Minggu, 26 November 2017

CARPE DIAM

Diam itu bukit yang bertengger di atas lelah
Diam itu gunung siap muntahkan jenuh
Diam itu bara kala amarah tiba
Diam itu batu berbalut lumut dan perdu


Diam itu emas
Jika pada tempatnya
Diam itu tembaga
Menyekam duka

Diam titik kulminasi dari ketakpedulian
Di antara rentetan kata yang hanya tercekat hingga tenggorokan
Diam yang tanpa jiwa
Menyimpan sejuta makna
Hanya orang-orang yang hatinya terbuka
Yang mampu mencerna




Rabu, 08 November 2017

MAWAR RINDU

Hey lama tak bersapa
Adakah rindu di sana
mengendap-endap di belantara jiwa
Timbul tenggelam dan kau coba enyahkannya
Bukankah segenggam rindu mampu bangkitkan asa
Kala raga lelah dari hiruk pikuk kota
Hirup, hirup wanginya
Sebuket mawar di beranda
Merahnya adalah gelora
Kala perjumpaan tiba

Mawar yang kau bawa
Rindu menebarkan aromanya..








Jumat, 03 November 2017

PEMAKNAAN DIRI

Kadang aku ingin menjadi beringin
kokoh, rimbun, dan burung bisa singgah kapan saja
Atau seperti cemara
Menjulang ke angkasa dengan eloknya
Bahkan aku iri pada pohon kelapa
Betapa semua tubuhnya berguna

Ini pemaknaan insan biasa
Yang dibekali akal luar biasa
Padahal dari rumput saja kita bisa belajar
Bahwa tumbuh tak harus ke atas
Menjalar ke bawah seperti ubi atau talas
Niscaya hidup lebih ikhlas





KITA SUDAH MEMILIH

Ini lintasan kita
Garis yang membentang 
Sejauh perjalanan
Kadang terseok,  merangkak,  dan terengah
Garis akhir teramat pongah
Jauh semakin jauh tak tersentuh

Ini lintasan kita
Seberapa sukar likunya
Tak tundukkan asa
Ditiap kelokannya ada seberkas cahaya

matahari,  bumi,  dan bulan
Beredar sesuai porosnya
Bahkan detak jarum jam pun sesuai putarannya
Begitu pun lintasan hidup kita
Biar alam yang menggerakannya

Ini lintasan kita
Kita yang memilihnya
Seberat apa pun beban di pundak
Kita memikulnya bersama dengan bijak


Rabu, 25 Oktober 2017

POLUSI RINDU

Ada kalanya rindu seperti batu-batu
Diam mengeras kadang diselimuti lumut dan perdu
Menyesap... 
Dari balik setir saat musik mengalun
Di antara kemacetan jalan
Dan hanya kenangan yang jadi hiburan

Rindu adalah aroma yang menebar 
Di antara belantara kota
Ingatan yang berlompatan
Seolah menyusuri tiap lekuknya
Bayang fatamorgana

Kau, aku, dan kota ini
Tergerus deru waktu
Di lintasan berbeda tanpa jeda
Menimbun jejak yang sama
Seperti polusi yang melingkupi kota
Rindu menguap menyesakkan raga











Rabu, 11 Oktober 2017

Etalase Hujan

Hujan di beranda. Deras menjatuhkan segenap yang tumpah. Air dari langit mengguyur seisi bumi basah. Subhanallah... Kekuatan maha dahsyat dari sang Maha berkehendak. Tetesannya tidak satu tapi milyaran bahkan tak terhitung luas jagat. Membentuk garis vertikal, indah seperti melodi yang berbaris. Kadang meliuk mengikuti hembusan angin.

Senja dan hujan yang kesekian. Tanah basah,  air menggenang. Rumput tersenyum,  berbisik dahagaku hilang katanya.  Aku hanya menatap dari jendela kamar. Tersenyum, ritme yang menawan. Meski hari ini delapan hari sudah terpaksa bedrest. Dan aku hanya bisa menatap hujan dari balik kamar.  Ah... Sederas apa pun engkau pasti ada masanya reda.

Begitu pun sakitku kali ini. Dua orang dokter dengan diagnosa yang sama. Infeksi lambung. Tapi aneh,  empat hari tak kunjung reda. Akhirnya suami membawaku ke sebuah rumah sakit dan terpaksa harus diambil darah. Hasilnya positif tifus. Lima hari total kembali harus bedrest. Ultimatum dokter tak boleh melakukan aktivitas apa pun selain berbaring dan ke kamar mandi. Hiks... Menyiksa sekali rasanya. Aku yang terbiasa dengan berbagai aktivitas terpaksa harus mematuhinya. Untungnya,  dokter memperbolehkanku dirawat di rumah. Sungguh,  aku trauma masuk rumah sakit. Aku ingat almarhum Bapak. Aku gak mau dirawat di rumah sakit.

Pekerjaan rumah dihandle suami dan anakku. Mereka berbagi tugas,  kompak sekali. Ayah menyediakan semua kebutuhanku,  menyiapkan makananan dan minum untuku. Anakku membantu mencuci dan membersihkan rumah. Begitu pun Ibu mertua memasakkan sup dan menu yang harus kumakan. Adik ipar tak kalah membantu. Setiap hari harus menggantikanku mengantar jemput anakku. Ah...Adakah kawan sejati selain keluarga?

Murid-muridku tak kalah membuatku terharu. Setiap hari menanyakan kabar dan mendoakanku. Mereka sampai blusukan mencari alamat rumah hanya untuk menjengukku. Oh dear Allah mereka adalah mutiara bangsa. Dibalik sikap dan kelakuan mereka yang kadang membuat kita mengelus dada,  ternyata selalu ada kebaikan di dalamnya. Betapa aku kangen.. Kangen mereka.

Pekerjaan sekolah terpaksa ditunda. Ayah selalu kasih aba-aba kalau aku tak boleh melakukan apa-apa. Tifus memang menyebalkan. Badan begitu lemas sehingga meskipun otak kita meminta tubuh kita bekerja,  tetap badan kita lemah melakukannya. Bersyukur pihak sekolah bisa mengerti dan memberikan toleransi untuk aku bisa istirahat total. Hatur nuhun untuk pimpinan sekolah, kurikulum,  dan seluruh staf SMP PGRI 4 Cimahi terkhusus my dearest  Bu Rini Suryantini. Maaf merepotkan ya...

Lalu penyakit apakah tifus itu? Ini hasil googlingku untuk mengobati rasa penasaran dan keras kepalanya aku kenapa sih harus bed rest?

Tifus merupakan penyakit peradangan pada usus yang disebabkan infeksi bakteri Salmonella typhi yang tertular lewat makanan dan minuman yang airnya terinfeksi bakteri. Kuman ini masuk melalui mulut dan menyebar ke lambung lalu ke usus halus. Bakteri ini memperbanyak diri di dalam usus. Pada minggu pertama, kuman dari tifus hanya bisa dilihat dari feses. Lalu pada minggu kedua baru bisa diketahui lewat darah karena infeksi yang ada di usus sudah masuk ke dalam pembuluh darah. Dan pada minggu ketiga diagnosis bisa terlihat positif di urin.

Selain itu yang menjadi ciri paling khas dari tifus adalah melihat jumlah leukositnya (sel darah putih). Umumnya jika suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri akan menyebabkan jumlah leukositnya meningkat, tapi tidak begitu pada penyakit tifus.

Gejala yang biasa muncul dari penyakit tifus adalah badan panas atau demam selama beberapa hari terutama siang dan malam, rasa sakit di perut bagian kiri, lidah bagian tengah berwarna putih tapi pinggirnya merah serta terjadi perubahan pola buang air besar (BAB).

Kenapa perlu istirahat yang cukup di tempat tidur?

Penyembuhan penyakit tifus ini adalah untuk menghilangkan bakteri yang masuk di tubuh. Karena itu penderita harus istirahat total dan tidak banyak bergerak agar panas badan cepat turun.

Jika banyak bergerak bisa membuat suhu badan naik dan kuman akan terus berkembang biak masuk ke dalam darah. Banyak bergerak juga tidak baik karena orang dengan tifus sedang mengalami masalah ususnya yang sedang ringkih yang bisa makin sakit jika banyak gerak.

Yang tak kalah penting selama proses penyembuhan dari sakit tifus adalah asupan makanan. Jangan harap makanan yang pedas dan bersantan bisa dinikmati karena hukumnya dilarang. Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang lembut dan mudah dicerna. Seperti bubur, kentang yang dikukus,  biskuit. Hindari juga makanan yang bertekstur keras dan berserat tinggi. Ingat.. Usus sedang dalam pemulihan jadi tidak boleh bekerja terlalu keras. Alternatif  buah yang bisa dikonsumsi adalah melon,  pepaya, dan pisang.

Ah hujan di beranda sudah mulai reda. Ya Allah jauhkan kami dari segala penyakit berbahaya. Seperti hujan yang Engkau turunkan ya Rabb.. Semua adalah kehendakMu. Tiap tetesnya membawa rahmat bagi semesta. Begitu pun setiap penyakit yang Allah timpakan,  semata-mata agar kita berpikir untuk selalu bersyukur dan bersyukur...

Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?




DAFTAR PUSTAKA

http://m.detik.com/health/read/2011/05/27/151959/1648666/763/kenapa-orang-tifus-tidak-boleh-banyak-bergerak










Rabu, 04 Oktober 2017

CINTA DUA ORANG LELAKIKU

Hari ini masih terbaring sakit. Mual,  muntah,  dan perut yang melilit. Dokter mengatakan aku terkena infeksi lambung. Dua hari disarankan untuk istirahat. Aku sendiri tak habis pikir mengapa lambungku bisa terluka. Padahal sudah sangat berhati-hati menjaga makanan. Tapi begitulah, manusia hanya bisa berusaha dan berharap sakit ini bisa dijadikan bahan renungan.

Aku bersyukur punya suami yang pengertian,  melihatku muntah-muntah nyaris pingsan segera dibawanya ke dokter. Padahal waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dan yang lebih membuat sedih pukul 04.30 dia harus terbang ke Makasar. Ada tugas kantor menanti di sana. 

Bersyukur dokter 24 jam ada. Sehingga aku yang nyaris pingsan karena sakit di perutku bisa segera tertolong. Obat yang diberikan dokter pun aku minum. Lumayan pukul 03.00 dini hari bisa tertidur karena rasa sakit di perut mulai mereda. 

Aku tak ingin menghalangi tugas suami ke Makasar. Meyakinkannya  bahwa aku baik-baik saja. Bagiku,  perhatian dan tanggung jawabnya sudah lebih dari cukup. Aku tak mau karena sakitku pekerjaan suami jadi terganggu. 

Kupandangi wajahnya ketika pamit akan berangkat. Tiba-tiba aku teringat almarhum Ayah. Dulu,  ayahlah yang membawaku ke rumah sakit ketika nyaris nyawaku hampir tak tertolong oleh demam berdarah. Peristiwa itu akan selalu membekas dalam ingatan. Pertama kali dalam hidupku harus masuk rumah sakit. Sudah dua orang dokter menangani sakitku. Namun,  demamku tak kunjung reda. Tak ada satu makanan yang masuk karena perutku seperti dililit mual dan muntah. Pukul 02.00 lebih ayah membawaku ke rumah sakit. 

Bagiku cinta dan kasih sayang Allah dan orang-orang tercinta adalah obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit.  Semoga Allah menaungi rahmat untukmu selalu Ayah di syurga terindahNya. Semoga Allah pun selalu menjaga suamiku di mana pun ia berada. Lindungi selalu orang-orang yang kusayangi ya Rabb... Berkahi selalu... 




Selasa, 03 Oktober 2017

RESENSI BUKU TRANSFORMASI MEDIA SOSIAL KE BAHASA INDONESIA






Judul Buku : Transformasi Media Sosial ke Bahasa Indonesia
Penulis         : Sri Rahayu Setiawati, S.Pd.
Jenis Buku : Nonfiksi
Penerbit       : Media Guru
Cetakan IV : Agustus 2017
Tebal Halaman : viii+70 halaman

Siang ini mendapat kunjungan istimewa dari salah satu rekan kerja yang telah menelurkan  karya terbarunya. Sebuah karya yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kedatangannya sengaja memberikan sebuah buku karyanya yang berjudul “Transformasi Media Sosial ke Bahasa Indonesia.” Sebuah kebanggan karena buku tersebut langsung diantarkan oleh penulisnya dan ditandatangani pula. Melihat judul dan covernya tak sabar rasanya ingin segera melahapnya.

Buku ini awalnya merupakan tulisan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Bu Sri Rahayu Setiawati di tempatnya mengajar, yaitu SMPN 1 Cimahi. Bu Yayu panggilan akrabnya memang sangat dekat dengan dunia tulis menulis. Keaktifannya dalam beberapa forum blog kepenulisan dan komunitas menulis membuatnya semakin terampil dalam menelurkan karya. Buku ini juga merupakan sumbangsihnya terhadap dunia literasi di Indonesia.

Dalam buku ini pembaca digiring untuk memahami bahwa teknologi memiliki peran yang sangat penting terutama bagi remaja di era milenial. Kedekatan remaja dengan aktivitasnya di media sosial dapat dimanfaatkan oleh guru, orang tua, remaja, bahkan siapa pun untuk menjadikannya sebagai media pembelajaran. Buku ini pun dapat menjadi panduan lengkap bagi seluruh guru bahasa Indonesia yang ingin mengembangkan media pembelajaran dalam proses belajar mengajarnya. Latar belakang  dan pengalaman penulis sebagai guru bahasa Indonesia dapat menjadi inspirasi bahwa kretivitas berbahasa dapat dituangkan dalam berbagai media teknologi, seperti facebook dan instagram,

Buku ini memuat delapan bab yang mengkaji Remaja dan Media Sosial, Peran Guru di Dunia Maya, Remaja dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, Media Sosial sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia, Materi Pengayaan Bahasa Indonesia, Evaluasi Pembelajaran, Dampak Positif dan Negatif Belajar dengan Facebook yang keseluruhannya dibahas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Terdapat bagian yang menggugah hati pembaca yaitu ketika penulis membahas tentang Peran Guru di dunia Maya  pada bab II. Di bab ini terasa semangat yang digelorakan penulis untuk memerangi konten-konten negatif di dunia maya dengan mengajak seluruh komponen masyarakat  khususnya guru untuk membuat karya berupa tulisan positif  guna memerangi konten negatif tersebut.
“Jumlah konten negatif  itu sangat banyak dan tak terbendung. Jika hanya para blogger WB (Warung Blogger) saja yang berperan, tentunya konten-konten negatif itu masih berada di atas angin. Perlu keterlibatan banyak pihak. Perlu tulisan yang lebih banyak. Jutaan bahkan milyaran. Guru-guru se-Indonesia, bahkan se-dunia wajib terlibat di dalamnya. Mereka adalah ujung tombak dalam pendidikan remaja. Baik pendidikan fisik maupun psikis. Mereka mengajar dan mendidik. Para guru tersebut harus menulis. Mereka wajib menyumbangkan konten-konten positif di dunia maya.

Selain pembahasan tentang peran guru di dunia maya, penulis pun memberikan solusi dalam menciptakan pembelajaran bahasa Indonesia yang menyenangkan melalui pemanfaatan media sosial facebook dan instagram. Keterampilan empat berbahasa dikemas dengan apik melalui media sosial tersebut. Terdapat beberapa teknik yang disampaikan penulis agar proses belajar mengajar berjalan efektif  dan memiliki daya tarik. Salah satunya dengan menggunakan teknik foto bercerita. Meski sayang lampiran karya siswa tentang foto bercerita belum ada.

Dari 70 halaman buku ini, tampilan keseluruhannya cukup menarik meski  ukuran huruf masih terlalu kecil dan hasil cetakan kurang terang. Mudah-mudahan di cetakan selanjutnya, hal ini bisa diperbaiki.

Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat bagi seluruh guru di Indonesia khususnya guru bahasa Indonesia.  Teknologi bukan racun dunia. Ia adalah madu peradaban yang dibalut jari-jari lentik pemakainya. Pengalaman berharga penulis bisa menjadi pencerah demi terwujudnya pembelajaran yang bermakna sehingga dapat lahir generasi-generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia yang mampu membanggakan bangsa.

Senin, 02 Oktober 2017

BAIT AKSARA

Waktu melesat begitu cepat
Laksana anak panah keluar dari busurnya
Siang cepat berganti malam
Sedang hati hanya menggumam

Otak berpikir keras
Tumpukan tugas melambai bebas
Jarum jam terus berpacu
Baris aksara tak menderu

Mataku terpejam
Ada di halaman berapa sekarang?
Tubuhku berada di tumpukan aksara
Mengeja bait demi bait karya

Ah...aku tetap rindu senja
Mengabadikanku dalam bait aksara




Sabtu, 30 September 2017

MENIKMATI UJIAN

Allah selalu punya kejutan untuk kita. Selama hidup di dunia, dari kecil hingga dewasa semua dipantaskanya. Segala macam ujian tak terasa ternyata kita mampu melewatinya. Tengoklah masalah dalam hidup kita,  dulu seolah matematika adalah biang masalah yang tak kunjung reda. Namun,  seiring waktu kita dapat menaklukannya. Begitu pula ujian hidup lainnya. Kadang kita merasa orang yang paling sengsara dan menderita. Padahal,  Allah selalu membukakan jalan keluarnya.

Hujan adakalanya mereda. Yakin,  yakinlah. Allah tak akan memberikan ujian melampaui batas kemampuan hambaNya.  Segala yang ada di dunia sudah ada yang merancangnya. Tak usah cemas, tak usah gulana.  Nikmati saja alurnya biarkan mengalir ke muara.

Beraneka bentuk ujian Allah berikan. Dari yang berupa kesenangan hingga kesengsaraan. Mulai yang berlimpah materi hingga yang serba kekurangan, atau pula ujian fisik hingga mental.  Ujian berat maupun ringan. Silih berganti datang bergantian. Namun,  Allah selalu memberikan kejutan. Berlimpah-limpah nikmat tak terhenti mengalir di luar hitungan.

Nikmat mana lagikah yang kau dustakan wahai manusia?  Sementara Allah selalu memantaskan apa pun untuk kita,  sudahkah kita pantaskan diri juga di hadapanNya?

Ya hayyu yaa qayyuum... Ampuni ya Rabb kekhilafan diri.  Beri kekuatan selalu untuk menjalani ujianMu. Memantaskan diri di hadapanMu..






Kamis, 28 September 2017

SECANGKIR CERITA PAGI

Prit.. Prit.. Prit...
Pria itu dengan sigap memberikan aba-aba. Tubuhnya yang sudah mulai renta tak menurunkan semangatnya.  Mengarahkan motor dan mobil yang datang, memperbaiki letaknya. Motor yang datang tertata rapi berjajar di tepi jalan. Mobil pun juga demikian, tugasnyalah menjaga parkiran tetap nyaman. 

Yanto Achmad,  kulihat namanya tertera. Untuk ukuran juru parkir atributnya lengkap. Mungkin karena lahan tempatnya mencari nafkah berada di tempat yang membutuhkan disiplin tinggi sehingga seragamnya lebih rapi. Seragam warna biru yang dilengkapi atribut Polda terpasang di lengan kirinya.  Plus rompi warna hijau terang dengan tulisan Mitra Polantas. 

Profesi itu dijalaninya lebih dari separuh bagian kehidupannya. Bangga ia mengenakan seragamnya. Meski upah yang diterimanya tak seberapa, namun ia mampu menuntaskan pendidikan anak-anaknya hingga jenjang SMA.  Kini anak-anaknya telah bekerja. Pak  Yanto panggilan akrabnya,  tak ingin membebani ketiga anaknya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di lahan parkirnya.

Pagi-pagi setelah sholat Shubuh ia berangkat. Meski jadwal masuk kerjanya pukul 07.00 tapi Pak Yanto datang lebih awal. Diambilnya sapu kemudian mulai membersihkan jalan sepanjang gedung tempatnya bekerja. Hitung-hitung olahraga pagi katanya. Sebelum pukul tujuh, orang-orang sudah berdatangan. Lahan parkirnya pun mulai dipadati kendaraan. Orang-orang datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang membuat SIM,  memperpanjang SIM,  mengurus surat tilang,  atau mengurus surat-surat kendaraan lainnya. Pukul 17.00  barulah ia pulang ke rumah merebahkan tubuh yang lelah.

"Hidup ini teh kalau dijalani sungguh-sungguh dan ikhlas akan terasa indah. Sepahit apa pun itu. "Pesannya kepadaku.
"Bapak mah sudah tua,  tinggal menunggu waktu saja.  Berbuat sebaik-baiknya, berbuat yang Bapak bisa. "Sahutnya sambil memberi aba-aba kepada rekannya untuk mempersilakan motor yang datang.

Aku khidmat mendengar ceritanya. Di usia senjanya,  Pak Yanto masih semangat mengabdi. Kulirik jam di pergelangan tangan, pukul 07.30. Sepertinya loket pelayanan pendaftaran SIM sudah mulai dibuka. Pak Yanto sudah mulai bersiap mengatur kendaraan yang datang. Tak ingin mengganggu waktunya,  aku beranjak dari tempat duduk, mengucapkan permisi untuk secangkir ceritanya pagi ini.

Ah..hidup selalu menyimpan kisah.

Rabu, 27 September 2017

SUDAH CEK SIM ANDA HARI INI?

Allah menegur saya dengan santun. Hari ini benar-benar merasakan kekurangan sebagai manusia. Rasa khilaf dan alpa sering kali menyerang. Termasuk sering sekali lupa terhadap sesuatu. Jadi teringat pepatah lama kalau sering lupa tandanya banyak dosa. Ah.. Pepatah itu bisa dijadikan bahan introspeksi untuk banyak beristigfar dan membenahi diri.

Saya lirik kembali SIM C yang ada di genggaman.  Tertera 3 Juli 2017. Hiks itu artinya saya sudah melewatkan masa berlakunya SIM dan kembali harus berurusan dengan prosedur birokrasi. Ah... rasa malas mulai menyeruak. Bagaimana bisa saya melewatkan tanggal penting itu? Sementara membayar pajak STNK tahunan saya ingat.  Ya.. itulah manusia. tempatnya khilaf dan alpa. Saya akui SIM itu tak beranjak sedikit pun dari dompet. Dia selalu duduk manis karena memang lima tahun ini saya tidak pernah ditilang. Jadi selama lima tahun itu SIM duduk manis nyaris tak tersentuh hingga akhirnya diri ini tersadar kalau SIM saya sudah masuk waktu kadaluarsa. Salah satu teman mengingatkan telat satu hari pun, harus buat SIM yang baru. Saya menghela napas, semua harus dihadapi.

Pagi-pagi sekali saya sudah tiba di kantor kepolisian. Waktu masih satu jam lagi loket baru dibuka. Seorang polisi menghampiri menanyakan keperluan saya.

"Ibu mau bikin SIM baru?  Sudah janji dengan orang di dalam atau belum? Tanyanya menghampiri.
"Iya Pak,  saya mau buat SIM baru. Tapi saya gak ada janji dengan siapa-siapa. "Sahut saya masih sedikit bingung dengan pertanyaannya.
"Ibu sendiri? Yakin mengurus semuanya sendiri?" Tanyanya kembali dengan nada heran.
"Betul Pak, saya mau urus sendiri semuanya. " Sahut saya berusaha meyakinkan.
"Ibu sudah buat sertifikat?"Tanyanya kembali.
Saya semakin tak mengerti. Saya gelengkan kepala sambil menegaskan kalau saya mau mengurus sesuai prosedur saja.  Beliau pun mengangguk dan menunjukkan arah tempat dimana saya harus cek kesehatan.

Jadi teman-teman sertifikat itu berisi hasil tes mengemudi kita. Jadi kalau kita mau buat SIM dengan sertifikat itu serangkaian tes yang akan kita jalani lebih mudah. Dalam hati saya tetap berkeyakinan untuk mengikuti serangkaian tes itu tanpa sertifikat. Langkah pertama saya adalah menuju ruang praktik dokter umum yang telah ditunjuk untuk dites kesehatan.

Setelah mendapat surat keterangan sehat,  saya melangkah menuju loket pendaftaran. Di loket itu saya diberi nomor antrean untuk menuju loket dua.  Di loket dua nama kita akan dipanggil,  dan petugas mencatat data kita di komputer. Setelah dari loket dua,  saya menuju loket tiga untuk pemotretan. Nama kita akan dipanggil kemudian kita masuk ke bilik untuk difoto, sidik jari,  dan tanda tangan.  Setelah itu,  saya menuju loket 4. Di sini kita harus menunggu terlebih dahulu untuk melakukan tes.
Ada tiga tes yang harus dijalani, yaitu:
1. Tes teori yang berisi 30 soal tentang pengetahuan berlalu-lintas yang baik. Nilai di tes ini dinyatakan lulus jika bisa menjawab minimal 21 soal.

2. Tes simulasi
 Bagi yang sudah terbiasa bermain game balapan motor mungkin akan terbiasa. Tapi bagi saya yang mengikuti tes simulasi dengan motor kopling rasanya agak kaku dan canggung. Saya pikir tes simulasinya memakai motor matik. Hehehe... Alhasil saya tidak lulus di tes simulasi.

3. Tes mengemudi
Karena saya tidak lulus di tes simulasi. Saya harus mengulang kembali tesnya di minggu depan. Tapi bagi yang lulus tes simulasi bisa melanjutkan ke tes mengemudi. Di tes mengemudi itu sudah dipersiapkan jalur yang akan kita lewati beserta rambu- rambu yang harus dipatuhi.

Jika serangkaian tes itu sudah dilewati maka kita tinggal ambil pencetakan SIM baru di bagian loket yang sudah disediakan. Nah, agar kejadian yang saya alami tidak terulang sudahkah teman-teman mengecek tanggal habis berlaku SIM?   Kalau sudah dicek tandai di kalender ya atau dicatat di ponsel kita.


SEPENGGAL KISAH IBU



Kuparkir kendaraan di sebuah halaman rumah milik pamanku. Aku biasa memarkirkan kendaraan di sana jika aku mengunjungi Ibu. Rumah Ibu memang masuk gang. Jadi tak bisa kuparkir kendaraan di depan rumah Ibu. Hari ini setelah sekian lama tak pulang, akhirnya, kuinjakkan kembali kaki di tanah kelahiran. Kota kecil yang selalu memberikan aku kesempatan untuk terus menghirup wanginya. Empat jam kira-kira perjalanan dari kotaku tinggal menuju kota kelahiranku. Aku memang sengaja mengambil rute normal tanpa melewati jalan tol. Bagiku, perjalanan Minggu pagi ini adalah perjalanan yang selalu membuat aku ingin selalu mengenang jalan-jalan menuju kota kelahiranku. Termasuk  menyempatkan membeli oleh-oleh untuk Ibu. Aku tersenyum, kujinjing keranjang berisi tahu, tak sabar kakiku melangkah ke rumah Ibu. Setelah menyalami Paman, aku bergegas ke rumah Ibu.

Tak terkira girang ibu menyambutku. Wajahnya yang mulai berkerut menyunggingkan senyum kerinduan. Kusalami sosok paruh baya itu. Ibu memelukku.

“Zul akhirnya kau pulang, Nak…jam berapa dari Bandung?” Tanya Ibu lembut.
“Jam empat Shubuh Bu. Aku sengaja berangkat pagi agar tak terkena macet.” Jawabku tersenyum melepas kerinduan.
“Kubawakan tahu kesukaan Ibu, tadi masih hangat di jalan tapi kayaknya sekarang sudah             dingin Bu..” Sahutku menyerahkan keranjang berisi tahu yang kubeli di Sumedang.
“Terima kasih Zul….nanti biar Ibu hangatkan.” Sahut Ibu tersenyum merangkulku.
“Zul tahukah kau Wak Kodir meninggal dua hari yang lalu…” Sahut Ibu mengawali percakapan sambil mengajakku ke ruang makan.
“Innalillahi wa Innailaihi Roojiuun….”Aku tercekat ketika Ibu menyebutkan nama itu.
“Iya sakit selama seminggu. sakitnya parah. Dia sering berteriak-teriak. Semua anak-anaknya angkat tangan, dokter pun sudah tak ada yang bisa menolongnya.” Sahut Ibu melanjutkan kisahnya.


Aku tercenung mendengar cerita Ibu. Tiba-tiba wajah Wak Kodir hadir di pelupuk mataku. Mendengar kematiannya ada sedikit rasa syukur terbersit di hatiku. Ya..entahlah aku tiba-tiba merasa tentram mendengar kepergian orang itu. Setelah sekian lama perlakuannya yang buruk kepada almarhum Bapak dan Ibu. Aku menghela napas. Memandang wajah Ibu yang tengah menyiapkan makanan untukku. Aku memang jarang pulang ke rumah. Tapi Ibu selalu berkisah kepadaku lewat telepon tentang perlakuan Wak Kodir kepada almarhum Bapak dan Ibu.

Dulu sewaktu almarhum Bapak masih ada. Wak Kodir sering meneror keluargaku. Almarhum Bapak adalah seorang imam mushala. Ia sering memimpin sholat di mushola dekat rumah kami. Wak Kodir tidak suka jika mushola itu dipimpin oleh almarhum Bapak. Kata Ibu tanah mushola itu dulunya milik keluarga Wak Kodir. Tapi pembangunan musholanya adalah swadaya masyarakat. Wak Kodir tidak suka jika kepengurusan mushola dipegang almarhum Bapak. Katanya dialah yang lebih berhak untuk menjadi pemimpin di mushola itu.

Sering Wak Kodir meneror almarhum Bapak dan Ibu dengan menghadang mereka ketika akan sholat Shubuh. Menganggap mereka tidak pantas untuk mengurusi mushola yang dianggap miliknya. Tapi almarhum Bapak selalu berbicara baik-baik kepadanya, menyampaikan bahwa Bapak siap untuk mundur dan tidak menjadi imam di mushola itu lagi jika Wak Kodir menghendaki. Aku masih ingat ketika ibu bercerita sambil menangis tentang perbuatan Wak Kodir.

Mushola itu sempat vakum. Almarhum Bapak dan Ibu memilih mengalah. Mereka sholat berjamaah di rumah. Beberapa warga kampung pun tak ada yang berani memasuki mushola karena takut dengan sikap Wak Kodir. Beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk ikut sholat berjamaah di rumah Ibu. Apalagi waktu itu jelang Ramadahan, suasana Ramadhan yang menyedihkan kata Ibu sepanjang hidupnya waktu itu. Sempat Ibu meneleponku, memintaku untuk membuatkan mushola di belakang rumah Ibu. Namun, karena jarak dengan mushola Wak Kodir kurang dari 500 meter rencana ibu terpaksa ditunda.

Untunglah, vakumnya mushola itu tidak berlangsung lama. Beberapa pemuka masyarakat sekitar turut membantu mendamaikan konflik itu. Pihak almarhum Bapak dan pihak Wak Kodir dipanggil kemudian disepakati jalan keluar. Bahwa almarhum Bapak diminta kembali untuk hadir ke mushola tapi tidak untuk menjadi imam. Keputusan yang berat memang, karena dari dulu almarhum Bapaklah yang selalu menghidupkan mushola itu. Berpuluh-puluh tahun Bapak menjadi imam di mushola. namun ternyata hal itu menimbulkan rasa iri di hati Wak Kodir. Ibu bercerita waktu itu, Bapak ikhlas menerima keputusan itu demi kemaslahatan bersama.

Bertahun-tahun kemudian tak kudengar lagi konflik tentang mushola itu. Hingga akhirnya Bapak pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Kanker prostat merenggut hidup Bapak. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam di hati Ibu, dan juga di hatiku. Aku sering membujuk Ibu untuk tinggal bersamaku. Tapi, Ibu selalu menolak.
“Rumah ini adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari Bapakmu Zul..Ibu tak akan meninggalkannya..” Sahut Ibu waktu itu menahan kesedihan.
“Tapi Bu…aku tak tenang kalau Ibu tinggal di sini sendiri. Ayolah Bu…tinggal bersama   Zul di Bandung. Zul sudah punya segalanya sekarang…”Bujukku pada Ibu.
“Ibu di sini saja Zul…ada pamanmu yang masih tinggal dekat dengan Ibu..InsyaAllah
Pamanmu akan selalu menjaga Ibu..”Sahut Ibu lirih.

Sejak saat itu, Ibu memang tinggal sendiri. Sesekali aku menengoknya. Aku bersyukur pamanku dengan sukarela mau turut menjaga Ibu. Jika aku tak sempat menengok Ibu, Ia pasti meneleponku. Bercerita banyak hal termasuk perangai Wak Kodir yang kadang membuatku geram.

Pernah suatu hari Ibu meneleponku. Mengabarkan kalau pipa yang menghubungkan air dari sumur ke kamar mandi terlihat diputus orang. Ibu menemukan serpihan potongan pipa itu di belakang rumah. Patahannya berada di sebelah sumur. Aku geleng-geleng kepala. Siapa orang yang berani tega merusak pipa air di sumur Ibu? Aku menelepon Paman minta tolong untuk memperbaiki pipa itu dan mengusut siapa pelakunya. Keesokan harinya Paman membuat pengamanan. Dipasangnya lagi pipa air yang menghubungkan sumur dan kamar mandi di rumah Ibu. Dipasangnya kawat di sekitar sumur. Kawat itu melingkar di antara pagar bambu yang mengelilingi sumur. Pipa itu aman untuk beberapa hari. Ibu lega, Paman juga lega. Namun, kembali aku menerima telepon dari Ibu kalau pipa itu kembali dirusak orang. Tapi kali ini ada sobekan sarung di antara kawat yang memagari sumur Ibu.

“Kamu tahu Zul itu sobekan sarung siapa?” Tanya Ibu padaku ketika bercerita.
“Siapa Bu….?”Tanyaku penasaran.
“Sobekan sarung itu milik Wa Kodir…kamu tau Zul…tega sekali orang itu..”Sahut Ibu
menahan kesedihan.
“Bagaimana Ibu bisa tahu kalau itu milik Wak Kodir Bu…?”Tanyaku tak mengerti.
“Ibu menanyakan pada anaknya dan motif sarung itu sama persis dengan motif sarung      Wak Kodir Zul. Pulanglah ke rumah biar Ibu ceritakan nanti.” Sahut Ibu memintaku     pulang.

Aku terpaksa pulang untuk melihat kondisi Ibu waktu itu. Tak tega rasanya jika mendengar kabar yang tidak enak tentang Ibu. Aku sendiri pernah bertemu Wak Kodir saat kepulanganku waktu itu. Tatapannya sinis, menatapku dengan aneh. Aku tak mempedulikan sikapnya. Aku tahu Wak Kodir memang tidak menyukaiku dan keluargaku. Pajero Sport yang kuparkir di halaman rumah Paman seperti biasa, menjadi incaran tatapan aneh Wak Kodir.

“Minum dulu tehnya Zul…Ibu senang kamu datang…” Ibu menepuk pundakku dan membuyarkan lamunan dan ingatanku tentang Wak Kodir.
“Begitulah Zul..umur manusia hanya Allah yang tahu. Kita tak pernah tahu kapan Allah    akan memanggil kita. Wak Kodir telah pergi. Ibu sudah memaafkan kesalahan-  kesalahannya. Bagi Ibu, setiap perbuatan akan selalu ada balasannya. Kita ambil hikmah           dari semua ini ya Zul. Ibu sudah tua…Bapakmu sudah tak ada. Ibu hanya ingin             melihatmu bahagia..”  Suara  Ibu teramat menyentuh kalbuku.

Aku memeluk Ibu…erat sekali. memeluk wanita yang kukasihi seumur hidupku. Dalam hati aku berbisik….”Tuhan panjangkan umur ibuku….biarkan aku membahagiakannya di sisa usia senjanya ya Rabb…”.
“Nanti kita takziah ke rumah Wak Kodir ya Zul. Walau bagaimana pun kewajiban seorang muslim untuk mengunjungi keluarga yang berduka.” Sahut Ibu syahdu.

Aku mengangguk. Ketulusan Ibu terpancar di wajahnya. Ibu menatapku kemudian tersenyum “Jadi kapan kau kenalkan Ibu pada Rhania calonmu    Zul….?”
Aku tersipu malu….”Secepatnya Bu…kepulanganku kali ini juga karena memohon restu   Ibu untuk melamar Rahania .”

Ah ….lega rasanya. Selangkah lagi aku bisa melihat senyum Ibu ketika melihatku bersanding dengan Rhania nanti.









 






Selasa, 26 September 2017

PIJAR ASA

Biarkan esok kaki tetap melangkah
Menapaki jejak jalanan yang menanjak
Semangat  di dada menyala
Seperti lilin yang berpijar saat gulita

Taklukkan... Taklukkan rimba
Belukar tak surutkan asa
Di sudut ruang semerbak doa
Menyeruak bangkitkan raga

Nyanyian sunyi sepanjang perjalanan
Tak perlu menjadi ratapan
Seperti cicit bersenandung
Mencari butiran gandum

Ini puzzle semesta
Mari rangkai dengan suka cita
Bukankah tak ada daun yang jatuh
tanpa seizinNya

Ikuti alirannya
Sungai akan ke muara
Menjemput para ksatria
Yang tak surut taklukkan duka





Senin, 25 September 2017

KARENA SAYA SEORANG IBU

Ketika ditanya peristiwa apa yang paling berkesan dalam hidup tentu saya akan menjawab peristiwa ketika saya merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu.  Ya.. Sebuah anugerah terbesar dalam hidup telah Allah karuniakan untuk saya dan suami. Empat belas tahun yang lalu telah lahir seorang puteri kami, penghibur hati kami.

Kelahiran putri kami memberi warna tersendiri di hati kami. Rasa tanggung jawab menjadi orang tua seolah begitu terasa. Amanat dari Illahi untuk menjaganya sebaik-baiknya. Mendidiknya dengan kasih sayang sehingga terbentuk pribadi yang sholehah dan berahlak mulia,  serta berguna bagi nusa, bangsa,  dan agama.

Ada pepatah yang mengatakan kita tak pernah tahu perjuangan sebenarnya seorang ibu sampai kita benar-benar merasakan menjadi seorang ibu.  Kini,  pepatah itu begitu terasa. Perjuangan ibu kita dahulu ketika berjuang mengasuh,  mendidik,  dan membesarkan dari dalam kandungan hingga seperti saat ini benar-benar saya rasakan. Terlebih ibu adalah madrasah pertama dalam keluarga. Tumbuh kembang seorang anak menjadi perhatian khusus seorang ibu tanpa mengurangi nilai perhatian seorang ayah.

Kesabaran dan cinta kasih seorang ibu tak terbatas. Setiap saat setiap detik,  doa-doa terhantar untuk orang-orang terkasih. Memberikan segala yang terbaik tanpa meminta balas jasa.

Kini empat belas tahun sudah putriku tumbuh menjadi remaja. Kadang rindu sekali, ingat masa-masa kecilnya dulu.  Rindu celotehnya mengeja kata ayah dan ibu. Kadang rindu tangisnya yang membangunkan kami tengah malam,  mengganti popoknya,  atau menyeduh susu untuknya. Ya waktu seolah berjalan begitu cepat. Saya merasa semakin tua dan belum memberi apa-apa. Saya hanya selalu berusaha mendampinginya,  berada di dekatnya, dan menjadi sahabatnya. Mendidiknya dengan sepenuh jiwa agar ia bisa belajar dari semesta.

Saya sadar menjadi ibu di era milenial begitu berat tantangannya. Namun,  saya percaya Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan untuk selalu bisa menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan. Kekuatan seorang ibu menjadi benteng yang kuat untuk seorang anak. Tetap semangat untuk seluruh ibu di Indonesia... dari rahimmu lahir generasi-generasi hebat yang bisa membuat negeri ini menjadi bermartabat.

Minggu, 24 September 2017

8 MANFAAT BEROLAHRAGA BERSAMA PASANGAN

Olahraga menjadi pilihan bagi setiap orang yang ingin tetap menjaga kondisi stamina tubuhnya. Dengan berolahraga secara teratur maka akan sangat terasa manfaatnya. Tubuh menjadi lebih segar,  bugar,  dan tidak mudah terserang penyakit. Namun karena kesibukan tak jarang kita sering melupakan bahkan malas untuk melakukan olahraga.  Nah,  salah satu cara agar kita semangat untuk berolahraga adalah dengan mengajak pasangan kita untuk bersama-sama berolahraga. Wah.. pasti sangat menyenangkan bisa bersama-sama berolahraga dengan pasangan. Rasulullah SAW sendiri menganjurkan agar kita sering melakukan kegiatan bersama-sama dengan pasangan, termasuk kegiatan berolahraga.

Nah.. di Minggu pagi ini, mumpung libur rasanya waktu yang tepat untuk mengajak pasangan berolahraga.  Kegiatan ini bisa menjadi suplemen yang murah meriah dalam menjaga keharmonisan keluarga. Kebetulan saya dan suami lagi keranjingan banget bersepeda.  Kami biasanya melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan meregangkan otot-otot tangan dan kaki kemudian menentukan rute terlebih dahulu sebelum berangkat. Setiap minggu rutenya berbeda-beda biar tidak bosan. Kadang kami hanya bersepeda mengelilingi perumahan di daerah kami. Minggu depannya lagi kami mengambil rute yang berbeda. Kadang Ciwaruga-Pondok Hijau-UPI atau Ciwaruga-Sarijadi-Polban. Hihihi atau rute bersepeda kami hanya dari rumah ke pasar. Nah,   Pagi ini kami memilih rute Ciwaruga-Pondok Hijau-Cihideung-balik lagi Ciwaruga.  Teman-teman yang tinggal di wilayah Bandung pasti tahu daerah-daerah tersebut. Lumayan panjang kan rutenya?  Hehe adalah sekitar 8km. Nah jarak sejauh itu kalau dilakukan bersama pasangan rasanya pasti menyenangkan.

Bersepeda memiliki manfaat yang luar biasa untuk tubuh terutama kesehatan jantung dan pernapasan. Mengayuh sepeda membutuhkan kekuatan apalagi dengan jarak tempuh yang cukup membantu kerja jantung dan melatih pernapasan kita.  Jalan yang menanjak dan menurun membantu otot-otot tubuh untuk bekerja secara teratur.  Apalagi kalau bersepeda dengan pasangan. Nah,  berikut manfaat yang bisa kita petik saat bersepeda bersama pasangan:
1. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Berolahraga bersama pasangan dapat meningkatkan rasa syukur dan keimanan kepada Allah SWT. Nikmat sehat dan kebersamaan yang Allah berikan untuk keluarga menjadi ajang rasa syukur akan nikmat yang Allah beri. Apalagi kalau bersepeda di tempat yang sejuk,  indah,  dan asri,  rasanya keagungan Allah begitu terasa.

2. Menambah rasa saling memahami dan melindungi.
     Contohnya ketika sedang bersepeda kemudian istri tertinggal di belakang karena jalanan yang menanjak,  sang suami dengan setia menunggu dan melindungi istri dari jatuh atau cedera.

3. Memupuk kebersamaan dan toleransi.
Sebelum bersepeda, biasanya  bersama-sama pasangan menentukan rute yang dipilih dan saling bertoleransi dengan kemampuan kayuhan masing-masing. Tidak ada yang memaksakan kehendak. Jika salah satu lelah mengayuh,  maka bisa sama-sama berjalan kaki sambil mendorong sepeda.

4. Menjaga keharmonisan
Ibaratnya setiap kayuhan selalu ada cinta.  Pupuklah rasa cinta itu dengan kebersamaan. Sambil bersepeda bisa juga sambil mengenang saat-saat awal bertemu pasangan atau saat cinta pertama kali bersemi dengan pasangan. Meskipun bertahun-tahun menikah,  tapi keharmonisan tetap terjaga.

5. Refreshing sekaligus hiburan.
Bersepeda ke alam bebas maka tubuh menjadi lebih segar dan pikiran pun menjadi lebih jernih. Apalagi jika diselingi canda tawa bersama pasangan maka bersepeda bisa menjadi hiburan yang gratis.

6. Memotivasi satu sama lain.
Bersepeda bersama juga bisa sebagai ajang saling menguatkan dan saling memotivasi. Support dari pasangan adalah magnet yang bisa menggerakkan untuk menjadi pribadi luar biasa. Ada pepatah yang mengatakan dibalik suami hebat ada istri yang hebat di belakangnya.  Begitu pun sebaliknya.

7. Memupuk kepercayaan.
Tanamkan selalu kepercayaan terhadap pasangan. Dengan bersepeda semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk bercerita tentang banyak hal. Semakin kebersamaan terjalin maka kepercayaan akan tumbuh di hati pasangan.

8. Menambah rasa percaya diri.
Bersepeda ibaratnya mengayuh bahtera kehidupan. Jalan yang dilalui kadang menanjak,  kadang juga menurun.  Saling menyemangati ketika menemukan tanjakan maka akan menumbuhkan rasa percaya diri terhadap pasangan bahwa setiap masalah dalam kehidupan dapat diatasi bersama. Karena setelah tanjakan pasti ketemu turunan. Hehe...


Dari delapan manfaat di antara sekian banyak manfaat berolahraga bersama pasangan yang saya uraikan dengan sederhana di atas,  semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.  Istimewakan pasangan kita dalam setiap kegiatan. Dengan kebersamaan maka akan terjalin rasa saling memiliki. Sakinah mawaddah wa rahmah Insyaallah  akan selalu terjaga..






Sabtu, 23 September 2017

Rindu Ibunda

Malam ini kutelepon Ibu
Suaranya tetap syahdu
Berbagi kabar
Rindu yang tersiar

Dalam bentangan jarak dan waktu
Kasih Ibu seperti anak-anak sungai yang tak henti mengalir
Dalam riaknya selalu ada doa
Mencecap dari jemari hingga ulu hati

Lelah, letihmu Ibu
di sepanjang perjalanan anak-anakmu
Bisakah kami membalas ketulusanmu?
Mampukah kami membalas perjuanganmu?
Adakah sedikit waktu kami bisa meluangkan waktu bersamamu?
Menemani hari-hari sepi di ujung usiamu Ibu..
Maafkan anakmu...

Malam ini kutelepon Ibu
Dalam dekap ingin kembali menangis
Betapa perjalanan ini tak mungkin terlalui tanpa berkah, doa, dan kasih sayang Ibu
Sedangkan puisi tak mampu menggantikan rindu

Malam ini kutelepon Ibu
Suara Ibu begitu jauh
namun doanya begitu dekat...






















Kamis, 21 September 2017

SYUKUR KAMI YA RABB

Beribu yang kami pinta
Engkau beri yang kami butuh
Beribu keluh hadir dalam sujud
Engkau beri kecukupan ya Allah

Di sela ujian kehidupan
Engkau hadir membuka jalan
Memayungi dengan berjuta kenikmatan
Mengasihi kami yang kadang lupa ingatan

Di pintuMu ya Rabb kami mengetuk
Memohon ampunan dari setiap khilaf
Menekuk habis kepongahan
Menenun jerami keikhlasan

RidhoMu lapangkan hati kami
BerkahMu sempurnakan hidup kami






Payung Teduh dan Hatiku Terenyuh


Jujur ya saya sering heran kok banyak banget yang suka dengan lagu-lagunya "Payung Teduh". Bahkan ada beberapa sahabat yang sering mendengarkan lagu "Akad" di playlist mereka.  Nama grup musiknya saja saya baru dengar. Lagunya pun saya dengar samar-samar dari senandung anak saya.  Ternyata hari ini ketika saya melihat video klipnya, hiks saya pun jatuh cinta sama lagu "Akad" tersebut.

Video klipnya keren banget. Mengisahkan seorang Bapak paruh baya yang bekerja sebagai sopir taksi. Dia selalu mengantar penumpang yang beragam. Ada sepasang kekasih yang berbahagia karena akan melamar pasangannya, ada keluarga kecil yang bahagia dengan anaknya yang menggemaskan,  ada tiga orang sahabat yang ceria dengan kebersamaannya,  juga ada penumpang yang tengah bersedih karena masalah yang dihadapinya. Namun,  beragam penumpang itu dilayani dengan penuh senyuman dan kebaikan oleh Bapak paruh baya itu.

Di akhir video klip lagu tersebut,  tiba-tiba mata saya berlinang.  Bapak paruh baya itu mendapat kejutan dari putri tercintanya. Sebuah perayaan kecil tersaji. Perayaan ulang tahun pernikahan yang ke-25. Ada foto seorang perempuan di antara mereka. Wajah Bapak paruh baya itu tak kuasa menahan kesedihan. Memandang foto mendiang istrinya. Menatap foto itu penuh kasih. Sang putri tercinta pun menuntun ayahandanya untuk duduk dan meniup lilin perayaan.

Tiba-tiba saya tertegun. Hiks brebes mili ya Allah umur manusia ada di tanganMu..

Payung Teduh - Akad

Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku

Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Tapi ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya

Dan bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Membuat kau bersedih

Bila nanti saatnya t'lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian ke sana ke mari dan tertawa

Namun bila saat nanti senja tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudikah kau temani diriku

Dan bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
dan buat kau bersedih

Bila nanti saatnya t'lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian ke sana ke mari dan tertawa

Namun bila saat berpisah tlah tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku

Sudilah kau menjadi temanku
Sudilah kau menjadi istriku

Rabu, 13 September 2017

ODOP Siapa Takut?

Gerakan literasi yang saat ini tengah digencarkan pemerintah tentu membawa angin segar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Gerakan ini seolah membangunkan masyarakat Indonesia dari tidur panjangnya. Semangat untuk menggelorakan membaca dan menulis menjadi sebuah budaya adalah tujuan yang diharapkan dari program ini. Gerakan ini kini menjadi virus yang menyebarkan aroma positif dalam upaya menumbuhkan generasi yang berkarakter.


Kemampuan baca-tulis sangat berkaitan erat. Semakin seseorang  mahir membaca maka akan semakin mahir menulis. Pengertian menulis menurut  Henry Guntur Tarigan (1986:15) adalah kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. Kemampuan menulis  tidak lahir secara instan.  Kemampuan ini membutuhkan latihan yang terus menerus.  Semakin banyak berlatih maka akan lahir menjadi sebuah keterampilan. Kemampuan menuangkan gagasan atau pikiran ke dalam bentuk tulisan harus disertai juga dengan kemampuan membaca.  Menulis tanpa membaca seperti berjalan tanpa cahaya. Semakin sering kita membaca maka kemampuan dalam mengungkapkan ide ke dalam bentuk tulisan akan sangat terbuka lebar.  Seorang penulis tidak akan kehabisan ide karena memiliki referensi yang banyak. Semakin banyak buku yang dibaca maka akan semakin mengalir ide dalam tulisan.

Salah satu komunitas yang turut menghidupkan Gerakan Literasi di negeri ini adalah Komunitas ODOP. Komunitas ini selain sebagai salah satu wadah berkumpulnya orang-orang yang memiliki integritas yang tinggi dalam dunia kepenulisan juga memiliki peran yang sangat penting dalam menghembuskan semangat literasi. One Day One Post tentu memiliki tantangan tersendiri bagi setiap anggotanya. Kemampuan mengungkapkan nalar, ide,  dan pengetahuan ke dalam bentuk tulis menjadi magnet yang menantang. Satu hari minimal satu tulisan akan sangat merangsang setiap anggotanya untuk berpikir  dan terus berkarya.

Melalui komunitas ODOP manfaat menulis akan sangat dirasakan oleh anggotanya. Dengan menulis berarti mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional.  Saat melatih otak kiri,  otak kanan akan bebas mencipta,  mengintuisi,  dan merasakan. Dengan demikian,  menulis dapat menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri,  orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.

Menulislah maka namamu akan selalu dikenang.  Seperti yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer "Orang boleh pandai setinggi langit,  tapi selama ia tidak menulis,  ia akan hilang di dalam masyarakat.  Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Menulis juga bagian dari ibadah dengan menuangkan kebaikan melalui sebuah tulisan sehingga pembaca dapat memetik hikmahnya. Menulislah... agar diri kita lebih bermanfaat.







Rabu, 06 September 2017

RESENSI NOVEL"AYAH" KARYA ANDREA HIRATA



    
 Judul Buku                           : Ayah
 Penulis                                   : Andrea Hirata
 Penerbit                                 : Bentang Pustaka
 Cetakan keenambelas         : Februari 2017
 Tebal Halaman                     : xvii+396 halaman

Bismillahirrohmaanirrohiim…
                Novel berikutnya karya Andrea Hirata yang mengundang penasaran untuk dibaca adalah novel “Ayah”. Halaman sampul bergambar seorang ayah bersama anak laki-laki yang memegang kembang gula dengan sepeda berhias balon di bagian setirnya seolah memunculkan pertanyaan tentang isi dalam novel ini. Figur seorang ayah seperti apakah yang ingin digambarkan Andrea Hirata dalam novel ini? Apakah ada kaitannya dengan novel-novel sebelumnya? Rasa penasaran itulah yang mendorong untuk tak sabar segera membaca novel ini.
            Novel “Ayah” berkisah tentang cinta sejati dan perjuangan seorang ayah bernama Sabari kepada Marlena dan Zorro anaknya. Cinta sejati yang dibawanya hingga tutup usia. Perjuangan seorang ayah yang dapat menginspirasi kaum ayah saat ini. Dengan cinta dan pengorbanannya memberikan kasih sayang kepada orang-orang tercinta dengan penuh ketulusan. Cinta tanpa Syarat itulah yang dicoba diusung dalam novel ini. Peran dan kasih sayang yang diberikan seorang ayah ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa pada diri sang anak. Sabari yang sangat senang dengan kehadiran zorro, semakin bersemangat dan berusaha memberikan segala yang terbaik untuk anaknya. Menyandang gelar “Ayah” adalah anugerah luar biasa yang disyukuri Sabari. Tidak ada kesenangan dunia yang bisa mengalahkan kebersamaan Sabari dan Zorro. Di tengah kemiskinan dan kesederhanaan hidupnya, Sabari selalu memberikan kebahagiaan untuk Zorro, termasuk kebiasaannya bercerita  dan membacakan puisi untuk Zorro. Namun, ketulusan cinta Sabari tidak disambut oleh Marlena. Perpisahannya dengan Marlena dan Zorro adalah pukulan telak dalam kehidupan Sabari. Kehidupannya hancur namun dua orang sahabatnya  yaitu Ukun dan Tamat akhirnya turut membantu perjuangan Sabari.
            Latar  novel ini sebagian besar masih mengambil latar di Pulau Belitong. Kehidupan Sabari di Pulau Belantik dan Marlena yang senang sekali jalan-jalan ke enam kota di Pulau Sumatera tergambar dengan jelas. Pembaca dapat mengetahui tempat-tempat yang dikunjungi Marlena lewat puisi-puisi yang dibuat Zorro. Kebiasaan menulis puisi yang diwariskan Sabari kepada Zorro adalah juga kebiasaan yang diturunkan Insyafi kepada Sabari. Insyafi adalah ayah Sabari yang membesarkannya dengan puisi juga.
            Membaca keseluruhan novel ini rasanya pembaca diajak untuk berlompatan dari waktu ke waktu. Kisah masa lalu Amiru, Sabari, dan Marlena terbentang dengan  rinci kemudian ditutup dengan manis di bagian akhir khas Andrea Hirata. Namun, ada beberapa bagian cerita yang terlalu singkat penyelesaiannya sehingga sedikit mengurangi kenikmatan membaca novelnya. Termasuk pembaca sedikit terkecoh dengan penggunaan sudut pandang Zorro dan Amiru dalam kisah ini. Lagi-lagi ini merupakan gaya khas Andrea Hirata. Selain itu, berbeda dengan novel Tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan, dalam novel ini Andrea Hirata hanya berperan sebagai pencerita dari awal sampai akhir. Gaya khas yang kocak dan  menggelitik pun tetap muncul dalam novel ini dengan kehadiran tokoh Ukun dan Tamat sebagai sahabat Sabari.
            Membaca novel ini mengajarkan kita banyak hal. Tentang peran seorang ayah yang tak kalah penting  dengan peran  ibu. Peran Ayah tidak hanya sebagai figur pencari nafkah keluarga, namun sosok ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ayah juga menjadi pelindung, pemberi teladan, motivator, pembimbing, bahkan sahabat  bagi seorang anak. Kisah dalam  novel ini mengajarkan kepada seluruh ayah  tentang ketulusan yang sesungguhnya bahwa seorang ayah akan  melakukan segala yang terbaik untuk anaknya. Kasih sayang ayah dan ibu akan sangat membantu tumbuh  kembang seorang anak. Hal yang  juga paling dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini yaitu keteladanan dari orang tua. Kehadiran,  kasih sayang, dan keteladanan orang tua melahirkan generasi-generasi  yang beriman , bertakwa, dan berakhlak mulia. Generasi-generasi hebat  yang siap memimpin negeri ini ke arah yang lebih bermartabat.