan kurikulum 2006.

Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 memiliki perbedaan dengan pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2006.  Perbedaan tersebut  terletak pada beberapa aspek. Aspek yang paling dominan yang membedakannya adalah pada kurikulum  2006, pembelajaran bahasa Indonesia berbasis komunikasi. Sedangkan pada kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks (genre). Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang menunjukkan bahwa Mapel Bahasa Indonesia berorientasi pada pengembangan materi berbasis genre.

Pembelajaran berbasis genre merupakan pendekatan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi para siswa.  Pembelajaran ini dianggap berhasil dalam mengembangkan kemampuan berbahasa siswa, terutama dalam kaitan dengan keterampilan membaca dan menulis. Hal tersebut sejalan dengan keterampilan yang harus dimiliki siswa abad 21 yaitu keterampilan dalam berpikir kritis, memiliki sikap kreatif, memiliki kemampuan kolaboratif, serta memiliki kemampuan berkomunikasi.

Terdapat  empat komponen pembelajaran berbasis teks yang terdapat dalam kurikulum 2013 yang dikenal dengan istilah 4C, yaitu cognitive (kognitif), content ( Konten), context,  dan communication (komunikasi). Hal tersebut  yang membedakan dengan pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2006 yang lebih menekankan hanya pada keterampilan berkomunikasi, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Konten yang diusung dalam kurikulum 2013 diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi siswa.

Teks dalam bahasa Indonesia memiliki makna sebagai peristiwa berbahasa yang ada di masyarakat. Peristiwa berbahasa tersebut dapat berupa peristiwa  lisan maupun tulisan. Genre sendiri merupakan pengelompokkan dari suatu peristiwa komunikasi. Setiap peristiwa komunikasi memiliki tujuan komunikatif yang khas yang juga berbeda wujud komunikasinya. Wujud komunikasi ini ditentukan oleh masyarakat yang menghasilkan genre tersebut. (Swales, 2003)

Untuk memahami beberapa tipe teks ada beberapa prinsip yang bisa disepakati, yaitu (1) teks terbentuk karena tuntutan kegiatan sosial; (2) teks itu  memiliki fungsi/ tujuan sosial; (3) bentuk teks merupakan hasil konvensi; (4) kebahasaan (tata bahasa) suatu teks bersifat fungsional sesuai tujuan sosial; (5) bahasa teks, seperti kosa kata, tata bahasa, atau cirri lainnya tidak boleh diajarkan terpisah dari pertimbangan struktur teksnya (Biber & Conrad, 2009).

Genre berkenaan dengan fungsi dan tujuan sosial, struktur, dan ciri kebahasaan suatu teks. Oleh sebab itu pendekatan berbasis genre juga terkadang disebut berbasis teks. Pemahaman terhadap karakteristik teks, baik itu fungsi, struktur, dan kaidah kebahasaan dapat mempermudah siswa dalam mendalami, memproduksi, maupun mengkreasikan teks-teks itu di dalam konteks keperluan hidup sehari-hari siswa.

Teks merupakan kegiatan sosial, tujuan sosial. Ada tujuh jenis teks sebagai tujuan sosial, yaitu laporan (report), rekon ( recount), eksplanasi ( explanation), eksposisi (exposition, discussion, response or review), deskripsi (description), prosedur (procedure), dan narasi (narrative).

Ketujuh teks tersebut di dalam kurikulum 2013 untuk mata pelajaran bahasa Indonesia diturunkan ke dalam jenis-jenisnya yang spesifik, yaitu kelas VII meliputi teks deskripsi, cerita fantasi, prosedur, laporan observasi, puisi rakyat, surat, dan cerita rakyat. Sedangkan materi untuk kelas VIII, yaitu teks berita, iklan, eksposisi, puisi, eksplanasi, ulasan, persuasi, dan teks drama. Selanjutnya untuk materi kelas IX meliputi teks laporan, pidato, narasi, tanggapan, diskusi, dan cerita inspirasi.
Untuk memudahkan di dalam pendalamannya sekian jenis-jenis teks tersebut dapat dikelompokkan kembali ke dalam dua tipe, yakni (1) teks yang berbasis fakta dan (2) teks yang berbasis imajinasi. Teks berbasis fakta antara lain , meliputi teks deskripsi, teks prosedur, teks laporan, surat, berita, iklan, eksposisi, eksplanasi, ulasan, pidato, narasi (biografi, pengalaman), tanggapan, diskusi, dan cerita inspirasi-faktual. Sedangkan teks berbasis imajinasi, antara lain meliputi cerita fantasi, puisi rakyat, cerita rakyat, puisi, drama, narasi (Cerpen, novel), dan cerita inspirasi-imajinatif.

Penentuan keragaman teks dapat dilihat dari tiga hal. yaitu fungsi, struktur, dan kaidah kebahasaan. Dari segi fungsi, sebuah teks dapat memiliki fungsi yaitu  menggambarkan (describing), menceritakan                   ( narrating), menjelaskan (explaining), memerintah (instructing), dan meyakinkan (arguing). Sedangkan dari segi struktur dapat dilihat dari susunan dan urutan penyajian. Kemudian dari segi kaidah kebahasaan dapat dilihat dari jenis kalimat dan pilihan  kata.

Berkaitan  dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks (genre) yang telah dipaparkan di atas, maka tugas guru bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 ini harus mampu mengajarakan kepada siswa bahwa setiap teks memiliki perbedaan baik dari segi struktur, fungsi, dan kebahasaan. Guru pun harus mampu menggali potensi siswa untuk berpikir  kritis dengan mengawali setiap teks sesuai dengan konteks apa, mengapa, siapa, kapan, bagaimana dan untuk apa  teks itu dipelajari siswa. Selain itu setiap teks diawali dengan kemampuan berpikir kritis sesuai dengan tahapan dalam taksonomi bloom yaitu mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan dalam kaitannya dengan pengunaan bahasa Indonesia secara efektif pada ragam sastra maupun nonsastra. Sehingga pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks (genre) dapat meningkatakan kemampuan berbahasa secara kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

Minggu, 30 Juni 2019

EMPAT DEKADE

Di akhir tahun tujuh puluhan
Mataku baru terbuka
Dunia masih samar
Nanar menjelajah kehidupan

Di tahun delapan puluhan
Asyik main congklak,
gobak sodor,  engklek, dan petak umpat
Anak-anak berlari dalam temaram bulan
Di halaman rumah nenek
Nyanyian ular tangga panjangnya terngiang
Bermain tanah,  air,  udara yang jernih
Berbekal senapan bambu
sampai pelepah pisang dan tebu
Memainkan peran mantili
yang suaranya lantang
Seperti dalam sandiwara radio
Lagak anak-anak sok jago

Jika magrib datang surau penuh
Anak-anak bersuara  lantang mengaji
Selepas Isya mereka berlari
Membentuk lingkaran
lagu jarak-jarakan berdendang

Di tahun sembilan puluhan
Mobil dan motor mulai berseliweran
Udaraku mulai sesak
menepi di bahu jalan
Masa remaja tanpa gawai
Remaja riang ilmu tergapai

Di pertengahan sembilan puluhan
Masa remaja di bangku SMA
Kenakalan dan kekocakkan
Berbaur menjadi warna
Gita cinta di SMA manusiawi adanya
Hormati guru
Sayangi teman
Menjadi slogan
Ah.. Meski ada saja catatan di ingatan
Yang membuat tertawa
Tentang bak sampah,  sepeda,  dan permen karet
Biarlah menjadi kenangan yang lengket

Di tahun 2000an
Kedewasaan menjelma
Cinta dan cita menjadi dunia nyata
Pilihan..
Pilihan...
Pilihan....
Hati,  rasa,  pikir,  dan perilaku
Kita yang tetapkan
Hati, rasa,  pikir,  dan perilaku
Mewujud dalam satu pilihan

Di abad 20 kakiku masih berdiri
Memandangi zaman yang kian menderu
Menjadi Ibu kodrat sejatiku
Duhai Rabb yaa rabbul izzati
Pelipur diri
Bentengi kami
Dengan sekuat-kuat iman di hati



Minggu, 09 Juni 2019

Juni

Saat kau hadir di ingatan
Aku jelmakan dengan karya
Rindu tetap seperti pualam
Berkilau di kaca-kaca zaman
Adaku adamu
Adalah hati yang menunggu

MUDIK UNTUK IBU

Mudik lebaran tahun ini aku manfaatkan untuk menemani Ibu. Ya  Ibu adalah alasan utama untukku selalu pulang. Pulang ke kampung halaman. Pulang mengunjungi sosok yang paling kurindu. Sosok yang cintanya melebihi lautan. Kasihnya mengiringi tak berbatas.

Usia Ibu yang mulai renta membuat kondisinya tak seperti dulu. Kakinya sudah mulai sulit berjalan. Lutut yang sering menjadi keluhannya. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan lutut Ibu terkena pengapuran. Kakinya sudah tak bisa kokoh seperti dulu. Berjalan pun sangat pelan. Karena aku tinggal di luar kota,  hanya bisa menemani Ibu saat libur sekolah dan lebaran saja. Untuk keperluan sehari-hari,  Ibu ditemani adikku yang tinggal serumah dengannya. Sementara untuk memasak dan makan Ibu dibantu pembantu yang bekerja pada Kakakku. Kebetulan rumah kakakku bersebelahan dengan rumah Ibu.

Keluhan tentang lututnya yang sakit sering aku dengar. Berkali aku harus berembuk dengan anggota keluarga untuk berbagi tugas demi kesembuhan Ibu. Dokter  tulang menyarankan untuk terapi. Lututnya harus dilaser  dengan pertemuan terapi yang harus kontinu. Tentu semua anak-anaknya harus berkorban waktu. Delapan anaknya punya kesibukan masing-masing. Tiga orang berada di luar kota. Termasuk aku. Otomatis kakak-kakak dan adikku yang berada satu kota dengan ibulah yang harus berbagi waktu dan jadwal untuk mengantar Ibu ke rumah sakit.

"Bu... Sekarang jadwal terapi, yuk berangkat.. "Bujuk kakakku pada Ibu.

"Kartunya sudah diambil belum? Ibu gk mau di sana menunggu lama." Tanya Ibu dengan wajah lelah.

" Sudah Bu.. nomor sudah diambil Ino tadi pagi. Kita kebagian nomor antrean 82. Sekarang pukul 10. Semoga saja kita tidak lama menunggu." Sahut Kakakku dengan sabar. Ino adalah adik laki-lakiku. Dialah yang bertugas mengambil nomor antrean pagi-pagi agar Ibu tidak terlalau lama menunggu dokter nanti.

Jadwal terapi yang lama membuat Ibu kadang merasa bosan. Belum lagi antrean saat menunggu dokter. Ibu kadang terlihat kesal. Apalagi antrean pasien BPJS yang membludak. Aku hanya sering mendengar laporannya dari kakak dan adikku. Katanya Ibu mulai rewel,  tidak sabaran, dan sering menggerutu. Sikap Ibu yang mulai kembali seperti kanak-kanak pun sering aku dengar laporannya. Aku hanya menyimak dan mencoba maklum. Ada saja laporan setiap hari yang sampai ke telingaku

"Coba deh kamu lama tinggal di sini. Kamu coba deh rasain tinggal sama Ibu tuh gimana.. " Laporan Kakakku suatu kali saat Ibu sudah mulai mengeluh dan tidak mau diterapi lagi.

"Padahal ini kan demi kesembuhan Ibu. Kita tuh sayang sama Ibu. Kamu tahu kan tiap malam Ibu selalu mengeluh sakit. Belum lagi susah sekali Ibu minum obat. Harus diingatkan terus. " Ini pun laporan adikku berkali-kali.

Lagi-lagi aku hanya menarik napas. Mencoba mendengarkan dengan saksama keluhan kakak-kakak dan adik-adikku.

"Nanti kamu telepon Ibu kasih tau yang bener. Nasihatin. Kolang-kalingnya dimakan. Susu anlennya diminum. Terus makan kok susah banget. Coba deh kamu rasain tinggal di sini. " Keluh salah satu kakakku lagi.

Selain obat dokter,  Ibu juga disarankan untuk mengonsumsi vitamin khusus tulang, susu khusus untuk penguatan tulang,  dan menjaga pola makan. Ya... Ibu punya riwayat asam urat. Salah makan pasti membuat tubuhnya kesakitan terutama mengonsumsi makanan bersantan dan berserat tinggi. Konsumsi kolang-kaling pun dilakukan demi kesembuhan Ibu.

"Ibu gk mau terapi lagi Va. Capek. Kesel nunggu dokternya. Kaki Ibu juga gk sembuh-sembuh.. "Rengek Ibu padaku saat aku meneleponnya.

"Loh Bu kenapa Ibu gk mau terapi lagi? Kan tinggal dua bulan lagi masa terapinya kata dokter.. "Sahutku tetap membujuk Ibu.

"Gk mau.. Pokoknya Ibu gk mau terapi lagi. Ibu jadi ketinggalan ngaji ke mesjid Va. Bismillah pasrahin sama Gusti Allah saja. Semua penyakit datang dariNya Va. Minta kesembuhan sama Gusti Allah saja." Suara Ibu mulai terbata. Ada keletihan di nada suaranya. 

Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Percuma memaksa Ibu. Jika sudah punya keinginan tak ada satu pun bujukan anak-anaknya yang bisa masuk ke hatinya.

"Ya sudah kalau Ibu gk mau terapi lagi. Tapi nanti dipakai dekker untuk di kakinya ya Bu. Makan jangan telat. Susunya diminum. Terus kalau berangkat ngaji hati-hati Bu" Pesanku pada Ibu. Aku hanya bisa menuruti keinginan Ibu tapi tetap meminta Ibu untuk menjaga kesehatannya.

Dalam hati aku selalu bersyukur dan terharu. Bahkan ketika sakitnya Ibu,  Al-quran tak pernah lepas dari pangkuannya. Malu rasanya pada diri ini,  begitu cintanya Ibu pada Al-quran. Bahkan saat sakit dan waktu senggangnya selalu diisi dengan membaca Al-quran. Apalagi ketika sakit kakinya berkurang. Ibu berusaha hadir, memimpin mengaji bersama ibu-ibu majelis taklim.

Lebaran kali ini air mataku menetes. Bahagia masih bisa menginjakkan kaki di rumah Ibu. Rumah perempuan yang begitu aku cintai. Rumah perempuan yang sepeninggal Bapak masih tetap tangguh dan tak pernah letih mendoakan anak-anaknya. Perempuan yang tak muda lagi, yang mulai renta termakan usia. Kulit-kulit keriputnya adalah bukti perjalanan berat untuk delapan anaknya mengenyam kesuksesan. Kakinya mulai rapuh terkikis usia. Biarlah lebaran ini aku menemaninya. Memijit kakinya jelang tidur sambil berceloteh tentang apa saja. Kerinduan yang membaur. Menyeduhkan susu hangat untuknya jelang matanya terpejam. Sebaris bulir beningku jatuh. Rabb... Biarkan Lebaran berikutnya aku masih bisa bersama Ibu. Menemaninya di sisa usianya....

Selasa, 30 April 2019

DRAKOR.. OH DRAKOR

Dulu sering heran jika ada ibu-ibu yang rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan puluhan episode untuk menonton drama korea. Bagi saya kayaknya gak ada waktu untuk menontonnya. Ditambah lagi harus berbagi waktu antara tugas rumah dan tugas di sekolah. Alhasil saya gk pernah mau jika ada teman yang menawarkan CD drama korea yang katanya seru,  mengharu biru,  bahkan katanya romantis. Satu judul drama korea  bisa terdiri dari 16-20 episode dengan durasi satu jam. Wah... Dalam benak saya "Amit-amit jangan sampai ketagihan.. "😂

Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya usia. Putri saya juga menggandrungi K-Pop termasuk Drakornya. Selagi tak mengganggu pelajarannya saya masih mentoleransi putri saya untuk hoby  nonton drakor. Tiap ke toko kaset,  yang dia cari pasti CD Drakor. Pernah suatu kali saya ikut nimbrung dengan Drakor yang ditonton putri saya. Alhasil,  kepala saya nyut-nyutan. Rasanya pusing untuk menghafal nama tokoh yang lumayan rumit dan wajah pemainnya yang mirip-mirip..😂

Setelah kejadian itu. Sama sekali saya tak berminat dengan Drakor. Kayaknya rugi banget waktu. Satu jam nonton Drakor itu sama dengan beresnya kerjaan rumah.

Hingga suatu hari putri saya meminta saya mengganti chanel televisi ke stasiun televisi swasta yang menayangkan Drakor "Sky Castle".

"Coba deh Ibu tonton ini. Dramanya rame loh Bu.. "sahut putriku meyakinkan

"Apa sih Ka pindahin ah.. Ibu kan lagi nonton Sule." sahutku menyebutkan acara televisi langgananku.

Putriku tetap memegang remot dan meminta saya untuk menontonnya. Akhirnya daripada berdebat  saya ikut nonton bareng. Satu,  dua episode kepala saya masih nyut-nyutan. Nama-nama tokohnya itu loh susah untuk diingat. 😂Belum lagi alurnya yang memang masih belum paham.

Hari ketiga, kami nonton bertiga. Suami juga ikut bergabung nonton Drakor. Kebetulan kalau sudah beres UNBK jadwal saya sudah kosong. Jadi malam hari bisa lebih santai. Sedangkan suami,  Selesai makan malam jadi ikut-ikutan nonton😂

Ternyata Drakor Sky Castle ini adalah kategori drama keluarga. Ceritanya bertema pendidikan. Kisah empat keluarga yang bersaing ketat dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Ambisi orang tua untuk mengejar prestise dan gengsi keluarga. Segala cara ditempuh agar anak-anaknya bisa berprestasi dan diterima di sekolah bergengsi dan universitas ternama. Sky Castle  sendiri merupakan perumahan elite yang rata-rata penghuninya berprofesi dokter. Hmmm...
Jadi pengen nulis sinopsisnya.

Sampai episode 12 ini saya jadi melihat persepsi Drakor secara berbeda. Memikat,  lembut,  dengan alur yang tenang namun menghanyutkan. Seolah ada sensasi candu di dalamnya. Komedi drama satire menyatu. Menguras emosi penontonnya. Setelah episode akhir nanti. Semoga saya tidak keranjingan Drakor lagi.... Aamiiin... 😇

Senin, 29 April 2019

PATAHAN LEMBANG

Jejak pagi mentari berseri
Hamparan hijau bak permadani
Elok mempesona
Namun Menyimpan bara

Alam menyenandungkan duka
Perut bumi meronta
Akankah tiba?

Di lempeng ini aku berdiri
Menyapa kebun sayur,
Tomat, dan sawi
Menyapa petani

Udara segar, sejuk, jauh dari polusi
Tapi manusia tak pernah berhenti
Rumah-rumah sesak tak terkendali
Hijau tanah ini akankah terlihat nanti?

Di patahan ini aku menepi
Tawa menjelma doa....

Kamis, 25 April 2019

BARIS SENJA

Laut selalu menyapa pantai
Lewat debur yang membawa rindu
Buihnya menerpa telapak kaki
Hilang tergerus jejak

Jika bukan laut
Biarlah kisah berjalan
Meski tak ada sapa
Langit tetap biru
Awan tetap berarak
Udara masih kuhirup

Jejak tak harus meninggalkan kenangan
Pada baris senja kau berkata

Senin, 22 April 2019

Cerpen "Ujian Audrey"

Komputer berjajar
Menyapa hati yang berdebar
Soal dibaca, ditaklukkan
Pikiran berkata
Fokus melanda
Tapi hati meronta


Bait-bait puisi Audrey eja. Setidaknya ia bisa tenang mengungkapkannya dalam kata-kata. Senin esok adalah hari yang paling menentukan bagi Audrey. Hampir tiga tahun sudah menimba ilmu di bangku SMP. Esok adalah puncak segala perjuangan. Ya UNBK... Semangat  tiba-tiba menyala dalam dirinya.

Dadanya bergetar.  Malam ini Audrey sulit memejamkan mata. Perasaan yang menderanya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Seperti  mau lebaran saja. Antara takut kesiangan dan tak sabar ingin segera  berada di depan komputer.

"Damn... Bagaimana aku bisa tidur. Hiks... Kalau begini aku bisa kesiangan besok" Audrey benar-benar gelisah. Berkali-kali ia berusaha mengganti posisi tidur. Dari telungkup,  samping kiri,  samping kanan,  tak ada yang nyaman  untuknya. Guling yang ia dekap seolah  mengerti  perasaannya.

"Tok.. Tok.. " suara  ketukan pintu terdengar. Audrey terhenyak.  Suara Mama terdengar lembut memanggil namanya.
"Audrey sudah tidurkah" Sahut Mama dari balik pintu.

Audrey beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Dilihatnya Mama berdiri membawa segelas susu hangat untuk Audrey.

"Belum... Kenapa?" Sahut Audrey dengan wajah dingin. Dilihatnya wajah perempuan yang berdiri  mematung di depannya terlihat kecewa. Entahlah,  batin Audrey seolah berontak. Sama sekali  tak ingin melihat mata perempuan yang sampai detik  ini enggan ia panggil 'Mama'. Kata Mama begitu mahal untuk Audrey berikan kepada perempuan itu. Kalau tak ada dia,  mungkin mamanya masih hidup dan masih tinggal bersamanya.

"Mama hanya ingin mengantarkan ini. " Suara perempuan itu tetap lembut. Diserahkannya segelas susu hangat kepada Audrey.

"Selamat tidur Audrey.. Jangan lupa berdoa ya. Mama doakan  esok menjadi hari yang menyenangkan untukmu. Sukses  UNBK nya ya sayang... " Suara perempuan itu penuh kasih meski  sikap Audrey terkesan  tak suka dengan perlakuan perempuan yang menyebut  dirinya Mama.
Audrey hanya diam ketika perempuan  itu berlalu. Dibawanya nampan berisi susu hangat dari mama tirinya tadi. Ya... Audrey lebih senang menyebutnya mama tiri. Baginya tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Mama Anna,  mama kandungnya.

"Ma... Aku kangen." Pikiran Audrey kembali melayang. Teringat mamanya. Mama Anna telah pergi untuk selama-lamanya di saat Audrey benar-benar belum siap. Peristiwa kecelakaan pesawat itu sangat membekas dalam dirinya.

Diteguknya susu  hangat. Dulu Mama Anna selalu membuatkan susu hangat untuk Audrey sebelum tidur. Dua tahun berlalu,  namun rasa sakit itu masih terasa. Rasa kehilangan yang teramat dalam. Andai Mama masih ada,  mungkin malam ini mamalah yang menenangkannya. Memberikan semangat untuknya, sama seperti  ketika Audrey mengikuti ujian nasional ketika SD.

Audrey melirik jam dinding, pukul 10.30 malam. Audrey menarik nafas "Aku harus segera tidur.. "

Susu hangat dalam gelas telah habis. Audrey ingat pesan ibu tirinya tadi. Entah mengapa Audrey meyakinkan dirinya untuk mengikutinya. Memejamkan mata dan berdoa. Ya berdoa, pesan yang diingatnya tadi.
             
                      **********

"Sudah siap sayang?" Suara Papa menyapa Audrey.

Audrey hanya diam tak menyahut. Dilihatnya perempuan yang ia panggil mama tiri itu sudah ada di dekat Papa. Audrey  menolak ketika perempuan itu berusaha membuatkan roti oles untuknya.
"Biar aku buat sendiri..." Ujar Audrey tetap dingin.

Perempuan  itu hanya menarik nafas. Terlihat kekecewaan di wajahnya. Dua tahun sudah,  tapi ia belum bisa menaklukkan hati Audrey.
Papa terlihat sabar. Meyakinkan perempuan cantik  di sampingnya bahwa seolah yang terjadi adalah hal biasa. Bahkan  ketika Audrey nyaris tak pamit dan langsung menuju mobil. Papa terlihat menghibur mama tirinya.

Sepanjang perjalanan menuju  sekolah, Audrey tetap diam. Dia sudah menebak,  papanya pasti  akan kembali menasihatinya. Memintanya untuk kembali bersikap baik kepada mama tirinya. Dalam hati Audrey akan menggerutu.  Itu lagi... Itu lagi yang akan  disampaikan  Papa.

Lima belas menit berselang,  tak ada sepatah kata pun nasihat keluar dari mulut Papa. Audrey heran. Tak biasanya Papa bersikap demikian. Audrey menunggu. Namun tak jua ada setetes nasihat pun untuknya. Papa hanya fokus pada setir  dan jalanan di depannya.

Sampai ketika  mobil tiba di parkiran sekolah Audrey,  barulah kata-kata keluar dari mulut Papa.

"Sukses UNBKnya ya sayang. Fokus.. Papa doakan Audrey mendapatkan nilai terbaik. "Suara Papa tiba-tiba membuat Audrey ingin menangis.

Dilihatnya lelaki yang sudah mulai ditumbuhi rambut putih di kepalanya. Baru kali ini Audrey menatap lekat wajah Papa. Tak ada kemarahan di sana. Wajah letihnya seolah melucuti rasa bersalah  Audrey.
Papa juga pasti terluka. Papa juga pasti sedih kehilangan Mama. Air bening seolah siap meluncur dari sudut  mata Audrey. Tak adil  rasanya jika Audrey hanya menabur luka di hati Papa. Takdir Audrey.. Takdir.. Kita harus menerimanya. Suara Papa terngiang-ngiang di telinganya. Takdir yang membawa Audrey kehilangan Mama Anna. Takdir  yang mengharuskan Audrey merengkuh perempuan yang tak ingin ia panggil mama.

Tapi takdir terus berjalan. Audrey tak kuasa menahan kesedihan. Dipeluknya Papa.
"Maafkan Audrey ya Pa... "suara Audrey seolah  tercekat di tenggorokan.
Papa membalas pelukan Audrey.  Baginya hari ini adalah hari yang penting untuk putrinya.

"Sukses ya sayang. Semangat! Takdir menghantarkanmu pada  ujian  kehidupan yang sesungguhnya. Selamat menjadi pemenang. Rasakan setiap ujian yang kita hadapi. Sesakit apa pun itu. Tetap tersenyum. Hadapi dengan keikhlasan. "
Audrey tersenyum. Baru kali ini nasihat Papa menyerap di kalbunya.

"Selamat datang ujian yang sesungguhnya. Aku siap menghadapi." Suara  hati Audrey bergema. Mantap langkahnya  menuju koridor sekolah.  Menuju laboratorium UNBK...


Cimahi,  22 April 2019

Sabtu, 23 Maret 2019

HANYA BAYANG

Menekur waktu
Di bilangan hari
Meretas jarak
Kehilangan yang terasa
Dan cerita menggantung di langit
Wajah pudar
Remang cahaya
Sudut ruang
Berkontemplasi
Di depan cermin
Kita hanya bayang...

Rabu, 20 Maret 2019

DUA JAM MENUNGGU

Dua jam lagi. Kulirik jam di pergelangan tangan. Baru pukul 9.00. Kulangkahkan kaki menuju koridor depan rumah sakit.  Masih terasa sakit di lengan tangan. Jarum yang menusuk dan menyedot darahku. Dokter menyarankan untuk tes darah karena lima hari ini demamku naik turun.

Sambil menunggu hasil tes, kulangkahkan kaki menuju antrean mesin ATM. Terpaksa ambil uang cash karena hari ini asuransiku masih belum bisa dipakai. Masih proses perpanjangan. Terpaksa harus rembest dan belum tentu biayanya dicover asuransi.  Sedih juga saat sakit harus ke rumah sakit sendiri. Suami masih sibuk dan rasanya gk tega mengganggu jam kerjanya. Alhamdulillahnya tubuh masih kuat untuk berkendara sendiri. Walaupun suami memaksa agar aku berangkat diantar Mbah panggilan untuk Bapak mertuaku. Tapi sepertinya aku gk ingin merepotkan siapa-siapa. 

Selesai dari mesin ATM kumulai mencari tempat duduk. Malas kalau harus pulang dulu. Akhirnya aku memilih menunggu dua jam ini di rumah sakit. Mengambil posisi di lantai tiga. Tak jauh dari ruang dokter yang memeriksaku.
Kulihat sekeliling masih sepi. Deretan bangku yang berjajar sepanjang koridor rumah sakit masih kosong. Tiba-tiba datanglah rombongan keluarga. Seorang bapak yang sudah berumur,  seorang perempuan yang kukira istrinya dan dua orang perempuan. Mungkin mereka adalah anak-anaknya. Kuperhatikan selintas rombongan keluarga itu. Anak perempuan yang satu sudah dewasa, kutaksir umurnya kira-kira 28 tahunan,  dan anak perempuan satu lagi sedikit menyita perhatianku. Tubuhnya mungil, namun ada yang aneh dengan anak perempuan itu. Wajahnya terlihat tua dari usianya. Bahkan wajahnya lebih tua dari perempuan yang kukira kakaknya. Di lehernya digantungkan kain untuk mengelap liur yang keluar dari mulutnya. Tangannya menggenggam sebuah bola. Aku sedikit terheran. Dalam hati aku hanya bisa berkata sepertinya ada sesuatu dengan anak tersebut.
"mmm... Mmmm.. Nanamamamu.. Hmm.. Hmmmmmm".
Kudengar anak itu menggumamkan sesuatu. Aku yang berada di sebelahnya sedikit menoleh. Memperhatikan sekilas tingkah anak itu.
"Tunggu ya nanti Mama ambilkan minumnya, "sahut perempuan dewasa yang kukira kakaknya.
Dalam hati aku berkata ternyata aku salah menebak. Perempuan dewasa itu adalah mamanya dan perempuan tua di sebelahnya adalah neneknya.
Terlihat dengan sabar nenek itu mengambil minum dan meminumkan kepada cucunya. Terdengar suara anak itu terbatuk-batuk. Ia mulai menggenggam minumannya sendiri. Ketika kutulis deretan kata ini. Anak itu tampak menatapku. Aku tersenyum padanya. Meski ada perasaan campur aduk di dalamnya. Kasihan anak itu. Aku tak berani bertanya kepada keluarganya tentang berapa umurnya.
Kulihat kembali mamanya,  neneknya,  dan laki-laki tua yang kukira adalah kakeknya. Mereka begitu menyayangi anak itu. Menunggu dokter dengam sabar. Membelai anak itu. Mengelap liurnya. Ya anak yang menyita perhatianku. Anak yang kutak berani bertanya siapa namanya. Anak yang kutuliskan ceritanya hari ini. Keluarga itu mengajarkan kasih sayang. Penerimaan untuk sebuah kekurangan yang mungkin belum tentu semua orang bisa melewatinya.

Santosa,  26 Februari 2019

PERMISI

Ruang menjadi kosong
Dadaku menjelma laut
Biru berpaut
Surya menerawang
Dan
Gemuruh
Ditikam deru ombak
Tak perlu angin untuk berkabar....!

Selasa, 22 Januari 2019

SENJA, HUJAN, DAN JANUARI

Senja berbalut hujan
Di Januari minggu ketiga
Menangkap rintik yang jatuh
Menjadi titik dan menggenang

Waktu-waktu menunggu
Rinai yang muncah
di sela-sela tetes atap yang basah
Sejenak terpaku

Awal akan jadi akhir
Ada hingga tiada
Januari merangkak pergi
Sederas hujankah goresan tintamu hari ini?






Rabu, 16 Januari 2019

DOMESTIK AREA

Bismillah....

Pagi ini melihat rumput di halaman rumah mulai meninggi. Rumput-rumput tersebut tentu saja mengganggu pandangan mata. Apalagi disertai dengan beberapa tumbuhan liar yang lain. Kasian melihat beberapa bunga dan tanaman peliharaan mulai terganggu. Tangan ini rasanya ingin sekali membersihkannya.

Ya mencabut rumput dan merapikan beberapa tanaman sepertinya menjadi agenda bulanan. Sepintas pekerjaan tersebut seharusnya dikerjakan oleh laki-laki. Tapi tak apa karena suami memang sibuk dan saya tidak punya pembantu,  maka bergeraklah tangan ini mengambil gunting rumput dan mulai membabat rumput-rumput liar dan beberapa tanaman pengganggu.

Pernah hitung-hitungan pekerjaan tidak sih Mom's dengan suami?  Kalau urusan mencari nafkah mah tetap kewajiban suami ya Mom's.  Tapi ini kaitannya dengan kolaborasi pekerjaan rumah tangga. Apakah Mom's juga melakukan negosiasi untuk berbagi pekerjaan rumah tangga?  Misalnya masak bebersih rumah wajib tugas istri. Bersihin kamar mandi,  toilet,  nyabut rumput itu tugas suami. Hehe mungkin yang punya Asisten Rumah Tangga tidak ada kesepakatan seperti itu ya Mom's.  Nah kalau seperti saya yang tidak memiliki asisten rumah tangga rasanya harus pandai-padai membagi waktu. Artinya kesepakatan tentang pekerjaan rumah, saya dan suami memiliki aturan yang fleksibel.  Biasanya untuk pekerjaan rumah tangga yang rutin seperti mencuci,  masak,  nyapu,  ngepel itu kewajiban istri.  Sisa yang lainnya seperti membersihkan toilet,  mencabut rumput itu fleksibel sifatnya. Siapa yang bisa dan punya waktu untuk mengerjakan ya kerjakan. Sepertinya jika pekerjaan rumah tangga memakai kalkulasi hitungan,  rasanya kok tidak menyelesaikan masalah ya Mom's.

Bijak dan berpikir bahwa yang kita lakukan adalah bagian dari ibadah. Ibadah untuk tetap menjaga keharmonisan dan siklus kerumahtanggaan dengan baik. Hehe.... Bahasanya kok kyk yang gimana gitu ya. Dijalani dengan santai saja Mom's segala pekerjaan rumah tangga kita. Segala lelah Insyaallah jadi Lillah. Anak suami bahagia adalah hal yang paling kita inginkan.  Menyelesaikan tugas dan kewajiban kita dengan baik pun akan jadi kebahagiaan tersendiri.

Renungan pagi di Kamis manis... Barakallah

Jumat, 11 Januari 2019

BELAJAR DARI SEBUTIR DEBU

Bismillahirrahmaanirrohiim

Pagi ini seperti biasa menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga.  Ada banyak sekali pekerjaan yang biasa dilakukan di pagi hari. Salah satunya adalah membersihkan rumah.  Kegiatan ini cukup kompleks ya Mom's dari mulai menyapu, mengepel,  mengelap dari debu dan segala macam kotoran. Pernah gk sih Mom's bosan melakukan pekerjaan itu? Atau pernah gk terbesit untuk selalu menunda pekerjaan tersebut?  Rasanya hampir dapat dipastikan bahwa tak ada kata bosan untuk membersihkan rumah. Bahkan kegiatan ini menjadi salah satu prioritas untuk dijadikan rutinitas. Berbeda dengan menyetrika yang bisa kita pending waktunya.

Bahkan saking sayangnya terhadap keluarga Mom's di rumah pasti selalu menginginkan rumah dalam keadaan bersih dan rapi.  Pernah kesal gk Mom's dengan debu yang ada di dalam rumah?  Pekerjaan membersihkan rumah meskipun setiap hari kita lakukan,  debu dalam rumah selalu ada dan muncul kembali. Kemarin sudah disapu,  dipel kok hari ini debu dalam rumah tak pernah berkurang?

Jadi teringat dan berintrospeksi dalam diri. Membayangkan rumah adalah hati kita Mom's,  dan debu adalah dosa-dosa kita.  Rasanya seperti kemarin kita menyadari kesalahan yang kita lakukan,  tapi lagi dan lagi kita tak pernah luput dari kesalahan. Bahkan melakukan kesalahan yang sama. Kemarin ingat untuk tidak melalaikan sholat,  hari ini dan besok-besok masih saja menunda waktu sholat. Astaghfirullahaladziim. Begitulah kodrati manusia. Tempatnya salah dan alpa.  Seperti debu-debu dalam rumah. Bersembunyi dan bertumpuk dari hari ke hari. Terbayang kalau rumah tidak pernah dibersihkan. Betapa debu itu akan menyerang penghuni rumah dengan berbagai penyakit. Kecoa dan serangga lain mudah bermunculan. Begitu juga dengan hati. Membayangkan jika hati tidak pernah dibersihkan. Betapa banyak penyakit hati yang akan muncul dalam diri kita. Rasa iri, dengki,  hasad,  hasut,  galau,  riya,  dan penyakit hati lainnya. Naudzubillahimindzalik. Kemanakah kita harus berlindung? Hanya Allahlah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

Lalu bagaimanakah caranya agar hati kita selalu bersih? Jadi ingat lagu yang sering Aa Gym sampaikan.
"Jagalah hati jangan kau kotori
 Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati lentera hidup ini... "

Ada beberapa cara untuk membersihkan hati. Masih ingat Mom's Lagu Opik yang berjudul "Tombo Ati". Liriknya yang berbunyi seperti ini :

Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi

Sebagai bahan introspeksi dan pengingat diri, yuk mulai dari sekarang bersih-bersih hati seperti setiap hari kita membersihkan rumah sendiri.  Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan selalu dekat pada Allah dengan membaca Al-Quran dan maknanya. Mendirikan sholat malam,  berkumpul bersama orang-orang sholeh,  memperbanyak puasa dan berdzikir dan mengingat Allah karena segala perasaan hati Allah yang menciptakan. Maka berlindung dari godaan syaitan dengan cara berdzikir adalah hal yang bisa membuat hati kita tentram.

Sirami rohani dengan tausiah dan mendalami ilmu agama pun bisa jadi penguat hati kita. Memulai untuk menjauhi kemaksiatan dan membenahi diri mulai dari hal  terkecil. Selain itu tanamkan dalam diri untuk selalu bersyukur akan nikmat yang Allah beri. Selalu bersikap rendah hati,  menjaga niat,  perkataan,  dan perbuatan. Berpasrah pada taqdir  dan ketentuan Allah. Serta Lakukan sesuatu karena Lillahi taala.

Semoga hal-hal  tersebut selalu jadi pengingat untuk selalu membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran hati yang setiap saat selalu menumpuk dalam diri kita.  Wallahu alam bishawab. Refleksi diri di Jumat barokah...